
Rumah keluarga Cahyono.
Sandra hanya bisa mengutuk Marshella dan Elisa yang selalu memikirkan supir kampung itu. Kini Sandra tengah bersiap untuk pergi ke apartemen Rexy di pusat kota tak jauh dari rumah abangnya.
Ia yang melihat Silvia baru keluar dari kamar Shella hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ah, males ngurusin mereka! gue pergi sekarang ajah!" gumam Sandra.
Sandra melangkah menuju garasi rumah dan masuk kedalam mobilnya. Ia menyetir mobil itu menuju jalan raya utama.
Keluar dari kompleks perumahan, ada sebuah kendaraan yang mengikuti Sandra dari arah belakang. Mobil itu terus menjaga jarak dan mengatur jarak agar Sandra tak mencurigai bahwa ada yang mengikuti.
Di dalam mobil itu ada dua orang pria. Mereka merencanakan sesuatu.
"Tunggu dulu bro! jangan gegabah! kita tunggu arahan dan petunjuk dari bos baru bertindak!" seru pria botak yang berjenggot.
"Baiklah bro, tapi lu jangan lupa kalau bayaran gue gak jauh beda dari elu!" seru pria cepak yang berkumis.
"Kalau itu santai aja bro, bos kita ini seorang model jadi duitnya itu meluber!" sahut pria botak.
"Sip deh kalau gitu!" ucap pria cepak lega.
"Kemaren bos pesan agar kita lakukan itu ketika jalanan sepi. Dan kita jangan sampai meninggalkan jejak apapun!" ucap pria botak.
Pria cepak hanya mengangguk mantap.
Kriiiiinnnggg.
Ponsel salah satu dari keduanya berdering nyaring.
"Bos nelpon gue nih!" seru pria botak pada temannya setelah melihat nama layar di ponsel.
"Buruan jawab sono!" seru pria cepak tak sabar.
"Ada apa bos? sekarang kami tengah mengikuti target dan masih menunggu jalanan sepi!" ucap pria botak.
Suara wanita di seberang telepon menyuruh mereka berdua melakukan sesuatu.
"Baiklah bos, kami akan mengikuti dan memberikan peringatan dulu!" sahut pria botak.
"Iya bos, laksanakan!" pria botak mematikan panggilannya.
Pria cepak mengernyitkan keningnya tak mengerti arah percakapan bos dan temannya itu.
"Ada apa bro? kok lu kaya orang gak sabaran gitu?" tanya pria cepak.
"Sekarang ini kita hanya memberikan pelajaran kecil sesuai perintah bos pada pengendara mobil itu!" tunjuk pria botak ke arah mobil Sandra.
"Jalanan masih rame, kita akan melakukan peringatan itu sekarang?" tanya pria cepak.
"Sebentar lagi saja! kita tunggu dan lihat saja situasi dan kondisinya! kita pantau dulu!" seru pria botak.
Mereka masih mengikuti mobil Sandra. Pria botak mengamati sekeliling dan mulai menyuruh temannya untuk menyerempet mobil Sandra.
"Sekarang juga laksanakan!" suruh pria botak itu.
Pria cepak yang menyetir hanya mengangguk dan mulai mempercepat mobilnya agar sejajar dengan mobil Sandra.
Mobil mereka sudah sejajar, Sandra tak menyadari bahwa dirinya berada dalam bahaya.
Di depan ada tiang listrik di pinggir kiri jalan.
Mobil dua pria itu menyudutkan mobil Sandra kearah tiang dan menabrak mobil Sandra pelan.
Ciiiiittttt, rem mobil berdecit.
Mobil Sandra kehilangan manuvernya. Sandra yang tersentak hanya bisa mengerem mobilnya agar tak menabrak tiang listrik.
__ADS_1
Bruakkk.
Bumper mobil terbentur dengan tiang. Sandra terantuk keningnya dengan setir mobil. Ia merasakan pusing yang menjalar di area kepalanya.
Mobil yang menabrak Sandra agar kehilangan kendali tadi menjauh setelah melihat keadaan mobil Sandra.
"Bagus, misi pertama berhasil!" pria botak tersenyum licik.
"Gue sebenernya udah gak sabaran untuk misi yang lebih berbahaya daripada ini!" ucap pria cepak.
"Gue juga gitu! soalnya kan bayaran juga lebih banyak daripada sekarang!" ucap pria botak mengiyakan ucapan pria cepak disampingnya.
"Bro, cepat ngebut dan menjauh lagi sebelum mobil itu di datangi kendaraan lain!" perintah pria botak.
Pria cepak mengebut di jalanan yang lumayan lancar. Ia menjauh dari mobil Sandra.
"Duh,. kepala gue!" Sandra mengusap kepalanya dan dia terkejut ketika ada cairan yang keluar. Ia mengusap cairan itu.
"Si*lan, gue berdarah!" gerutu Sandra.
Orang mulai berdatangan menolong Sandra ditempat kejadian.
"Mbak, mbak gak kenapa-napa?" tanya pria yang berada di luar mobil.
Sandra menurunkan kaca mobil. Ia meminta tolong agar di bawa kerumah sakit terdekat.
Ponsel yang ia bawa off mendadak karena kekurangan daya.
Banyak orang mengerumuni mobil Sandra. Sandra memijit kepalanya yang pusing.
Ia merasa pusing yang amat sangat. pandangan nya mulai mengabur dan pingsan seketika.
