Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 37. Harus bertahan


__ADS_3

Sudah dua hari aku disini. Terbaring memulihkan kondisi. Aku berlatih duduk di brankar. Walaupun punggung rasanya remuk seperti ditumpuk batu besar.


Kedua wanita itu meninggalkanku setiap malam hari. Aku juga merasa kasihan, karena keadaanku mereka jadi terjebak disini. Aku juga tahu, pasti mereka juga punya kesibukannya sendiri.


Malam ini aku harus berlatih berjalan. Kaki kiriku yang terasa terkilir dan nyeri perlahan mulai berangsur membaik. Aku duduk dan mulai beranjak dari brankar. Infus ditanganku sudah habis dan boleh dilepas.


Aku berjalan tertatih, sambil berpegangan ke pembatas brankar. Langkahku pelan seperti bayi yang belajar berjalan.


Sudah dua hari terbaring saja. Rasanya sungguh tidak nyaman.


Ketika aku mulai lancar berjalan. Tiba-tiba saja....


*Klak.....


Pintu terbuka.


"Bukankah jam menjenguk sudah berakhir? Kenapa dia kesini?" tanyaku dalam hati.


"Maaf, ada yang tertinggal disini. Kamu....kamu udah bisa bangun dan berjalan?" dia bertanya sambil menatapku.


Aku mengangguk sambil berkata.


"Aku mulai belajar duduk dan berjalan agar bisa cepat keluar dari sini. Kalian pasti kerepotan harus menjagaku!" Lirihku tak enak hati.


"Tidak usah khawatir. Aku dan bunda tidak kerepotan olehmu. Malah aku seharusnya yang menjagamu karena sudah menabrakmu waktu itu." Lirihnya pelan merasa bersalah.


"Aku baik-baik saja sekarang! jadi kalian tidak usah khawatir." Aku tersenyum padanya.


Netra kami saling bertemu. Aku baru menyadari wajah di depanku ini. Wanita ini wajahnya lembut. Sorot matanya seperti menyimpan suatu tekanan. Bibirnya agak tebal dengan warna yang ranum. Mata lebarnya melihatku tanpa berkedip. Wajah di depanku ini terbilang cantik dan menawan. Berbeda dengan wanita-wanita yang aku kenal selama ini.


Rambutnya hitam panjang tergerai.


Kualihkan cepat-cepat pandanganku.


Pandangan kami terputus.


"Ehm...ini yang ketinggalan. Maaf kalau kamu terganggu. Aku permisi dulu!" Dia menunjukkan tas kertas diatas nakas sebelah brankar.


"Tunggu dulu! Aku belum tahu siapa namamu." Lirihku ragu.


"Iya juga. Maaf aku juga lupa memperkenalkan diri. Kenalin, nama saya Alisa....kamu?" Katanya sambil mengulurkan tangannya.


"Bukankah kemarin kamu tahu siapa namaku? apa sudah lupa?" Ucapku pelan.


"Benarkah?" Dia berusaha mengingatnya.


"Oh ... iya, Adi. Nama kamu Adi kan?" tangannya masih terjulur ke arahku.


Kuraih tangannya sambil berkata.


"Iya kamu benar. Lengkapnya sih Malik Jayadi. Tapi kamu cukup panggil saya Adi saja!" tambahku.


"Baiklah kalau seperti itu. Silahkan istirahat dulu mas Adi. Saya akan kerumah bunda.


Selamat malam." Senyumnya yang menawan menghipnotis penglihatanku.


"Selamat malam Alisa." Kataku sambil melihatnya pergi dari hadapanku.

__ADS_1


"Malik, kamu sudah bermain perempuan selama ini. Kamu harus berhenti dan mencari ibu untuk Nissa!" Batinku mengutuk diri sendiri.


Aku melangkah mengelilingi kamarku. Setelah dirasa cukup kuat berjalan. Aku mulai keluar kamar. Disana ada beberapa suster yang berjaga malam. Mereka menatapku sambil tersenyum tipis.


Aku duduk diruang tunggu dengan baju pasien.


Hanya ada beberapa orang disini. Aku terdiam memikirkan nasib kedepannya. Apalagi aku berada di kota orang.


...----------------...


* Kampung halaman Malik.


Sore itu Sumiyati, Sugeng dan Annisa bersenda gurau didepan televisi mungilnya.


Sumiyati teringat sesuatu.


"Oh iya. Nissa kita telpon ayah yuk!" Ujarnya pada Nissa.


"Iya Yangti. Nissa kangen sama ayah," sahutnya berbinar.


Sumiyati menghubungi anaknya.


Terdengar deringan dari ponsel Malik.


Setelah beberapa kali di hubungi, Sumiyati mengernyit heran.


"Biasanya tuh anak kalau ditelpon. Pasti langsung telpon balik. Tapi ini sudah lima kali di hubungi kok gak dijawab ya pak?" Sumiyati berujar pada Sugeng.


"Kali aja Malik masih tidur bu. Ibu kan tau sendiri, malam nanti dia jadi supir kepelabuhan." Sugeng dengan entengnya berucap.


