Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 31. Sebuah pengalaman baru


__ADS_3

Angin berhembus kencang ketika aku keluar dari kamar penumpang dikapal ini.


Mentari belum menampakkan sinarnya. Sebentar lagi kami akan tiba di pelabuhan kota L.


Rasanya senang bercampur sedih. Inilah pertama kalinya aku merantau ke kota lain.


Rasanya berdebar sekali. Dan banyak bermacam-macam pikiran yang terlintas.


Apakah nanti aku akan di sambut baik atau sebaliknya. Karena yang aku tahu, Kota ini juga berisi pendatang dari berbagai macam suku yang ada di indonesia.


Sebuah pengalaman baru untukku. Pekerjaan yang Dendi tawarkan pun, belum pernah sekalipun aku mengerjakannya. Menjadi seorang buruh pabrik minyak sawit.


Dendi yang sudah bangun dari tidurnya, menghampiriku di deck kapal. Dia sudah menghubungi orangtuanya. Dan mereka sudah menyiapkan mobil travel untuk kami. Karena barang bawaan Dendi yang lumayan banyak.


...----------------...


Kapal sudah bersandar di pelabuhan.


Kami sudah berada di parkiran penumpang yang akan di jemput.


Mobil sudah membawa kami. Aku menelisik jalanan kota ini. Gedung pencakar langit dimana-mana. Aktifitas di jalan raya sungguh padat. Kendaraan berdesakan tak beraturan. Pepohonan berjajar rapi di pinggir jalan raya.


Setelah 2 jam menempuh perjalanan. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah kontrakan.


Rumahnya tergolong sederhana. Dari luar tertata pohon bunga mawar beraneka warna.


Mengelilingi pagar rumah yang masih berpagar kayu.


Dendi mengajakku masuk setelah mengambil kunci rumah yang tersimpan di bawah keset depan pintu.


Didalam rumah terlihat rapi. Sepertinya orangtua Dendi rajin berbenah dan berkemas rumah.


Dendi menunjuk kamar kosong di belakang, dekat dengan kamar mandi. Ya...rumah ini ada tiga kamar. Dan kami mendapat kamar masing-masing.


"Den, apa gak mahal kalau ngontrak di tempat seperti ini? walaupun sederhana, tapi perabotnya lumayan juga tuh," tanyaku.


"Kamu gak usah mikirin uang kontrakan mas. Rumah ini tuh jatah dari Bos bapak dan ibu.


Baru sebulan mereka pindah kesini. Karena kita mau datang, jadi bos menyuruh bapak dan ibu tinggal disini." jelas Dendi.


"Oh...seperti itu ya. Baiklah, kalau begitu aku mau istirahat ya. Badan kok pegel semua ini," kataku sambil menggelengkan kepala perlahan.


"Emang gak laper? gimana kalau kita makan dulu? Dendi yang bayar deh," ucapnya semangat.


"Laper sih. Tapi kok males makan. Pengennya rebahan." kataku.

__ADS_1


"Gak boleh gitu mas. Lebih baik kita cari makan dulu di sekitar sini. Ayo berangkat!" ajaknya semangat.


Kuturuti keinginannya. Kami melangkah bersama. Tak jauh dari rumah. Ada warung kecil yang baru buka. Kami masuk dan makan disana.


...----------------...


Setelah mandi dan beristirahat. Akhirnya sore pun tiba. Orang tua Dendi baru saja pulang dari pekerjaan mereka.


Aku bersalaman dan mengucapkan terimakasih kepada mereka berdua.


"Lumayan juga kita gak ketemu ya Lik. Setelah Nissa lahir apa ya?" bu puji berucap sambil mengingat.


"Saya juga lupa buk. He..he..he..maklum, kerja terus semenjak punya anak," cengirku.


"Bapak mau mandi dulu nak Malik. Kamu harus betah disini ya! biar Dendi ada temennya." Sambil berlalu pergi meninggalkanku.


"Kapan sudah mulai kerja bu? aku khawatir bu. Aku kan belum pernah jadi buruh pabrik." kataku dengan tampang khawatir.


"Enak kok nak jadi buruh pabrik. Tapi, kalau kamu sama Dendi punya kerjaan lain. Pagi sampe siang kalian jadi buruh pabrik. Setelah itu kalian harus istirahat. Malam jam 10 kalian harus bekerja kembali." Ucap bu puji enteng.


Aku yang mendengarnya sama sekali heran dan bertanya-tanya. Kerjaan lain apa? sementara Dendi hanya menawariku kerja di pabrik.


"Maaf bu. Kerjaan lain itu seperti apa ya? kok saya tidak tau kalau ada pekerjaan lain selain buruh pabrik." Aku bertanya.


