
Pagi hari di dalam mobil bersama Elisa.
Pandangan Mj nanar, dia tak kuasa menatap langsung Elisa. Seakan-akan Mj menyimpan sebuah rahasia yang hanya diketahui dirinya seorang. Mj tak tenang ketika teringat kejadian semalam. Sumiyati menghubunginya dan mengobrol banyak.
*Flashback semalam.
Setelah hampir 30 menit berbincang melalui ponsel. Sumiyati memberanikan dirinya untuk bertanya sesuatu yang penting kepada Malik anaknya.
"Nak, kamu tahu kan siapa Evans?" tanya Sumiyati.
"Evanz? Evans pacarnya Fatma kan bu?" tanya Mj meyakinkan jawabannya.
"Iya nak, Evans pacarnya Fatma yang seorang dokter itu!" terang Sumiyati.
"Tau lah bu, kan waktu panggilan video kemarin itu ibu sendiri yang mengenalkan Malik padanya!" sahut Mj.
"Semoga kalian bisa bertemu secara langsung secepatnya nak!" harap Sumiyati.
"Iya bu, semoga saja ya!" hibur Mj pada Sumiyati.
"Mj masih betah berada disini bu, apalagi ada Elisa yang selalu membela dan menemani Mj!" batin Mj termenung.
"Kenapa ibu tiba-tiba saja menanyakan Evans pada ku?" tanya Mj heran.
"Nak Evans itu punya rencana yang bagus buat kita nak!" seru Sumiyati girang.
"Terus apa hubungannya denganku bu? rencana apa itu?" tanya Mj yang mulai penasaran.
"Begini lho nak! Evans itu sebenarnya ingin mengajak kita bekerja sama!" jelas Sumiyati senang.
"Kerja sama apa maksud ibu?" Mj semakin penasaran.
"Dia mau membangun apotek baru. Dan bangunan itu nanti dia serahkan pada kita untuk mengelola nya!" terang Sumiyati.
"Kenapa baik sekali dia bu? terus kita dapat duit darimana untuk berinvestasi pada bangunan itu?" tanya ku yang mulai resah.
"Jangan kuatir nak! Evans sudah berkata kalau kita bisa menyicil sedikit demi sedikit semampu kita!" jawab Sumiyati girang.
"Hmm, benarkah bu?" tanya Mj meyakinkan lagi.
"Benar nak, makanya kamu harus secepatnya pulang dan menyetujui serta menandatangani berkas-berkas nantinya!" terang Sumiyati.
Mj terdiam beberapa lama. Dia terhalang oleh sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Bukannya apa bu, Malik kangen sama kalian. Tapi, baru kali ini setelah sekian lama Malik mencintai seorang wanita walaupun wanita itu adalah istri orang!" batin Mj lesu.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Sumiyati yang lama tak mendengar suara Mj.
"Eh, itu bu! Malik gak pa-pa kok, tadi ambil minum dulu." Mj berbohong.
"Jadi kan kamu pulang secepatnya?" tanya Sumiyati girang.
Mungkin saja dia sudah rindu berat kepada anak kesayangannya itu. Makanya ketika mendapatkan tawaran dari Evans, Sumiyati menyetujui nya tanpa berpikir panjang.
"Hem, gimana ya bu, Malik akan pulang. Tapi, bukan tahun ini bu!" jawab Mj akhirnya jujur.
"Kenapa nak? kamu tak merindukan kami? sudah 14 bulan kamu di rantauan nak, ibu sangat merindukanmu!" Sumiyati terdengar bersedih, suaranya tercekat.
__ADS_1
"Maaf ibu, Malik juga rindu dengan kalian semua. Tapi, kerjaan Malik disini juga tidak bisa ditinggalkan!" Mj beralasan.
"Baiklah kalau begitu! ibu akan memberikan kamu waktu sebulan nak! tidak lebih, pikirkan lagi soal tawaran Evans beserta niat baiknya pada kita!" Sumiyati memberikan pilihan.
"Iya bu, Malik akan memikirkannya nanti!" sahut Mj serba salah.
Tak berapa lama Sumiyati berpamitan karena akan tidur. Dia juga menyuruh Mj agar secepatnya tidur.
*Flashback off.
Setelah sarapan bersama Elisa. Seperti biasanya Mj akan mengantarkan Elisa kemanapun dia mau. Bertemu dengan pelanggan bahkan ke konveksi yang sudah bekerja sama dengannya.
Seharian ini Mj tak banyak bicara. Dari tadi Elisa menelusuri raut wajah Mj yang gundah.
"Mas Mj kenapa sih? kenapa seharian ini mukanya ketekuk gitu?" tanya Elisa penasaran.
"Owh, gak ada apa-apa kok. Hanya kangen dengan keluarga dikampung saja!" senyum Mj terpaksa.
"Kan bisa panggilan video mas!" seru Elisa.
