
*
Malam ini aku harus ketempat bunda Marwah dan menanyakan lowongan kerja.
Selesai bersiap, aku dengan santainya melangkah sendirian kerumah beliau.
Di depan rumah terlihat beliau sedang duduk dan membaca buku. Terlihat jelas buku beliau adalah karya seorang penulis internasional yang terkenal, Paulo Coelho. Beliau tengah khusyuk membaca, sampai-sampai aku yang sudah berdiri di depannya pun tidak di pedulikan.
"Ehem." Aku berdehem.
"Assalamualaikum bunda. Serius amat sih baca bukunya. Sampe-sampe aku di cuekin." Keluhku setelah memberi salam.
"Waalaikumsalam nak Adi. Maaf ya! pembahasan buku ini menarik sekali. Bunda jadi keasyikan sendiri." Bunda menjawab salamku sambil merapikan kembali kacamata yang di pakainya.
Aku langsung duduk di samping beliau. Dan langsung memberitahukan maksud kedatanganku kemari.
"Bunda, Adi mau melamar kerja." Kataku sedikit ragu.
Bunda Marwah menoleh kearahku.
"Mau melamar kerja dimana kamu Di? Disini gak ada kerjaan selain ladang." Sahut bunda.
"Itu lho bund. Melamar kerja jadi supir." Jawabku.
"Supir? apakah maksud kamu jadi supir Elisa?"
tanya bunda dengan raut muka heran.
"He...he...iya bund. Betul sekali. Adi kan bisa nyetir, nanti kalau kelamaan kerja di ladang malah kaku nyetirnya." Kataku beralasan.
Ya ...setidaknya aku bisa dekat dengan Elisa. Dan berada di sampingnya walaupun hanya menjadi supir pribadi.
Entah apa yang ada di pikiran bunda. Beliau memandangku lama dan terkesan khawatir akan sesuatu.
"Baiklah kalau kamu mau menjadi supir. Bunda akan hubungi Elisa. Besok bunda akan memberi kamu alamat Elisa yang di kota." Kata bunda.
"Iya bund. Makasih banyak. Rumah Elisa dari sini jauh ya?" tanyaku memastikan.
"Lumayan nak. Dua jam perjalanan kalau naik kendaraan umum." Terang bunda.
"Baiklah bunda. Besok pagi Adi akan ke pasar dan mencari kendaraan sayur box yang ada disana! Adi ikut ke kota." Ideku muncul.
"Tapi nak, bahaya itu lho. Kamu naik motor saja. Biar nanti di bonceng sama Tasman. Kebetulan dia besok mau ke kota juga. Sekalian aja, nanti bunda hubungi dia. Kamu besok jam 5 pagi sudah harus disini ya!" Jelas bunda panjang lebar.
"Tasman? siapa itu bund?" tanyaku.
"Dia keponakan bunda. Rumahnya dekat dengan puskesmas sana." Jawab bunda.
"Terimakasih banyak bund. Bunda Marwah sudah banyak membantu Adi selama disini."
Ucapan tulus dariku.
"Santai saja nak! Kamu mengingatkan bunda dengan seseorang." Senyum bunda.
"Siapa itu bunda?" tanyaku memastikan
"Sudahlah gak usah di bahas!" ujar bunda.
Kami larut dalam pikiran kami masing-masing.
Tak berapa lama kemudian aku pamit pulang kerumah pak Ismail.
...----------------...
*
Paginya aku sudah siap tanpa bekal apapun.
Hanya amplop putih yang aku bawa. Upah dari pak Ismail.
Aku berkenalan dengan mas Tasman. Setelah berpamitan, kami pamit kepada bunda Marwah. Beliau memberikan kotak berisi makanan untuk bekal kamii di perjalanan.
Awalnya kami saling canggung. Tapi mas Tasman orangnya bisa menghidupkan suasana. Dia seorang pria yang humoris.
Setelah dua jam perjalanan.
Mas Tasman mengantarkanku tepat di pintu gerbang di depan sebuah rumah mewah berpagar putih bersih.
__ADS_1
Aku turun dari motor dan mengembalikan helem miliknya.
