Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 80. Marshella yang sudah tidak ketakutan


__ADS_3

Di dalam mobil, perjalanan menuju rumah sakit.


Marshella, Silvia dan Mj masih berada dalam 1 kendaraan.


Ketika Marshella dikejutkan oleh dering ponselnya. Dia tertahan ketika mendengar suara itu. Suara seseorang yang terisak dan hanya berbicara sedikit kata.


"Duh, kok malah begini sih tante?" sahut Shella ketika tau sedikit cerita dari tante nya itu.


"Sebentar lagi kami sampai tant, tunggu saja kami disana!" seru Shella.


Sambungan telepon sudah terputus. Marshella menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tante gue sejak kapan bisa bucin ya?" lirih Shella seorang diri.


"Ngomong sama siapa Shel? aku?" tanya Mj menoleh kearah Shella.


"Hem, enggak kok om. Cuma kepikiran tentang tante Sandra barusan!" sahut Shella.


"Emang ada apa dengannya? ngamuk lagi ya?" tanya Mj penasaran.


"Ngamuk? kapan sih tante Sandra ngamuk? dia kan emang kaya gitu orangnya om!" bela Shella.


"Kamu aja gak tau kalau......!" Mj tak meneruskan ucapannya. Dia masih tersadar bahwa gadis di depannya ini pasti akan membela tantenya sendiri.


"Kalau apa om? coba ngomonginnya yang bener dong! jangan putus-putus!" sergah Shella.


"Gak jadi deh, om lupa mau ngobrol apaan!" Mj beralasan.


"Kamu aja yang gak tahu kalau tantemu itu mau memisahkan aku dengan Elisa!" batin Mj.


Selang beberapa lama kemudian. Mereka tiba di sebuah rumah sakit swasta yang besar dan lengkap. Setelah sampai, langsung saja mereka bertiga turun dan mencari ruangan Cipto.


Tap, tap, tap.


Suara langkah Marshella terdengar tidak sabar. Dia ingin segera melihat papanya dengan mata kepala sendiri.


"Semoga saja papa baik-baik saja dan bisa sembuh. Tapi, kalau papa sembuh dia akan menghukum gue! gimana ini!" ucap batin Shella yang dilema akan kesehatan papanya.


Pintu sudah dia buka.


Kreeeeettt. Pintu berbunyi karena Marshella yang menggerakkan nya begitu bersemangat.


Silvia dan Mj hanya mengikuti di belakang.


"Oh iya, om tunggu disini saja deh!" ucap Mj langsung duduk di depan kamar yang tersedia kursi duduk panjang disana.


Marshella masuk diikuti oleh Silvia.


Sandra melihat kedua keponakannya. Dia menghampiri Shella dan memeluknya.


"Tunggu deh tante Sandra! papa gak mati kan tant?" tanya Silvia yang mulai khawatir tentang papanya.


"Silvi!!! kamu doain papa mati ya!" sergah Shella.


"Terus, kenapa Tante sama kak Shella pelukan? tante pake acara nangis segala lagi." Tanya Silvia.


"Tante tadi tuh curhat sama Kaka di telepon bentar! ini gak ada hubungannya sama papa!" sergah Shella.


"Oh, begitu. Syukurlah kalau papa gak kenapa-napa!" sahut Silvia lega.


Silvia menghampiri brankar Cipto. Cipto masih terpejam belum bangun dari tidurnya. Setelah disuapi makan siang oleh Sandra dan meminum obatnya. Cipto langsung tertidur nyenyak.


"Luka di lengan papa parah gak sih tant?" tanya Silvia penasaran ketika dia melihat perban di lengan Cipto.

__ADS_1


"Gak kok Sil, lecet kena pecahan kaca aja sih!" jelas Sandra.


Sandra melepaskan pelukannya dari Shella.


Silvia hanya duduk di pojokan sambil memainkan ponselnya. Sesekali Silvia tersenyum lebar ketika melihat layar ponselnya.


Setelah Sandra bercerita akan Rexy yang menghampiri di kantin, beserta wanita yang membuatnya cemburu. Akhirnya Sandra mulai sedikit lega. Dia akan memikirkan kembali ide dari Shella.


Selang 30 menit berlalu. Malik yang hanya memainkan ponselnya sambil sesekali membuka akun sosial medianya.


Dia melihat aplikasi warna biru. Ada akun Fatma disana. Fatma mengunggah fotonya bersama Evans. Sungguh pasangan yang serasi. Mereka mulai menunjukkan status aslinya.


"Semoga kamu bahagia selalu ketika bersama Evans! aku sangat senang kamu bisa melupakan aku Fatma!" Mj bergumam seorang diri.


Dia menaik turunkan layar ponsel nya. Melihat-lihat akun lain yang lewat di beranda nya. Terpampang dengan jelas ada sebuah foto yang memamerkan dirinya.


