Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 82. Malik bersedih


__ADS_3

Rumah bunda Marwah.


Elisa, Malik, dan Marwah berkumpul di ruang tamu. Mereka menyalakan televisi sambil mengobrol. Tiba-tiba Marwah mengingat sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Raut wajah nya berubah sendu. Entah apa yang ada dipikirannya.


Marwah menghela nafas panjang dan berat.


Batinnya seakan mau membuang suatu beban.


"Aku harus memberi tahu nak Adi, Dia kan selama ini menyayangi pak Ismail." Batin Marwah.


Marwah memperhatikan Mj. Raut wajah Mj membuat Marwah penasaran.


"Sebenarnya ada apa dengan nak Adi? sepertinya anak itu tidak tenang, apa yang ada di pikirannya?" batin Marwah bertanya-tanya.


"Bunda lupa mengabari kalian sesuatu!" ucap Marwah yang sudah memasang wajah sendu sedari tadi.


"Kabar apa itu bunda?" tanya Elisa cemas yang melihat raut wajah bunda nya.


"Maaf ya nak Mj! bunda baru bisa mengabari sekarang ini!" lanjut Marwah lagi.


"Tunggu dulu, memangnya ada apa bunda?" sahut Mj bingung.


Mj mengernyitkan keningnya. Rambut yang semula rapi, dia acak-acak karena kebingungan melihat bunda Marwah yang tidak bisa Mj artikan. Bunda Marwah masih menggantung perkataannya tadi.


"Katakan saja bunda!" ujar Mj yang kebingungan.


"Beliau sudah meninggal nak....!" bunda Marwah tertahan. Suaranya yang lirih tercekat.


"Siapa yang meninggal bunda?" tanya Elisa bingung.


Mj yang mendengar kabar orang meninggal masih saja bingung, sebenarnya siapakah yang


meninggal.


"Hemm itu, pak Ismail yang meninggal nak Lisa!" jawab Marwah pelan.


"Apaa? pak Ismail bunda? tidak mungkin!" Mj seakan tidak percaya akan perkataan bunda Marwah.


Seketika raut wajah Mj berubah muram dan sedih. Netranya berkaca-kaca. Air bening yang akan jatuh dia hapus dengan telapak tangannya. Kesedihan menguasainya.


Pak Ismail adalah orang yang baik. Beliau menganggap Mj seperti anak sendiri. Dahulu, hanya pak Ismail yang mendengar keluh kesah Mj yang jauh dari sanak keluarga.


Pak Ismail juga lah yang mau menerima Mj bekerja di ladangnya.


Ingatan masa lalu tentang pak Ismail menguasai pikiran Mj.


"Innalilahi bunda. Cepat sekali pak Ismail meninggalkan kita semua." Elisa muram.


"Bunda, sudah berapa hari beliau meninggal?" tanya Mj membuka suaranya.


"Hari ini lima harinya nak!" jawab Bunda Marwah.


"Apakah anak beliau datang?" tanya Mj sedih.


"Eh, itu....itu!" bunda Marwah gelagapan.


"Jangan membohongi Mj bunda! dari perkataan bunda Mj sudah bisa menebaknya!" Mj bersedih. Disaat-saat akhir beliau, anak yang diasuh dan dibesarkan malah berjauhan dan tidak pulang kerumah. Bahkan walaupun beliau sudah meninggal.


"Pak Ismail ditemukan meninggal di kamar mandi nak! dari pemeriksaan, beliau meninggal karena serangan jantung mendadak." Terang bunda Marwah.


"Sampai hari ini, anak beliau juga masih belum ada yang datang bunda?" tanya Mj kecewa.


"Iya nak Mj. Tidak ada satupun anak pak Ismail yang datang melayat." Jawab bunda Marwah sedih.

__ADS_1


"Kasihan pak Ismail. Beliau selalu berkata bahwa rindu sekali dengan anak-anak beserta cucunya. Beliau sempat berkata akan berkunjung kepada salah satu anaknya yang berada di kota!" Mj berkaca-kaca.


"Bunda juga tahu itu nak! semenjak anak-anak pak Ismail sukses di perantauan, mereka seiring waktu melupakan orang tuanya! padahal mereka tahu kalau pak Ismail sendiri selama ini!" Isak bunda Marwah.


Keduanya larut dalam kesedihan. Elisa memeluk bundanya yang tengah terisak.


Mj menatap bunda Marwah nanar.


"Maafkan saya pak! saya tidak bisa berada disisi bapak pada saat-saat terakhir!" Mj membatin. Hatinya sakit ketika pak Ismail belum bisa menunaikan keinginan sendiri.


"Semoga engkau tidak kesepian lagi pak! bapak sudah bersama ibu disana!" lirih Mj terisak pelan.


"Bunda, tolong antar Mj kemakam beliau!" pinta Mj.


"Nanti sore kita kesana nak!" sahut bunda Marwah.


"Siapa yang tinggal dirumah beliau sekarang bunda?" tanya Mj pelan.


"Tidak ada siapapun disana nak! kami hanya melakukan tahlilan saja tanpa ada orang yang menginap!" jelas bunda Marwah.


Mereka bertiga tenggelam dengan pikiran masing-masing. Mj hanya bisa berdoa di dalam hati. Sungguh hari yang menguras emosi.


