Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 75. Pertemuan pertama Malik dengan Rexy


__ADS_3

*Malik POV


Siang yang terik dan matahari bersinar terang.


Aku dan Elisa sudah berada di restoran tempat kami berdua makan siang. Di ruangan ini sungguh nyaman dan dingin.


Kami yang berjalan mendekati meja di ujung ruangan tiba-tiba di kejutkan dengan suara Elisa.


Bruagh......


"Awh," Elisa mengaduh.


Ada seorang pria menabrak bahu Elisa. Pria itu melihat Elisa seakan berpikir sesuatu.


"Maaf, gue gak sengaja. Elo gak kenapa-napa kan?" tanya pria itu.


"Lain kali hati-hati mas kalau jalan!" seru Elisa.


Pria itu memandang Elisa dari atas sampai ke bawah. Pandangannya pada Elisa membuat ku cemburu. Apalagi pria di depanku ini adalah seorang keturunan campuran Eropa. Membuat ketampananku berkurang ketika dekat dengannya.


"Gue asli Indonesia sih, jadi gak ganteng kaya dia deh." batinku.


Tiba-tiba saja dia berkata seakan ingat sesuatu.


"Lho, kamu? kamu kan wanita itu?" ujarnya. Pandangannya masih menelusuri wajah Elisa.


Elisa masih mengelus bahunya. Dia mengernyitkan dahi dan sebuah senyuman terukir dari bibir ranumnya.


"Ah, aku ingat sekarang. Jadi, kamu itu kan pacarnya Sandra ya?" tanya Elisa memastikan.


"Owh iya, gue inget lu siapa sekarang! lu kan istri nya abang Cipto!" pria itu memastikan.


"Gue tadi itu mikir elo istrinya bang Cipto. Tapi, gue takut salah orang. Pas Elo bilang Sandra berarti dugaan gue bener!" girang pria itu. Senyuman lebar terukir.


"Eh, kamu kemana aja? kok lama gak kerumah?" tanya Elisa antusias.


"Gue kan ada job di Jerman. Jadi, sementara gue pulang kerumah Oma disana. Gue baru seminggu pulang ke Indonesia." Jelasnya.


"Waahhh.....enak dong bisa bolak balik sini Jerman." Elisa mulai memukul pelan bahu pria itu.


"Gak enak tau Lis, capek beb." Senyum lebar sambil menatap Elisa.


Aku yang menyaksikan keduanya mengobrol mulai jengah dengan percakapan mereka.


"Ehem, ada orang lain lho disini!" tampangku kentara sekali kalau sedang sebal.

__ADS_1


"Maaf mas Mj, he..he..he!" cengir Elisa.


"Lha, dia siapa Lis?" tanya pria itu.


"Dia supir Pribadi sekaligus pa....!" belum sempat Elisa menyelesaikan ucapannya. Aku memotong ucapan Elisa.


"Saya ini supir pribadi nyonya Elisa. Ya sekaligus teman makan siangnya kalau nyonya sedang suntuk." Jelasku sambil menyenggol lengan Elisa.


"Owh, iya begitulah dia!" tambah Elisa yang mengerti akan maksudku.


"Lis, kamu baru mau makan ya? kenapa gak dari tadi sih? kan lumayan kita bisa makan bareng." Ujar pria itu yang acuh terhadap perkataanku.


"Tadi banyak kerjaan bang, makanya baru sempet makan sekarang!" jawab Elisa.


"Abang gak bisa lama juga nih. Ada pemotretan sejam lagi. Udah dulu ya! oh iya, gue cuma kasih tau kalau gue sama Sandra sudah putus kok!" senyumnya sambil meninggalkan aku dan Elisa.


"Apa hubungannya sudah putus sama Sandra tapi ngasih tau kamu Lis." Cibirku.


"Dia emang gitu mas, eh ayo ah! kita duduk dulu!" sambung Elisa.


Kami mendekati meja yang kami cari dan duduk disana. Elisa memesan makanan, aku hanya mengangguk saja. Mengiyakan apa pun yang dia pesankan untukku.


"Lis, emang cowok tadi itu pernah pacaran sama Sandra ya?"


Elisa hanya mengangguk saja.


"Dia itu seorang model majalah fashion mas. Pasti lah aku tahu, aku kan salah satu penggemar nya." Senyum Elisa.


"Owh, begitu ya! emang ganteng sih!" gumamku.


"Iya lah ganteng. Kan keturunan campuran mas!" sahut nya mantap.


"Beda banget sama mas yang asli orang kampung ya!" lirihku.


Elisa terhenyak dan menatap kedua bola mataku.


"Mas Mj tetap satu-satunya pria yang aku cintai. Tidak akan ada pria lain mas!" ucapnya mantap.


"Benarkah? tapi aku kan cuma orang miskin." tanya ku lagi.


"Aku juga tahu rasanya jadi orang susah dan banyak hutang mas!" hibur Elisa.


"Kamu tetep gak akan tahu rasanya jadi orang seperti aku ini Lisa." keluh Mj.


Seorang pelayan menghentikan obrolanku dan Elisa. Dia membawakan pesanan kami. Kami makan dengan khidmat. Tak ada satu suara pun keluar dari mulut kami.

__ADS_1


...****************...


*Alexandra POV


Rumah ini hanya besar dari luar saja. Tapi, orang-orang yang ada di dalam nya sibuk dengan Kerjaan masing-masing.


"Punya keponakan dua biji malah usil!" Helaan nafas Sandra.


Aku melangkah menuju dapur, bi Minah terlihat mencuci piring bekas makan siang kami tadi.


Prangggg......


Terdengar suara barang pecah belah jatuh.


" Tunggu dulu deh. Emangnya siapa yang ada disini? Silvia dan Shella kan di sekolah sementara orang kampung itu sudah pergi." Aku mengernyit penasaran.


"Bi Minah! siapa sih yang mecahin barang tadi?" tanyaku ketika bi Minah telah selesai dengan pekerjaannya.


"Pecahin barang apa non? bi Minah gak denger apapun lho non!" tanya bi Minah memastikan.


"Ya sudahlah bi, gue mau ke kamar dulu!"


Aku kembali menuju ruang tamu. Dan aku juga yang penasaran tentang suara tadi akhirnya mencari tahu sumber suara.


Ada gelas pecah di sudut ruangan baca.


Disana lelaki paruh baya itu terjatuh dan tergeletak di lantai begitu saja.


"Bikkkkkk...." teriakku memanggil bi Minah.


Aku seketika memucat. Bi Minah menghampiri ku.


"Ya Allah non, gimana ini?" tanya bi Minah panik. Raut wajahnya berubah menjadi takut dan khawatir.


"Panggil sekuriti bi! kita angkat ke sofa di ruang tamu."


Lelaki itu seperti menahan kesakitan, ada buliran air bening mengalir sedikit di pipinya.


"Ambulans, aku harus menghubungi ambulans secepatnya."


Aku tergesa dan tergopoh menghubungi ambulans agar secepatnya datang ke rumah ini.


*


*Bersambung

__ADS_1


Selamat membaca.


__ADS_2