Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 13. Berkenalan


__ADS_3

Didalam kamar Hotel.


"Gue kudu pulang beb, bisa-bisa di pecat


sama ortu nanti kalo kelamaan di luar,"


Toni bersiap mengenakan pakaiannya.


"Lama gak ketemu malah langsung pulang,


gak asyik banget kamu mas," gerutu Cindy


cemberut.


"Aku harus kerja, minggu ini aku kesini lagi


kok, banyak pesanan," sambil mengedipkan


matanya nakal.


"Ya udah gak pa-pa, asal kamu janji kalo


kamu gak boong, minggu ini kemari lagi kan?"


tanya Cindy menekankan.


"Pasti lah kesini," Toni mencium bibir


Cindy sekilas.


"Kamu kalo masih mau disini, istirahat aja


dulu, lagian salon belum buka jam segini,


nanti aku transfer uang bulanannya ya beb,"


jelas Toni sambil melangkah pergi


meninggalkan Cindy yang masih berbalut


selimut.


Toni yang merasa segar bugar meninggalkan


hotel dengan wajah berbinar.


"Cindy emang mood booster buatku,"


gumamnya seorang diri sambil tersenyum.


...----------------...


Matahari sudah lumayan meninggi.


Toni yang baru sampai di halaman rumah,


melihat kedua orangtuanya di kursi depan


sambil menyilangkan tangan.


"Aih...aku ditungguin pulang nih, kayak anak


gadis aja....kudu selalu pulang ke rumah,"


gumamnya seorang diri.


Toni mengucapkan salam dan mencium kedua


tangan orang tuanya.


"Kemana saja kamu Ton, udah gak


pulang....gak ngasih kabar lagi, kita itu kuatir


kamu kenapa-napa," Ibu Zainab mulai


mengoceh.


"Maaf bu...pak, semalem ada jadwal dadakan


kudu meeting, makanya Toni nginep di rumah


Rico. Kalo kemaleman di jalan malah bahaya


buk." Toni berbohong.


"Itu gunanya ponsel buat apa? kenapa juga


kamu susah dihubungin," bapak


menambahkan.


"Baterainya abis kali pak...ini aja aku gak


ngecek ponsel, makanya gak tau ada telpon


apa enggak," bohong Toni lagi.


"Ya sudah, masuk sana...mandi langsung


sarapan, adekmu udah pergi kerja pagi


tadi, dia juga kuatir sama kamu, nanti


hubungin dia," saran ibu padaku.


"Iya buk...pak...Toni masuk dulu ya...mandi


dulu biar seger," sambil berlalu meninggalkan


mereka berdua.


"Syukur punya orang tua percayaan, jadi


selamat deh...fiuhhhh," nafasku lega.


...----------------...


Di sudut terminal, dua orang berperawakan


tinggi besar nampak mondar-mandir seperti


setrikaan yang panas.


"Gimana nih bro....disini udah kagak jadi


Zona aman, pak ici mulai mengendus


kegiatan kita," dia mengeluh dan merasa kuatir.


"Ya....gimana lagi bro, mungkin karena ini


kampung kali ya? jadi cerita cepat tersebar,"

__ADS_1


tebak pria satu lagi.


"Kalo gini terus...gak bisa jadi uang nih


barang," sungut pria satunya lagi.


"Kayaknya kita harus pindah lapak deh bro,


minggu ini aja penjualan berkurang separo,"


lanjutnya tak sabar.


"Boljug tuh bro....kita harus pinter kayak Toni.


Mungkin dia tau kalo kampung sini sikonnya


gak jelas, jadi gak bisa buat medan perang,"


imbuhnya lagi.


"Ya udah, nanti kita cari kota yang masih


dikit pasarnya, ck...nambah kerjaan ajah,"


sambil berdecak mereka berdua berpikir.


Dua orang pria tersebut tenggelam dengan


pikirannya masing-masing berharap umpan


yang mereka punya bisa mendapatkan ikan


besar.


...----------------...


Hari jum'at setelah sholat dzuhur.


Malik yang baru keluar dari mushalla terminal.


Mengganti pakaiannya kembali dengan baju


khas supir angkotnya.


"Aku telpon bu Zaenab aja kali ya, udah pada


ngumpul apa belum ibu-ibu pengajiannya,"


gumamnya seorang diri sambil mengeluarkan


ponsel jadulnya dibalik saku celana.


Setelah berbincang melalui telepon. Malik


pergi menjemput anggota pengajian bu


Zainab.


Lima belas menit berlalu.


Tibalah dia dirumah majikannya.


Ibu-ibu yang sudah menunggu di kursi


halaman beranjak mendekati Malik.


