Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 77. Kesalahan terbesar dalam hidup


__ADS_3

*Author POV


Rumah sakit Harapan Maju.


Sandra yang masuk ke kamar abangnya mulai sedikit lega karena dia sudah sadar. Infus yang terpasang di tangannya membuat Cipto lebih Susah Bergerak. Sandra melihat Abang nya yang terbaring lemah tak berdaya.


"Sssa-nndraa ke-ma-rilah." Panggil Cipto pelan.


"Abang, abang sudah mulai jelas bicaranya!" girang Sandra.


"Sii-ni ce-pat." Panggil Cipto lagi.


Sandra mendekat kearah brankar abangnya. Dia menyadari sesuatu ketika semakin mendekat.


Sandra terkejut ketika ada tangan yang menyentuh nya. Dia benar-benar terkejut dan senang.


"Abang, tangan abang sudah mulai bergerak cepat!" pekik Sandra girang.


"Syukurlah bang, semoga abang tambah sehat!" seru Sandra.


Cipto hanya membalas perkataan Sandra dengan mengangguk lemah. Dia terlihat bahagia akan perkembangan abangnya.


Sepertinya hari ini hari yang baik dan buruk buat Cipto.


Sandra masih terbawa suasana. Tak berapa lama, Elisa masuk kedalam kamar perawatan Cipto. Elisa tercengang ketika melihat tangan Cipto menggenggam tangan Sandra.


"Pa, kamu sudah baikan?" tanya Elisa mendekat.


Cipto hanya mengangguk mengiyakan perkataan Elisa.


Sandra melihat Elisa yang baru datang, seketika berubah raut wajahnya. Raut wajah kesal dan benci.


"Telat amat sih! darimana aja emang?" ketus Sandra.


"Tadi macet di jalan Dra!" sahut Elisa tenang.


"Macet apa lagi berduaan dengan supir kampung itu?" tanya Sandra.


"Lha, kan selama ini yang nganter aku kemanapun itu memang mas Mj, bukan yang lain!" sergah Elisa.


"Itu mah alesan lu ajah! bilang aja kalau kalian berselingkuh!" selidik Sandra.


Sandra melihat Elisa, ekspresi Elisa yang awalnya tenang dan santai berubah salah tingkah karena tatapan tajam dari Cipto.


"Kita cuma majikan dan pekerja Sandra, gak lebih dari itu!" sergah Elisa.


"Gak usah boong deh elu, buktinya gue sering liat elu berduaan di Mall makan dan belanja!" seru Elisa.


Cipto mulai menatap Elisa dengan tatapan dingin. Dia seperti orang yang tengah cemburu.

__ADS_1


"Per-gi- lah -Lis." Lirih Cipto


Cipto mengusir Elisa dari kamar nya. Sandra yang mendengar abangnya berkata seperti itu langsung tersenyum licik.


"Pa, kamu sudah mulai lancar bicara!" senang Elisa.


"Elu tuh di usir sama abang gue, Sono pergi!" Suruh Sandra.


"Tapi kan....!" belum sempat melanjutkan perkataannya Cipto menyanggah Elisa.


"Pe-rgi sa-ja dda-ri sini!" sergah Cipto.


Elisa yang mendengar Cipto berkata demikian langsung kecewa. Dia segera melangkah keluar dari kamar perawatan Cipto. Hati nya begitu sakit ketika Cipto menolak di kunjungi oleh Elisa.


Setelah sampai di ruang tunggu, Elisa mengajak Mj untuk segera pulang saja kerumah.


"Kita pulang sekarang mas!" seru Elisa cepat.


"Tapi, tuan Cipto keadaannya Gimana?" tanya Mj kuatir.


"Tenang saja! ada adiknya yang menjaga!" sahut Elisa.


Mj mengekori Elisa menuju tempat parkir rumah sakit. Dia tak mau menanyakan apapun lagi ketika melihat raut wajah Elisa yang berubah dingin.


