
*Malik Jayadi POV.
Aku yang sudah tak bisa berbuat apapun, hanya bisa merenung dan memikirkan nasib percintaanku. Kebisingan bandara ini seakan tak mampu meredakan pikiran ini dari jerat cinta seorang Elisa Hardi.
Aku keluar sambil menggeret koper bawaan ku.
Aku membeli sebuah kartu SIM baru agar ponsel ku bisa ku aktifkan kembali.
Setidaknya aku masih hafal nomer ibuku di kampung. Ya, walaupun ada beberapa nomer yang aku lupa. Aku memesan taksi online menuju ke terminal bus antar kota.
Beberapa menit berlalu.
Di dalam bus ini, aku memandang jalan yang penuh sesak dengan kendaraan bermotor. Pikiran ini masih saja ada di rumah itu. Aku tak menyangka, padahal kemarin aku masih jalan berdua dengan Elisa ke sebuah mall.
Sekarang kami berpisah dengan jarak yang lumayan terbentang jauh.
Tiba-tiba bus berhenti di tengah jalan. Beberapa penumpang mulai keluar satu persatu. Ada juga yang baru masuk dan berjalan melewati kursi dimana tempat ku duduk.
Pandangan ku beralih kembali ke jalanan. Kusandarkan kepala ku ke jendela kaca bus.
Ada seseorang seperti nya sedang menyapa atau bahkan kenal seseorang dalam bus ini. Entahlah aku tidak memperhatikan.
"Mas mj, ini kamu kan?" tanya pria itu bersemangat.
"Mas Mj kamu kenapa? kamu gak kenal lagi sama aku ya?" tanya pria itu kecewa.
Pria itu memanggil lagi, aku tersentak karena dia tengah memanggil namaku. Aku menoleh kearah pria itu, dia berdiri di antara kursi penumpang. Aku mengingat kembali siapakah dia. Pikiranku menerawang ketika aku masih menjadi supir angkot.
"Kamu...kamu itukan supir pak Bardi juragan angkot kampung sebelah kan?" tanyaku mulai mengingat pria di depanku ini.
"Benar sekali mas!" dia duduk disamping kursiku yang kosong.
"Iya, aku ingat sekarang! kamu itu kan si anak jahil! si Memet!" aku tersenyum tipis ketika mengingat pekerjaan dulu.
"Syukurlah kalau mas Mj masih ingat! sudah setahun lebih mas Mj merantau di pulau itu. Sekarang mas Mj sudah seperti orang metropolitan, kece banget dandanannya!" Memet memperhatikan aku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ck, ck, gak tanggung-tanggung nih mas. Keren abis pokoknya!" dia memuji akan penampilan ku yang seperti orang kota pada umumnya.
"Biasa aja sih, aku masih sama seperti yang dulu kok!" ucap ku tersenyum.
"Beda mas, selain gaya berpakaian yang kece. Badan mas Mj juga lebih berisi!" ucap Memet lagi.
"Oh iya, kamu darimana nih! kok tumben naik bus luar kota?" tanya ku penasaran.
"Oh ini lho mas, aku mencari pekerjaan di kota Surabaya. Sekarang aku mau mengajak teman yang lain juga, supaya aku ada temennya bekerja disana!" jelas Memet.
"Owh, begitu ya! emang kamu kerja apa disana?" tanyaku.
"Kerja bangunan perumahan baru mas! kontrak 6 bulan, kan lumayan tuh!" seru Memet.
"Mayan sih, tapi apa kamu sanggup kalau kerja berat seperti itu?" tanyaku ragu.
Bukannya apa, Memet ini adalah yang termuda diantara kami semua. Badannya juga kurus, makanya aku menanyakan hal itu.
"Insya Allah sanggup mas! selama itu pekerjaan halal dan berkah kenapa tidak?" Memet tersenyum mantap.
"Syukurlah kalau begitu!" sahutku.
Kami berdua mengobrol sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Aku terus menerus menguap tanda telah mengantuk. Entah kenapa aku tertidur dengan pulas di tengah perbincangan kami. Tak kudengar lagi perkataan Memet. Aku sudah masuk kedunia alam bawah sadar.
*Malik Jayadi POV off.
Di kampung Mj.
Sumiyati menghubungi nomor ponsel anaknya. Sedari pagi tadi ia tak dapat menghubungi Mj. Nomer telpon Mj selalu saja tidak aktif.
Sore hari ini seperti biasa ia dan Nissa tengah duduk dan bermain di dipan yang berada di teras. Raut wajahnya khawatir dan panik. Sudah dari pagi sampai sore ini Mj tak bisa di hubungi. Sudah puluhan kali ia mencoba dan terus mencoba.
Nissa memperhatikan eyangnya yang termenung. Ia mencubit tangan eyangnya dengan sedikit kencang.
"Duh, kamu ini kenapa sih Nis! masak eyang dicubit sih!" keluh Sumiyati pada cucunya.
"Eyang sih bengong mulu! Nissa panggil tapi gak denger!" sungut Nissa kesal. Ia memonyongkan bibirnya dengan gemas.
"Iya, iya, maafkan eyang ya Nissa!" Sumiyati langsung mencium kening cucunya itu.
