Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 125. Honeymoon


__ADS_3

Hari ini pagi tak begitu cerah. Malik dan Elisa tengah bersiap berangkat honeymoon ke pantai. Sedari kemarin Annisa selalu merengek minta ikut serta. Tapi untunglah Evans dan Fatma berjanji membawanya ke pusat permainan anak. Dia girang dan melupakan keinginannya ikut orang tuanya yang akan berbulan madu. Persiapan telah matang, keduanya diantar oleh Fatma dan Evans. Bandara memang terlalu jauh dari desa ini. Jadi, mau tak mau mereka berangkat lebih pagi agar tak ketinggalan pesawat.


*Bandara.


Mereka semua turun dari mobil setelah sampai. Malik dan Elisa berpegangan tangan, sementara Nissa memilih minta digendong Evans.


"Duh, Nissa sayang! kasian om Evans tuh berat gendong nya!" seru Elisa.


"Turun yukk sayang! jalan kaki sama mamah aja!" bujuk Elisa.


"Biarkan saja Lis, hari ini aja kok. Biar dia gak ganggu kalian!" Evans tersenyum penuh arti.


"Makasih ya mas!" ucap Elisa.


"Lisa! kamu gak usah sungkan sama kita ya! selama ini mas Malik dan keluarga nya sudah aku anggap saudara sendiri!" Senyum ramah Fatma.


"Iya, tapi aku khawatir aja kalau Nissa tambah manja nantinya!" sahut Elisa.


"Biar aja sayang! Nissa itu cuma manja kalau ada maunya doang!" jelas Malik.


Sementara Nissa hanya tersenyum jahil mendengarkan obrolan orang-orang tersayang nya. Mereka berjalan beriringan menuju tempat keberangkatan.


Pengantin baru berpamitan dengan rasa bahagia. Akhirnya kini hanya Malik dan Elisa berdua saja tanpa ada orang lain. Tempat duduk mereka pun bersebelahan di kabin pesawat. Keduanya saling menyenderkan kepala pada bahu masing-masing.


Dua jam berlalu, pesawat terbang telah mendarat dengan sempurna.


Elisa dan Malik turun dengan perasaan bahagia. Akhirnya mereka tiba di bandara Ngurah Rai Bali. Ada mobil hotel yang menjemput keduanya. Barang yang mereka bawa hanya sedikit. Pengantin baru saling memandang dan tersenyum penuh arti.


"Mas, kita berdua aja sekarang!" ucap Elisa manja sambil menggenggam tangan Malik.


"Ya gak lah, bertiga dong sama pak supir!" sahut Malik terkekeh.


"Eh iya, mas bener juga tuh!" Elisa ikut tertawa kecil.


"Kamu gak ngantuk sayang? bobo aja sekarang!" seru Malik.


"Gak mas, aku masih seger nih belum ngantuk!" sahut Elisa sumringah.


"Awas aja nanti malam, kamu gak boleh tidur! aku gak akan ngebiarin kamu tidur!" seru Malik menoel hidung Elisa.


"Ya kalau udah malam banget pasti ngantuk dong mas!" sahut Elisa sumringah.


"Makanya sekarang aja tidur, biar nanti malem kita bisa begadang!" Malik berbisik ke telinga Elisa.


"Tapi kan....!" Elisa belum selesai menjawab, Malik sudah mencium kening nya.


"Mas malu ada pak supir!" Elisa memukul pelan lengan Malik.

__ADS_1


"Makanya nurut dong! sekarang kamu harus tidur!" seru Malik.


Elisa hanya menghela nafas. Ia mulai mencoba memejamkan matanya. Tak beberapa lama terdengar suara nafas teratur Elisa.


"Tuh kan kamu tertidur juga!" Malik mengelus rambut istri nya itu.


Kali ini dia menggenggam tangan Elisa dan mengecup nya. Malik merasa bersalah membuat Elisa menderita sendirian ketika ia pulang kampung. Apalagi Malik baru tahu bahwa bunda Marwah sudah meninggal dari informasi Elisa.


"Maaf kan aku sayang! kali ini aku tak akan pernah pergi dari sisimu!" Malik mengecup kening Elisa.


Kini keduanya tengah tertidur pulas.


Senyum tergambar jelas di bibir mereka walaupun mereka tengah tertidur.


Satu jam kemudian.


Ciitttt. Mobil mengerem mendadak. Malik dan Elisa terbangun karena terkejut.


"Ada apa pak? kenapa mengerem mendadak?" tanya Malik khawatir.


"Maaf mas, tadi ada kucing menyebrang." Sahut pak supir.


"Saya pikir bapak menabrak sesuatu. Saya kaget banget lho pak." Malik mengelus dadanya.


