
*Malik Jayadi POV.
Pagi ini aku memulai kembali pekerjaan ku.
Sebenarnya malas sekali mau bekerja di rumah itu lagi. Tapi, aku juga tidak mau Elisa kenapa-napa. Setidaknya aku ada di sampingnya. Biarlah aku yang menyakiti perasaannya perlahan daripada Sandra yang turun tangan langsung.
Setelah berpakaian dengan rapi, aku melangkah menuju rumah itu. Udara pagi ini cukup cerah walaupun semalam kota ini di guyur hujan dengan derasnya.
Perasaan ku makin tak menentu. Tapi, aku berusaha bersikap tenang seperti biasanya.
Langkah ku perlahan seakan tak berdaya menghadapi Elisa nanti.
Tin, tin, tin.
Dibelakang ku terdengar suara klakson mobil.
Suara itu terasa dekat sekali. Mobil itu berjalan di belakang ku.
"Tunggu dulu, kenapa aku diikuti oleh mobil itu? siapakah dia?" batinku.
Aku memberanikan diri untuk menoleh kebelakang.
"Kamu? sedang apa kamu disini?" orang yang mengikuti ku hanya bisa terkikik dan menyengir.
"He, maaf om. Shella kangen sama om." Cengir gadis itu.
"Kalau kangen jangan sama om dong! kangen tuh sama pacarmu ajah!" seruku acuh.
Tin, tin, tin.
Shella menekan klakson mobilnya lagi.
"Om Mj, Ayuk masuk dong! gantiin Shella!" suruh anak itu.
"Ck, pagi-pagi udah bikin bad mood nih bocah!" gerutuku lirih.
Aku menuruti kemauan Marshella, dia menepikan mobilnya di bahu jalan. Aku masuk menggantikan nya di kursi kemudi.
Shella duduk di sebelah ku. Dia mulai memegang bahu dan mengelus dadaku.
Sungguh risih dibuat nya.
"Kalau Elisa yang ngelus masih ada enak-enaknya. Heh, malah di elus Sama bocah tempramen ini." Batinku.
"Om, Shella itu kangen banget lho! om sih lama banget sakit nya sampe 4 hari segala." Seru Shella dengan nada suaranya yang manja.
"Siapa juga yang mau sakit Shel! kalau bisa milih om juga mau kerja terus, gak mau sakit," jelasku.
"Om, gimana kalau pagi ini kita sarapan di restoran langganan Shella? disana enak banget bubur ayam nya om." bujuk Shella.
"Tapi, kalau nanti om telat gimana? nanti nyonya Elisa marahnya sama Shella tau," aku menolak secara halus.
"Tenang saja om! dia gak mungkin marahin Shella. Dia siapa nya Shella sih, bukan siapa-siapa kan?" lanjut Shella enteng.
"Dia kan ibu tiri Shella." Tekanku.
"Gak, bukan. Sampe kapanpun Shella gak mau nganggep dia itu ibu tiri." Shella mulai kesal mendengar perkataan ku.
"Terserah kamu saja Shella. Asal kamu masih waras dan gak gila kaya tantemu yang norak itu!" gumamku dengan suara pelan sekali.
__ADS_1
"Om ngomong apa?"
"Gak kok, gak ngomong apapun! tadi di depan ada kucing nyebrang!" aku menjawab asal.
"Owh, kirain ngomong paan om!" sahut Shella.
Shella kembali menyandarkan dirinya di kursi.
Tangan nya sudah diam ditempat nya semula.
Dia menunjukkan arah kemana aku harus pergi.
Setelah berkeliling, akhirnya arah yang ditunjuk Shella tepat.
"Maaf ya om, sudah lama juga Shella gak makan disini. Jadi, Shella lupa jalannya!" cengir nya tanpa bersalah.
Tiga puluh menit tadi berkeliling hanya untuk mencari restoran langganan nya.
"Ya sudah, buruan turun. Kita makan sekarang juga!" suruhku.
Aku langsung memarkirkan mobil ke tempat nya. Kami berdua turun dari mobil.
Kuikuti kemauan Shella. Kami sarapan berdua disini. Dan kembali lagi kerumah Cahyono yang super megah.
...----------------...
Ada wanita itu yang menunggu ku di teras rumah. Raut wajahnya terkesan tak bisa diartikan. Dia berdiri sambil menyender di sebuah tiang teras.
