Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
36. Bertemu pria tak dikenal.


__ADS_3

*Elisa POV.


Aku yang melihatnya pingsan tak bergerak, akhirnya mau tak mau menyeret tubuhnya.


Aku seorang wanita yang memang tidak akan mampu membawa pria tegap di depanku ini.


Aku menyeretnya perlahan dan mulai memasukkannya kedalam kursi penumpang di belakang. Kuletakkan tubuhnya telentang.


Deruan nafasnya seolah menandakan lukanya tak parah.


Langsung saja aku masuk kembali ke mobil dan melajukannya.


"Gila, hari ini gue apes. Malah nabrak orang segala. Untung gak mati." Ucapku lega.


"Aku harus segera sampai dirumah bunda Marwah. Disana pasti ada puskesmas terdekat." Gumamku seorang diri.


Jalanan yang sunyi mulai berubah berisik dengan lalu-lalang kendaraan. Hari mulai beranjak siang. Ketika aku sampai di depan rumah khas perkampungan bunda Marwah.


Seorang wanita berumur akhir 50an menungguku di teras rumahnya. Dia duduk santai sambil menyeruput teh panas.


"Ciyee....Lagi nungguin anak kesayangannya nih ya," Ledekku pada bunda.


"Bunda tungguin dari kemarin. Malah nongol sekarang. Emang bandel nih bocah!" ujarnya spontan.


"Bocah lagi. Lisa udah gede bunda. Udah bisa ngurusin anak orang!" Kataku sebal.


"Bagi bunda kamu tetap bocah kesayangan bunda. Sini dong peluk bunda!" serunya.


Aku memeluk bunda sambil memikirkan sesuatu.


"Astaga bunda. Lisa lupa." Langsung menghampiri mobil dan diikuti langkah bunda yang perlahan.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal tanda frustasi.


Bunda yang menghampiriku terkejut karena ada seorang lelaki di dalam mobil dan dalam keadaan pingsan.


"Siapa dia Lis? Kenapa berlumuran darah gitu?


terus kenapa dia bisa pingsan?" tanya bundaku bertubi-tubi.


"Nanti Lisa jelasin! Sekarang kita bawa ini orang ke rumah sakit terdekat bund!" Kataku gugup.


"Bawa ke puskesmas kampung saja Lis! Dekat kok dari sini." Usul bunda.


"Kita berangkat sekarang ya bunda!" ajakku dan menyuruh bunda masuk mobil.


Aku melajukan mobil ini sesuai arahan bunda.


Karena aku hanya tau arah ke rumah bunda saja. Tidak sampai sepuluh menit puskesmas sudah terlihat.


Aku memanggil petugas kesehatan untuk membawa brankar. Mereka membawa pria ini masuk dan langsung memeriksa keadaannya.


Kami menunggu dengan cemas diruang tunggu. Berharap kondisi pria tadi membaik dengan cepat.


*Elisa pov end.


...----------------...


Disatu sisi.


Dendi yang tertangkap polisi, menunggu diselidiki dalam ruang interogasi.


Dia juga bertanya-tanya kenapa Malik bisa melarikan diri.


"Si*lan tuh orang. Untung banget gak ketangkep. Mana mukanya malem itu juga gak ketahuan." Sungut Dendi dalam hati.


"Apa aku harus melaporkan dia kepolisi? Tapi kami sudah terikat kontrak perjanjian kalau tertangkap gak akan buka mulut." Batin Dendi lagi.

__ADS_1


Orang tuanya sendiri tidak berani menjenguk. Mereka khawatir akan di interogasi oleh polisi yang menangani kasus ini.


Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.


Tak disangka hanya dalam kurun waktu tujuh bulanan, kegiatan mereka terendus polisi.


"Kita hanya tau gajinya besar. Itu saja pak," keluh ibu Dendi.


"Kita juga gak memikirkan resikonya seperti apa," lanjut ibu Dendi lagi.


"Sudahlah bu, nasi sudah menjadi bubur.


Ini pelajaran bagi kita, bahwa semua yang kita lakukan pasti ada resikonya." Kata bapak Dendi yang menghela nafasnya dan mulai menyesal telah menyeret anaknya dalam keadaan ini.


"Tapi, tunggu dulu pak. Kenapa Malik gak ketangkep ya? apa jangan-jangan dia yang melapor pada polisi?" tanya ibu Dendi.


"Gak mungkin Malik seperti itu bu. Mungkin dia bernasib baik gak ketangkep polisi. Apa kita lihat barang-barangnya saja bu? Kalau dari awal dia berniat melapor, pasti dia udah bersiap merapikan barang-barangnya." Seru bapak.


Orang tua Dendi menuju kamar Malik dan mendapati semuanya dalam keadaan seperti biasa.


"Lihat ini bu!" Sambil menunjukkan ponsel dan dompet Malik di atas bantal.


"Iya pak. Sepertinya bukan Malik yang melapor.


Ponsel dan Dompetnya saja tertinggal." Sahutnya melihat barang penting Malik.