"Dendi pasti gak ngasih tau kamu. Biar dia saja nanti yang jelasin sama kamu!" Lanjut bu puji.


Ada apa ini? kenapa Dendi tidak memberitahuku perihal kerjaan sampingan itu?


Pikiran ku menjelajah entah kemana. Hatiku mulai diliputi rasa ragu.


...----------------...


Malam pun tiba. Setelah selesai makan malam. Kami tidak banyak berbicara. Rasanya sungguh canggung.


Siang tadi setelah mengabari ibu, bapak dan Nissa. Pulsa habis dan aku tidak mengisinya kembali. Ingin rasanya berkumpul dengan mereka lagi. Baru satu hari disini. Tapi pikiranku masih saja berkelana di kampung sendiri.


Dendi menghisap rokoknya di teras rumah. Aku menghampirinya dan menanyakan kerjaan sampingan yang dibicarakan bu puji tadi sore.


"Dendi....sebenarnya aku masih ragu dengan kerjaan sampingan itu," ucapku ragu.


"Oo....mas Malik gak usah khawatir ya! nanti mas Malik hanya jadi supir dan kurir kok. Aku yang mantau kondisinya. Jadi tenang saja mas!" ucapnya dengan enteng.


"Jadi, pagi sampe siang kerja buruh. Malem kerja supir gitu ya Den?" tanyaku heran.


"Iya mas. Bayarannya lumayan lho. Lima kali lipat daripada mas kerja supir angkot dalam seminggu," jawabnya tersenyum.

__ADS_1


"Emang aku harus jadi supir apa? kenapa harus malam hari?" tanyaku lagi memastikan.


"Supir Container barang mas. Barang elektronik gitu. Nanti juga kalau sudah kerja, pasti tau sendiri kok itu barang apaan," Dendi tersenyum kecut.


"Hmmm.....Baiklah kalau kaya gitu. Kamu kasih tau aja kapan kita bisa mulai kerja!" lanjutku lagi.


"Santai aja mas. Kalau kerja pabriknya sih 2 hari lagi. Tapi, kerja sampingannya hanya seminggu dua kali." ujarnya enteng dan menghisap rokok yang masih ada di tangannya.


"Aku masuk dulu ya! mau beresin baju-baju dulu," Ucapku sambil melangkah pergi.


Dendi hanya mengangguk. Dia tersenyum senang. Pikiran Dendi berkelana ketika orang tuanya memintanya bekerja di kota ini dan harus mengajak satu orang teman.


*Flashback Dendi.


Aku yang seorang diri disini merasa nyaman. Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk berbuat seenaknya. Jatah uang bulanan juga masih lebih dari cukup. Mungkin karena aku ini anak satu-satunya. Jadi, orangtuaku selalu memanjakan aku.


Aku sudah mulai bosan berada di kampung ini.


Setiap hari kerjaanku hanya keliling kampung dan mencoba kuliner baru yang di tawarkan di pinggir jalan kampung.


Tlililiit .....


Ponsel ku berdering nyaring.


"Ah ...udah malam juga. Siapa sih yang menelpon?" sambil melihat layar ponsel.


"Bapak? tumben nelpon jam segini," sambil menjawab panggilan telepon.


"Kenapa pak? Dendi udah mau tidur nih," keluhku malas menjawab suara diseberang telepon.


"Belum tengah malam udah mau tidur aja. Kamu secepatnya harus kesini ya! si bos ada kerjaan baru. Bayarannya gede lho. Sayang kan kalau orang lain yang dapet kerjaan kaya gitu," jelas bapak.


"Kerjaan apa sih pak? Dendi males kalau kerjanya berat. Gak sanggup pak." Keluhku lagi.


Bapak di seberang telepon menjelaskan pekerjaan itu. Aku harus kesana berdua dengan temanku. Karena pekerjaan ini harus bisa saling bekerja sama. Aku tersenyum lebar.


"Ah...ternyata si bos punya usaha kaya gitu ya. Gak nyangka banget," gumamku seorang diri.


Aku memikirkan siapa teman yang akan ku bawa nanti.


"Aha....mas Malik. Sepertinya dia orang yang tepat. Dia itu polos dan mudah di bodohi. Kan lumayan aku dapat bagian lebih besar dari dia,"


Seringaiku licik dan tersenyum puas.


*Flashback off.

__ADS_1


Dendi yang mengingat kejadian itu tersenyum penuh arti. Dia menyesap rokoknya sampai habis dan beranjak menuju kamarnya.


Apa yang di rencanakan Dendi dan keluarganya? pantengin terus ya para reader tercinta...jangan lupa dukung dengan cara like, komen, dan rate bintang. Vote juga boleh kok 😁😁 ..makasih semuanya 🙏🙏🙏🤗😍


__ADS_2