"Makasih banyak ya mas. Salam buat bunda nanti kalau sudah pulang ya! tapi, apa benar ini rumahnya mbak Elisa?" tanyaku ragu.
"Dia tinggal disini. Sudah jadi miliknya atau bukan ini rumah, aku gak tau tuh Di." Terangnya.
"Adi coba masuk dulu ya mas. Hati-hati dijalan."
Seruku.
Mas Tasman menyalakan motornya kembali. Dia langsung melesat kearah yang dituju.
Aku melihat rumah-rumah yang berjejer di kompleks ini. Rumah pak Ahmad majikanku dulu ternyata tidak seberapa. Rumah disini termasuk lebih dari sekedar rumah mewah. Pagarnya kokoh dan tinggi. Ada pos penjagaan disetiap rumah.
Aku terpana dengan keadaan sekelilingku.
Kuberanikan memencet bel pintu di depan pagar rumah. Ada seorang petugas keamanan muncul.
"Maaf mas, ada perlu apa? kami tidak boleh mengijinkan orang luar masuk." Jelasnya.
Pria ini berbadan tinggi dan tegap. Perawakannya memang cocok untuk pekerjaannya.
"Ehm....begini pak. Saya kenalannya bunda Marwah. Saya mau melamar kerja jadi supir pribadi disini." Terangku.
"Benarkah? apa hubungan anda dengan bu Marwah?" selidiknya.
"Saya hanya seorang kenalan beliau saja pak. Semalem beliau bilang akan menghubungi ibu Elisa. Seharusnya bu Elisa tahu kalau saya sudah disini." Terangku meyakinkan.
"Maaf ya mas. Tunggu disini dulu! saya menghadap nyonya Elisa dulu." Serunya sambil melangkah masuk.
"Apa bunda lupa menghubungi Elisa?" gumamku sambil berpikir.
Pria tadi tergopoh menghampiriku yang terhalang pagar besi.
"Maaf mas. Namanya siapa? nyonya Elisa tidak menerima telpon dari bu Marwah. Biar saya infokan siapa anda ini." penjaga ini mulai mawas diri.
"Maaf ya pak. Kasih tahu saja sama nyonya kalau saya itu Malik Jayadi, atau Adi. Orang yang pernah di tabraknya dulu di kampung bunda Marwah." Jelasku agar aku bisa bertemu Elisa.
"Baiklah, tunggu sebentar disini!" sambil melangkah kedalam rumah.
"Gila sih. Mau ketemu Lisa ajah ribetnya kek gini." Gumamku resah.
Kakiku terasa capek dan akhirnya aku menyender ke pagar besi ini.
Tap...tap.....tap.
Terdengar suara langkah kaki.
Sreeeeeekkkk.
Pintu besi ini terbuka otomatis. Senderanku terlepas, ungtunglah reflekku cepat.
"Buset nih pak satpam. Buka pager gak lihat orang lagi nyender. Untung aja we cepet. Coba kalo enggak, bisa-bisa jatuh." gerutuku seorang diri.
Pria itu menghampiriku.
"Nyonya Elisa menunggu anda di dalam. Silahkan masuk!" serunya.
Aku melangkah masuk setelah mengucap terimakasih.
Di dalam sini indah sekali. Ada gazebo di sebelah kolam ikan yang jernih. Pohon bunga berjejeran. Ada juga ayunan di dalam taman di bawah pohon yang rindang. Di garasi sana, ada tiga buah mobil terparkir rapi.
Seorang pria paruh baya tersenyum dan menyapa.
Aku hanya membalasnya sambil melangkah mendekat ke arah teras rumah.
"Weh...teras rumahnya aja sudah kaya satu rumahku. Buset dah ini istana indah banget ya."
Aku terperangah melihat luasnya teras ini.
( Maafkan Malik kalau kaget ngeliat rumah gede. Karena Authornya juga seperti itu, Kagetan ngeliat harta orang 😂😂😂. Asal gak ngirian gak masalah ya readers semua 🙊🙊😘😘)
Ada wanita paruh baya menghampiriku ketika aku di teras rumah. Beliau mempersilahkan aku masuk dan membukakan pintu lebar-lebar untukku.
