Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 110. Takdir yang menentukan segalanya


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Elisa masih berada di rumah Marwah. Ia tak meng aktifkan ponselnya sama sekali dari hari pertama kematian Marwah sampai sekarang.


Sudah tujuh hari sejak kematian bundanya yang tercinta.


Hari ini waktunya Elisa kembali ke rumah Cipto. Ia sengaja menghilang dari sana tanpa memberi kabar. Cipto sebenarnya tahu di mana Elisa berada karena bertanya pada karyawan Elisa yang berada di toko.


Elisa melihat sekeliling kamar Marwah. Ia perlahan mengingat kenangan masa lalu tentang mereka berdua. Kamar itu menjadi tempat yang paling nyaman buat Elisa selama berada di rumah Marwah.


Tak terasa air mata menetes di pipi. Kenangan demi kenangan masih tertanam di kepala.


Rumah ini sekarang kosong dan tak berpenghuni membuat Elisa kehilangan semangat dan tujuan hidup. Selama ini hanya Marwah yang menjadi tempat curahan hati Elisa. Ia mengusap air mata yang menetes.


Ia melangkah perlahan dan menutup pintu kamar Marwah. Setiap inci sudut rumah dia pandangi dengan puas. Ia mengunci pintu rumah dan masuk kedalam mobil.


"Elisa, kamu harus kuat dan menghadapi semua ini dengan besar hati!" Elisa menyemangati diri sendiri.


Tangannya memegang kemudi dan membelah jalanan yang sepi. Elisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mobil yang ia setir ia kendarai perlahan. Jalanan masih sepi walaupun hari sudah terik dan merangkak siang.


Tiga jam berlalu.


Kendaraan Elisa sudah sampai di depan rumah Cipto. Ia menghela nafas panjang dan berat.


"Rumah besar tapi membawa penderitaan!" keluh Elisa.


Pintu pagar terbuka, mobil Elisa melaju masuk kerumah besar itu. Mobil Elisa parkir di depan halaman rumah. Tanpa basa-basi ia melangkah masuk kedalam rumah setelah keluar dari kendaraan nya. Ia tak menyapa seorangpun yang berada di dalam rumah itu. Ia bergegas pergi ke kamarnya. Ia menurunkan koper yang berada di atas lemari. Cipto sedari tadi yang memanggil Elisa tak di gubris sama sekali.


Cipto duduk di pinggir ranjang. Ia meraih lengan Elisa, tapi Elisa tepis.


"Apa maumu sebenarnya?" bentak Cipto.


"Gak usah pura-pura om, om dari dulu tahu keinginan aku apa!" Elisa menyahut tak kalah nyaring.


Ia sudah jengah dengan kondisi dan situasi di rumah ini.


"Kalau itu, maaf aku tidak bisa mengabulkan nya!" lanjut Cipto mulai melunak.


"Baiklah kalau begitu! biar aku yang akan menggugat cerai om Cipto!" Elisa berkata tegas dan kencang.


Ia menggeret koper nya ke luar rumah. Cipto menghalangi dengan tongkatnya. Elisa tak mau kalah dan Cipto pun tumbang di depan pintu kamar. Elisa tak peduli pada Cipto yang tengah terbaring di lantai.


"Berhenti Lisaaaa!" teriak Cipto.


Sandra mendengar teriakan Cipto, ia menghampiri abangnya itu.


"Abang kenapa? ayo Sandra bantu berdiri!" Sandra menghampiri dan memapah Cipto.


"Hentikan dia Sandra!" tunjuk Cipto pada Elisa.


"Abang udah jatuh masih saja mau menghentikan wanita kampung itu!" gerutu Sandra kesal.


Cipto yang tak sabar berdiri secara langsung dan keseimbangan nya tak sempurna.


Ia terjatuh lagi dan kepalanya terantuk membentur lantai.

__ADS_1


Sandra yang melihatnya tak mampu berbuat apapun, kejadian nya begitu cepat.


"ABANGG!!!" Sandra berteriak kencang.


Ia takut terjadi sesuatu pada Cipto. Ia berlari memanggil sekuriti dan bi Minah untuk membantu nya menggotong Cipto. Elisa tak mempedulikan mereka, ia bergegas masuk mobil dan melajukannya dengan kencang.


Elisa berencana akan menginap di tokonya sendiri.


Sandra yang panik karena Cipto tak sadarkan diri akhirnya mau tak mau membawa Cipto ke RS terdekat. Ia tak mengingat lagi pesan Rexy yang menyuruh nya untuk waspada dan jangan sampai keluar rumah. Sandra masuk ke dalam mobil di kursi pengemudi. Cipto di baringkan di kursi belakang dengan bantuan bi Minah dan sekuriti. Ambulans yang di hubungi belum sampai karena di jalan. Jadi mau tak mau Sandra pergi melajukan kendaraannya. Tangannya gemetar melihat Cipto yang pucat pasi.


"Bang, sebentar lagi kita sampai dirumah sakit. Bertahan lah!" lirih Sandra.


Ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mobil Sandra. Sandra tak menyadari itu, ada dua orang pria di mobil hitam itu.


"Bro! sekarang ajah kita Pepet sampe berhasil!" seru pria botak antusias.


"Baiklah, elo kudu tancap gas! kita kudu kabur secepatnya!" sahut pria cepak tersenyum licik.


Sandra melajukan kendaraannya dengan cepat. Tiba-tiba dari kaca spion samping dia melihat sebuah mobil hitam mau menyalip dengan cepat.


"Sialan tuh mobil, emang sembarangan banget!" kesal Sandra.


Sementara itu kedua pria di dalam mobil hitam mulai melancarkan aksinya.


