Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 86.


__ADS_3

Rumah besar Cahyono.


Elisa yang baru sampai rumah di buat kaget oleh tiga orang yang menunggu nya di ruang keluarga. Mereka bertiga menyilangkan tangan.


Alexandra, Marshella dan Silvia menunggu kedatangan Elisa. Raut wajah ketiganya menunjukkan kemarahan pada Elisa.


Mereka bertiga menginterogasi hubungan Elisa dan Mj. Elisa yang sudah capek seharian ini di rumah bunda Marwah akhirnya tak meladeni perkataan ketiga orang itu. Dia melangkah dan meninggalkan ketiganya. Badan Elisa seakan remuk redam. Di tegakkannya punggung selama dia berdiri. Dia melanjutkan langkahnya menjauhi tiga orang itu.


Tiba-tiba, drtttttttt.


Ponsel Elisa bergetar, tanda ada SMS masuk. Dia menghentikan langkahnya dan merogoh ponsel yang ada di tas tangannya.


Elisa membuka kunci layar ponsel. Dia langsung membuka pesan itu. Ada 3 pesan gambar yang diterima nya.


Elisa membuka gambar itu. Dia terbelalak tak percaya.


"Tidak mungkin, ini kan fotoku dan mas Mj tadi pagi! kenapa ada yang memfoto kami?" gumam Elisa tak percaya.


Elisa beralih pandang melihat ekspresi wajah ketiga orang tadi. Mereka bertiga tersenyum licik dan menghampiri Elisa.


"Gimana foto itu? bisa di jadikan sebagai bukti bukan?" tanya Sandra.


"Tau tuh, masih mau mengelak! Padahal jelas-jelas orang udik ini yang mencium om Mj duluan! pasti dia juga yang merayu om Mj untuk jadi pacarnya!" timpal Shella yang sewot.


"Akhirnya dia terdiam tante!" gerutu Silvia.


"Ini, foto ini kenapa bisa?" tanya Elisa yang mulai kebingungan.


"Itu foto elo sama supir kampung itu! jadi sekarang gak usah sok suci deh. Pake acara bilang hanya karyawan dan majikan!" cibir Sandra ketus.


Elisa menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. Dia mendekat pada mereka bertiga.


"Baiklah, aku akan mengakuinya. Kami memang sudah berhubungan semenjak beberapa bulan. Kami saling mencintai dan menyayangi!" ucap Elisa yang tanpa penyesalan.


"Gak salah tuh? pasti elo ya yang ngerayu om Mj gue segala! gak mungkin dia jatuh cinta sama orang udik kaya elo gitu!" ketus Marshella.


"Gak kok, kami berdua memang saling mencintai! tidak ada yang saling memaksakan perasaan masing-masing!" jelas Elisa yakin.


"Udah lah kak, mana ada sih maling ngaku! kita tinggalin aja dia yukkk!" ajak Silvia yang mulai jenuh berada di tempatnya sekarang.


"Tunggu dulu keponakan tante yang cantik! gue peringatin sama elo ya orang udik! jangan pernah lupa status elo sekarang ini!" Sandra memperingatkan Elisa.


"Ya, saya tahu saya ini seorang istri. Makanya saya ingin bercerai dari om Cipto setelah beliau benar-benar sembuh." Jawab Elisa.


"Baiklah, gue juga setuju kalau elo bercerai dengan abang gue satu-satunya itu!" ucap Sandra setuju.


"Tapi, sebelum bercerai kalian itu harus adil! jangan sampai aku tidak punya tempat tinggal!" ucap Elisa santai.


"Tenang saja! kita sudah menyiapkan berkas perceraian dan berkas itu akan kami serahkan besok pada abang gue untuk di tandatangani!" jelas Sandra semangat.


"Aku tunggu surat perceraian itu secepatnya!" tantang Elisa.


Elisa bergegas meninggalkan mereka bertiga. Dia cepat melangkah menuju kamarnya.


Di dalam kamar itu Cipto belum tidur dan mengamati Elisa.


Elisa berganti baju di kamar mandi. Dia merebahkan dirinya di samping Cipto.


Tangan Cipto merayap ke wajah Elisa.


Elisa tersentak dan terbangun, dia terduduk sambil melihat Cipto.


"Om sudah bisa bergerak lebih cepat dari pada biasanya." Elisa terpekik girang.


Wajahnya berubah bersemangat sekali.

__ADS_1


"Kalau seperti ini perkembangan om Cipto, pasti sebentar lagi dia akan sembuh!" batin Elisa girang.


Cipto mengangguk mendengar ucapan Elisa tadi. Dihatinya terbersit sebuah harapan dan keinginan.


"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya Elisa, aku akan memecat supir kampung itu dan menjauhkannya darimu!" batin Cipto.


"Kita tidur dulu mas! udah malem ini, besok aku akan membicarakan sesuatu dengan mu dan juga Sandra!" Elisa merapikan selimut yang menutupi badannya.


Cipto hanya mengedip dan memejamkan netranya perlahan. Malam ini ada pasangan suami istri yang tengah bertolak belakang keinginan nya. Dialah Elisa dan Cipto.


...----------------...


Pagi hari di kosan Mj.


Sudah hampir seminggu Mj tak melihat pasangan suami istri Hendra dan Anggi. Dia sungguh penasaran. Warung itu terbengkalai dan tertutup tak ada yang merawat seminggu ini.


