Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 12. Menghindar.


__ADS_3

Sore hari ini...angin bertiup semilir. Sejuk


terasa.


"Lumayan lah angin ini bisa


ngademin badan yang lengket," batinku


sambil mengendarai motor menuju rumah


setelah pulang kerja.


Pekkkk....kepekkkk....kepekkk


"Lho....lho....kenapa lagi ini motor?," heran Malik.


Terdengar suara motor bututnya yang aneh


dan tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


"Aih...kalo kayak gini. Mau gak mau harus


aku bawa ke bengkel mas Kadir nih,"


gumamku seorang diri sambil menghela


nafas.


Aku menuntun motor bututku.


...----------------...


Setibanya di bengkel mas Kadir. Aku


celingukan mencari seseorang yang


memang aku ingin hindari tuk sementara


waktu.


"Syukurlah dia belum datang. Pasti dia


masuk sore lagi hari ini," gumamku


seorang diri.


"Lik, kenapa bengong disana? motornya


rusak lagi ya? bawa masuk sini!," ajaknya.


Mas Helmi menyuruhku masuk membawa


motot. Cuma dia karyawan mas Kadir


yang paling lama bekerja disini.


"Tau nih mas. Tadi suara motor


ini ...pek..kepekkk...kepekkk...eh langsung


mendadak mati walopun dah aku coba


nyalain lagi," aku menirukan suara motor


yang bermasalah.


"Gak bisa ditunggu ni motor Lik. Lumayan


lama benerinnya! harus bongkar mesinnya


dulu!," terang mas Helmi.


"Gak pa-pa mas. Asalkan nanti bisa aku


layak pakai lagi. Mau beli motor baru


belum ada dana mas. Annisa bentar lagi


kan mau masuk sekolah dini. Eh ...kok jadi


curhat aku mas ...he...he..," cengirku pada


mas Helmi.


"Santuy ajah Lik. Semua orang punya


kesulitan juga kok. Cuma beda aja


masalahnya," sambil tersenyum ramah.


"Telpon aku aja mas. kalo udah selesai ya!,"


ujarku.


"Siap ndan," sahut mas Helmi.


"Mas Kadir kok gak keliatan? kemana


dia mas? biasanya kan selalu bantuin


montir-montirnya," tanyaku heran sambil


mencari sosok mas Kadir.


"Ada urusan Lik. ba2ru aja pergi kok orangnya,"


jawab mas Helmi.


"Owh...begitu ya mas. Ya udah mas. Aku


tinggal ya...udah sore gini," sambil berlalu


pergi keluar bengkel.


"Orang itu...kenapa juga harus papasan.


padahal aku udah cepet-cepet mau pulang


dari sini," lirihku kesal.


Dia menyadari kehadiranku dan tersenyum


ramah. seol2ah tidak ada apapun yang terjadi.

__ADS_1


"Kali ini bawa mobil siapa mas?," tegurnya basa-basi.


"Bawa motorku," kujawab enteng.


"Owh...gitu ya. Kirain bawa mobil mas Toni


lagi," ujarnya sambil tersenyum.


"Nggak." Jawabku singkat.


Aku tak menghiraukan tatapan herannya.


Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku


berubah seperti ini. Apa mungkin dia


pura-pura gak tau aku ini siapa?.


Aku berlalu meninggalkan dia di belakang


tanpa sepatah katapun. Ku lebarkan


langkahku agar bisa jauh dari tempat ini.


"Pinter banget dia akting nya. Seakan-akan


gak bersalah sudah membawa kabur istri


orang," geramku sambil mengepalkan tangan.


...----------------...


Sementara itu. Andi yang mengernyit


heran nampak memikirkan sesuatu.


"Mas Malik kenapa ya? tiba-tiba saja berubah


dingin padaku. Padahal kemaren waktu


ngambil angkotnya. Baik bener dia....ramah,"


gumamnya seorang diri.


"Andi.....bantuin aku sini! jangan melamun


di tengah pintu, pamali ," panggil Helmi.


"Eeeh...iya mas, maaf....," Andi melangkah


masuk menghampiri Helmi dan bekerja


bersama.


...----------------...


Malam hari di kota tempat Toni


menawarkan barang yang dijualnya.


Dia berada disebuah pub malam. Disanalah


dia menjajakan barang haram itu.


lelaki ataupun perempuan. Mereka yang


tau kehadiran Toni langsung saja


mengerumuninya.