"Ini kan foto aku. Siapa yang punya akun ini?"


Mj melihat akun itu berulang kali.


Dia tak bisa berpikir siapaka yang mengambil fotonya itu tanpa ijin.


"Ah, males deh kalau kaya gini!" seru Mj.


Dia menutup akun sosial media nya. Dan lanjut menonton film dari ponselnya.


Didalam kamar. Cipto mulai memanggil anak gadisnya.


"Sssil-vi-a!" panggil Cipto tergagap.


"Papa, dia manggil gue kak!" Silvia melonjak kegirangan dan langsung bersemangat Mendekat ke arah brankar.


Sandra dan Marshella juga ikut Senang. Walaupun dalam hati Marshella masih diliputi ketakutan.


"Pppa-pa kka-ngen!" jawab Cipto.


Jari jemari Cipto mulai bergerak membalas elusan tangan Silvia.


"Silvia juga kangen sama papa! mau ngobrol dan cerita banyak hal seperti dulu pa!" balas Silvia sendu.


"Silvia selalu berdoa akan kesembuhan papa!" Silvia mulai berkaca-kaca.


Tanpa terasa dari netra nya keluar cairan bening. Dia mengusap air matanya cepat, kuatir papanya akan semakin sedih melihat ia menangis.


Marshella takut-takut ketika mendekat kearah brankar tempat papanya berbaring.


"Sshhee-lla!" gagap Cipto yang memanggil Shella.


"Iii-ya pa!" sahut Shella yang tergagap.


Rasa khawatir dan takut masih menguasai.


"Sssii-nni nak!" panggil Cipto lagi.


Akhirnya Shella berani mendekat kearah papanya. Rasa takutnya perlahan berkurang.


Tangan Cipto mencoba bergerak menggapai jemari Shella. Dia berhasil menggapai jemari Shella dengan susah payah.


"Ttto-llo-ng ppa-ppa!" gagap Cipto.


"Hah, tolong? tolong apa ya pa?" tanya Shella tak mengerti.


"Jja-nngaa-n pp-aa-car-aann!" gagap Cipto kembali.

__ADS_1


"Baiklah pa, Shella akan menuruti kemauan papa. Asalkan papa sembuh secepatnya!" akhirnya kekhawatiran dan ketakutan Shella selama ini runtuh. Raut wajahnya mulai sumringah. Shella bernafas lega.


Shella, Sandra dan Silvia mengobrol dengan Cipto sampai lupa waktu. Mereka saling melepas rindu yang selama ini terpendam karena Cipto yang masih bergulat dengan penyakitnya.


*


*


Sementara itu di lain tempat ada seorang pria berpakaian preman masuk ke area kosan Mj.


Dia melaporkan sesuatu pada sekuriti. Sekuriti mengijinkan nya masuk untuk melihat-lihat situasi.


Sepasang suami istri yang bernama Hendra dan Anggi baru saja membuka warung nya kembali setelah mereka pergi untuk berbelanja barang kebutuhan.


"Gi!! sini dulu!" panggil Hendra.


"Ada apa mas?" sahut Anggi.


"Abang mau anterin barang pesanan dulu! kamu jaga warung sendiri ya!" pesan Hendra.


"Jangan lama-lama ya mas! aku takut nih sendirian. Lagian sekarang mulai banyak operasi lho!" pesan Anggi.


"Iya, mas juga hati-hati ini agar nasib kita gak apes sayang!" sahut Hendra yakin.


Hendra mengambil barang yang sudah dia bungkus rapi. Bungkusan itu seperti barang biasa. Tapi, sebenarnya isi apa hanya Hendra dan Anggi yang tahu.


"Tunggu mas! bawa ini dulu! nanti kalau haus di jalan gimana dong?" seru Anggi.


Anggi memberikan sebotol minuman dingin pada Hendra. Hendra tersenyum senang melihat perbuatan istrinya yang perhatian.


"Mas berangkat dulu ya!" pamit Hendra.


Anggi mengangguk kecil. Perutnya yang membesar dia elus dengan sayang.


Pria itu melihat gerak gerik Hendra dan Anggi.


Dia mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.


"Sekarang aku akan cek kedalam warungnya!" pria itu menyahut suara dari seberang telepon.


Pria itu bergegas menghampiri Anggi yang sudah berada di warung nya.


"Permisi! saya mau mengecek sesuatu!" ucap pria itu.


"Maaf anda ini siapa ya?" tanya Anggi cemas.


"Owh anda tidak perlu tahu siapa saya!" ujar pria itu.


"Tapi, apa hak anda mau mengecek warung saya?" tanya Anggi.


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya.


"Jadi anda itu.......!" Anggi terkejut.


*


*


*


*


SELAMAT MEMBACA 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2