Mj langsung meluncur ke jalan raya utama yang padat dan penuh oleh lalu-lalang kendaraan.


Setelah terjebak macet, akhirnya mereka sampai di rumah megah Cahyono.


"Ngapain ke kamar Lis?" tanya Mj penasaran.


"Tolong ambilkan barang-barang Elisa yang ada di atas lemari mas!" seru Elisa.


"Mau kamu apakan barang-barang itu?" tanya Mj lagi.


"Kita lihat saja nanti mau Elisa apakan barang itu." Jaway Elisa enteng.


Mereka berdua masuk kedalam kamar.


Elisa sengaja menutup pintu dan menguncinya.


"Diatas sana mas!" tunjuk Elisa.


Elisa menunjuk 2 koper besar. Sepertinya Elisa punya rencana tersendiri. Raut wajahnya seakan yakin dengan rencananya itu.


Mj yang berusaha meraih dan mengambil koper itu, akhirnya berhasil ia dapatkan. Dia menurunkan pelan-pelan.


Sraaakkk!


Suara koper yang di geret oleh Elisa.

__ADS_1


"Sudah lama juga nih! berdebu banget mas!" Elisa membersihkan bagian yang kotor.


"Satunya mau di turunin juga gak nih?" tanya Mj yang masih ada di atas kursi plastik.


"Gak usah mas! Elisa cuma perlu ini aja kok!" Jawab Elisa.


"Kyaaa...!!"


Mj tergelincir dari kursinya. Elisa menarik Mj yang terjatuh ke arah ranjang. Keduanya berpelukan diatas ranjang dan saling berpandangan. Jantung keduanya berpacu, seakan ada hasrat yang terpendam selama ini.


Mereka berpandangan dan berpelukan lama. Elisa memulai pergerakannya. Tangan Elisa meraih wajah Mj. Semakin mendekat dan b**ir keduanya saling mem**ut. Keduanya meresapi momen itu. Tangan keduanya saling menjelajah. Menggapai ha**at yang terpendam. Keduanya larut sampai pakaiannya pun terlempar di lantai. Keduanya bersatu di siang hari di rumah Cahyono. Elisa tersenyum puas ketika penyatuan mereka berakhir. Walaupun keduanya tahu bahwa mereka sama-sama melakukan sebuah dosa besar.


Mj tak menyangka bahwa Elisa masih menjaga kesuciannya selama ini. Kesucian Elisa di reguk oleh Mj. Dari raut wajah keduanya mereka saling tersenyum puas. Akhirnya Elisa merasakan indahnya cinta pertama kali dalam hidupnya.


"Lis, kamu kok gak bisa ngontrol sih tadi?" tanya Mj


"Aku sudah gak tahan mas, apalagi setelah aku di usir oleh om Cipto tadi.


"Jadi, kalau kamu kesal pelampiasan nya ke aku gitu ya!" goda Mj sambil mencubit pipi Elisa.


"Asalkan sama mas Mj, Elisa pasti akan bahagia selalu." senyum Elisa mengembang sempurna.


"Sakit gak sih?" tanya Mj kuatir.


"Sedikit aja mas!" Elisa mengeratkan pelukannya.


"Kita mandi dulu! nanti kalau Shella pulang bisa bahaya!" seru Mj.


"Sudah lama gak merasakan perasaan ini. Eh sekali nya dapet, bisa nyicip anak perawan." Batin Mj.


Mereka bergantian ke kamar mandi.


Mj selalu khawatir akan ada orang lain di rumah ini yang tau perbuatan mereka berdua.


Secepat kilat Mj mandi dan memakai pakaian nya kembali. Dia langsung membuka kunci dan mengintip di balik pintu perlahan.


"Aman sepertinya." Lirih Mj pelan.


Mj langsung keluar dari kamar Elisa.


"kenapa sih?" suara seseorang bertanya pada Mj. Mj menoleh dan melihat gadis itu.


"Kamu....sudah pulang?"


*


*


*

__ADS_1


Selamat membaca 🥰🥰


__ADS_2