Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 63. Sudah sadar kembali


__ADS_3

*Author Pov.


Rumah sakit.


Tap...tap...tap.


Langkah kaki terdengar mendekat memasuki kamar perawatan Mj.


Ceklek, gagang pintu di putar dan seorang wanita masuk tanpa permisi.


Marshella dan Elisa menatap wanita itu bersamaan.


"Heh, gue tungguin lo lama amat sih Shel! untung tadi gue lihat lu masuk kesini." Seru Sandra.


"Jadi ini temen yang elo maksud Lis? ganteng juga temen elo ya!" tambah Sandra yang mendekat ke arah brankar Mj.


"Tapi tunggu deh, jadi semalem lo gak pulang cuma buat nungguin cowok ini?" tanya Sandra.


"I-i-ya ...." jawab Elisa terbata.


"Emang dia siapa sih? bisa-bisanya ya elo nungguin semaleman disini." Sandra curiga.


"Dia supir pribadi orang udik itu tante." Jawab Shella.


"Hah, yang bener cuma seorang supir? ganteng kaya gitu cuma jadi sopir doang? ha...ha...ha." Ejek Sandra.


"Ah, gak tertarik gue mah, apa gunanya ganteng sih kalau kantong kering." Cibir Sandra.


"Elisa hanya kasihan sama dia kok, gak lebih. Dia sudah punya anak di kampung." Pelan Elisa.


"Naksir juga gak pa-pa sih, gue dukung elo kalau mau cerai sama bang gue!" Seru Sandra.


"Ah kalian cuma mulut aja kaya gitu! nanti coba aku ajukan surat cerai, pasti mencak-mencak ya kan?" tantang Elisa.


"Cerai aja gue dukung asalkan abang gue sembuh dulu!" kata Sandra enteng.


"Kalau gitu nanti aku usahain buat ngobatin om Cipto lagi!" Binar Elisa.


"Hei udik, jangan ngimpi di pagi hari elo!" cibir Shella ketus.


"Biarkan saja Shel, kasian juga dia ngurusin papa lo mulu, ha...ha..ha!" tawa Sandra.


Mungkin karena suara Sandra yang lumayan keras membuat Malik perlahan mengerutkan keningnya.


Netranya berusaha untuk terbuka, dia mengerjapkannya beberapa kali.


Malik melihat sekeliling. Dia menatap Elisa yang berada di pinggir brankarnya. Ada Marshella di pinggir pintu, dan ada juga wanita yang arogan waktu itu.


Malik memandangi mereka bertiga secara bergantian.


"Aku dimana? kenapa bisa aku disini?" tanya Malik dengan suara parau.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar mas." Elisa langsung memencet tombol darurat.


"Kita pulang sekarang Shella! jangan sampai kita tertular penyakit orang miskin kaya mereka." Sandra menyeret lengan Shella.


( Wah, seandainya miskin dan kaya bisa nular. Author mau deket-deket sama orang sholehah aja deh, hehehe.)


"Tapi tante, om Mj kan baru bangun." Tolak Shella.


"Gak ada tapi-tapian! elo kudu nurut sama tante titik. Kita pulang sekarang juga!" seret Sandra kasar.


Marshella menuruti keinginan tantenya itu. Dia mengikuti langkah Sandra yang tergesa keluar dari kamar itu.


Di dalam kamar perawatan Malik masih merasa pusing dan tenggorokannya memanas.


"Sebentar lagi dokter dan perawat akan kesini mas, sabar dulu ya!" ucap Elisa.

__ADS_1


Malik hanya mengangguk pelan tanda mengerti. Dia memegang keningnya yang berdenyut. Elisa menatap Malik tak berkedip.


Dia merasa bersyukur karena Malik sudah sadar.


Tak berapa lama dokter dan suster masuk dan memeriksa keadaan Malik.


Disisi lain di dalam mobil.


"Eh, elo ngapain sih naksir sama cowok kek gitu! rugi banget tau!" cibir Sandra pada Shella.


"Dih biarin sih tante nih, masalah hati gak bisa di paksakan tante." Sahut Shella.


"Dia itu udah punya anak! elo masih demen juga?" tanya Sandra.


"Emang kenapa sih tant? gak masalah kok!" lanjut Shella santai.


"Ah elo mah cuma cinta monyet doang. Nanti kalau ada yang baru juga udah pasti lupa sama itu supir." Cibir Sandra sambil mengendarai mobil keluar dari rumah sakit.


"Terserah tante aja deh mau bilang apa juga! Shella gak peduli!" bantah Shella.


"Gak denger omongan orang tua bisa kualat lho Shel, hati-hati aja deh elo!" ancam Sandra.


"Tante mah emang suka gitu! kaya tante gak pernah bantah omongan oma ajah." Cibir Shella.


"Heh, jangan bawa orang yang sudah meninggal!" hardik Sandra geram.


Marshella yang mendengar tantenya langsung diam seketika. Dia tak menyahuti lagi ucapan Sandra. Mereka terdiam sambil memandangi jalan raya di depannya. Pikiran keduanya melayang entah kemana.


*Kamar perawatan Mj.


Dokter dan suster sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Kondisi Mj sudah mulai membaik dan harus menunggu untuk pulih sepenuhnya. Elisa memegang tangan Mj.


