
Sumiyati ditelepon oleh Evans, Evans memberitahu nya bahwa dia gagal meyakinkan orang tua Fatma.
Evans menceritakan kejadian setahun yang lalu kepada Sumiyati. Dia menerawang jauh tentang hal yang dia lakukan setahun silam.
Evans merasa bersalah kepada kedua orangtuanya. Sebagai seorang anak tunggal, mungkin saja dia merasa telah mengecewakan hati kedua orangtuanya. Apalagi orang tua Evans adalah orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. waktu itu, demi Evans keduanya pulang ke Indonesia. Akan tetapi Evans sudah membuat harapan keduanya kok pupus.
*Flashback setahun lalu.
Evans menerima kejutan dari kedua orangtuanya. Mereka pulang ke Indonesia tanpa memberitahu Evans.
Kepulangan orang tua Evans memang di sengaja. Mereka membawa seorang gadis keturunan asli Australia. Dan mau menjodohkan gadis itu dengan Evans.
Evans mengerutkan dahinya dan berubah pucat ketika tahu bahwa dia mau di jodohkan dengan gadis itu.
"Moms, kenapa bisa begitu sih? Evans gak mau mom!" tolak Evans tanpa berpikir panjang.
"Why? look at her, dia cantik, menarik, pintar dan keturunan bangsawan dari jaman kerajaan dulu!" seru moms Chaterine.
"Bukan itu masalahnya moms!" tunduk Evans yang tak enak hati.
"Apa masalahnya honey? coba jelaskan!" perintah moms Chaterine.
"Sebenarnya Evans itu.......!" Evans tercekat tak melanjutkan kata-katanya.
"Evans, what wrong with you honey?" tanya daddy James.
"Moms, dad, Evans sudah berjanji pada diri sendiri. Ketika nanti menikah, hanya ingin menikah dengan gadis pribumi asli dari Indonesia." Jelas Evans yang tertunduk.
"Kenapa honey? bukankah dengan siapa kita menikah itu tak masalah? asalkan saling suka dan mencintai. Dan seiring waktu moms tahu kalian berdua akan saling mencintai!" sahut moms Chaterine sambil mengelus kepala Evans.
"Bukan karena itu juga moms, sebenarnya Evans sudah muallaf beberapa bulan yang lalu!" ujar Evans pelan.
"What? apa itu muallaf?" tanya daddy James.
"Evans sudah masuk ke agama Islam moms, dad!" Evans tak berani menatap netra kedua orangtuanya.
Chaterine dan James tersentak mendengar pernyataan Evans. Dia benar-benar tidak bisa berpikir apa yang di lakukan anak tunggal nya itu.
"Kenapa honey? sebenarnya kamu menganggap kami ini apa?" tanya Chaterine yang mulai berbicara lirih.
Keputusan sang anak membuatnya shock.
"Maaf moms, dad. Hanya kata itulah yang bisa Evans ucapkan pada kalian berdua!" Evans tertunduk.
Daddy James menghela nafas panjang dan dalam. Dia tak mengerti akan keputusan sang anak. Tapi, dia juga sudah kepalang tanggung membawa gadis itu kemari untuk berkenalan dengan Evans anaknya.
"Kalau begitu keputusan mu kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi honey!" ucap moms Chaterine sendu.
"Maaf kan Evans moms dan dad! Evans juga minta maaf karena telah menolak perjodohan ini!" Evans mencium punggung tangan moms Chaterine berkali-kali.
"Kamu sudah besar sayang! kalau itu keputusan mu kami juga tidak bisa berbuat banyak!" sahut daddy James lemas.
"Tunggu dad, gak bisa gitu dong!" sela moms Chaterine.
"Sudah lah moms, kita jangan membahas ini lagi. Bagaimana pun Evans masih tetap anak kita!" lanjut James.
__ADS_1
"Joanna gimana dad, kasian dia sudah jauh menemani kita sampai disini!" Moms Chaterine sendu.
"Kita harus menjelaskan kepada keluarga Besar Joanna moms, walaupun nanti hubungan kita tidak akan seperti dulu lagi!" daddy James merasa bersalah.
"So sorry moms, daddy. Please forgive me!" Evans meminta maaf dengan tulus.
"Kalau seperti ini kita langsung pulang saja dad, kita tidak boleh berlama-lama disini!" seru Chaterine.
"Moms, kita baru sampai beberapa jam yang lalu. Kenapa harus pergi lagi?" tanya James.
"Anak kita sudah berbeda dad, sebaiknya kita pulang dulu!" Chaterine memaksa.
"Moms tidak boleh begitu, kalian tetap orang tua Evans!" Evans memeluk Chaterine.
"Kami tidak mau kamu harus menemani Joanna sayang. Lebih baik kamu pergi saja!" Chaterine mendesak.
Joanna yang tidak fasih berbahasa Indonesia hanya terdiam tak mengerti. Sesekali dia memandang ke arah Evans yang tampan.
"Maaf kan Evans!" Evans tertunduk lesu.
"Well, Sekarang kami harus memesan tiket dan pulang lagi!" James angkat bicara.
