Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 7. kejutan


__ADS_3

Hari ini langit begitu cerah, tapi aku


masih merasa galau akan kejadian kemarin.


Wanita itu sudah berada dikampung ini.


Mau tak mau aku harus menjaga Annisa


dengan lebih baik.


Bukannya aku mencoba memisahkan


anak dengan ibu kandungnya. Tapi kalau


ibu kandungnya tega meninggalkannya.


Apakah masih pantas seorang wanita itu


di panggil ibu?.


"Buk, aku berangkat narik dulu ya.


Jangan sampai Nissa keluar rumah.


Aku harus mastiin kalo kemaren itu


beneran dia apa bukan," terangku pada ibu.


Ibu hanya mengangguk tanda setuju.


"Ayaaaaahhhh.....," Nissa memanggil


sambil berlari menghampiriku.


"Nissa pengen esklim yah. Yang laca


cokkat sm stlobeli....ya...ya.....," mintanya


berbinar khas balita sambil meloncat


kegirangan.


"Iya....iya...nanti ayah belikan...tapi Nissa


harus janji kalo gak boleh main diluar


rumah, sama nenek aja ya sayang!"


pintaku pada Nissa sembari tersenyum


sambil mencubit pipinya gemas.


"Hoye....Nissa makan esklim," sambil


mengangguk mengiyakan perkataanku.


"Ayah berangkat kerja dulu. Kamu gak


boleh nyusahin nenek ya! Assalamualaikum,"


lanjutku berpamitan sambil mengucapkan


salam.


Aku sudah bertekad tidak akan goyah dengan


keputusanku. Aku akan menjaga Annisa.


Gadis kecilku satu-satunya. Hanya dialah


tempatku berbagi rasa untuk saat ini.


......................


"Cuma kamulah yang setia menemaniku,"


elusku pada Motor butut kesayanganku.


Ku kendarai motor ke rumah majikan seperti


biasa. Hari ini hari sabtu. Mungkin nasib


akan berpihak padaku.


Kupanaskan kendaraan seperti biasa


sebelum berangkat mencari penumpang.


Terlihat Fatma dan mas Toni berjalan


beriringan menuju ke arahku.


"Lho...mas Yanto udah berangkat ya mas.


Kirain bareng berangkatnya," Fatma memulai


pembicaraan.


"Eihhh....mas Yanto?? tadi aku kemari udah


gak ada tuh orangnya. Duluan kali dia Fat,"


sambil mengernyit mendengar pertanyaan


Fatma.


"Ya udah deh aku duluan, takut telat nih,"


sambil berlalu meninggalkan aku dan


mas Toni.


"Wah...Fatma punya mobil baru ya mas?,


keren mobilnya," tanyaku pada mas Toni


sambil memandangi mobil yang keluar


dari halaman rumah.


"Tau tuh, belum sebulan kerja udah


di beliin mobil sama bapak. Ya ...emang


di ganti sih nanti sama Fatma, tapi kan


tetep aja resiko," Mas Toni menghela nafasnya.


"Gak usah kuatir mas. Mas Toni kan


mobilnya gak kalah keren," sahutku


menggodanya.


"Aku punya mobil gegara kebutuhan Lik.


Bukan karena gaya-gayaan kok. Kan

__ADS_1


kerjaan bagian marketing harus keliling


nyari konsumen." Jelasnya panjang lebar


menyanggah perkataanku tadi.


"Percaya deh sama mas Toni. Aku duluan


mas. mumpung masih pagi," sambil


beranjak meninggalkan mas Toni


dari tempatnya berdiri.


"Hampir lupa Lik, nanti kamu bawa mobilku


sepulang narik ke bengkel mas Kadir ya!


mobilku butuh servis. Tolong kamu antarkan


kesana! aku sekarang masih ada urusan.


Malem baru pulang." Suruh mas Toni padaku.


"Siap mas. Tenang ajah....terima rebesss


pokonya," senyumku padanya.


Sambil menepuk pundakku. Mas Toni


tersenyum. Tak lupa mengucapkan


terimakasih dan kembali masuk kedalam


kerumahnya.


...----------------...


"Hari sabtu ini kayanya lumayan rame. Banyak


orang seliweran," gumamku sembari


melihat sekeliling sambil bersiul senang.


Tak kulewatkan kesempatan ini. Aku sudah


janji sama Nissa mau belikan dia eskrim.


"Kalau uangnya lebih kan bisa buat


tambahan beli eskrimnya tuh bocah." Batinku.


Angkot mulai terisi. Ada-ada saja tingkah


para penumpang. Ada yang bayar kurang


dari ongkos biasanya. Ada yang ganjen


padaku sambil tak segan memberi nomer


ponselnya.


Yang lebih parah lagi, ada


bapak-bapak bawa ayam mau dikasihkan


ke besannya di kota sampai-sampai


ayamnya membuang kotorannya di dalam


angkot. Dasar binatang emang gak punya


Walaupun begitu, aku tetap bersyukur


seperti biasa.