"Anak-anak pak Ismail sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya mereka tak pulang disaat ayah mereka meninggal dunia." Gumam Mj yang mengepalkan tangannya.


...----------------...


Sementara di rumah keluarga Cahyono.


Seorang pria tampan keturunan Eropa keluar dari dalam mobilnya. Dia melangkah masuk kedalam rumah tanpa permisi.


Waktu itu pintu rumah memang tidak terkunci.


Sandra yang sudah mengantar abangnya kekamar, akhirnya bisa bernafas lega. Dia duduk bersandar di sofa empuknya. Tak terasa hari sudah beranjak siang.


"Kamu! ngapain sih kamu kesini? bukannya permisi masuk rumah orang!" kesal Sandra.


"Pintu nya tidak dikunci sayang! makanya aku bisa masuk dengan leluasa!" cengir Rexy lebar.


"Ngapain elo kesini? gak ada kerjaan apa!" sentak Sandra.


"Eh sayangku, jangan marah kaya gitu dong! nanti cepet tua lho!" ledek Rexy cekikikan.


"Gak jelas elo tuh! ngapain kamu datang kemari? kita sudah tidak punya hubungan apapun!" terang Sandra.


"Sayang, aku harus jelaskan masalah kemarin yang di rumah sakit!" jujur Rexy.


"Gak ada yang perlu di jelaskan! gue tahu kalian berdua masih berhubungan sampai sekarang!" Sandra berkelit.


"Sumpah sayang! aku tidak punya hubungan apapun dengan wanita itu! dia itu pe****r! sama siapapun dia mau asalkan karirnya bisa melesat." Jelas Rexy.


"Kalian berdua sama aja!" ketus Sandra.


"Aku berdiri terus dari tadi lho sayang! gak mau ngajak aku duduk nih?" tanya Rexy memelas.


"Ngapain elo duduk? lebih baik secepatnya elo pergi dari rumah ini!" usir Sandra pada Rexy.


"Jangan gitu dong! aku kangen sama kamu sayang! kamu tidak mau menjawab panggilan telepon ku selama ini!" pinta Rexy.


Rexy menghampiri Sandra yang tengah duduk di sofa. Rexy langsung menempelkan pantatnya di sofa empuk itu.


Sandra hanya bisa diam dan tidak menanggapi kelakuan Rexy.


Rexy mendekat dan mendekat. Dia merengkuh wajah Sandra dan langsung meng**up bibirnya yang ranum.

__ADS_1


"Si**an!! berani-beraninya kamu....!" ucapan Sandra tertahan.


Rexy langsung meng**up lagi bibir Sandra. Dia mel***t bibir itu dengan rakus. Sandra mendorong tubuh kekar Rexy. Namun, usaha nya itu sia-sia belaka.


"Lepaskan gue!" ucap Sandra di sela ci**an Rexy.


Tap, tap, tap.


Sandra mendengar suara langkah kaki seseorang.


"Stop! ada orang mendekat kemari!" suruh Sandra yang langsung mendorong tubuh Rexy.


Rexy melepaskan pelukan dan ciu***nya . Nafas mereka berdua terengah seperti orang yang tengah berlari marathon.


Rambut Rexy dan Sandra acak-acakan tak beraturan.


"Maaf non Sandra!" ucap bi Minah yang menghampiri Sandra dan Rexy.


"Ada apa bik?" tanya Sandra cuek.


Sandra berusaha menormalkan kembali nafasnya yang tersengal.


"Ehm, begini nona! saya sudah dapat pemandangan yang bagus. Foto pemandangan yang sungguh sempurna!" senyum bi Minah lebar.


Sandra mengernyit heran. Foto pemandangan apa yang di maksud oleh bi Minah. Sandra memikirkan sesuatu yang hampir dia lupakan. Pikirannya melayang pada rencananya beberapa hari yang lalu.


*Flashback 2 Hari yang lalu.


Sandra yang pulang dan mampir untuk mengambil baju ganti, akhirnya memutuskan sesuatu. Dia punya rencana lain yang lebih efektif.


"Bi Minah!" pekik Sandra.


Bi Minah setengah berlari menghampiri Sandra.


Sandra berkata panjang dan lebar. Dia berbisik dan terlihat membujuk bi Minah melakukan sesuatu yang disuruh nya.


"Gimana bi? rencana gue keren kan?" tanya Sandra bangga.


"Ii-yya nona!" jawab bi Minah terbata.


"Baru kali ini aku melihatnya sendiri! ternyata nona Sandra memang lebih licik dari kelihatannya!" batin bi Minah.


Mau tak mau dia akhirnya mengangguk setuju.


Walaupun di hati kecilnya masih saja tersimpan keraguan.


"Mulai besok, lakukan rencana kita bik! awas ya elo kalau sudah sampai keluar jalur! gue akan memecat elo dari sini!" ancam Alexandra penuh penekanan.


"Baiklah nona! besok saya akan melakukan rencana kita!" sahut Bi Minah setuju juga.


"Jadi, besok itu tugas pertama ya nona?" tanya bi Minah lagi.


"Ya, begitulah bi! besok jangan lupa ya! besok bi Minah harus........"


*


*


*


*


*Selamat membaca semua nya.

__ADS_1


__ADS_2