Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 90. Kegundahan Shella


__ADS_3

Mj yang sudah diantar langsung oleh Elisa harus cepat berlari menuju kamarnya. Hujan yang datang tanpa ada tanda alam langsung turun membasahi bumi.


Sekitar menjadi basah dan lembab. Ada seorang pria menerobos hujan dan bertanya tentang Hendra pada Mj. Mj yang tidak tahu apapun mengenai Hendra hanya bisa mengendalikan bahu dan menjawab tidak tahu.


Setelah kepergian pria itu yang telah menerobos lebatnya hujan, Mj pun melanjutkan langkahnya membuka pintu.


Tiba-tiba saja angin bertiup kencang. Angin merobohkan bagian belakang warung Hendra yang hanya terbuat dari bahan kayu triplek tipis.


Dari sana tersembul kain hitam yang menutupi sesuatu. Mj menatapnya lekat, dia seakan terhipnotis oleh benda yang ada di hadapannya.


"Tunggu dulu deh, itu kan botol transparan. Apa isinya ya?" Mj yang penasaran mendekat setelah mengambil payung dari dalam kamarnya.


Dia membuka semua kain hitam itu. Masih banyak botol transparan yang tersusun rapi.


Mj mencoba membuka satu. Dia berusaha mencongkel tutup botol. Akhirnya botol terbuka, Mj mencium bau dari isi botol.


"Si*lan, ini kan minuman keras oplosan! baunya menyengat sekali!" Mj langsung membuang isinya. Dia menutup kembali kain hitam itu dan menindihnya dengan bekas triplek yang sudah berhamburan. Dia berlari masuk kedalam kamar. Payung yang dia pakai di letakkan di luar kamar. Mj mandi ketika dia merasa badannya sudah setengah basah.


Setelah mandi, Mj pun berpikir keras tentang minuman tadi.


"Jadi, selama ini Hendra dan Anggi menjualnya secara ilegal." Gumam Mj seorang diri.


Dia menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Hujan diluar sudah berangsur berhenti.


Hanya tersisa gerimis saja.


...----------------...


Elisa sudah sampai di rumah keluarga Cahyono. Dia menerobos hujan ketika keluar dari dalam garasi mobil dirumah itu.


Ada mobil asing yang tidak ia kenal bertengger dengan anteng di pojok teras.


"Mobil siapa ini? apa ada tamu dirumah ini?" Elisa bertanya pada diri sendiri.


Dia langsung melangkah kedalam rumah dan menuju kamarnya. Sebelum masuk kamar, Elisa mendengar suara aneh yang berasal dari kamar tamu yang di tempati Sandra.


"Orang kejam itu ngapain sih? kok ada suara seperti itu?" lirih Elisa.


Rasa penasaran membuat Elisa melangkah mendekati kamar tamu yang dipakai Sandra.


Dia menempelkan daun telinganya pada pintu.


"Ehem, ngapain elo nguping?" Shella yang baru keluar dari kamarnya memergoki Elisa.


"Aa-kk-u gak nguping kok!" jawab Elisa tergagap.


"Terus kalau gak nguping, elo ngapain disana?" tanya Shella ketus.


"Tadi itu ada serangga nempel di pintu. aku heran aja kenapa bisa dirumah ini ada serangga." Elisa berbohong.


"Pergi dari sana! gue teriak sekarang juga kalau elo belum pergi juga!" ancam Sandra.


"Baiklah," Elisa segera setengah berlari kembali menuju ke arah kamarnya.


Dia juga takut Shella bisa berbuat semaunya kepadanya.


"Bisa-bisanya pengen tahu apa yang orang buat didalam kamar!" gerutu Shella.


"Lebih baik gue aja yang nguping. Pasti mereka tengah berbuat itu, jadi penasaran deh!" gumam Shella yang tersenyum lebar.

__ADS_1


Shella menempelkan daun telinganya pada pintu. Dia mendengar suara-suara aneh dari mulut Sandra dan Rexy.


"Benar sekali dugaanku! pasti tante Sandra gak bakal nolak om Rexy!" Shella tersenyum licik.


"Akhirnya tante masuk perangkap gue. Dengan begini dia gak akan punya waktu untuk mengurusi urusan om Mj. Semoga dia bisa melupakan tentang rencananya yang akan mengusir om Mj!" Shella langsung berputar kearah kamarnya.


"Kak, elo ngapain sih? kenapa senyum-senyum sendiri kaya gitu?" Silvia memergoki Shella.


"Owh ini, tadi dapet telepon dari om Mj!" bohong Shell enteng.


"Benarkah? kok gue kaya gak percaya gitu ya!" sahut Silvia.


"Udah sore, gue mau mandi. Gak usah ngobrol sama gue lagi!" seru Shella setengah berlari masuk kedalam kamar.


"Semua orang dirumah ini semuanya aneh kecuali gue. Cuma gue seorang yang waras disini, ck, ck, ck!" Silvia mendecak dan pergi ke arah dapur.


satu jam kemudian bi Minah sudah menyiapkan makan malam untuk keluarga Cahyono. Mereka duduk satu meja dan mencoba menikmati hidangan. Raut wajah Elisa tak tenang ketika sorot netra seorang pria menatap lama padanya.