Braaakkkkkkk


Mobil Sandra hilang kendali. Mobil itu menabrak pembatas jalan dan terlihat bahan bakar kendaraan menetes. Sandra kehilangan kesadaran, dahinya terantuk dan berdarah. Tangan Sandra tergencet setir mobil yang rusak. Orang-orang yang melihat menghampiri kendaraan Sandra. Mereka menghubungi ambulans secepatnya.


*Di dalam mobil hitam.


"Elu gak usah banyak omong! kita harus ke puskesmas, kepala gue kejedot pintu kaca!" ucap pria cepak sambil menahan sakit.


Mobil hitam itu menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di jalan tersebut. Kondisi mobil itu tak seharusnya berada di jalan raya utama. Kap mobil itu terbuka dan menampakkan bagian dalam mesin.


"Sebaiknya kita ganti mobil dulu! yukk buruan ke rumah nona Jessi!" ajak pria botak gelisah.


"Ide bagus, tapi cepetan ya! sakit banget nih kepala gue!" keluh pria cepak meringis.


Mobil hitam melaju ke arah rumah Jessi. Mereka tidak tahu bahwa rumah yang Jessica tempati sekarang itu hanyalah rumah sewa.


Sesampainya disana, Jessi tengah berada di teras sambil memegang cangkir kopi.


Mobil masuk begitu saja di halaman rumah itu.


Kedua pria itu menghampiri Jessica yang tengah bersandar di kursi.


"Bos, kita butuh mobil baru! mobil ini udah gak bisa di pakai lagi!" seru pria botak pelan.


Jessica menoleh kearah kendaraan. Ia mengernyitkan dahi heran.


"Kalian kenapa merusak mobil itu?" pekik Jessica.


"Maaf bos, rencana sudah kami jalankan. Dan mobil lumayan keras menghantam mobil target." Lapor pria botak.


"Baguslah kalau begitu! tapi kenapa kalian kesini menggunakan mobil ini?" tanya Jessica.

__ADS_1


"Kami mau menukar mobil yang lain bos!" lanjut pria botak.


Pria yang berambut cepak hanya terdiam sambil menahan sakit.


"Kalian ini benar-benar bodoh!" pekik Jessica berang.


"Kalau target sudah kalian pepet seharusnya kalian buang ini mobil secepatnya! BUKAN MALAH KESINI BEG*!" teriak Jessica memaki orang suruhannya.


"Bbbaaiklah bos kami berangkat sekarang juga!" pria botak tergagap dan langsung masuk kedalam mobil.


"Tancap sekarang juga!" ajak pria cepak yang mulai bersuara.


Mereka berdua menjauh dari rumah Jessica dan pergi ke daerah tebing yang lumayan jauh. Sebelum itu mereka berdua ke puskesmas terdekat untuk memeriksakan diri karena terkena benturan yang keras ketika menabrak mobil Sandra. Sampai ditebing, mereka berdua menyiram mobil dengan bahan bakar yang sudah disiapkan dan langsung mendorong mobil ke jurang. Cara yang sungguh licik untuk menghilangkan bukti.


Setelah mobil itu jatuh dan terbakar di bawah sana, kedua orang itu tersenyum puas.


"Sebentar lagi cair bro!" senyum pria botak lebar yang hanya di jawab oleh anggukan kepala dari orang di sebelahnya.


Mereka berdua berjalan kaki menuju pemukiman penduduk terdekat. Mereka berpura-pura kecelakaan, perban dan obat dari puskesmas sebelumnya sudah mereka buang jauh-jauh. Ketua RT di desa dan warga sekitar yang simpati menolong kedua pria itu. Rencana mereka berjalan dengan lancar.


*Rexy yang berada di kantor editor.


"Kontrak kita akhirnya di perpanjang!" senyum kepala editor majalah senang.


"Ini semua karena ketampanan aku!" Rexy membanggakan diri sendiri.


"Silahkan minum dulu! nanti malam akan saya hubungi untuk makan malam dengan rekan kerja saya yang menangani urusan di Belanda! kebetulan sekali beliau tengah bertugas di sini!" jelas pak Romli panjang lebar.


"Baiklah, saya akan mengosongkan jadwal kosong untuk malam nanti!" Rexy tersenyum puas.


Rexy mengambil cangkir kopinya. Tanpa sengaja ia menjatuhkan cangkir itu dan pecah berantakan.


"Maaf pak, cangkir nya panas ketika aku pegang, makanya aku lepaskan! refleks!" cengir Rexy merasa bersalah.


"Gak pa-pa, santai ajah! nanti biar OB yang bersihkan!" sahut Romli kepala editor.


Kriiiiinnnggg......


Ponsel Rexy berdering nyaring.


Ia mendengarkan suara di telpon dan langsung bergegas pergi tanpa pamit pada pak Romli.


"Dasar bule si*lan! emang gak punya sopan santun. Pergi kok gak pamit!" gerutu Romli.


Rexy berlari dan menuju parkiran. Ia tak menghiraukan panggilan penggemar nya yang sedari tadi menunggu di lantai dasar kantor majalah terkenal ini.


"Tunggu aku sayang!" Rexy bergumam sambil menyetir.


*


*


*Selamat membaca 🥰.


Karena ada kepentingan di RL jadi author libur untuk update beberapa hari yang lalu. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak nya pembaca setia 🥰. Nantikan kelanjutan kisah Elisa dan Malik yang sebentar lagi akan menuju titik terang. Tinggalkan komen yuk, Malik akan bersatu atau berpisah dengan Elisa? apakah maut akan memisahkan keduanya?.

__ADS_1


__ADS_2