Elisa mulai terlihat. Disebelah dia duduk, ada seorang pria yang mungkin hampir seumuran bapakku. Beliau duduk diatas kursi roda dan hampir tidak bergerak. Hanya terlihat netranya yang mengedip perlahan.
"Tuan, nyonya. Ini tamunya sudah saya bawa masuk kesini." Ucap wanita paruh baya tadi.
__ADS_1
"Bikinkan minum bik Minah!" seru Elisa.
"Pa, dialah yang akan menjadi supir mama nanti. Sudah lama mama menyetir sendiri. Jadi biarkan dia menjadi supir mama ya?" tanya Elisa. Dia mengusap tangan sang pria tua.
"Papa, mama? siapa dia sebenarnya?" aku bertanya dalam hati.
Pria tua itu mengedip cepat. Dan Elisa mengucapkan terimakasih padanya. Mungkin itu tanda bahwa aku sudah bisa menjadi supir pribadi Elisa disini.
"Maaf pak supir. Nama anda siapa?" tanyanya seakan kami baru pertama kali bertemu.
"Sssssa-ya, saya Malik Jayadi nyonya!" Ucapku tergagap.
"Selamat datang pak Malik Jayadi. Semoga betah menjadi supir saya nanti. Karena saya ini sering beraktifitas di luar rumah." Jelasnya.
Sungguh suasana yang canggung. Aku tidak melihat Elisa yang aku kenal.
Klek.
Pintu kamar terbuka dan ada gadis sekitar umur 17 tahun keluar dari sana. Pandangannya tidak lepas dari ponsel ditangannya.
Dia hampir saja menabrakku yang berdiri. Kalau saja aku diam saja. Mungkin kami akan terbentur.
"Eh....kamu siapa? ngalangin jalan aja sih!" gadis itu berucap tanpa melihatku di depannya.
Ketika dia mulai mendongak dan melihatku, ada tatapan kagum disana.
"Om? kamu siapa om? kok ganteng banget, keren lagi. Gayanya Casual, aku suka." Genit Shella padaku.
"Aa-ku itu. Ehm...supir baru nyonya Elisa." jawabku tergagap.
"Setdah, ini bocah manggil gue om. Eh malah bisa-bisanya genit kek gitu." Batinku.
"Apa? supir istrinya papa? gak salah tuh om jadi supir?" katanya mengejek.
"Marshella, ini urusan orang dewasa. Kamu tidak usah ikut campur." Seru Elisa.
"Ah...males banget kalau sudah istrinya papa ngoceh." Cueknya lagi.
"Om, jangan genit sama istrinya papaku itu ya. Genitnya sama aku aja om. Masih seger." Ucapnya sambil mengedipkan mata.
Aku hanya diam saja, tak menyahut perkataan gadis tadi.
Gadis itu mengatakan istrinya papa.
Apakah istrinya papa itu yang di maksud Elisa?
Tidak ada nyonya lain di rumah ini.
Apakah mungkin Elisa sudah menikah dengan pria tua ini.
"Maaf nyonya, kalau saya lancang. Siapa nyonya dan tuan sebenarnya disini?" tanyaku memastikan. Jantungku sudah berdetak tak beraturan.
"Akulah sang nyonya. Dan pria tua ini tuan dirumah ini." Ucapnya pelan.
Elisa hanya tertunduk lesu setelah mengatakan itu.
Deg, deg, deg.
Irama jantungku seakan lebih kencang.
Aku baru tahu kalau Elisa sudah menikah dan pria yang dinikahinya itu. Seorang pria tua yang terduduk di kursi roda.
Aku yang bersemangat dari semalam hanya bisa menahan rasa kecewa dan pedih yang mendalam. Wanita yang aku sukai ternyata sudah bersuami.
Kakiku mulai lemas melihat mereka berdua.
Aku melihat mereka bergantian. Dan hanya bisa
menerima kenyataan pahit ini
*
*
*
Tolong jangan emosi. Karena dari awal Elisa muncul sudah ada kata tersirat disana 🙏🙏.
__ADS_1
Selalu dukung terus karya Author dengan cara Like, komen, rate ⭐️5, Favorit serta vote 🙏🙏😍😍 Terimakasih semua atas dukungannya.