
*Kosan Mj.
Di warung Suami istri Hendra dan Anggi.
Sepasang suami istri yang masih menjual minuman terlarang tengah bersantai ria menghitung penghasilan mereka seminggu terakhir.
"Mas Hendra, lumayan nih duitnya!" Anggi mengibas-ngibaskan uang kertas berwarna biru dan merah.
"Eh, jangan pamer gitu! nanti kalau ada pembeli yang lihat gimana?" seru Hendra.
"Sepi mas, tenang saja!" Anggi masih menghitung kembali uang yang di pegangnya tadi.
"Dah, masukin di tas hitam seperti biasa sana! nanti malam mas akan menyetok lagi." Seru Hendra.
"Iya mas, gak bisa lihat orang seneng ya!" sungut Anggi langsung pergi kedalam kamarnya dan memasukkan uang itu kedalam tas hitam.
"Ah, nyomot selembar kayanya gak pa-pa deh. Lumayan buat beli baju baru nanti!" cengir Anggi.
Dia berjalan kembali ke warungnya.
Ada seorang wanita sekitar umur 30an menghampirinya. Dandanan wanita itu seperti seorang sosialita. Tapi, sayangnya norak dan tidak ada elegannya sama sekali.
"Permisi dek, disini ada yang namanya Mj gak? ponakan saya bilang dia sih ngekos disini." Tanya wanita itu.
"Owh, mas Mj ya mbak! dia kamarnya di sebelah saya mbak. Tapi, sudah 3 hari ini kosong terus kamarnya. Belum pulang 3 hari mbak." Terang Anggi.
"Begitu ya! kalau boleh tahu elo kenal banget sama dia. Elo siapanya?" tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Alexandra Cahyono.
"Saya hanya tetangganya saja mbak. Saya dan suami baru pindah kesini dua bulanan mbak." Terang Anggi.
"Gue pikir elo istrinya Mj, istri udah hamil gede gitu terus selingkuh si Mj." Ceplos Sandra.
"Bukan mbak, suami saya mas Hendra. Dia sedang jaga warung kami." Terang Anggi lagi.
"Baiklah kalau gitu, gue cabut dulu. Gue cuma mau tahu tempat tinggal Mj dimana. Ternyata disini." Sandra mencemooh tempat ini.
"Disini memang tempat orang-orang miskin seperti kami mbak. Jadi, kalau mbak kesini bilang tempatnya jelek ya wajar. Mbak pasti orang kaya kan?"
"Ya, gue emang orang kaya! dah lah gue cabut dulu. Nih buat elo karena sudah ngasih tahu tempat Mj itu dimana." Sandra merogoh tas dan mengeluarkan dompet. Diambilnya selembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Anggi.
"Terimakasih banyak mbak! lain kali kalau mau nanya-nanya, biar saya yang kasih tahu. Oh iya, apakah mbak mau minuman yang enak?" tawar Anggi.
"Minuman? ah enggak deh! bisa-bisa sakit perut kalau gue minum. Gak level sama selera gue. Uda lah, bye!" Sandra langsung melangkah keluar dari sana dan menuju parkiran mobil.
Dia melesatkan mobilnya ke sebuah rumah sakit. Rumah sakit tempat Mj di rawat.
"Kalau dia belum pulang, pasti masih di rumah sakit tuh supir kampung. Gue kudu kesana secepatnya dan memberikan peringatan!" Gumam Sandra.
*Rumah sakit.
Sandra turun dari mobil dan tergesa melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Dia selalu menoleh kebelakang. Khawatir akan ada orang yang mengikuti.
__ADS_1
Tap, tap, tap.
Malik mendengar suara kaki melangkah mendekati kamarnya. Dia sudah bisa naik turun brankar. Malik sekarang tengah menikmati pemandangan sore melalui jendela kamarnya.
"Pasti Elisa menjengukku!" Girang Malik.
Ceklek, pintu terbuka.
Ada wanita masuk dan langsung duduk di sofa kamar VIP ini.
"Elisa kamu......." Malik tercekat ketika dia menoleh dan tahu bahwa wanita itu bukan Elisa.
Plok, plok, plok.
Sandra bertepuk tangan.
"Wauw, ternyata yang ada di pikiran kamu itu hanya Elisa ya!" cibir Sandra.
"Kenapa anda kemari nona?" kernyit Mj heran.
"Elisa sayang banget sama elo ya! kamar ini bagus dan nyaman!" kata Sandra.
"Anda belum menjawab pertanyaan saya nona!" seru Mj.
"Terserah gue mau jawab apa enggak! elo itu cuma babu di rumah gue!" cibir Sandra merendahkan Mj.
"Saya memang babu. Tapi, saya bekerja secara halal dan berkah nona!" Mj menyahut.
"Saya tahu saya salah nona. Tapi, kami berdua tidak bisa mengabaikan rasa cinta ini. Elisa juga terpaksa menikah dengan tuan Cipto. Saya yakin anda tahu itu." Balas Mj.