"Mbak nya pingsan, cepat panggil ambulans!" Seru orang diluar mobil.
Mereka membantu Sandra membuka pintu dan mengeluarkan Sandra dari dalam mobilnya.
Sementara itu Rexy yang keluar untuk mencari makanan. Melihat sebuah keramaian di ujung jalan sana. Ia menelisik sebuah kendaraan yang sepertinya ia kenal.
"Tunggu dulu, kenapa plat kendaraan itu sepertinya gue kenal ya!" Rexy berpikir keras.
"Tidak mungkin, itu kan mobil Sandra!" Rexy tersentak dan memacukan mobilnya kearah keramaian.
Brakkk.
Rexy keluar dan menutup pintu mobil dengan kencau. Ia segera mencari Sandra.
Ia tak mendapati Sandra berada di dalam mobil.
"Maaf bu, dimana pengendaranya?" tanya Rexy cemas.
"Ada di minimarket sana mas! mobil ambulans sebentar lagi tiba!" ucap seorang ibu.
"Terimakasih bu!" Rexy langsung berlari menuju arah Sandra di baringkan.
"Ya Tuhan, Sandra! kenapa kamu bisa begini?" Rexy bertanya tanpa ada jawaban.
"Mas kenal sama mbak nya ya?" tanya pria muda.
"Iya mas, dia tunangan saya! kalau begitu biar saya yang akan mengantar ke rumah sakit!" Rexy berlari dan membawa mobilnya mendekat kearah Sandra.
"Tolong mas, angkat tunangan saya masuk kedalam mobil!" seru Rexy cemas dan kalut.
Rexy tidak bisa membawa tubuh Sandra seorang diri, mobilnya type besar dan tinggi. Jadi, susah untuk menggendong seseorang yang pingsan masuk kedalamnya.
"Terimakasih semuanya! saya akan secepatnya kerumah sakit!" Rexy pamit dan meluncur cepat.
5 menit berlalu.
__ADS_1
Rexy memanggil petugas rumah sakit agar membawa brankar.
Sandra di bawa keruang IGD. Rexy menunggu di luar ruangan. Ia juga menunggu hasil pemeriksaan medis.
Ia menghubungi rumah Sandra dan mengabarkan bahwa Sandra kecelakaan. Rexy setia menemani sandra disana.
...----------------...
Kampung Malik.
"Hei kalian jangan berlari!" perintah Aisyah pada Nissa dan Meilani. Ia mengantar mereka berdua pulang dengan cara berjalan kaki.
"Tante ayo, kita mau main dirumah Nissa bentar!" ucap Meilani girang.
"Iya, iya, tapi kan jangan lari kaya gitu! kalau jatuh gimana coba!" seru Aisyah yang mulai menggandeng Annissa dan Meilani.
Mereka bertiga berjalan dengan riang di tengah cuaca panas terik ini. Debu yang beterbangan seakan tak mengindahkan ketiganya untuk berjalan.
"Sebentar lagi kita sampai ke rumah Nissa tante!" seru Nissa senang.
"Iya, tapi jangan lama-lama mainnya ya!" seru Aisyah pada keponakan nya Meilani.
"Iya deh tant, gak lama kok!" Meilani murung sekilas.
Mereka bertiga masuk kehalaman rumah Sumiyati. Tak ada seorangpun diluar. Aisyah mengetuk pintu dan terbukalah pintu itu.
Malik membuka pintu dari dalam. Ia langsung masuk kembali kedalam rumah tanpa mempedulikan ketiga orang yang masuk tadi.
"Ayah Nissa kenapa?" tanya Aisyah heran.
"Gak tahu tuh tante! sejak pulang cari duit ayah selalu murung dan gak banyak bicara!" jawab Nissa yang memperhatikan ayahnya.
"Ya sudah kalian ganti baju dulu! baru deh lanjut main." perintah Aisyah pada kedua bocah dihadapan nya.
"Oke siap tante!" jawab keduanya serentak.
Mereka berganti pakaian santai dan mulai bermain. Sementara Aisyah hanya bermain ponselnya. Rencana awal yang ia pikir berhasil ternyata sia-sia belaka. Bahkan Malik tak menyapanya sedikit pun.
"Kenapa sikapmu berubah seperti ini mas!" lirih Aisyah pelan.
"Tante, ada yang ketok pintu!" seru Nissa yang menghentikan lamunan Aisyah.
"Biar Tante saja yang buka pintu ya!" Aisyah menawarkan diri dan beranjak berdiri menuju pintu.
Ceklek, pintu terbuka.
Aisyah sedikit tersentak akan sosok dihadapan nya. Ia belum pernah melihat pria itu selama ini.
"Maaf, ini benar rumah Bu Sumi kan?" tanya pria itu terkejut karena yang membukakan pintu ternyata seorang gadis muda.
"Iii-ya, ini rumah beliau!" jawab Aisyah terbata.
"Saya pikir beliau sudah pindah!" ucap pria itu lega.
"Ada apa mas? kok belum masuk sih?" tanya perempuan yang ada di belakang pria itu.
"Aisyah? itu kamu kan?" tanya perempuan yang bersama pria itu.
"Kamu?? kamu itu kan.......!"
Aisyah tersenyum getir mengingat kenangan masa silam.
*
*
*
__ADS_1
Selamat membaca semua. Terimakasih banyak atas dukungan selama ini. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, dan vote.