Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 57. Berkelanjutan


__ADS_3

*Elisa Pov.


Seharian ini aku ditemani mas Mj. Senang dan lelah bercampur jadi satu. Setidaknya hari liburku bisa di habiskan berdua dengannya.


Walaupun aku bertemu anak bandel itu di Mall.


Dia selalu membuatku kesal akan kelakuannya.


Apalagi tadi di tempat umum banyak orang yang melihat kami beradu mulut.


Aku sudah mengantar mas Mj pulang ke kosannya. Aku turun dari mobil, di depan teras ada sebuah mobil yang tidak aku kfenal.


Mobil siapa ini? rasanya baru pertama kali aku melihatnya.


Aku melihat dan mengitari kendaraan mahal itu. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam nya. Aku langsung masuk ke dalam rumah.


Disana, aku melihat seseorang di kursi roda. Dia berada tak jauh dari depan kamar Marshella.


Pandangannya tak bisa diartikan. Aku yang terkejut langsung menghampirinya.


Tangannya sedikit demi sedikit bergerak menyentuh roda itu. Sepertinya dia mulai berusaha dan bersungguh-sungguh kali ini.


"Pa, tanganmu bisa bergerak sedikit." Kataku girang.


Aku memang selalu berdoa akan kesembuhan om Cipto. Aku berniat mau bercerai dengan beliau ketika om Cipto sudah sembuh seperti sedia kala. Hutang pun sudah lunas. Walaupun beliau berjasa dalam hidup kami. Tapi, cinta memang tak bisa di paksakan.


Om Cipto menatapku. Bi Minah mungkin lupa mengantarnya masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar Marshella terdengar berisik dan penuh keributan.


Apakah ini karena Marshella? makanya om cipto berusaha bergerak?


Sayup aku mendengar suara percakapan mereka.


"Lu gak usah kejar-kejar lagi itu om supir. Ganteng doang bukan jaminan Shel." Kata satu suara yang tidak aku kenal.


"Tau tuh, sekarang kebutuhan hidup dan kebutuhan gaya hidup serba mahal. Kamu itu orang berkelas, masa mau sama om duda anak satu." Lanjut suara satunya.


Aku hanya bisa mencerna kata-kata mereka bahwa Marshella tengah mengobrol tentang mas Mj.


"Pantes om Cipto berusaha banget. Memang benar karena Shella." Lirihku.


"Kita kembali ke kamar saja pa." Aku mendorong kursi roda itu. Tatapan om Cipto berubah benci padaku. Aku juga tak tahu kenapa.


Apakah Marshella tadi membahas aku dan mas Mj yang jalan ke Mall? sorot mata om Cipto berubah sekali padaku. Sebelumnya beliau tidak seperti ini.


Kami sudah berada di dalam kamar. Aku segera menggandengnya dan berusaha membaringkannya di atas ranjang. Sorot matanya masih sama seperti tadi.


"Sudahlah, aku gak mau memikirkan itu." Lirihku seorang diri dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar ini.


Setelah membersihkan badan, aku keluar kamar mengambil minuman dan cemilan. Perut seakan minta diisi kembali. Aku mengambil beberapa makanan ringan kemasan dan minuman kaleng. Aku kembali menuju kamar lagi.


Ceklek, pintu itu terbuka bersamaan.


Pintu kamar Silvia dan Marshella.


Baru aja mau kembali ke kamar. Malah ketemu bocah songong ini.


"Eh, lihat deh! ada tikus. Malem-malem gini bawa makanan." Seru Silvia.

__ADS_1


"Bukan tikus itu Sil, tapi b*b*. Lihat saja! rakusnya sama." Ledek Marshella.


Dua orang temannya hanya bisa tertawa kecil ketika Shella mengatakan itu padaku.


"Kalian ini gak capek apa ya? selalu saja menghinaku dari dulu. Kalian itu yang seperti guk-guk. Mulut kalian sama tau!" pekikku sambil melangkah menjauh dan menuju kamar.


"Heh, orang udik jangan kabur lo! sini kalau berani!" tantang Shella.


Aku tidak mempedulikan ucapannya. Dia berkacak pinggang seakan dia lah penguasa rumah ini.


"Males ladenin orang gak waras kaya kamu." Sahutku sambil Membuka pintu kamar dan menguncinya.


"Sudah lah Shel, kamu juga kenapa harus di dengerin sih." Sergah temannya.


Aku menguping pembicaraan mereka berempat di balik pintu.


"Kita pulang dulu aja deh. Udah jam segini, takut dicariin bokap gue tuh." Keluh temannya.


"Ya sudah pulang aja sana! gue cuma bisa nganter dari sini ya! kalian keluar aja sendiri. Pak security kan masih di depan." Ujar Shella santai


"Gak menghormati tamu banget sih lo, jadi nyesel ngajak lo maen tadi!" sungut temannya.


"Mau pulang pake acara kesel segala lagi. Dadah....hati-hati di jalan." Lanjut Marshella.