"Ya, dia memang terpaksa. Orang tuanya menjual anak gadisnya pada abang gue." Seru Sandra.
"Hutang orang tuanya, abang gue yang bayarin semua tanpa terkecuali. Dia seperti sekarang pun berkat abang gue yang kaya raya!" sombong Sandra.
"Elisa bilang bahwa itu wasiat dari ayahnya sebelum meninggal!" sergah Mj.
"Ayahnya punya banyak hutang sebelum meninggal makanya dia jual anaknya agar hutang lunas."
"Bukan seperti itu nona Sandra, anda pasti salah paham!" bela Mj.
"Udah deh, gue males ladenin supir kampung kaya elo." Malas Sandra.
"Sekarang ini apa maksud nona? kenapa anda kemari?" tanya Mj.
"Tau aja elo kalau gue punya maksud datang kesini." Sandra berdiri dan mendekati Mj.
Dia berbisik ke telinga Mj. Raut wajah Mj berubah pucat dan badannya bergetar seketika.
"Gue gak main-main. Selama 2 tahun ini gue udah sabar nerima Elisa di keluarga Cahyono. Sekarang, sebelum semuanya terlambat gue akan menendangnya keluar dari keluarga kami."
"Sudah banyak harta keluarga kami yang dia kuras!" lanjut Sandra lagi.
"Tapi, anda tidak boleh berbuat kejam seperti itu nona! berdosa sekali anda kalau betul-betul melakukannya!" Mj terlihat panik.
__ADS_1
"Waw, ada pak ustadz disini!"
Plok, plok, plok. Sandra bertepuk tangan.
"Gak usah ngomongin dosa kalau lagi ngobrol sama gue. Elo selingkuh sama istri orang itu juga berdosa. Cuih, manusia sok suci elo tuh ya!" cibir Sandra.
Malik hanya terdiam dan menunduk. Apa yang dikatakan Sandra memang benar. Tapi, kalau untuk peringatan tadi. Itu sungguh tidak adil buatnya dan Elisa.
"Kami memang berdosa karena cinta kami terlambat datangnya. Tapi, apakah itu adil buat kami nona? anda benar-benar keterlaluan nona!" suara Mj bergetar.
"Itu hanya peringatan kecil untukmu. Cukup kamu diam dan lakukan saja! kalau memang kamu keberatan, konsekuensinya akan fatal buat kalian berdua." Ancam Sandra.
"Entahlah nona, saya akan berusaha yang terbaik. Asalkan Elisa baik-baik saja. Saya rela berkorban nona." Lirih Mj.
Sandra mendekati Mj, badannya menghimpit badan Mj kedinding.
"Ancaman gue masih berlaku kalau elo berani memutuskan semuanya sendiri!" Sandra meniup wajah Mj.
"Ingat perkataan gue tadi! semua tindakan elo harus sesuai perintah gue kalau mau Elisa masih bernyawa sampai sekarang." Sandra memberi peringatan pada Mj.
"Baiklah nyonya! saya akan berusaha sebaik mungkin!" Mj patuh.
"Good boy!" Sandra mengusap rambut Mj.
Dia mencium pipi Mj sekilas.
"Jangan salah paham, ciuman pipi emang sering gue lakukan. Baik temen ataupun musuh sendiri. Jangan pede jadi orang ya!"
Mj yang mendengarnya hanya menunduk dan mengangguk. Wanita ini tidak boleh di remehkan. Selain kaya dan seenaknya, ternyata dia licik dan berbisa.
"Dah lah, gue gak mau lama-lama disini. Kuatir ketularan miskin kaya elo." Sandra langsung keluar dari kamar perawatan Mj.
Mj terhenyak di brankarnya. Pikirannya mulai berkelana tentang ancaman Sandra tadi. Dia mulai memilih dan memutuskan akan bagaimana kedepannya.
"Kalau seperti ini kasihan Elisa, dia sudah banyak berkorban untukku." Lirih Mj.
"Sebaiknya aku harus cepat keluar dari sini! aku tidak usah menunggu Elisa menjemputku!" gumam Mj.
"Untunglah Elisa sudah melunasi semuanya! dan aku juga sudah sembuh seperti semula. Saatnya pulang ke kosan!" lanjut Mj lirih.
Mj sudah berganti pakaian dan segera meninggalkan rumah sakit ini. Di halaman rumah sakit, Mj berpapasan dengan seorang wanita.
"Mas Mj, kamu......"
*
*
*
*Happy reading. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like setiap bab, komen, rate ⭐️5, favorit dan vote nya. Bisa juga mendukung karys Author dengan memberikan gift berupa 🌹,❤, atau pun ☕. Terimakasih banyak bagi yang sudah mendukung selama ini 🙏🙏.
Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. Semoga kita selalu mendapatkan berkah ramadhan, aamiin.
__ADS_1