"Syukurlah kamu sudah sadar mas, Aku takut banget kalau terjadi apa-apa sama kamu!" cemas Elisa.


"Emang aku kenapa sih? kok aku sendiri gak inget ya?" tanya Mj bingung dengan suara yang pelan.


"Benarkah? tapi kok aku gak inget ya?" kernyit Mj bingung.


"Tenang saja mas, sekarang kan mas udah sadar. Jadi, Elisa udah gak khawatir kaya semalem lagi." Elisa tersenyum pelan pada Mj.


"Makasih banyak Lis, kalau gak ada kamu entahlah aku ini seperti apa keadaannya!" ucap Mj tulus.


"Elisa lakukan ini semua karena sayang sama mas Mj!" ujar Elisa tambah mengeratkan genggaman tangannya.


"Iya, mas tahu itu Lis. Semoga saja takdir memihak pada kita." Pinta Mj.


"Entahlah mas, Elisa gak yakin. Tapi, semoga saja ya mas!" sahut Elisa.


Keduanya larut dalam suasana hati yang tak menentu. Perasaan mereka di uji oleh status Elisa sekarang. Takdir bisa saja memihak, bisa juga berbelok menjauh.


Kita tidak akan pernah tahu kapan takdir akan memilih kita sebagai kawannya.


...----------------...


Rumah mewah keluarga Cahyono.


Sandra dan Marshella keluar dari dalam mobil.


Plakkkk. Shella membanting keras pintu mobil itu.


"Heh, si*lan bocah. Maen tutup kenceng ajah!" sungut Sandra melihat tingkah keponakannya.


"Sini kamu!" Sandra menyusul Shella dan mengambil lengannya.


"Kita harus ngobrol sama papamu! kita kesana sekarang!" ajak Sandra memaksa Shella mengikutinya.


"Lepasin napa sih tant!" berontak Shella.

__ADS_1


"Elo nurut aja pokoknya!"


"Tapi kenapa kudu ngobrol sama papa sih. Apa hubungannya coba!" gerutu Shella.


"Biar bang Cipto tahu kelakuan anaknya!" jelas Shella.


Sandra sudah masuk ke kamar Cipto. Lelaki paruh baya itu duduk diam di kursi rodanya. Netranya melihat ke arah Sandra yang menyeret lengan anaknya. Tampak kernyitan halus terlihat.


"Bang, liatin deh anaknya! sukanya sama pria yang sudah beranak satu!" sungut Sandra.


"Dibilangin jangan bandel tetep ajah masih ngeyel ngejar itu pria!" seru Sandra lagi.


"Jangan dengerin tante pa! om Mj itu orangnya baek kok!" sergah Shella.


"Mau baek apa enggak kalo sudah punya anak, kamu harus jauhin dia Shella!" suruh Sandra ketus.


Cipto yang melihat pertengkaran itu mulai menggerakkan bibirnya perlahan. Sepertinya dia mau mengucapkan sesuatu.


Shella dan Sandra masih saja berdebat karena Mj. Mereka berdua tidak memperhatikan Cipto yang mulai bergerak perlahan dari kursi rodanya. Cipto yang melihat mereka berdua seakan mau melerai dan menghentikannya.


Kakinya bergerak sedikit demi sedikit. Tanpa terasa Cipto bergerak maju.


Bruaghhh.


Cipto terjatuh dari kursi roda.


Marshella dan Alexandra menghentikan perdebatan mereka berdua dan melihat ke arah Cipto yang sudah di lantai.


"Abang...." pekik Sandra.


"Papa..." pekik Shella.


"Kenapa papa bisa jatuh?" Shella menghampiri Cipto.


Shella dan Sandra bekerja sama menaikkan Cipto ke kursi roda kembali.


"Tunggu dulu deh bang! abang udah mulai bisa bergerak?" tanya Sandra.


Cipto hanya mengerjabkan netranya perlahan.


"Papa udah mulai ada perubahan tante!" pekik Shella antara senang dan takut.


Pikiran Shella melayang ke peristiwa dua tahun yang lalu. Papanya adalah saksi kunci kenapa bisa sakit seperti sekarang ini.


"Shella, kamu kenapa?" heran Sandra.


"Gak apa-apa tante, Shella seneng kalau papa mulai sembuh!" bohongnya tersenyum kaku.


"Tunggu dulu deh, bi Minah kemana dia? bukannya jam seperti ini harus bawa jalan-jalan abang ke taman depan rumah?"


"Mungkin masih sibuk di dapur tant. Mau Shella panggilin gak?"


"Gak usah deh, biar tante aja yang bawa abang keluar! sekalian mau tanya-tanya biar abang merespon lagi."


Shella ketar ketir mendengar ucapan tantenya.


"B-baiklah tante, Shella mau ke kamar dulu ya!" pamit Shella terburu-buru.


Sandra mendorong perlahan kursi roda itu. Dia membawa Cipto keluar rumah. Perdebatan sengit mereka berdua terhenti disana.


Sampai di taman, Sandra duduk berhadapan dengan Cipto. Dia berkata sesuatu yang Cipto mengerti. Air bening menetes di pipi Cipto. kesedihan terasa kentara di raut wajahnya.


"Ternyata mereka......"


*


*

__ADS_1


Happy reading all.....💖💖


__ADS_2