Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 89.


__ADS_3

Sivia dan Marshella bertemu di sebuah restoran tanpa di sengaja. Mereka berdua akhirnya memilih untuk pulang bersama. Dalam perjalanan, Silvia menggoda kakaknya yang sedang di mabuk asmara pada supir di rumah.


Setelah beberapa saat pertanyaan Silvia di jawab asal dan seenaknya oleh Shella.


Silvia mulai memancing emosi kakaknya. Silvia meminta syarat atas informasi yang dia bocorkan. Setelah kesepakatan disetujui oleh Shella, akhirnya Silvia berucap lagi.


"Gini lho kak, nanti setelah papa dan orang udik itu bercerai, tante Sandra akan memecat om Mj.


Bahkan tante akan menyebarkan rumor yang tidak baik mengenai om Mj." Silvia berkata jujur.


"Jangan sok tahu deh, emang kamu tahu itu darimana?" tanya Shella tak yakin.


"Beneran lho kak! gue gak sengaja melihat tante berdua dengan bi Minah. Mereka membicarakan tentang itu!" Silvia enteng.


Deg, deg, deg.


Jantung Marshella berdetak lebih cepat dari pada biasanya. Pikirannya di penuhi oleh om kesayangannya.


"Gak boleh, ini semua gak boleh terjadi!" geram Shella. Dia mengepalkan tangannya kuat.


"Nanti gue akan ngobrol dengan tante. Seenaknya dia bisa begitu kepadaku. Gue cuma mau orang udik itu yang minggat secepatnya dari rumah!" Shella berapi-api.


"Sabar dulu deh kak! Tapi, kenapa elo suka sama om Mj sih? gak nyangka gue, seorang Marshella bisa suka sama om-om miskin." Silvia berkata seakan mengejek kakaknya.


"Elo itu ngehina om Mj tahu!" Shella menoyor kepala adiknya gemas.


"Duh, sakit tahu kak! elo yang selalu menghina orang udik itu gimana coba? malah ngatain gue lagi!" Silvia kesal. Dia mengusap bekas toyoran kakaknya di kepala.


"Pokoknya gue harus merayu tante Sandra biar om Mj gak pergi dari rumah!" tekad Shella.


"Terserah ah, gue gak mau ikut campur dengan urusan kalian berdua yang suka bikin ulah!" ketus Silvia.


"Nih, rasainnnn!" Shella geram dan menjewer telinga adiknya.


"Ampun kak, nanti telinga Silvi bisa putus!" pinta Silvia sambil kesakitan.


"Ngomong suka sembarangan sih!" ujar Shella yang telah melepaskan jewerannya.


"Yang Silvi omongin itu kenyataan lho kak, bukan sembarangan!" bela Silvia.


"Minta lagi elo ye!" Shella hampir menarik telinga Silvia.


"Maaf mbak-mbak, kita sudah ada di depan rumah sesuai alamat yang dituju!" sela bapak supir menghentikan obrolan dua bersaudara itu.


Silvia dan Marshella serentak menoleh ke arah rumahnya.


"Ayo dek, buruan turun!" seru Shella yang sudah membuka pintu taksi online.


Mereka turun dan segera masuk kedalam rumah setelah sekuriti membuka pagar automatis. Silvia berlari masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar.


Shella yang melihat adiknya bertingkah seperti anak kecil hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Bocah, udah kaya orang kesetanan ajah sih!" gerutu Shella.


Dia celingukan mencari Sandra. Shella ingin meminta penjelasan pada Sandra.


Sandra yang baru keluar dari kamar mandi langsung keluar dengan berbalut handuk menuju dapur mengambil air minum.


"Dasar tante, untung aja om Mj belum datang. Bisa-bisanya sih keluar kamar kaya gitu!" gerutu Shella kesal.


Dia Melihat tantenya yang sedang menuju dapur, dan langsung menyusul kesana.


Shella bersedekap dan menyender di dinding.

__ADS_1


Dia mengamati Sandra yang mencari minuman di dalam kulkas.


"Tante, gak salah pake handuk doang ke dapur? ini masih sore tant, om Mj bisa saja udah pulang!" Shella menegur Sandra.


"Bodo amat, dia udah pulang pun kalau ngeliat tante kaya gini emangnya kenapa?" sahut Sandra tak peduli.


"Nanti gue laporan sama om Rexy kalau tante Sandra sudah mulai nakal sama cowok lain!" dengus Shella.


"Sejak kapan elo jadi tukang ngadu? emang nya elo tahu nomor telepon Rexy?" tanya Sandra.


"Tahu, mau gue telpon sekarang gak tant?" ancam Shella.


"Kalau elo mau menelponnya, ya telpon aja sih!" tantang Sandra.


Shella menjauh dan merogoh ponsel dalam tas tangannya. Dia menekan nomor yang sudah dia simpan atas nama Rexy.


Tut, tut, tut, suara panggilan terdengar.


"Kenapa Shell? perlu bantuan apa? ayo cepat bilang!" pertanyaan Rexy bertubi-tubi.


Marshella hanya bisa menyunggingkan senyum liciknya sambil memandang Sandra yang tengah minum.


Pikirannya terbersit sesuatu ide yang bisa membuat tante nya terdiam.


"Om, cepat kesini! tante Sandra pingsan. Dia butuh nafas buatan om!" Shella merubah intonasi suaranya menjadi sedih dan kuatir.


"Apaaa!! baiklah, om akan kesana Shel, kamu tunggu di rumah ya!" pesan Rexy.