Malik keluar dari kendaraannya dan menyapa


"Tapi...tunggu dulu, dia masih muda...gak


mungkin sudah jadi ibu-ibu kan? apa


dia...seorang ibu muda?" batinnya bertanya-


tanya.


"Kenapa bengong nak Malik?" tanya Zainab


membuyarkan lamunan Malik.


"Ehm...eh...gak pa-pa buk, jadi berangkat


sekarang ya! silahkan masuk kalo begitu,"


balas Malik sambil tersenyum.


"Yang badannya kecil-kecil duduk di depan aja!


bisa diisi dua orang tuh,"Zainab menyuruh


teman pengajiannya.


"O...ya...nak Ais duduk depan ya! temenin


Malik bareng bu Lusi, cuma kalian berdua ibu


dan anak yang badannya sama," suruh Zainab.


Malik memandangi Ais, gadis berjilbab yang


wajahnya manis tapi tak semanis gula,


matanya agak sipit dengan warna kulit


kuning langsat, bibirnya agak tebal


menambah kesan sensual yang membuat


hati Malik berdesir.


"Gadis ini manis sekali," batin Malik sambil


memandang gadis di depannya.


"Mari nak Malik, berangkat sekarang saja,


sebelum Adzan Ashar harus tiba di mesjid


Al-jannati!" suruh Zainab.


Ibu-Ibu tanpa malu bertanya pada Malik


tentang statusnya selama ini.


Malik Meladeni pertanyaan bu-ibu rempong


sambil menyetir.


"Nak Malik kalo mau nikah lagi, anak saya


yang masih gadis masih ada 2 lho," cicit ibu


baju merah.

__ADS_1


"Sama anak saya aja nak Malik, dia gadis baik


dan bisa jadi ibu buat Annisa," sahut yang lain.


"Wah ... pada mau jodohin Malik sama anak


gadisnya ya buk, kalo saya mah mau jodohin


diri-sendiri sama Malik...he...he..," ujar ibu


muda yang sudah jadi janda.


"Huuuuuuuuu," terdengar sorakan di dalam


angkot seraya serentak.


"Ibu-ibu pada semangat ya, jiwa nya jiwa anak


muda banget," ucap Malik sambil tersenyum


dan menoleh kearah Aisyah di sampingnya.


Aisyah yang di perhatikan oleh Malik hanya


tersenyum simpul dan menatap jalan


didepannya melalui kaca angkot yang


transparan.


"Mas malik ganteng juga, wajahnya teduh


dan lembut, bodoh sekali istrinya sudah pergi


meninggalkannya," batin Aisyah setelah tau


sedikit cerita tentang Malik tadi.


Udara panas yang memenuhi angkot tak


dipedulikan oleh bu-ibu yang memang rusuh


kalau sudah menyangkut laki-laki tampan


kayak artis seperti Malik.


( Hayo ngaku mak emak yang doyan liat


babang-babang tamvan apalagi kalo kayak


oppa-oppa kornea ....upss korea maksudnya


✌).


Sudah satu jam berlalu...Masjid yang mereka


tuju akhirnya mulai terlihat.


Tampak di halaman masjid Al-jannati sudah


berjejer rapi kendaraan dari berbagai jenis


dan merk yang berbeda.


Turunlah ibu-ibu pengajian dan tak lupa pula


menyuruh Malik beristirahat sejenak sambil


menunggu Adzan ashar tiba.


"Ini mas, minum aja...nanti di dalam, kami juga


dapet kok," senyum Aisyah sambil


memberikan botol air minum kemasan.


"Makasih ya...ehmm," jawab Malik ragu-ragu


sambil menerima botol air tersebut.


"Aisyah mas, panggil saja Ais." Lanjut Aisyah


yang tersenyum tipis tapi bisa membuat hati


Malik berdesir.


"Makasih ya ...Ais," ucap Malik.


"Aku masuk ke masjid dulu mas, mas Malik


bisa istirahat di depan sana," sambil menunjuk


kursi panjang tempat pak-bapak duduk santai


bahkan ada juga yang berbaring di atas terpal


yang sudah disediakan panitia pengajian.


Karena ini pengajian rutin ibu PKK antar


kampung, jadi yang boleh masuk kedalam


ruangan masjid hanya boleh wanita saja


sedangkan para suami yang menunggu bisa


duduk diluar sambil mendengarkan isi


ceramah sang Ustadz.


...----------------...


...----------------...


Ciiiiittttt....


Terlihat sebuah kendaraan bermotor berhenti


mendadak dan.


Braakkkkkk....


Mobil itu menabrak pembatas jalan raya.


Orang-orang menghampiri. Melihat kondisi


sang pengendara.


Sementara sang pengendara mobil yang


seorang wanita pingsan setelah kepalanya


terbentur setir mobil.

__ADS_1


__ADS_2