Tak lupa memberi pada


mereka yang membutuhkan walaupun tak


banyak. Setidaknya aku masih bisa makan


enak dan tidur dengan nyaman dirumah


orangtuaku.


Tidak seperti mereka yang menghabiskan


masa kecilnya dijalanan untuk berjualan koran.


...----------------...


Tap....tap....tap....


Terdengar suara langkah kaki tak sabar. Ketika


aku keluar dari mobilnya mas Toni.


Kulihat mas Kadir menghampiriku


dengan tergesa. Raut wajahnya seakan


gusar dan tak nyaman.


"Kenapa sih mas, ada setan ngikutin ya? kok


celingak-celinguk gak jelas gitu," ujarku


terkekeh.


"Jiahhh....kamu gitu amat ya! bentar lagi


maghrib Lik. Mulutmu jangan iseng..shuuutt,"


ucapnya menyuruhku diam.


"Udah anak 4 masih takut sama setan. Malu


sama bocilnya mas...ha....ha..," tawaku


mengejek mas Kadir.


"Udahlah, gak usah di bahas lagi. Ngapain


kamu kemari?," tanyanya tanpa basa-basi.


"Kalo kemari kan, pasti ada yang gak beres


sama kendaraan mas. Masa aku gak


beres mau di servis disini sih. Ogah kali,


bau oli....heh...he...," cengirku.


"Jadi, mobil Toni ada yang harus di servis


Lik? kenapa dia gak kesini sendiri?"

__ADS_1


tanya mas Kadir bertubi-tubi.


"Biasa....orang sibuk. Mana sempet dia


kemari mas. Kerjaannya kan bilangnya


selalu numpuk. Makanya aku yang di suruh


bawa nih mobil," sambil menepuk


badan mobil.


"Ya udah. Siniin kuncinya! biar aku aja yang


bawa masuk," tawar mas Kadir.


Ku berikan kunci mobil mas Toni. Sudah jadi


bos tapi, mas Kadir tetep aja berangkat kerja


tiap hari membantu karyawannya.


Aku melihat sekeliling. Mencari Andi si


montir baru di bengkel ini. tak kulihat batang


hidungnya.


Tiba-tiba......


Jraaaassshhhhh.....


Terdengar suara angin ban mobil yang


kempes. Kucari asal suara itu. Disana, Andi


terlihat menaikkan dongkrak ban mobil


yang kempes tadi.


"Tadi aku cari gak kelihatan. Eh....malah


ada di bawah mobil," gumamku seorang diri.


"Kamu ngomong apa Lik. kesambet apa ya,"


mas Kadir berkata sambil mengusap pucuk


kepalaku.


"Hushh.....bener-bener dah mas Kadir nih.


Amit-amit mas. jangan sampe kesambet." sambil mengusap dadaku berkali-kali.


"Itu lho mas. Si Andi, aku tadi ngeliatin tuh


orang ada di mana. Tapi barusan aja nongol,"


terangku pada mas Kadir.


"Oh...Andi? emang kamu kenal dimana


Andi, Lik?"Tanya mas kadir penasaran.


"Kenal disini mas. Emang kenal dimana


lagi sih?" kernyitku heran.


"Ooo... kirain dari dulu kalian udah saling


kenal. Pantesan kamu biasa aja sama dia,"


lanjut mas Kadir lagi.


"Aku biasa aja sama Andi? Maksudnya


mas Kadir tuh apa ya? aku gak ngerti nih?"


tanyaku heran.


Mas kadir menghela nafasnya sebelum


melanjutkan perkataannya tadi.


"Jadi kemarin itu........," mas Kadir


menjelaskan secara rinci tentang apa yang


dilihatnya, semua kejadian kemarin yang


terjadi di bengkelnya.


Aku menyimak perkataan mas Kadir dan


hanya mengelus dada tak percaya. Aku


kaget tak menyangka. Ternyata, pria


yang dulu dicarinya di rumah


kampung sebelah itu.....Andi. Andilah


orangnya. Pria yang membawa istrinya


kabur meninggalkannya dan gadis kecilnya.


Aku pamit pulang pada mas Kadir. Beliau


menyadari raut wajahku yang berubah.


Kenapa mereka harus kembali kesini? apa


mereka mau mengolok-olokku karena


sekarang aku gak punya istri lagi? Atau


mereka mau menunjukkan kebahagiaannya


padaku?.


"Ah...entahlah, aku sudah tak peduli


lagi, pokoknya aku harus jaga jarak


dengan Andi." Aku bergumam.


Aku mampir sebentar di warung sebelah


rumah majikanku. Setelah membawa motor


bututku pergi dari rumah itu.


Ku belikan Nissa eskrim yang sudah ku


janjikan. Ternyata dunia ini emang selalu


penuh dengan kejutan. Tak disangka

__ADS_1


ternyata orang yang menyakitiku ada


tepat di sebelahku.


__ADS_2