Elisa mulai bernafas lega ketika sudah mendengar penjelasan dari pak supir.


Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di hotel. Hadiah dari Evans kali ini sungguh mewah dan tepat.


"Itu kunci kamar apa kartu ATM sih?" tanya Malik dengan polos.


"Kunci kamar dong mas! kalau hotel bintang lima keatas itu sudah biasa pake kartu kaya gini!" jelas Elisa.


Malik hanya mengangguk saja. Malik dan Elisa berjalan beriringan setelah turun dari lift. Mereka berdua sudah tak sabar menunggu malam hari tiba.


Elisa masuk ke kamar, ia membuka tirai jendela. Pemandangan di luar Sungguh membuat nya kagum. Laut terhampar luas, diiringi kemilau cahaya senja hari. Warna semburat jingga menembus kaca jendela yang transparan.


"Bagus ya sayang, lautan biru ditambah warna senja!" Malik mendekati Elisa dan memeluk nya dari belakang.


Elisa menoleh ke arah Malik. Ia mendekatkan wajahnya pada Malik. Bibir mereka saling bersentuhan dengan cepat. Keduanya saling menautkan tangan. Lengan Malik melingkari pinggang Elisa. Sementara lengan Elisa melingkar di leher Malik. Keduanya aktif dan saling termanjakan.


Prang, terdengar sebuah suara benda terjatuh.


Ciuman keduanya terhenti. Mereka saling berpandangan tak mengerti.


"Suaranya kok sampai sini ya mas? biasanya tiap kamar itu ada peredam nya lho agar suara kamar sebelah nya gak mengganggu!" Elisa berkata heran.


"Entahlah, aku juga gak tahu. Apa mungkin suaranya bukan dari kamar sebelah?" Malik menebak.

__ADS_1


"Eh kita ke pantai aja yuk! mumpung matahari belum hilang." Ajak Elisa tak menghiraukan suara pecahan tadi.


"Boleh aja, yuk!" Malik menyahut.


Keduanya berjalan dengan sangat mesra.


(Author jadi iri deh 🤧)


Suara pecahan tadi ada di depan pintu kamar sebelah. Sayangnya Malik dan Elisa tak menyadari seseorang yang membersihkan pecahan kaca tadi. Mereka terlalu bersemangat ingin bermain pasir putih di laut yang biru di temani udara yang bersih serta warna jingga yang memancar dengan indahnya.


Mereka berlarian di pantai. Malik mengejar Elisa dan menggendong nya. Ia bersemangat sekali menggendong Elisa dan menceburkan nya ke laut yang bersih.


"Mas, kamu nih ya!" Elisa menyibak air laut.


Ia mencoba mengejar Malik dan membuat Malik basah terkena baju nya.


Kini keduanya berenang di pinggir pantai bersama. Sesekali mereka mencuri pandang ke tempat lain dan berciuman singkat.


Senja telah turun. Keduanya sudah kembali ke kamarnya dan membersihkan badan.


Mereka menunggu makan malam siap. Ya, makan malam kali ini berada di pinggir pantai dengan angin laut yang memanjakan kulit.


"Ternyata hadiah dari Evans tak main-main, ia membuat ku merasakan indahnya malam pertama dengan mu!" cengir Malik.


"Dulu kan pernah mas, kenapa kamu bilang malam pertama lagi!" lirih Elisa.


"Yang lalu jangan diingat, kali ini malam pertama kita sebagai pasangan pengantin." Ucap Malik.


"Mas, aku udah kenyang nih! sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Elisa.


"Aku juga udah kenyang, kamu ikut aku aja ya!" Malik berkata penuh arti.


Tangan Elisa di tarik oleh Malik, ia sungguh tak sabar mengajak Elisa ke tempat itu.


"Lho, kok kita kembali ke kamar? tadi kan mas bilang mau bawa aku!" sungut Elisa.


"Iya, aku emang mau bawa kamu kok! tapi bawanya ke surga dunia!" Malik mulai menempel kan Elisa ke dinding kamar.


keduanya saling menautkan diri. Elisa mulai tersenyum nakal pada Malik.


Kini keduanya telah berada di ranjang yang sama. Nafas keduanya saling memburu, tersengal tanpa henti. Malik mulai menyatukan dirinya pada Elisa. keduanya saling pandang, ada rasa puas terpancar dari wajah mereka.


Beberapa kali keduanya menyatukan diri. Malam telah larut, Elisa dan Malik tertidur tertutup oleh selimut putih nan polos. Keduanya tidur dengan saling berpelukan.


*THE END.


Selamat membaca 🥰

__ADS_1


Terimakasih banyak atas semua pembaca setia. Tanpa kalian semua author tidak akan bisa sampai sejauh ini menulis novel.


Tetap dukung terus karya Author ya.


__ADS_2