"Mungkin Malik berhasil melarikan diri bu. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum kemari?" Bapak dendi bertanya-tanya.


"Entahlah pak. Kita urus Dendi saja agar hukumannya bisa diringankan. Kita minta tolong bos David saja!" Usul ibu Dendi.


"Besok kita coba membujuk bos David bu. Semoga dia mau menolong kita." Sahut bapak Dendi.


......................


Badanku terasa pegal. Kepalaku berdenyut. Aku memegang kepalaku dan membuka perlahan kedua netraku.


Pandanganku menelisik sekeliling. Aku terbaring disebuah brankar.


"Dimana ini?" batinku mulai bertanya.


"Tunggu dulu. Bukankah aku lari dari kejaran polisi? kenapa aku ada disini?" lirihku seorang diri.


*Klak.....


Pintu terbuka. Ada seorang wanita muda menghampiriku. Dia menyadari aku yang melihatnya.


Dia segera berlari keluar ruangan.


Aku mendengar sekilas percakapan diluar kamar karena pintu yang belum ditutup.


"Aku panggil dokter dulu bund. Dia sudah bangun. Orang itu sudah bangun dari pingsannya." Ucapnya yang terdengar samar di telingaku.


"Bunda akan masuk dulu kedalam. Kamu panggil saja dokternya!" Suruh bunda.


Wanita yang seumuran ibuku menghampiriku. Dia tersenyum lembut. Dari sorot netranya terlihat jelas bahwa dia merasa kasihan akan keadaanku.


"Kamu, baik-baik saja? Dimana yang sakit? Tanya wanita tua didepanku.


Aku menunjuk kepalaku. Dan kaki kiriku.


"Disini, dan disini. Semua badan juga terasa pegal." Ucapku jujur.


Beliau mengulurkan tangannya dan mengusap keningku. Dia tersenyum seakan penuh arti.


"Seandainya anakku masih hidup. Pasti dia sebesar pria ini sekarang. Sayang sekali Tuhan lebih menyayanginya." Suara batin wanita tua.


Sorotannya berubah menjadi sendu dan berkaca-kaca. Entah apa yang dipikirkan.

__ADS_1


"Pasien sudah sadar dokter. Lihatlah!" Seru wanita tadi.


Dokter menghampiriku. Dia memeriksa mulut dan mata serta luka yang terbalut di kening.


"Kondisinya mulai stabil. Mungkin dalam beberapa hari sudah boleh pulang." Dokter berkata.


"Oh begitu dok, terimakasih atas semuanya dok." Kata wanita itu.


"Saya sudah menuliskan resep. Nanti bisa di tebus dikonter pengambilan obat." Senyum dokter dan mulai meninggalkan kami.


Infus di tangan menyulitkanku untuk bergerak.


Perutku terasa lapar dan....


*Kruukk...


Perutku berbunyi. Dua wanita di depanku saling berpandangan dan tersenyum.


"Maaf, anda lapar ya? Mau makan apa?" Tanya wanita muda.


"Ehm...itu..." tak kulanjutkan kalimatku.


"Dia masih terbaring disini. Tentu saja makanannya harus bubur Lis, gimana sih kamu." Sela wanita tua.


"Maaf bunda. Nanti saya belikan saja diluar. Makanan rumah sakit gak enak." Lanjut wanita muda.


"Saya....Kenapa saya bisa disini?" tanyaku.


"Ehm....saya..saya..menabrak anda di jalan kecil dekat hutan." Jawab wanita muda.


"Maaf." Tambahnya lagi


"Tidak apa. Terimakasih juga telah menolong saya membawa kesini." Senyumku kaku.


"Namaku Elisa. Kamu....siapa?" dia bertanya.


"Namaku Adi." Jawabku sambil meringis akibat keningku yang berdenyut.


Nama Malik sudah aku tinggalkan ketika aku mulai mengikuti saran Dendi. Adi nama yang tepat untukku. Malik Jayadi atau adi. Setidaknya itu adalah nama akhir, bukan mengganti namaku menjadi nama lain.


"Kamu kenapa? Masih sakit? Biar aku pesankan makanan dan menebus obat untukmu!"


Aku hanya mengangguk lemah.


"Bunda tolong jaga dia sebentar! Aku keluar gak lama kok." Ucapnya pada bunda.


"Gak usah khawatirkan bunda Lis. Sudah sana pergi!" Suruh bunda.


Sepertinya aku dikelilingi orang-orang baik.


Mereka berdua merawatku dan begitu perhatian. Dendi sudah tidak bersamaku lagi.


Aku harus mulai terbiasa tanpanya dan tanpa para wanita malam. Hidupku kini tidak menentu. Barang berhargaku tertinggal dirumah kontrakan bos David. Aku harus memulai segalanya dari awal kembali.


*


*


*


*


*


Selamat membaca para reader setia.


Jangan lupa dukung dengan cara like, komen dan rate bintang 5. Mau kasih votenya juga boleh.😍😍

__ADS_1


Terimakasih semua 🙏🙏🙏😘😘


__ADS_2