Aku dan Shella semakin dekat dengannya.
Raut wajahnya berubah merah padam.
"Baiklah nyonya!" jawabku singkat.
Aku mengikuti langkahnya. Ada seorang wanita lain melihat ku dengan tatapan mengancam.
Ya, dialah Sandra. Orang yang tak segan menyakiti Elisa kalau aku tak bisa menghindari Elisa.
Sandra duduk di kursi taman depan. Dia memperhatikan kami berdua. Elisa yang terdiam sedari tadi menandakan bahwa ada yang salah dengannya.
Aku bisa menebak itu. Pasti dia kesal akan tingkahku kemarin yang tak mempedulikannya.
"Cepat buka pintunya mas!" suruh Elisa dingin.
"Baiklah nyonya!" aku langsung membuka pintu tempat nya duduk.
Dia segera masuk. Aku menutup pintu itu kembali. Secepat kilat aku menuju kursi kemudi.
Tiba-tiba saja Elisa menarik kerah bajuku.
Aku yang tidak siap akan gerakannya langsung terjatuh kedalam pelukannya. Perut ku terganjal oleh perseneling mobil di sebelah kiri.
Elisa menyambar mulutku, dia menc**mku tanpa aba-aba. Ciuman nya sungguh panas. Nafasnya tersengal. Awalnya aku hanya diam tanpa membalasnya. Akan tetapi alam bawah sadar ku menginginkan ciuman ini.
Kami saling mem**ut. Tak berapa lama setelah saling menge**p kami berhenti dan mengambil nafas.
Nafas yang awalnya tersengal perlahan normal kembali. Dia merapikan tampilannya.
"Semalam aja lagaknya dingin. Dikasih ci***n malah bales lebih gan*s." Ucap Elisa kesal.
__ADS_1
Mungkin dia masih memikirkan tindakanku semalam.
Aku hanya menghela nafas perlahan. Berusaha mengontrol kembali nafas yang tersengal tadi.
"Berangkat sekarang ke toko. Ada stock baru yang datang dan perlu di cek ulang!" suruh ya tanpa basa-basi.
"Baiklah nyonya!" jawabku singkat.
Aku melajukan kendaraan ini keluar dari rumah dan menuju jalan raya utama.
"S**lan, gara-gara ci**an Elisa aku jadi kaya gini. Sadar Malik! kamu harus sadar!" batinku tak tenang.
Kami hanya terdiam tanpa bersuara sedikit pun.
Hanya terdengar suara deru mesin kendaraan yang berlalu lalang di sekitar kami.
Tak berapa lama kami sampai dan langsung masuk ke toko Elisa.
Aku menunggu nya di ruang tunggu.
Seperti biasanya aku akan diam disini sambil memainkan ponsel android ku.
Kriiingggggg.
Dering ponsel ku terdengar nyaring.
Kulihat layar ponsel ku. Nama itu tertera di layar. Aku tersenyum lebar dan menerima panggilan nya.
Setelah saling mengucapkan salam aku menyapanya. Menyapa orang kesayangan ku. Menyapa orang yang aku cintai sedari kecil.
"Ibu, tumben nelpo. Biasanya kan Malik duluan yang nelpon!" sapaku.
Suara di ujung sana terdengar antusias sekali.
"Iya nak, ibu bersemangat sekali hari ini, makanya ibu cepat-cepat menelepon mu."
Sahut ibuku senang.
"Ada apa bu? bapak dapet rejeki nomplok ya?" tanya ku sambil tersenyum lebar.
"Kalau rejeki Alhamdulillah selalu ada saja nak! kamu tidak usah kuatir akan itu!" sahut Ibuku.
"Annissa mana bu? biasanya kan kalau ada ibu pasti ada Nissa disitu." Tebakku.
"Ada kok, Nissa tengah bermain bersama mereka." Jawab ibuku.
"Mereka? siapa mereka itu bu? temen sekolah Annisa ya?" tanyaku penasaran.
"Bukan nak! bentar ya ibu akan mengalihkan panggilan video dulu! biar kamu bisa melihat nya juga!" seru ibuku.
Ibuku mengalihkan panggilan video. Terlihat ibu mendekat kearah mereka bertiga.
"Tunggu dulu itu kan....."
*
*
*
__ADS_1
Happy reading.