"Iya Lis, aku tahu itu." Mj hanya mengiyakan ucapan Elisa tanpa membantah nya.
Percakapan mereka berhenti sampai disitu.
Mj masih saja memikirkan perkataan ibunya.
Sementara Elisa memandang Mj di sampingnya tak berkedip.
Mereka berdua tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Rumah Cahyono.
Pagi tadi Sandra tengah sibuk berbincang dengan pengacara keluarga nya. Mereka berdua tampak serius membicarakan tentang sesuatu.
"Pak, pokoknya abang gue harus cerai dengan orang kampung itu!" tukas Sandra.
"Alasannya harus jelas nona! harus ada alasan beserta bukti yang valid
"Owh begitu ya pak! kalau aku punya buktinya berarti abang Cipto bisa mengajukan talak?" tanya Sandra.
"Iya non Sandra!" pengacara itu mengangguk.
"Sementara ajukan dulu berkasnya nona! urusan yang lainnya biar saya selesaikan semuanya!" senyum pengacara itu senang.
"Sudah lama aku tak mendapat job, syukurlah sekarang bisa dapat job lagi. Apalagi dari bos besar seperti keluarga Cahyono. Sudah lama mereka tak mencariku!" batin pengacara itu.
Mereka berdua mengurus semua berkas yang akan ditandatangani oleh Cipto dan Elisa.
Setelah urusan selesai, pengacara itu pamit undur diri. Sandra mengantarnya sampai di depan pintu. Tangannya memegang berkas penting. Mulutnya tersungging senyuman yang lebar.
"Akhirnya sebentar lagi elo akan keok orang kampung!" gumam Sandra seorang diri.
Sandra melangkah masuk ke dalam rumah dan memanggil bi Minah.
"Ada apa non Sandra?" tanya bi Minah yang tergopoh menghampiri Sandra.
"Bi, elo harus jadi saksi di pengadilan!" ucap Sandra enteng.
__ADS_1
"Saksi di pengadilan? saksi apa non? saya kan tidak ada hubungannya dengan semua ini!" bi Minah ketakutan.
"Tenang saja bi Minah! bibi hanya akan menyampaikan apa yang dilihat oleh bibi ketika Elisa dan Mj berciuman di dalam mobil waktu itu!" terang Sandra santai.
"Tapi non, saya tidak enak hati dengan nyonya Elisa!" tolak bi Minah gemetar.
"Bibi mau gue pecat bye bye atau menjadi saksi nantinya?" Sandra mengancam sambil menyilangkan lengannya.
Bi Minah hanya bisa mengangguk pasrah ketika diancam oleh majikannya.
"Bagus, elo harus nurut apa pun perintah gue!" Sandra tersenyum puas.
"Ya sudah bi, kembali bekerja sana! nanti kalau bibi sudah menjadi saksi, gue akan memanggil lagi!" suruh Sandra dengan ucapan sombong nya.
"Baiklah nona! saya pamit dulu kebelakang!" bi Minah beranjak dan berjalan ke arah dapur.
"Maaf nyonya, aku tidak punya pilihan lain!" sesal bi Minah sedih.
Sandr yang senang dan tersenyum lebar masuk kedalam kamar abangnya.
"Bang Cipto! gue bawa sesuatu yang bagus buat abang nih!" panggil Sandra.
Cipto menoleh, tangannya bergerak menunjuk Sandra. Tepatnya menunjuk sebuah berkas yang ada di pelukan Sandra.
Sandra melihat abangnya yang menunjuk berkas yang dia bawa.
"Abang mau tahu apa ini?" tanya Sandra girang.
"Aaap-aa iii-tu?" tanya Cipto.
"Ini kejutan untuk abang! Abang pasti akan menyukainya." Jawab Sandra sumringah dengan lebar.
Sandra menyodorkan berkas itu. Dia membuka bagian awal agar Cipto bisa membaca nya.
Cipto memegang dan membaca berkas yang disodorkan Sandra.
Dahinya mengernyit, dia membuka lagi halaman selanjutnya. Halaman demi halaman sudah Cipto baca secara perlahan.
Nafasnya naik turun tak beraturan. Dia menjatuhkan berkas itu dan memegang dadanya kuat-kuat.
"Bang Cipto kenapa? ada yang sakit?" tanya Sandra yang heran akan tingkah abangnya.
Cipto hanya terdiam, tangannya terkepal erat tanda emosi yang sudah diatas wajar.
"Abang kenapa? bilang aja bang sama Sandra!" seru Sandra tambah kuatir ketika melihat wajah Cipto yang memerah seakan menahan emosi.
"Ka--mu, ke-napa ka-mu......!" Cipto yang biasanya tergagap sudah mulai lancar berbicara dan bergerak cepat menunjuk Sandra.
"Ke-napa ka-mu.......?"
*
*
*
*Selamat membaca semuanya 🤗🤗
__ADS_1