Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 85. Cipto yang mulai terpancing


__ADS_3

Rumah kediaman Cahyono.


Sandra yang tengah duduk bersama Abangnya menunggu kepulangan Elisa. Rencana yang telah dia rancang untuk menjatuhkan Elisa akhirnya bisa dilaksanakan.


Setelah dia dapat bukti dari bi Minah tadi pagi. Akhirnya misi dijalankan secepatnya.


"Bang! abang kali ini harus percaya sama Sandra!" Sandra membuka pembicaraan.


Cipto menoleh kearah adiknya yang tengah duduk di samping. Selain sudah bisa berbicara pelan, Cipto juga mulai aktif bergerak.


"Sandra hanya mau abang bahagia dan tidak kesepian! tolong percaya sama Sandra bang!" mohon Sandra pada Cipto.


Wajahnya dia buat sesedih mungkin.


( Berdrama banget nih Sandra 😤 perlu di getok pake centong nasi 🤧)


Sandra mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia memberikan ponsel pada Cipto. Cipto meraih ponsel Sandra perlahan sekali.


"Bagus, abang mulai bersemangat mencari tahu tentang Elisa! rencana gue akan berjalan dengan lancar kali ini!" batin Sandra senang.


"Tunggu dulu bang! biar Sandra buka ponsel ini!" Sandra mengambil ponselnya. Cipto mengarahkan ponsel itu kearah Sandra.


Sandra membuka layar ponsel dan mencari foto yang dikirim oleh bi Minah tadi pagi.


Hanya dengan cara inilah dia bisa meyakinkan abang kesayangannya itu.


Cipto tak sabar ingin segera melihat apa yang akan Sandra tunjukkan. Jemarinya meraih ponsel itu.


"Tunggu dulu bang! jangan bergerak terlalu cepat!" seru Sandra.


"Lihat ini!" Sandra mengulurkan kembali ponselnya pada Cipto.


Cipto menggenggam ponsel itu. Dia melihat foto yang ditunjukkan oleh Sandra. Raut wajahnya berubah tidak biasa. Raut wajah yang tidak bisa diartikan.


Tangan kiri terkepal dengan erat. Tangan kanannya masih memegang ponsel. Cipto mengamati foto itu. Foto Mj dan Elisa, mereka berdua tampak mesra di foto itu. Apalagi, ketika Sandra mengganti foto yang lain. Tampak Elisa mengecup pipi Mj di dalam mobil.


Batin Cipto.


"Kamu? kenapa dia murahan sekali? Elisa, aku akan memberikanmu pelajaran. Aku sama sekali belum pernah menyentuhmu. Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu di dalam rumah ini."


Sandra memperhatikan perubahan raut wajah abangnya. Dia telah yakin seratus persen rencananya kali ini akan berhasil.


"Bagus, abang gue terpancing! sebentar lagi liat saja gadis kampung! elu akan diceraikan oleh abang gue!" batin Elisa girang.


Senyum licik terpancar dari wajahnya.


Cipto masih memandang foto itu. Kali ini dia melempar ponsel Elisa ke tempat duduk disebelahnya.


"Si*lan kamu supir kampung! berani-beraninya kamu mendekati istri ku yang tidak lain adalah majikanmu sendiri!" batin Cipto geram.


"Sabar ya bang! abang bisa ceraikan Elisa dan pecat saja supir itu!" seru Sandra bersedih.


Cipto hanya menatap lekat wajah adiknya itu. Entah apa yang dipikirkannya ketika mendengar Sandra berbicara seperti tadi.


"Sekarang abang masuk ke kamar dulu! Elisa juga masih belum pulang!" ajak Sandra.


"Biikkk! bi Minah!!! panggil Sandra.


Bi Minah setengah berlari menghampiri Sandra.


Dia yang tengah menyiapkan makan malam meninggalkan masakannya di dapur.


"Iya non! ada apa?" tanya bi Minah cepat.

__ADS_1


"Tadi Elisa ngabarin gak bi jam berapa pulang?" tanya Sandra.


"Bilangnya sih tadi ketempat bunda Marwah non! pak Ismail teman baik ayahnya meninggal, makanya nyonya pulang setelah acara tahlilan selesai non!" cerita bi Minah.


"Owh, begitu! bareng siapa dia kesana bik?" selidik Sandra curiga.


"Ya, biasalah non. Sama mas Mj itu lho!" jelas bi Minah enteng.


"Tuh bang, Elisa belom pulang karena masih berduaan dengan supir kampung itu!" bisik Sandra ketelinga Cipto.


Cipto menoleh kearah Sandra. Dia mau mengucapkan sesuatu.


"Ja-ng-an ba-wa a-ku ke ka-mar!" pinta Cipto perlahan sekali.


"Gak bisa gitu dong bang! sekarang sudah malem lho, nanti Sandra akan menyuapi abang di kamar saja ya!" bujuk Sandra.


"Bi, ayo kita papah.abang ke kamar nya. Biar kaki abang dikit dikit menyentuh lantai!" ajak Sandra.


Sandra dan bi Minah memapah Cipto. Cipto mulai menempelkan kakinya ke lantai. Dia berniat sekali untuk sembuh dan akan memberikan pelajaran pada Mj dan Elisa.


Setelah selesai memapah Cipto, mereka berdua kembali ke tempat semula.