Pantas saja Toni selalu pulang malam


diatas jam 10. Dia menjerat mangsanya di


salah satu pub malam terbesar di kota


seberang, yang perjalanannya saja bisa


menghabiskan waktu 2 jam lebih dari


kampungnya tinggal.


Setelah dirasa barangnya sudah banyak


berkurang. Dia tersenyum senang menghitung


hasil yang dia dapat malam ini.


"Lumayan....cukup lah untuk hari ini." Sambil


mencium bau uang di tangannya.


Setelah mengantongi uang yang bertumpuk


itu. Toni dihampiri wanita-wanita malam yang


ingin bersenang-senang dengannya.


"Mas...kalo punya duit itu. Ya dibagi-bagi


sama kita," wanita itu mengerling nakal


sambil mengelus paha Toni.


"Kita keluar aja mas! Disini berisik. Mas


bisa pilih salah satu dari kami atau....,"


Wanita itu menghentikan obrolannya.


Dia mendekatkan mulut ke telinga Toni


sambil berbisik.


"Mas Toni bisa bawa kami semua check-in," usulnya pada Toni.


Selama ini Toni hanya berani menjual barang


itu tanpa memakainya. Dan urusan perempuan.


Dialah juaranya. Dia memang terkenal baik dan


sopan di kampungnya. Tapi, di luar sana watak

__ADS_1


aslinya terlihat kalau dia memang tidak bisa


mengendalikan hawa nafsunya.


"Yeeee...kalian ini kalo ada duit aja. Matanya


langsung ijoo," cibir Toni pada wanita-wanita


itu.


"Sorry beb....aku gak tertarik sama kalian.


Aku udah punya pilihanku sendiri, tapi....


jangan kuatir. Temenin aku minum nanti aku


kasih 2 lembar duit merah. Satu orang dua


lembar...gimana?," Toni mengedipkan


matanya pada beberapa wanita disana.


"Boleh...siapa takut. Kuy tambah minumannya,"


teriak wanita paling sexy.


Mereka menghabiskan malam bersama


sambil di kelilingi minuman haram.


Setelah dirasa hampir mabuk. Toni


mengeluarkan ponselnya dan menelpon


seorang wanita.


"Hai...sayang. Kamu jemput aku ya ditempat


biasa! Kepalaku udah pusing nih...buruan gak


pake lama," langsung mematikan teleponnya.


Tak berapa lama. Seorang perempuan cantik


datang menghampiri Toni dan langsung


memapah sambil membawanya pergi.


Perempuan itu mencari kunci mobi Toni.


Dan membantu Toni masuk ke dalam


mobil.


Didalam mobil, Toni yang mulai mabuk mulai mengelus paha perempuan itu. Tangannya mulai bergerak nakal. Dan menjelajah wajah perempuan didepannya.


Perempuan itu menghentikan gerakan Toni dan mulai berbisik sesuatu. Toni terdiam di tempatnya sambil menyeringai licik.


Perempuan itu mulai menjalankan mobil dan melesatkannya. Menjauh dari pub malam itu.


...----------------...


Hotel El-kiano


Toni yang mulai sadar dari pusingnya.


Tersenyum melihat wanitanya sedang


memapah dan merangkulnya.


"Cindy....wanitaku sayang," gumamnya sambil


mengelus pipi wanita yang di panggilnya


Cindy.


Mereka sudah tiba didalam kamar hotel.


Waktu sudah menjelang pagi.


Toni langsung memeluk Cindy dari belakang


ketika Cindy menutup pintu kamar.


"Mas...mandi dulu sana! bau alkohol,"


suruh Cindy.


Toni hanya tersenyum simpul.


Dia merengkuh tubuh Cindy. Mencium pipi


hingga turun ke bibir Cindy yang ranum.


Cindy tak tinggal diam. Dia yang selama ini


merindukan sentuhan kekasihnya membalas


ciuman Toni.


Keduanya sudah berada di ranjang. Ciuman


mereka tak terlepas. Mereka berdua sama-sama menghangatkan suasana.


Setelah selesai dengan pemanasan.


Akhirnya mereka melakukan penyatuan


sampai terkulai lemas kehabisan tenaga.


Dan akhirnya tertidur pulas.


Mereka tau yang dilakukannya itu adalah


suatu dosa besar. Tapi mereka tidak peduli.


Mereka berdua hanya mementingkan hawa


nafsu semata yang nantinya akan


membuat mereka lebih terjerat dan


terjerumus lebih dalam lagi.

__ADS_1


__ADS_2