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan sebuah suara motor yang masuk kehalaman rumah Sumiyati. Sumiyati memicingkan netranya untuk melihat siapakah yang datang.
Nissa terbelalak dan tersentak, ia langsung berlari menghampiri pria yang baru turun dari ojek. Sumiyati terkejut karena cucunya berlari secepat itu. Ia berteriak dan berlari menyusul Nissa.
"Nissa, tunggu eyang nak!" pekik Sumiyati kencang. Ia takut Annissa akan bertemu dengan orang yang berniat tak baik.
"Eyang, ayah pulang eyang!" teriak Nissa dari kejauhan. Ia gembira dan sudah berada di gendongan Mj.
"Apa? benarkah kamu Malik anakku?" tanya Sumiyati pangling kepada seorang pria di hadapannya.
"Ini Malik bu! Malik pulang!" Mj seketika menurunkan Annissa dari gendongan dan memeluk ibunya dengan erat.
"Ya Allah, Alhamdulillah kamu sudah kembali dengan selamat nak! ibu terlalu kangen padamu!" Sumiyati terisak.
Tawa bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Sudah setahun lebih mereka berjauhan.
Hari ini seakan menjadi sejarah baru, inilah pertama kalinya mereka bertemu kembali setelah satu tahun lebih berpisah.
"Nak, kamu tambah ganteng dan berisi ya ada di kota!" Sumiyati memperhatikan Mj dari atas hingga bawah.
"Benarkah bu? tapi Mj merasa biasa saja!" sahut Mj.
Mereka bertiga berjalan beriringan masuk kedalam rumah dan duduk di ruang televisi yang sempit. Mj melihat sekeliling, ia menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar.
"Aku gak nyangka sudah berada di rumah ini lagi!" lirih Mj pelan hampir tak terdengar.
Koper yang Mj bawa di buka dengan tak sabar oleh Nissa. Ia mencoba membuka namun tak berhasil.
"Yah, Nissa mau oleh-oleh nya ayah!" pinta Nissa jujur.
"Maaf sayang! ayah gak beli oleh-oleh untuk Nissa. Tapi, besok kita ke supermarket di ujung desa sana ya! Nissa pilih apa yang Nissa mau!"
Mj berucap sambil mengelus kepala anaknya lembut.
"Asyikkkk!" seru Nissa kegirangan.
Ia melompat dan melebarkan lengannya ke udara. Jelas sekali terlihat wajahnya terlalu senang dan gembira.
"Tunggu dulu nak! ibu mau nanya sesuatu!" Sumiyati berujar.
"Tanya apa bu?" tanya Mj heran.
__ADS_1
"Apa yang membuat keputusan kamu berubah?" tanya Sumiyati.
"Hmm, sebenarnya sih gini bu! Malik minta ijin sementara kepada majikan!" Mj berbohong.
"Hah, terus kamu akan kembali kesana lagi nak?" Sumiyati berubah kecewa.
"Gak kok bu, itu hanya alasan Malik saja!" jelas Mj tersenyum getir. Jelas sekali senyum itu ia paksakan.
"Kamu gak ada masalah kan nak? kenapa raut wajah mu berubah ubah?" tanya Sumiyati menelisik Mj.
"Enggak bu, percaya deh sama Malik!" Mj tersenyum lagi.
"Terus kenapa nomor mu susah di hubungi nak? ibu kuatir sekali lho!" Sumiyati bertanya.
"Malik ganti kartu bu, kartu yang lama rusak. Nomor juga gak ada yang tersimpan karena ponsel Malik error!" Mj beralasan.
"Syukurlah kalau memang kamu baik-baik saja!" Sumiyati bernafas lega.
"Iya bu, Alhamdulillah!" Mj hanya mampu tersenyum.
Tok, tok, tok.
Mereka bertiga menoleh kearah pintu bersamaan. Suara ketukan pintu seakan menghipnotis ketiganya.
"Lho, jam segini siapa ya yang bertamu?" tanya Sumiyati entah pada siapa.
"Mungkin bapak dateng bu!" Mj menyahut.
"Gak mungkin, bapak mu itu pasti akan langsung masuk tanpa permisi!" seru Sumiyati.
"Kalau begitu biar Mj saja yang bukain pintunya!" Mj beranjak dari tempat duduknya.
Ia berdiri dan bergegas berjalan kearah pintu.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu itu terdengar lagi. Suara salam dari seorang perempuan terucap.
"Siapa sih dia?" Mj bergumam lirih.
Ceklek, pintu terbuka.
"Waalaikumsalam!" Mj menjawab salam gadis berjilbab yang ada di depan nya.
"Lho, mas Malik ya? kapan kamu pulang mas?" tanya gadis berjilbab itu.
"Kamu siapa ya?" tanya Mj membuat gadis itu kecewa.
"Hm, mas Mj tak ingat ya denganku. Mungkin karena kita jarang bertemu!" gadis itu tersenyum dengan terpaksa.
"Aku emang berkata sejujurnya!" Mj menyahut.
"Baiklah kalau mas Malik gak ingat padaku! kita kenalan lagi aja!" seru gadis berjilbab itu.
"Sebenarnya saya itu dulu.......!" gadis itu menundukkan pandangannya.
*
*
__ADS_1
*Happy reading all.