Seperti biasanya Mj berjalan kaki menuju ke rumah Elisa. Dia melangkah perlahan sambil berpikir. Mj tak menyadari di depannya ada seseorang.


Bruuuggghhh.


Suara barang terjatuh akibat Mj yang bertabrakan dengan orang di depannya itu.


"Maaf, aku gak sengaja mbak!" ucap Mj yang memungut buku-buku yang berjatuhan.


"Mbak siapa sih?" tanya perempuan itu.


Mj akhirnya mendongakkan kepalanya. Dia tersenyum kecil melihat siapa yang ditabraknya tadi.


"Ternyata kamu Lis, aku pikir siapa lho!" Mj bernafas lega.


"Iya mas, sengaja aku jalan mau menemanimu!" ujar Elisa sumringah.


"Eh, malah kamu tabrak tadi!" ujar Elisa lagi.


"Mikirin apaan sih mas? cerita dong!" bujuk Elisa sambil menarik tangan Mj.


"Ehm, gimana ya! nanti aja deh ceritanya kalau sudah pulang kerja! sekarang kita lanjut aja jalan!" seru Mj sumringah.


"Dih, bikin orang penasaran aja sih!" sungut Elisa sebal.


"Jangan ngambekan gitu dong sayang! nanti tuh muka gak cantik lagi lho!" goda Mj pada Elisa yang mencubit pipinya.


"Apaan sih ah!" Elisa tersenyum kecil.


"Jalan lagi yuk, udah agak siang ini lho!" ajak Mj


"Jalan kemana mas? kehatiku ya!" gombal Elisa.


"Kerumah suami mu sayang!" sahut Mj asal.


"Mulai lagi nih bahas dia!" gerutu Elisa.


"Aku tadi bawa mobil mas! tapi aku parkirkan di depan restoran sana!" tunjuk Elisa.


"Owh disana! itu kan restoran favorit mu. Emang mau sarapan disana ya?" tanya Mj.


"Gak mas, nanti kita sarapan di tempat lain aja. Disana gak aman deh!" ucap Elisa kesal.


"Gak aman gimana?" kernyit Mj heran.


"Silvia pernah memergoki kita makan disana! dia melihatku menyuapimu!" jawab Elisa jujur.


"Oh begitu ceritanya! kali aja kamu bosen makan disana!" tebak Mj.


"Udah yukkk, mulai panas ini mas!" Elisa menyeret tangan Mj agar cepat mengikuti nya.

__ADS_1


Setelah membayar parkir dan masuk kedalam kendaraan. Mobil itu meluncur kearah jalan raya utama.


Mj mengingat percakapan nya dengan sang ibunda tercinta. Itulah yang sampai saat ini masih dia pikirkan. Ucapan sang ibu ada benarnya dan Mj juga bisa dekat serta melihat perkembangan Annisa.


*Flashback semalam setelah Elisa pulang.


Tulalit, tulalit, tulalit.


Dering ponsel Mj berbunyi.


Ada panggilan masuk dan dia membaca nama yang tertera di layar ponsel.


"Ibu? ada apa ni ibu menghubungi ku di jam segini?" heran Mj.


Mj menggaruk kepalanya yang tidak gatal, rambutnya dia biarkan berantakan.


Dia langsung menekan layar menjawab panggilan.


"Ibu, ada apa bu?" tanya Mj kuatir.


"Gak ada apapun kok nak, ibu cuma mau ngobrol dengan mu saja!" sahut suara Sumiyati di seberang sana.


"Malik pikir ada apa bu! jantung Malik udah seperti ikut lomba lari nih! dag Dig dug terus!" lega Mj.


"Kami semua disini baik-baik saja nak! kamu tidak usah khawatir!" seru Sumiyati.


"Syukurlah kalau begitu bu! tapi, kenapa ibu menelepon jam segini?" tanya Mj.


"Ibu takut sudah lupa kalau menghubungi mu besok. Makanya, ibu telepon kamu sekarang nak!" jelas Sumiyati.


"Pftttt, ibu sudah mulai pikun ya!" ledek Mj.


"Kamu ini, bukannya mendoakan yang baik-baik malah ngeledek ibu!" sungut Sumiyati kesal.


"Maaf bu, Malik sengaja kok!" Mj menahan tawanya.


"Tuh kan, udah ah ibu gak jadi ngasih tahu kamu!" sungut Sumiyati kesal.


"Iya bu, Mj minta maaf ya! ayo dong mau ngobrolin apa?" lanjut Mj.


"Kamu sudah tahu nak Evans kan?"


"Iya tahu bu, memangnya kenapa ya?" tanya Mj bingung. Di benaknya terbersit pertanyaan.


Apa hubungannya Evans denganku.


"Begini nak, kemarin itu sudah beberapa kali nak Evans main kerumah!" jelas Sumiyati.


"Lah, terus apa hubungannya coba sama Malik bu?" Mj heran.


"Begini nak, Evans itu sebenarnya.....!"


*


*


*


*


Selamat membaca.


Jangan lupa follow author. Tinggalkan jejak berupa like, komen, favorit, rate ⭐ 5, serta vote mingguan. Bisa dukung berupa gift juga.


Terimakasih banyak atas semua dukungannya selama ini. Salam hangat dari author.

__ADS_1


__ADS_2