
Mj yang terbangun mendengar suara berisik dari luar kamar. Ia mengucek netranya dan beranjak mencuci muka. Ia penasaran ada apa gerangan di luar sana. Seketika ia membuka pintu kamar dan terperangah dengan pemandangan di depannya.
Warung itu, warung Hendra dan Anggi di gusur oleh beberapa orang petugas kepolisian.
Mj mendekat dan menyimak percakapan ibu-ibu di sebelahnya. Setelah menguping pembicaraan mereka, Mj akhirnya tahu kenapa warung itu di gusur. Mj benar-benar tidak habis pikir Hendra dan Anggi bisa berbuat seperti itu.
Sebagai seorang tetangga yang pernah saling menyapa, Mj memberanikan diri menanyakan dimana tempat Hendra dan Anggi di penjara pada salah satu anggota kepolisian.
Setelah mendapat jawaban, Mj kecewa karena terlalu jauh dari tempat ini.
Tak jauh dari pintu gerbang kosan. Disana Mj menelisik seseorang yang dia rasa pernah berjumpa dengannya. Mj mengingat seorang pria yang tengah bersender pada pintu pagar besi. Pria itu menghisap rokoknya kuat-kuat dan menghembuskan asapnya. Asap rokok memenuhi wajahnya.
Mj berpikir sejenak sambil mengernyitkan keningnya.
"Tunggu dulu, bukannya itu orang yang bertanya semalam? ya, aku ingat siapakah dia. Dia pria yang menanyakan Hendra semalam waktu hujan!" lirih Mj seorang diri.
"Ah, sudahlah. Aku tidak punya banyak waktu. Pukul segini seharusnya aku sudah berada di rumah itu." Mj cepat kembali kedalam kamar dan langsung menuju kamar mandi.
Selang sepuluh menit kemudian.
Mj sudah bersiap dan bergegas keluar pintu pagar. Ternyata disana ada sebuah mobil yang sudah terparkir rapi.
"Ini kan mobil Elisa, kenapa bisa ada disini?" Mj bertanya dalam hati.
"Mas," panggil Elisa yang menghampiri.
"Lho, barusan kamu darimana? kenapa sekarang sudah ada disini?" tanyaku curiga.
"Gak usah parno deh mas, tadi aku berbincang sebentar dengan pak sekuriti." Jawab Elisa jujur.
"Benarkah? pantas kamu gak kelihatan. Ternyata bersama sekuriti di pos jaga!" sahut Mj.
"Tumben mas itu telat! makanya Lisa datang kesini, Lisa kan kuatir kalau mas itu kenapa-napa." seru Elisa.
"Mas gak pa-pa kok, cuma penasaran aja dengan warung kecil yang dibongkar paksa!" sahut Mj.
"Oh begitu mas, tadi Lisa juga nanya sama pak sekuriti. Ternyata mereka seperti itu ya mas!" Elisa menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.
"Apalagi mas ini lho, tetangga dekatnya!" sahut Mj.
"Ya sudah Lis, kita berangkat sekarang ya!" ajak Mj yang meminta kunci pada Elisa.
Keduanya masuk kedalam mobil dan Mj mengantar Elisa seperti biasanya. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
Mj yang terlintas akan tawaran dari ibunya. Sedangkan Elisa yang seakan belum mendapatkan keputusan dari keluarga Cahyono.
__ADS_1
Musik yang di putar menambah suasana yang berbeda. Elisa sedikit bersenandung menyanyikan lagu itu dengan suaranya yang pas-pasan. Mj hanya tersenyum ketika memandang Elisa yang mulai terbawa suasana lagu itu.
"Ehem, udah belum nih nyanyinya!" Mj berdehem mengingatkan Elisa.
"Eh, mas Mj. Maaf mas, keasyikan nyanyi nih!" cengir Elisa sambil mengusap keningnya.
"Itu di depan sudah lampu merah! Sekarang kita akan kemana?" tanya Mj bingung.
Dari awal Elisa tidak mengatakan akan kemana hari ini.
"Oh iya mas, aku lupa banget! kita ke Mall aja! hari ini kita libur mas! gak ada kesibukan yang berarti di ruko." Ajak Elisa mengelus rambut Mj.
"Terus, kita ngapain nih disana?" tanya Mj.
"Temenin aku maen di Wauw Zone ya mas?" bujuk Elisa.
"Wauw Zone itu apa? kok aku baru denger sih?" tanya Mj yang masih sambil menyetir.
"Itu lho mas, area permainan game! pokoknya seru deh pasti mas juga suka!" Elisa tersenyum lebar seperti anak kecil.
"Game yang maennya pake koin itu?" tanya Mj lagi.
