
*Kampung Malik
Malik yang tak bersemangat untuk turut serta keluar bersama keluarganya hanya memakai baju seadanya. Ia hanya ingin sendiri di dalam kamarnya.
Sumiyati menegur karena Malik hanya berpakaian selayaknya pergi ke pasar tradisional. Ia menyuruh Malik berganti baju yang lebih formal. Tak lama Malik pun keluar lagi dari kamar setelah berganti baju.
Ia duduk menunggu di depan televisi. Pikirannya melayang pada hubungan nya dengan Elisa. Nomer telpon Elisa pun Mj tak punya karena sudah dihapus oleh Sandra.
Fatma dan Evans sudah membunyikan klakson mobil. Mereka menunggu didalam mobil dan menurunkan jendela.
"Mas, liat deh si Nissa! dia seneng banget tuh!" tunjuk Fatma pada Evans.
Evans tersenyum melihat tingkah riang Nissa.
"Iya, itu bocah emang suka jalan-jalan!" sahut Evans.
Mereka berdua saling pandang dan tersenyum.
Langkah Nissa di percepat. Ia menyapa Fatma dan Evans yang yang sudah menunggu.
Mereka semua masuk kedalam mobil. Evans langsung melajukan kendaraannya.
Evans mengajak basa-basi dengan Malik tapi, melalui Nissa. Fatma menyenggol lengan Evans ketika Evans mengungkit perihal mama baru pada Nissa. Mj yang mendengar tak menyahut apapun. Pikirannya hanya tertuju pada Elisa saja. Seminggu berlalu, semenjak perpisahan mereka tak mengurangi rasa cinta Mj pada Elisa.
Mj melihat keluar jendela. Ia memandang jalanan yang padat dan ramai. Lampu merah menyala, kendaraan Evans berhenti. Ada sosok seseorang yang mencuri perhatian Mj.
Ia sudah tak berminat lagi dengan seseorang itu. Tapi, ia masih penasaran kenapa orang itu masih berkeliaran di sekitar kampung.
"Tunggu dulu, ia masih disini? kenapa dia tidak meninggalkan kampung ini?" Mj melihat seorang pria di depan sebuah minimarket.
"Ada apa nak?" tanya Sugeng yang duduk di sebelah Mj.
"Eh, eng-gak ada apa-apa pak!" Mj tergagap.
Ternyata gumamannya di dengar sang bapak.
Ia memandang minimarket itu lagi. Seorang perempuan keluar dan menyusul pria tadi.
"Pantesan, ternyata itu perempuan juga masih disini." Batin Mj.
"Udah lah, gak ada waktu buat mikirin mereka berdua!" Mj melengos dan memandang kearah jalanan lagi.
Mobil melaju kembali. Evans menyetir sambil bercanda dengan Fatma di sebelah nya.
Mj yang melihat mereka berdua hanya bisa gigit jari.
Mj teringat lagi masa indahnya bersama Elisa.
Ia menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Sumiyati menelisik raut wajah anaknya yang selalu tak bersemangat semenjak pulang kampung.
Ia hanya mampu berdoa kepada yang maha kuasa atas kebahagiaan Mj.
20 menit berlalu.
Restoran steak terkenal di kota M.
__ADS_1
Setelah turun dari mobil mereka semua masuk kedalam ruangan VIP yang telah di pesan oleh Evans.
"Eyang, disini adem kok! enak eyang gak gerah!" cengir Nissa lebar.
"Namanya juga restoran mahal nak!" seru Sumiyati mengelus rambut cucunya.
Buku menu sudah ada diatas meja. Mereka membuka buku menu berulang kali, mencari menu apa yang cocok di dilidah.
"Nak Fatma, ibu gak pernah makan daging begini nak! ibu bingung harus pesan yang mana!" Sumiyati menggaruk rambutnya yang tak gatal
"Biar Fatma yang pilih bu! kalau bapak gimana?" tanya Fatma pada Sugeng.
"Terserah nak Fatma saja asalkan minumnya kopi ya nak!" Sugeng tersenyum.
Mj memilih menu kesukaan. Tepatnya menu kesukaan Elisa dan dia.
"Inget lagi deh sama Elisa!" gumam Mj lirih.
Semua sibuk dengan buku menu tak terkecuali Annisa. Mereka tampak bahagia kecuali Mj yang gundah gulana.
...----------------...
Kediaman Cahyono.
Sandra yang hanya bermalam semalam di rumah sakit akhirnya pulang dalam keadaan seperti semula. Hanya bekas luka di dahinya saja yang terlihat. Tak ada masalah serius dengan keadaannya. Rexy selalu setia di samping Sandra. Ia yang menjaga dan merawat Sandra di rumah sakit. Ia tak mau kekasih hatinya itu menderita.
"Aku pulang dulu ya sayang! kamu jaga diri dirumah ya!" pamit Rexy.