"Awalnya juga ibu berpikiran seperti bapak. Tapi, kali ini perasaan ibu cemas sekali." Tambah sumiyati.


"Ibu ini aneh sekali. Anak kita itu sudah besar. Lihat di depan kita tuh hasilnya. Gak usah luatir berlebihan dengan Malik. Apalagi dia anak lelaki bu." Sugeng menunjuk Annissa di depannya.


"Ya sudahlah pak kalau seperti itu. Ibu akan doakan anak-anak kita agar selamat dan sehat selalu." Sumiyati berdoa.


"Aamiin," Sugeng menelungkupkan tangan ke wajahnya tanda mengamini doa istri.


Nissa yang melihat dan mendengar obrolan kakek neneknya hanya bisa manggut-manggut tak mengerti.


"Nissa ikut Aamiin juga gak Yangti?" tanyanya sambil menyengir lebar.


"Boleh dong." Sahut Sumiyati.


"Aamiin," ucapnya sambil mencium telapak tangannya sendiri.


Mereka bertiga kembali fokus menonton acara yang ada didepannya. Nissa, seperti biasa sibuk dengan Molly dan boneka barbie.


Beberapa saat kemudian.


Tiiilililililit.


Suara ponsel android Sumiyati berdering.


Dia melihat layar ponselnya dengan memicingkan netranya.


"Malik pak." Ucapnya pada Sugeng.

__ADS_1


"Assalamualaikum nak Malik." Sumiyati memberi salam.


"Waalaikumsalam bu. Ibu Sumiyati bukan?" tanya suara sebelah.


"Kenapa bukan suara Malik? kemana anak itu?" batin Sumiyati.


"Iya.... saya Sumiyati ibunya Malik." Sumiyati mengiyakan.


"Ini siapa? kemana anak saya?" tanya Sumiyati lagi.


"Saya Puji. Ibunya Dendi mbak. Embak apa kabarnya?" ucap suara sebelah.


"Owalah. Puji lestari? saya pikir kamu ndak akan pulang kampung. Betah amat di kota orang. Sudah tiga tahun gak pulang." Cecar Sumiyati bertubi-tubi.


"Rencana sih tahun depan saya pulang sama suami mbak. Tapi, ada masalah. Jadi kami undur kepulangan kami." Tambahnya lagi.


"Kalian baik-baik saja kan disana?" tanya Sumiyati.


"Kami disini baik. Tapi, Malik.....ehm....Malik." ucap Puji tertahan.


"Malik kenapa? ada apa dengannya? Dimana dia sekarang Ji?" tanya Sumiyati bertubi-tubi.


"Gini lho mbak."


Puji menjelaskan secara detail pekerjaan Dendi dan Malik selama ini. Nada suaranya bergetar. Dia merasa bersalah kepada semuanya. Musibah yang amat besar menimpa anaknya dan Malik. Ya, walaupun Malik tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini.


Sumiyati meneteskan air matanya. Air mata itu mengalir dengan deras. Karena dialah yang memaksa dan menyuruh Malik merantau dengan Dendi. Dia merasa bersalah akan keputusannya waktu itu.


"Ya Allah. Dimana Malik sekarang Ji? tidak bisakah kalian mencarinya?" tanya Sumiyati yang mulai putus asa.


"Maaf mbak. Selama proses interogasi masih berjalan. Kami tidak diperbolehkan kemana-mana dulu oleh bos David. Bekerja saja kami dijemput dan diantar. Maaf, kami tidak bisa menolong mencari tau keberadaan Malik." Jelas Puji panjang lebar.


Sumiyati masih menangis. Annissa dan suaminya menatapnya heran. Dan masih belum mengerti arah pembicaraan Sumiyati dengan orang di ujung telepon.


Setelah mematikan ponselnya. Sumiyati bercerita tentang keadaan anaknya sekarang ini. Sudah dua hari dua malam Malik tidak ada kabarnya.


"Ya Allah bu. Kenapa mereka sejahat ini sama Malik? anak kita itu anak baik-baik. Bapak tidak menyangka dia mau bekerja seperti itu. Bapak kecewa sekali." Raut wajah Sugeng yang awalnya murung berubah menjadi geram.


Geram akan sikap keluarga Dendi yang sudah menjerumuskan anaknya dalam pekerjaan illegal.


Mereka meratapi nasib anak lelaki satu-satunya. Mereka memeluk Annissa dengan erat. Berharap ayah dari anak ini di temukan. Annissa yang tidak mengerti apapun ikut menangis dipelukan kakek neneknya.


Dia merasa bersedih melihat kakek nenek tercintanya menangis.


Keluarga Jayadi dipenuhi awan kelabu.


Bisakah mereka menghadapi hidup tanpa sang putra satu-satunya?.


*


*


*


Selamat membaca Reader tercinta. Maaf masih belum bisa double up karena Author masih banyak kesibukan di RL.


Tetap dukung Author dengan cara like, komen, rate bintang lima, Favorit dan bisa memberi vote. Terimakasih semuanya yang sudah berkenan membaca karya Author. 🙏🙏🙏😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2