"Iya mas, tapi sekarang udah gak pake koin! tinggal gesek aja pake kartu!" Elisa menjelaskan.
"Owh, seperti itu ya." Mj mengangguk.
Elisa dan Mj bergegas turun dari mobil. Mereka bergandengan tangan seperti seorang pasangan yang romantis dan harmonis.
Sebelum masuk ke area permainan. Mereka berdua masuk kedalam food court yang terletak dilantai paling atas. Meja masih banyak yang kosong karena Mall masih baru saja buka.
Hanya dua tiga meja yang terisi.
Mereka duduk di sebelah jendela kaca transparan. Dari sana Elisa dan Mj bisa melihat pemandangan kota yang penuh dengan kendaraan beserta aktifitas orang-orangnya.
Selesai memesan makanan yang sesuai dengan selera masing-masing. Akhirnya makanan itu sampai dan mereka menyantap nya dengan antusias.
...****************...
Rumah keluarga Cahyono.
Didalam kamar Sandra.
"Kamu kenapa sih? dari semalem kok gak mau pulang?" tanya Sandra pada Rexy yang berada di sampingnya. Mereka berada di dalam satu selimut yang sama.
"Males pulang ah kalau sama kamu di ladenin mulu!" goda Rexy mencubit pipi Sandra gemas.
__ADS_1
"Untung abang Cipto masih belum sembuh total. Kalau abang memergoki kita seperti ini, mati kita berdua dibuatnya!" seru Sandra.
"Untung kan buat kita sayang! aku selalu merindukan saat-saat berdua denganmu tanpa jarak apapun seperti sekarang ini!" Rexy mengecup kening Sandra.
Mereka terhanyut oleh suasana pagi hari di kamar itu. Rumah itu sunyi, Elisa sudah berangkat, Marshella dan Silvia juga sudah pergi ke sekolah dan kuliah. Sementara bi Minah membelikan pesanan dari Sandra.
Mereka berdua merasa bebas di dalam kamar.
Kamar Cipto.
Dia yang sudah bisa bergerak akhirnya mulai melangkahkan kakinya perlahan. Tekadnya sungguh semakin kuat seiring bertambahnya hari. Cipto berjalan seperti seorang bayi yang tengah berlatih jalan untuk pertama kalinya.
Penyakit yang di deritanya selama dua tahun itu telah merenggut banyak waktu.
"Aku, haa-rus ber-latih ter-us!" ucap Cipto pelan.
Tak ada seorang pun yang tahu apa yang tengah ia lakukan. Hari demi hari dia sendiri berlatih jalan tanpa ada yang memegangi.
Semua orang di rumah ini tidak tahu akan kebiasaan Cipto, bahkan Elisa sekalipun yang sekamar dengan Cipto. Cipto memang akan memberikan kejutan pada hari spesial Elisa sebentar lagi. Elisa bulan depan akan berulang tahun. Dan dia yang berjalan lah kado yang tepat untuk Elisa. Itu menurut pikiran Cipto.
*Di salah satu Mall besar kota L.
Elisa bergandengan mesra dengan Mj. Banyak pasang netra memperhatikan mereka berdua. Mungkin mereka menganggap Elisa dan Mj adalah pasangan yang serasi.
Apalagi tadi Elisa membeli baju pasangan yang warna serta coraknya senada.
Tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan keduanya. Mereka merasa bebas karena jauh dari rumah itu. Setelah berkeliling akhirnya Elisa mengajak Mj pergi ke Wauw Zone area permainan. Banyak aneka game yang bisa mereka mainkan disana. Elisa yang sudah lama tak bermain hanya tersenyum lebar dan mencoba satu persatu permainan itu.
Mj hanya meladeni kemauan Elisa. Dia tahu bahwa selama ini Elisa sudah menanggung beban yang berat. Jadi, sudah sewajarnya Elisa bersantai dan bermain hal yang disukainya.
Mereka tertawa bersama sambil mengendarai game motor prototipe. Salah satu pengunjung yang ada di dalam area permainan itu memandang Mj dan Elisa. Dahinya mengernyit dan berjalan perlahan ke arah Mj dan Elisa.
"Ternyata mereka, ya gue tidak salah lagi!" ucap gadis itu tersenyum licik.
Dia mengambil ponselnya dan memotret Mj bersama Elisa. Senyum bahagia terpancar jelas dari wajahnya.
"Kita lihat saja nanti, gue akan.....!" gadis itu tersenyum licik dan menjauhi Mj beserta Elisa.
Dia kembali mendekat ke arah teman-temannya yang memanggil.
*
*
*
__ADS_1
*Bersambung....
Selamat membaca semuanya 🥰🥰