Sandra hanya mengangguk pelan. Rexy mengecup kening Sandra dan bibirnya sekilas. Ia beranjak berdiri dari kasur empuk Sandra. Ia berjalan keluar kamar. Disana ada sebuah kamar yang pintunya terbuka. Rexy penasaran dan melihat keadaan di dalam.
Ceklek, pintu terbuka.
Cipto keluar dari kamar mandi. Ia menatap Rexy heran.
"Ngapain kamu Rex?" tanya Cipto yang sudah tidak tergagap.
"Hehe, maaf bang! Rexy pikir kamar ini gak ada penghuninya. Soalnya pintu kamar terbuka!" sahut Rexy.
"Kalau begitu Rexy pulang dulu ya bang!" pamit Rexy.
Cipto hanya mengangguk pelan. Ia mengambil tongkat jalan di samping kamar mandi. Ia mulai berjalan menggunakan tongkat itu.
"Elisa sudah berani melawan ku!" keluh Cipto seorang diri.
Rexy keluar dari rumah Elisa. Ia masuk kedalam mobil dan merogoh kantong celana untuk mencari sesuatu.
"Sial, ponsel gue ketinggalan di kamar Sandra pasti!" Rexy hampir membuka pintu mobilnya.
Ia merasa ada yang aneh. Mobil besar hitam di belakangnya seakan mengikuti dari rumah sakit tadi ketika ia menjemput Sandra.
Ia urung membuka pintu mobil. Ia menyalakan mesin mobil dan mengendarainya. Ia berpura-pura seakan menjauh dari rumah Sandra. Ia berhenti pas di tikungan yang tak terlihat dari rumah Sandra. Ia keluar dari mobil dan berjalan mengendap. Ia mau memastikan mobil yang mengikuti nya sedari rumah sakit.
"Siapa didalam mobil itu? kenapa dia masih berada di rumah Sandra?" lirih Rexy.
Sementara itu di dalam mobil ada dua orang pria. Tak lama mereka keluar ketika mobil Rexy sudah jauh dari rumah Sandra.
__ADS_1
"Sialan, cuma semalam doang dia nginep di rumah sakit bro!" pria botak gelisah.
"Kita harus menghadapi bos dan merancang rencana lain!" seru pria cepak bersemangat.
"Tapi, bagaimana kalau kita malah di marahin sama bos bro?" tanya pria botak.
"Cemen ya elu, cuma tinggal jawab doang bro! beri alesan logis biar tuh cewek percaya!" sahut pria cepak sumringah.
"Baiklah, gue hubungi bos sekarang!" tukas pria botak.
Sambungan sudah tersambung. Di seberang sana suara seorang wanita mengomel pada pria botak tanpa henti.
"Baiklah bos, kita akan mengerjakan tugas yang lebih besar lagi dari ini!" sahut pria botak mantap. Ia tak tahan dengan suara bos wanita yang kencang itu seakan kotoran telinga nya terpental keluar.
"Gila bos kita nih! lagi PMS kali dia dasar Jessy sialan!" umpat pria botak setelah memutuskan panggilan telepon.
"Sabar bro, kita ini kan di bayar! jadi sudah seharusnya kita menurut pada wanita kasar itu!" pria cepak berucap.
Sementara tak jauh dari dua orang pria itu. Rexy menguping walaupun suara mereka tak jelas membahas apa. Rexy hanya mendengar dengan jelas bahwa pria botak itu menyebutkan sebuah nama. Jessy, ya Jessy lah nama yang di sebut pria itu tadi.
"Gue harus menyelidiki mereka! mau apa mereka sebenarnya?" Rexy bergumam.
Ia masih berada di semak, tak lama ia melangkah kembali pada mobilnya. Ia masuk kembali kedalam mobil dan melajukan mobil itu dengan kencang.
Dikamar Sandra.
Ia melihat ponsel Rexy yang tertinggal di atas ranjangnya. Ia mengambilnya dan melihat layar ponsel. Foto kemesraannya dengan Rexy berada di layar sampul depan.
"Ternyata kamu masih menyimpan foto kita waktu itu mas!" Sandra tersenyum lembut sambil memandang layar ponsel itu.
Kriiiingg, kriiiiinggg.
Ponsel Rexy berdering. Tak ada nama dan hanya nomer saja yang tertera di layar.
"Siapa ya ini? kok Rexy gak nyimpen namanya?" Sandra bergumam.
Ia menjawab panggilan itu sebelum terputus.
"Hai mas Rexy? gue kangen nih!" terdengar suara gadis genit di seberang telepon.
Sandra terdiam dari awal tak menyahut.
Ia langsung mematikan ponsel Rexy.
"Kurang ajar! siapa gadis itu? kenapa dia tau nomer Rexy?" Sandra penasaran.
Raut wajahnya mulai berubah. Ia cemburu ketika tahu bahwa Rexy di hubungi oleh seorang wanita.
*
*
*
*
__ADS_1
Selamat membaca semua 🤗