Rexy menatap Elisa lekat, Sandra yang sibuk dengan menaruh nasi dan lauk keatas piring Rexy tak memperhatikan kekasihnya itu.


Lama Rexy menelisik Elisa, Elisa hanya bisa mengambil nasi dan lauk kemudian di memakannya dengan cepat. Dia segera meninggalkan meja makan setelah selesai dengan makanannya.


...----------------...


Malam hari di kediaman Malik yang berada di kampung.


Sumiyati, Sugeng dan Annissa melewati ritual malamnya seperti biasa.


Mereka kembali bercengkrama setelah selesai makan malam.


Tiba-tiba saja ponsel Sumiyati berdering nyaring.


"Hus, diem pak! ini telepon dari nak Evans!" seru Sumiyati senang.


"Iya buruan di jawab!" suruh Sugeng.


Selesai saling memberi dan menjawab salam, suara Evans yang terkesan sendu menyimpan sejuta pertanyaan di benak Sumiyati.


"Ada apa nak Evans, kenapa suaramu seperti serak begitu?" tanya Sumiyati yang tersentak.


"Bu, apa yang harus saya lakukan? saya sudah pergi menghadapi keluarga Fatma!" Evans terhenti.


"Benarkah? lalu apa jawabannya?" Sumiyati bertanya. Padahal dari awal mungkin dia sudah tahu bahwa Evans ditolak oleh keluarga Fatma.


"Mereka hanya mau kalau saya membawa kedua orang tua saya bu!" lanjut Evans.


"Ibu pikir apa alasannya nak!" sahut Sumiyati lega.


"Kebanyakan adat kami memang begitu nak! kamu harus membawa wakil atau wali kamu untuk melamar anak orang!" seru Sumiyati tersenyum.


"Tapi, Daddy dan moms terlalu sibuk untuk pulang ke Indonesia bu!" Evans berucap sendu.


"Kamu harus bilang sejujurnya pada mereka. Bahwa anak satu-satunya ini mau menikah dengan gadis yang dicintainya!" Sumiyati tersenyum senang.


"Saya takut mengatakan itu bu!" Evans berkata pelan.


"Loh, kenapa takut nak!" tanya Sumiyati heran.


"Cerita nya begini bu!"

__ADS_1


*Flashback setahun lalu.


Orang tua Evans menyempatkan diri pulang ke Indonesia. Mereka membawa seorang gadis cantik pulang bersama.


Gadis itu keturunan orang Australia asli. Tidak ada darah campuran didalamnya.


Setelah sampai di rumah mewah Evans, mereka bertiga masuk dan mengejutkan sang empunya rumah yang tidak lain dan tidak bukan adalah Evans sendiri.


"Moms, dad!" pekik Evans terkejut.


"Why you all don't tell me anything!" tanya Evans yang mendapat kejutan dari orangtuanya.


"This is surprise for you my son!" mommy Chaterine memeluk Evans dengan kuat.


Dia mengecup rambut anaknya itu berkali-kali untuk melepas rindu selama ini.


"Hey, give me hugs son!" Daddy James tak mau kalah memeluk anaknya.


"Sorry honey, please take a sheat!" perempuan asing itu segera duduk setelah mommy Chaterine menyuruhnya.


"Kenapa mom dan dad tidak memberitahu kalau pulang kemari?" tanya Evans.


"Sudah moms bilang ini kejutan buatmu! dan itu juga salah satu kejutan lain honey!" mommy Chaterine menunjuk gadis pirang.


"Who is she?" Evans mengerutkan keningnya.


"Kita duduk dulu ayok! panggil bibi buatin makan dan minuman buat kami!" mommy duduk di sofa ruang tamu.


"okey moms, wait a minute!" Evans melangkah Kedapur.


"Kamu pasti akan betah tinggal di sini Joanna! tenang saja!" ucap moms senang.


"Lumayan lama di pesawat sampai pinggang lumayan keram!" timpal daddy James.


"Itu karena usia mu James, jangan salahkan lamanya penerbangan!" sahut Chaterine.


"Hey, jangan mulai lagi om dan tante!" Joanna menengahi becandaan suami istri itu.


Evans sudah berkumpul kembali keruang tamu untuk berkumpul kembali bersama orang tuanya.


"Evans, sini nak! kami hanya pulang sampai lusa! kami terlalu banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan!" ucap moms Chaterine.


Evans mendekat dan mendekat pada kedua orangtuanya. Mommy berbisik ketelinga Evans yang duduk di sebelahnya.


"Moms, kenapa begitu sih? Evans gak mau moms!" tolak Evans tanpa berpikir panjang.


"Why, look at her! dia cantik, menarik, pintar dan keturunan bangsawan dari jaman kerajaan dulu!" seru moms Chaterine.


" Bukan itu masalahnya moms!" tunduk Evans yang tidak enak hati.


"Apa masalahnya honey? coba jelaskan!" perintah moms Chaterine.


"Sebenarnya Evans itu...........!" Evans tecekat tak melanjutkan kata-katanya.


*


*


*

__ADS_1


* Selamat membaca.


__ADS_2