"Bi, tunggu dulu!" panggil Sandra pada bi Minah yang melangkah kedapur.


"Ada apa non? saya mau menyiapkan makan malam!" sergah bi Minah.


"Ya sudah, nanti setelah selesai jangan lupa cari saya bi!" pesan Sandra.


"Baiklah non! maaf ya non, bibi lagi terburu-buru!" bi Minah undur diri dan menuju ke dapur.


"Untung saja apinya di kecilin tadi! lega bi Minah yang melihat kuah supnya tidak gosong.


...----------------...


Mereka mampir sejenak ke mini market. Elisa membelikan keperluan sehari-hari buat Mj.


"Duh, repot amat sih Lis! banyak banget loh ini!" keluh Mj ketika menenteng tas kresek mini market.


"Itu cukup buat sebulan aja mas! belum lagi beli cemilan buat mas makan klo lagi pengen ngemil malam!" sergah Elisa.


"Gak usah gitu ah! mas jadi gak enak nih!" tolak Mj.


"Oh iya Lis, kamu pulang saja ya! mas gak enak nih kalau terima tamu malem-malem. Cewek lagi tamunya!" Mj mulai gelisah.


"Kenapa gitu sih mas? perasaan kan disini emang kosan campur! jadi bukannya gak masalah ya?" tanya Elisa.


"Bukan itu masalah nya Lis, mas yang bermasalah lho!" lirih Mj.


"Hah, mas bermasalah kenapa?" tanya Elisa heran.


"Iya Lis, mas takut kalau kamu kelamaan disini.


Takut ada yang minta jatah!" gurau Mj.


"Sebenarnya sih gak pa-pa kok mas!" lirih Elisa merona!


"Jangan lah, mas selalu merasa bersalah sama tuan Cipto!" seru Mj.


"Jangan seperti itu mas! mas kan tahu sendiri kalau aku gak cinta sama sekali pada om Cipto!" sahut Mj.


"Walaupun begitu, kamu tetap harus menunaikan kewajiban mu sebagai seorang istri. Tapi kemarin kita malah melakukan hal yang tidak pantas!" Mj gelisah.


"Mau bagaimana lagi mas, Elisa sudah terlanjur emosi pada om Cipto waktu di rumah sakit."

__ADS_1


"Sekarang kamu pulang lah! keluarga mu menunggu!" Suruh Mj.


"Tapi, kan???"


"Udah, gak usah tapi-tapian!" seru Mj.


"Kita tidak boleh keterusan Lis, kamu harus pintar menjaga diri!" pesan Mj.


"Baiklah mas, aku akan pulang sekarang juga!" Elisa menuruti kemauan Mj.


Mereka berpamitan sambil menempelkan bibir.


Agak lama mereka berdua ber***man. Mj yang bisa mengontrol diri akhirnya melepaskan c***an yang panas itu.


"Tuh kan, keterusan. Sudah sana pulang!" suruh Mj.


Elisa merapikan rambutnya kembali, dan mematut diri di depan cermin kamar Mj.


Dia segera keluar dari kamar itu dan bergegas menuju mobilnya. Tak lama dia akhirnya sampai di rumah keluarga Cahyono.


Tap, tap, tap.


Suara langkah kaki Elisa terdengar oleh telinga nya sendiri. Dia melihat jam tangannya.


"Oh tidak! sudah jam 10 malam bentar lagi!" gumam Elisa.


"Untung tadi sudah makan malam sebelum pulang!" lirih Elisa.


Ceklek, pintu terbuka.


"Pintu pun tidak terkunci, pasti mereka tengah menunggu ku!" gumam Elisa melangkah masuk dan menutup pintu kembali.


Sampai di ruang tengah, Elisa di cegat oleh 3 orang. Ada Alexandra, Marshella, dan Silvia yang menunggu nya di depan ruang keluarga.


"Eh orang udik udah pulang tuh! udah kelar pacarannya?" tanya Shella yang bermaksud menyindir Elisa.


"Pacaran gimana sih? aku kan pulang ke rumah bunda Marwah tadi pagi!" sahut Elisa membela diri.


"Elo itu emang pacaran sama om supir lho! gue liat sendiri tadi waktu kalian makan malem di sebuah restoran!" jelas Silvia.


"Itu kan hanya makan malam biasa! wajar saya sebagai majikan mengajak nya makan malam!" bela Elisa.


"Sudah lah anak-anak! dia ini kan wanita gak tahu malu! alesannya banyak ya! padahal emang bener kenyataan kalau kamu pacaran dengan Mj." Ketus Sandra.


"Apa buktinya kalau kami pacaran. Setiap hari kami juga berdua terus kemana-mana. Namanya juga supir pasti lah nganterin majikannya." Elisa membela diri.


"Wow, berani ya kamu bertanya buktinya! cihhh, wanita kampung memang tidak akan pernah tahu dan sadar diri!" cibir Sandra.


"Aku capek, males ngeladenin orang seperti kalian ini!" sahut Elisa yang mulai melangkah menuju kamarnya.


Derttt. Ponsel Elisa bergetar tanda ada SMS masuk. Dia berhenti dan mengambil ponselnya cepat.


Elisa terbelalak. Dia mengamati foto yang barusan diterima nya.


"Tidak mungkin, ini kan.......!"


*


*


*


*Happy reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2