Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 14. Rumah sakit


__ADS_3

Terlihat sebuah kendaraan bermotor


berhenti mendadak....dan....


Bruaaakkkkk......


Mobil itu bermanuver dan langsung menabrak


pembatas jalan raya.


Orang-orang menghampiri, mengerumun


melihat kondisi sang pengendara.


Di balik kaca mobil terlihat seorang


perempuan tak sadarkan diri, kepalanya


berdarah setelah terbentur setir mobil di


depannya.


Selang beberapa puluh menit, Mobil


ambulance datang membawa brankar beroda.


Mengangkat tubuh perempuan itu, memasang


oksigen dan langsung menuju rumah sakit


terdekat dari tempat kecelakaan.


...----------------...


Zainab yang baru saja selesai pengajian,


keluar dari masjid mencari Malik, entah


mengapa firasatnya tak enak. Dia hanya mau


segera pulang ke rumahnya.


Setelah semua anggota pengajian masuk,


Malik langsung melesatkan angkotnya


kembali.


Mungkin karena letih mendengarkan ceramah


pak Ustadz di acara pengajian tadi, semuanya


diam dengan pikiran masing-masing,


memikirkan bekal akhirat kelak.


Sebuah suara memecah kesunyian isi angkot


"Nak Malik....bisa ngebut dikit lagi gak?


firasat ibu kok gak enak ya? semoga gak ada


pa-pa sih , cuma ibu was-was pengen cepet


pulang," seru Zainab.


"Iya buk...mumpung jalanan sepi, jadi saya


bisa menambah kecepatan," sahut Malik.


"Sabar bu Zainab...berdoa saja supaya gak


kenapa-kenapa dengan semuanya," Sambung


ibu bergamis merah.


Ibu-ibu yang lain hanya mengangguk dan


mengiyakan saja.


Tak lama, terlihat pak Ahmad yang tidak sabar


menunggu kepulangan istrinya.


Sambil mondar-mandir dengan perasaan


gelisah, beliau memandang jalan raya,


berharap istrinya cepat pulang.


"Ya Allah....akhirnya Zainab pulang juga,"


setengah berlari menghampiri angkot yang


mulai masuk halaman rumah.


Sebelum orang-orang turun, pak Ahmad


langsung mencari istrinya.


"Ibuk....ayo kita kerumah sakit, cepat turun!"


sambil menggandeng lengan istrinya agar


keluar dari angkot.


Zainab hanya mengikuti suaminya yang


menuntun menuju mobilnya, tanpa


memberitahukan kenapa mereka pergi


kerumah sakit.


Malik dan lainnya hanya menatap heran


kepada pasangan suami istri itu. Kehadiran


mereka disana seolah tak dipedulikan.


Mereka saling menatap sambil


bertanya-tanya ada apa gerangan.


Derttttttt......derttttt....


Terdengar suara ponsel bergetar, Malik


mengeluarkan ponselnya, dahinya mengernyit


melihat nama dilayar ponsel bututnya.


"Bu Zainab, kenapa nelpon aku ya? lirihnya


sambil menekan tombol hijau ponselnya.


"Assalamualaikum....kenapa buk?" sapaku


tanpa basa-basi.


"Waalaikumsalam nak Malik, begini nak....Ibu


sama bapak sekarang menuju rumah sakit


Harapan Bangsa, Fatma kecelakaan dan


sekarang dirawat disana, makanya kami


cepat-cepat pergi melihat keadaan Fatma.


Ibu dan bapak sudah menghubungi Toni, tapi


ponselnya gak aktif, nanti tolong nak Malik


sampaikan kalo Toni pulang, beritahukan


dia nak keadaan Fatma dan kami berada,"


suruh Zainab pada Malik.


"Iya buk...nanti saya kesini lagi mencari mas


Toni, kalo sudah ketemu orangnya....saya


sampaikan pesan ibu, ibu dan bapak hati-hati


dijalan! jangan tergesa-gesa! salam buat

__ADS_1


bapak." Aku mengiyakan permintaan bu Zainab.


Aku menghela nafas dan menghembuskannya


perlahan, banyak pasang mata menatapku.


Seakan bertanya-tanya keberadaan bu Zainab


dan pak Ahmad.


"Kenapa gusar nak Malik?" tanya ibu


bergamis merah.


"Fatma bu....dia kecelakaan dan dirawat di


rumah sakit Harapan Bangsa, bu Zainab dan


pak Ahmad pergi melihat keadaannya disana,"


jawabku menjelaskan.


"Innalillaahi wa inna ilaihi raajiuun," seru


semuanya kompak.


"Ya sudah mas, nanti kalo sudah ada


perkembangan tentang keadaan Fatma,


kamu kasih tau kita ya! ini nomer telpon ku


kamu simpan dulu! jangan lupa kasih tau


kami, insya Allah kami menjenguk kesana."


Aisyah menyodorkan ponselnya.


Setelah bertukar nomor, mereka semua


membubarkan diri menuju rumah


masing-masing.


"Aku harus nyoba menghubungi mas Toni,


biar dia bisa melihat keadaan Fatma,"


gumamku seorang diri.


"Ck...masih gak aktif ponsel mas Toni,


biarlah...aku pulang dulu, nanti setelah


maghrib aku kesini lagi," gumamku seorang


diri seraya mengendarai motor butut


kesayangan kembali pulang.


...----------------...


Sampai dihalaman rumahku yang sederhana.


Aku mengucapkan salam dan seperti biasa,


Nissa yang selalu menunggu kepulanganku,


melebarkan tangannya ke arahku.


Sambil menggendong Nissa, aku menceritakan


kejadian yang menimpa Fatma, kami semua


khawatir karena sampai sekarang belum


mendengar kabar lebih lanjut mengenai


keadaan Fatma.