"Maaf ya kakak-kakak! kak Shella sepertinya salah makan makanya jadi gini." Silvia menyambar perkataan Shella.


Teman Shella tertawa nyaring. Silvia terdengar berlari masuk kedalam kamarnya. Langkah kakinya terdengar jelas.


"Sudahlah, ngapain juga aku ngupin! mending ngemil aja dulu!" gumamku mulai duduk di kursi depan meja rias dan menikmati cemilanku.


Aku membuka akun sosial mediaku.


Aku tidak mempedulikan om Cipto yang entah sudah terlelap atau tidak. Sekarang di pikiranku hanya mas Mj dan bagaimana caraku supaya bisa bersamanya seumur hidup.


Aku menghubungi mas Mj melalui panggilan video. Kupakai Handsfree di telinga agar om Cipto tak tahu siapa yang berbincang denganku.


"Ada apa Lis, kenapa jam segini buat panggilan video sih." Tanya mas Mj.


Dia sudah berbaring dan memeluk gulingnya.


"Pengen tau aja kok. Kamu itu bener-bener di kamar atau kelayapan jam segini." Terangku.


"Ngapain juga kelayapan jam segini. Aku kan bukan kelelawar. Capek tau nemenin kamu belanja!" Sergahnya.


"Kan gak tiap hari nemenin Lisa belanja. Jadi, kapan-kapan temenin lagi ya!" seruku antusias.


"Kalau gak capek pasti mas temenin kok Lis. Asal gak buat keributan kaya tadi ajah." Sahut mas Mj jengah. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang malas.


"Itu kan karena Shella! aku gak terima dia semena-mena sama kamu!" belaku.


"Kamu dengan Shella itu sama saja. Gak mau mengalah!" sahutnya.


"tapi kan mas. Ah udah deh gak usah bahas itu lagi. Sekarang kamu ngapain sih?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Mau tidur dong. Eh, malah ada yang manggil." Jawabnya.


"Baru pukul sembilan malam. Ngapain juga tidur jam segini." Sergahku sambil mengunyah cemilan.


"Jam segini emang waktunya tidur. Gak kaya kamu masih ngemil mulu!" sahut mas Mj.

__ADS_1


"Laper mas! oh iya, aku mau minta foto keluarga mu dong. Penasaran nih." Pintaku.


"Nanti aku kirim fotonya ya! aku mau tidur dulu deh. Capek plus ngantuk ini." Pamit mas Mj yang mulai menguap.


"Oke deh mas! selamat malam ya. Mimpi indah!" ucapku dengan nada manja.


"Iya, met malem juga. Jangan ngemil mulu, nanti perut bisa buncit." Pesannya.


Aku mengakhiri panggilan video kami.


Ada sebuah pesan masuk. Aku membukanya. Foto keluarga mas Mj. Ada ayah, ibu dan anak perempuannya.


"Anak yang manis. Tapi, gak mirip sama mas Mj. Mirip sama emaknya kali ya!" aku menebak asal.


Aku menyimpan foto itu ke galeri yang terkunci.


Agar tidak ada orang yang tau bahwa aku ingin menjadi bagian dari keluarga mereka.


Termasuk bundaku sendiri, bunda Marwah kesayanganku.


"Kalau bunda tahu aku seperti ini. Bisa-bisa aku dipecat jadi anak tiri bunda Marwah." Gumamku seorang diri.


Aku mengakhiri rutinitas malam ini. Kurebahkan badanku di sebelah om Cipto yang sudah tertidur pulas.


Aku mencoba memejamkan netraku. Berharap besok pagi akan cerah dan bersinar.


...----------------...


*Kamar kosan Hendra dan Anggi.


Mereka berdua masih membahas sesuatu.


Sepertinya mereka harus lebih ekstra membujuk Malik. Satu rencana yang mereka susun gagal. Malik menolak mentah-mentah ajakan Hendra.


"Kalau pakai cara yang baik-baik gak bisa. Kita harus pakai cara licik dan kotor mas." Usul Anggi.


"Kamu benar. Kita jebak saja dia nanti! setelah tau rasanya pasti dia akan mendekati kita tanpa kita suruh." Senyum licik Hendra.


Mereka saling tersenyum dengan ide kali ini. Kemungkinan berhasilnya sangat besar.


Sesudah membicarakan rencana selanjutnya mereka berdua berbaring dan mulai memejamkan netranya.


*


*


*


Happy reading semua. Maaf kalau waktu up bab barunya tidak sama setiap harinya. RL lebih menguras tenaga dan pikiran. Jangan lupa untuk terus dukung karya Author dengan cara Like setiap bab, komen, rate ⭐️ 5, favorit dan votenya. πŸ™πŸ™ Kasih gift juga boleh πŸ˜πŸ’–.


Terimakasih buat dukungannya πŸ˜πŸ˜πŸ€—.



.


Yang komen semalam ternyata author check tadi pagi ada yang hilang entah kemana. Makasih lagi atas dukungannya. Maaf kalau misal telat balas komenan dari pembaca.


lope lope buat pembaca setiaπŸ˜πŸ˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2