Rexy yang menerima kabar itu langsung melompat dari tempat tidurnya. Dia segera mengambil kunci dan turun ketempat parkiran mobil di apartemennya.


"Pingsan kenapa sih si Sandra? kemaren kan kita cuma minum dikit doang!" gumam Rexy seorang diri yang sudah berada di balik kemudi.


Dia melesatkan mobilnya kejalan utama.


Dia tak sabar membunyikan klakson mobil ketika sudah berada di depan pintu pagar.


"Pak, cepetan buka!" teriak Rexy yang membuka jendela mobilnya.


Sekuriti bergegas membuka pagar otomatis. Rexy langsung masuk dan berhenti di depan teras rumah.


"Sandra! Sandra!" pekik Rexy yang langsung masuk kedalam rumah tanpa permisi.


Plok, plok, plok.


Marshella bertepuk tangan melihat Rexy yang terburu-buru.


"Kenapa kamu bertepuk tangan Shel? mana Sandra tantemu itu?" tanya Rexy bingung.


"Om Rexy hebat sekali ya! langsung meluncur dalam waktu 10 menit saja ketika mendengar tante Sandra pingsan!" Shella memuji Rexy sambil mengacungkan jari jempol nya pada Rexy.


"Gak usah becanda dong Shel. Mana Sandra?" tanya Rexy tak sabar.


"Tante Sandra ada di dapur om! kesana saja langsung! bi Minah tengah berbelanja mingguan. Makanya Shella panggil om kemari." Ucap Shella enteng.


Rexy langsung melangkah kedapur. Disana dia melihat Sandra yang tengah memakan cemilan dan minum yang bersoda. Sandra hanya mengenakan handuk putih. Tubuhnya terlihat mempesona di netra Rexy. Rexy menelan salivanya ketika netranya menangkap dengan jelas sosok Sandra yang terbalut handuk.


"Sandra, kamu......?" Rexy tercekat.


Sandra menoleh dan tersentak. Spontan Sandra berlari masuk kedalam kamarnya.


Shella yang melihat tantenya malu setengah mati merasa puas akan kejadian tadi.


"Rasain pembalasan Shella, hhhhaahah!" Shella tertawa kencang.

__ADS_1


"Kamu bilang dia pingsan. Kenapa dia hanya make handuk doang Shel?" tanya Rexy.


"Maaf om, tadi Shella hanya bercanda dan ingin membalas tante Sandra, he...he!" cengir Shella.


"Huh, syukurlah dia gak pa-pa!" Rexy menghela nafas lega.


"Om susul aja tuh dikamarnya. Shella mah santai saja om. Bye om Rexy ganteng!" Shella menepuk pundak Rexy.


Dan menjauh pergi ke kamarnya sendiri.


Rexy yang hanya seorang diri bingung mau kemana sekarang ini.


"Masuk kamar Sandra aja ah, kali aja dia bisa di bujuk!" senyum lebar menghiasi wajah Rexy


...----------------...


Senja menjelang ketika Elisa berada di depan bangunan kosan Mj. Seharian ini mereka berdua sibuk mengantar dan memesan produk baru pada konveksi langganan.


Tak terasa waktu sudah senja dan akhirnya aktivitas untuk hari ini telah usai.


"Masuk aja sana mas! aku langsung pulang aja ya! capek banget nih!" ucap Elisa.


"Iya Lis, cepatlah pulang ya!" Mj berpesan.


"Ya sudah, aku masuk sekarang!" Mj berpamitan dan melangkah menuju kamarnya.


Tik, tik, tik.


Hujan menetes membasahi bumi, senja yang tadinya berwarna jingga. Seketika berubah menjadi gelap. Mj cepat berlari menuju kamarnya.


Dia mengibas rambutnya yang basah karena terkena tetesan air hujan. Mj heran kenapa Sudah seminggu lebih pasangan suami istri itu seakan hilang di telan bumi. Mereka berdua tidak ada kabarnya.


"Semenjak warung Hendra tutup, tempat ini sudah tak begitu ramai seperti dulu." Lirih Mj seorang diri.


Tap, tap, tap. Suara langkah kaki terdengar bersamaan dengan air hujan yang turun.


Orang itu tergopoh dan mencari seseorang.


Dia sudah bertanya pada penghuni kamar lain. Tapi, masih saja belum menemukan jawabannya. Dia mendekat kearah Mj yang berdiri dan hendak masuk kekamar nya.


"Maaf mas, saya mau nanya nih! saya mencari pria yang bernama Hendra, mas tahu gak dimana dia sekarang?" tanya pria itu.


"Maaf ya mas, saya juga tidak tahu tentang itu. Saya waktu itu tengah berada di kampung! Pulang-pulang mereka sudah gak ada lagi disini!" Jelas Mj bingung.


"Kalau begitu maaf ya mas mengganggu waktu nya!" Seru pria itu yang meninggalkan Mj. Mj hanya mengangguk saja tanpa berkata apapun.


Pria itu menerobos lebatnya hujan. Tiba-tiba saja Angin bertiup kencang dan merobohkan bagian belakang warung hendra yang hanya terbuat dari kayu triplek tipis.


Dari sana tersembul kain hitam yang menutupi sesuatu. Mj menatapnya lekat, dia seakan terhipnotis oleh benda yang ada di hadapannya.


"Tunggu dulu deh, itu kan.........!"


Mj yang penasaran akhirnya mendekat.


*


*


*


*


*Selamat membaca semua 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2