Nissa mendengarkan kami mengobrol


tentang Fatma, wajahnya berubah jadi sedih


karena tante sekaligus temannya sedang


Suara Nissa tertahan sambil berkata.


"Ayah...kita hayus ke yumahcakit yah... aku


mau liat tante Fatma."


Sambil mengusap kepalanya.


"Biar ayah yang


kerumah sakit, anak kecil kan gak boleh


menjenguk orang di rumah sakit, nanti


malah ketularan sakitnya lho." Bujukku pada


Nissa.


Nissa hanya mengangguk lemah karena aku


sudah menolak permintaannya.


Aku tersenyum dan menambahkan.


"Nissa nanti boleh kok jenguk tante Fatma,


tapi kalo tante Fatma sudah pulang kerumah ya."


Wajahnya kembali lebih ceria setelah aku


mengatakan itu kepadanya.


Nissa hanya menganggukkan kepalanya


semangat sambil sumringah.


"Sudah sore nak, kita mandi dulu yuk...biar


ayah yang mandikan Nissa!" masih


menggendong Annisa aku melangkah


kebelakang menuju kamar mandi yang


sempit di rumah ini.


...----------------...


"Bu, aku harus ke rumah Fatma, udah


berkali-kali aku menelpon mas Toni, tapi


ponselnya masih gak aktif. Dia belum tau


kalo orang-orang dirumahnya ada dirumah


sakit semua," pamitku pada ibu yang berada


di dipan kayu teras rumah. Sementara bapak


dan Nissa menonton acara kesayangan


mereka.


"Kalo Toni belum pulang juga, lebih baik


kamu langsung hubungi bu Zainab," saran ibu.


"Siap bu...sekarang aku berangkat dulu ya!"


sambil melangkah pergi setelah


mengucapkan salam.


......................


Ku letakkan motorku di depan teras rumah,


terlihat lampu sudah menyala terang


di rumah ini.

__ADS_1


"Mobil mas Toni gak ada, tapi kenapa


lampunya udah nyala? mas Toni apa


bu Zainab yang di dalam ya?" batinku


bertanya-tanya.


"Assalamualaikum....," sambil mengetuk pintu


rumah Fatma.


Tidak ada suara menyahut didalamnya.


Kuulangi lagi ketokan semakin sering dan


keras.


"Iya....iya...bentar!" terdengar sebuah teriakan


dari dalam rumah.


Click....ceklek...


Kenop pintu memutar tanda kunci sudah


dibuka dari dalam.


Pintu terbuka lebar, mas Toni dengan wajah


kusutnya khas bangun tidur keluar dengan


malas.


"Syukurlah mas Toni udah pulang, kenapa


ponselnya mati mas? susah banget di


hubungin," cecarku padanya.


"Aku lupa bawa ponsel Lik, ponselku ada


diatas nakas, mati sendiri kali, baterainya


abis mungkin," jelas mas Toni sambil


menguap, pertanda ngantuk masih menguasai.


"Emang mas tuh gak kepikiran ya...ibu sama


bapak kenapa gak ada dirumah?" tanyaku.


"Palingan mereka lagi melipir Lik," jawabnya


enteng.


"Ibu sama bapak ada dirumah sakit mas,


mereka.......," sebelum melanjutkan


perkataanku, mas Toni sudah memotong


dengan tak sabar.


"Ibu sama bapak....sakit apa Lik? dirumah


sakit mana? kenapa mereka bisa disana?"


cecar mas Toni kepadaku.


"Sabar dulu mas... biar aku jelaskan, kalo


sebenarnya yang sakit bukan ibu dan bapak,


tapi Fatma mas, Fatma kecelakaan." Terangku


padanya.


"Duh...anak itu kenapa bisa dia...ah....


sudahlah, aku mandi bentar Lik, kamu masuk


dulu....kita susul mereka ya!" sambil beranjak


meninggalkanku.


Aku duduk di sofa ruang tamu yang empuk,


kuperhatikan ruangan dalam rumah ini.


"Ehmmm...ternyata perabot rumah ini


bagus-bagus ya. Pasti mahal, selama ini


aku hanya keluar masuk kalo mau ngambil


kunci angkot tanpa memperhatikan


perabotnya," batinku seorang diri sambil


mengedarkan pandanganku ke sekeliling


ruangan ini.


Mas Toni sudah rapi dan siap untuk berangkat,


tapi dia tiba-tiba saja teringat sesuatu.


"Ah...mobilku, aku lupa kalo dipake Cindy,"


sambil menepuk jidatnya.


"Kenapa mas?" tanyaku ketika mendengarnya


bergumam.


"Mobilku....Lik, dipake Rudi....tadi dia yang


anterin aku pulang," jawabnya.


"Kirain ada apa mas, kan kita bisa naik


motor mas, atau naik angkot juga boleh kok,"


cengirku .


"Motor di garasi lama gak aku pake, aku


khawatir nanti kalo dipake malah mogok di


tengah jalan.


"Pake motorku aja mas," tawarku pada


mas Toni.


Mas Toni melihat motor bututku yang selama


ini aku pakai.


"Aku juga takut Lik....nanti kita malah gak


sampe-sampe," senyumnya lebar.


"Berarti jalan satu-satunya kita pake angkot


kerumah sakitnya mas, ayo biar aku yang


nyetir! mas Toni bisa lanjut tidur di sebelah,"


tawarku padanya.


Kami mengendarai angkot menuju rumah sakit,


angin malam yang semilir menerpa wajahku,


ketika aku membuka jendela kaca


disampingku.


Mas Toni yang duduk di sebelah, sudah


memasuki alam mimpinya.


Aku hanya fokus menyetir sambil memikirkan


keadaan Fatma.

__ADS_1


__ADS_2