"Istirahat lah sebentar, biar Evans yang memesan semuanya!" tawar Evans.
Paginya orang tua Evans dan Joanna pulang kembali ke Australia. semenjak kejadian itu Evans masih belum bisa membujuk orang tuanya agar pulang ke Indonesia.
*Flashback off.
"Begitulah ceritanya bu! makanya sampai sekarang Evans masih belum bisa memberitahukan moms dan daddy!" Evans bergumam.
"Coba dulu saja nak Evans, siapa tahu beliau berdua senang mendengar anaknya yang sudah mau meminang anak gadis orang!" nasehat Sumiyati.
"Baiklah nak, akan ibu coba bantu!" Sumiyati menyetujui saran Evans.
"Terimakasih banyak bu, akhirnya Evans bisa meringankan beban!" lega Evans.
"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi nak!" suruh Sumiyati.
"Iya bu, kalau begitu Evans off dulu ya bu!" Evans mengakhiri obrolan teleponnya.
"Iya nak, jaga kesehatan selalu ya!" pesan Sumiyati.
Setelah pamit dan saling mengucapkan salam, telepon terputus. Ada raut wajah bahagia terpancar. Sumiyati merasa bahagia atas kebahagiaan Evans yang baik dan dermawan.
...----------------...
Pagi hari di kosan Mj.
Brak, brukk.
Sayup-sayup Mj mendengar suara sebuah bangunan yang di robohkan. Dia mengucek netranya perlahan agar kesadaran nya pulih kembali. Mj menguap lagi, dan segera mencuci muka. Dia penasaran sekali apa yang terjadi diluar sana.
Srak, srak, srak.
Ada suara geretan barang berat.
__ADS_1
prangg, prangg.
Ada bunyi botol pecah berhamburan.
Setelah mencuci wajahnya Mj segera membuka pintu dan jendela kamarnya.
Dia tersentak melihat warung Hendra dan Anggi yang sudah dirobohkan.
Ada beberapa anggota kepolisian disana. Mereka membawa puluhan botol transparan yang semalam Mj temukan.
Mj menghampiri salah satu anggota polisi.
"Maaf ya pak mengganggu waktunya! kalau boleh saya tahu kenapa warung ini dirobohkan?" tanya Mj bingung.
"Ada penimbunan yang tersimpan didalam warung ini mas. Karena itulah kami merobohkannya dan sebentar lagi membongkar nya!" jawab polisi itu santai.
Buldozer sudah bekerja sesuai prosedur. Kini giliran anggota kepolisian mencari obat-obatan yang di sembunyikan oleh Hendra. Sesuai keterangan dari Hendra, dia menyembunyikan obat itu pada ruang bawah tanah didalam warungnya.
Para penghuni kosan dan masyarakat sekitar berbondong-bondong menonton kegiatan anggota kepolisian ini. Mereka sedang membicarakan Hendra dan Anggi. Mj yang berada di sebelahnya menguping pembicaraan.
"Amit-amit ya jadi seperti mereka! apalagi Anggi sedang hamil besar, apa gak kasian ya si Hendra pada Anggi?" seru salah satu dari mereka.
"Iya juga sih, tapi kata anak pak Tarjo si Anggi itu juga sama! dia juga sudah tahu bahwa si Hendra menjual barang seperti itu!" sahut yang lain.
"Rasakan lah si Anggi, pasti dia melahirkan di penjara!" kutuk yang lain.
" Saya pernah di tegur oleh bapak-bapak rambut agak cepak dan berkumis! beliau bilang harus berhati-hati dengan pasangan suami istri itu!" sahut yang lain.
"Ngeri ya kalau sudah begini!" sahut yang lain lagi.
"Syukurlah sekarang mereka Sudah tertangkap dan mendekam di penjara!" sahut yang lain kesal.
"Iya, benar sekali! coba saja kalau belum tertangkap. Saya takut anak anak kita jadi korban nya!" sahut ibu berbaju kuning.
Mj yang diam dan mendengarkan mereka mengobrol hanya mampu menggelengkan kepalanya sedikit.
"Sungguh tidak menyangka mereka akan menjual barang itu!" lirih Mj.
"Maaf pak, kalau boleh saya tahu. Dimana sekarang Hendra dan Anggi? maksud saya mereka berdua ada di penjara mana?" tanya Mj penasaran.
"Mereka itu kami amankan di penjara Mayjend Sungkono di kota sebelah pak!" jawab polisi tadi.
"Waduh, jauh juga ya pak! terimakasih banyak infonya bapak!" ,Mj nyaring tapi terdengar tegas.
Disana, ada sepasang netra memperhatikan polisi dan masyarakat sekitar yang sedang menonton. Dia menghisap rokoknya kuat-kuat dan menghembuskan nya dengan cepat. asap rokok memenuhi wajahnya.
"Tunggu dulu bukannya itu orang yang........!"
Mj terdiam melihat orang yang di kenalnya...
*
*
*
__ADS_1
*
Selamat membaca semua. Di tunggu terus kelanjutan kisah Mj dan orang-orang sekitarnya ya! terimakasih atas dukungan selama ini.