Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 112. Kebahagiaan Elisa


__ADS_3

Keduanya menuding tak percaya. Mata mereka berdua membulat sempurna. Wanita itu tak berpikir panjang, dia langsung memeluk Malik erat. Air mata mengalir dengan cepat.


"Aku kangen kamu mas Mj, syukurlah aku bisa bertemu kamu lagi!" isak wanita itu yang tak lain adalah Elisa.


"Ini beneran kamu Lis? kenapa kamu tambah kurus seperti sekarang? kamu sendirian ke sini? kenapa kamu tahu aku dimana aku berasal? kenapa juga kamu tahu Evans?" Malik mencecar pertanyaan nya.


Elisa melepaskan pelukannya. Ia menatap Malik dalam, ia mengelus pipi Malik dan tersenyum.


"Sabar mas Mj! nanti aku ceritakan semuanya.


Mau ajak aku pulang gak nih?" tanya Elisa mulai mendatarkan suaranya yang serak.


Mereka berdua berpelukan lagi. Banyak pasang mata menatap mereka berdua dengan raut iri dan kesal.


"Kita pulang sekarang!" ajak Malik.


Elisa hanya mengangguk, ia tak melepaskan gandengan tangan Malik. Berbulan bulan ia menantikan momen ini setelah ia bisa lepas dari Cipto.


Mereka berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil Malik.


"Mas, ini mobil kamu bukan?" tanya Elisa.


"Alhamdulillah mobil sendiri walaupun cicilan belum lunas Lis!" sahut Mj sumringah.


'Alhamdulillah mas, ikut seneng dengernya!" Elisa menjulurkan tangannya pada pipi Malik.


Ia mengelus wajah Malik seperti anak kecil.


Malik hanya tersenyum sembari menoleh kearah Elisa.


"Kangenku akhirnya terobati mas!" lirih Elisa.


"Aku pikir kamu gak kangen lho makanya gak nelpon aku!" seru Malik.


"Aku kangen banget mas, mas tahu sendiri si Sandra orangnya kaya apa kan? dia mereset ulang ponselku diam-diam jadi semua nomer yang tersimpan hilang mas!" jelas Elisa.


Masih tergambar jelas perlakuan Elisa padanya di kala itu.


"Nomer ponselmu di hapus juga oleh Sandra. Bahkan nomer ibu dan keluarga ku juga di hapus oleh nya!" sahut Malik.


"Sudah lah mas, kita gak usah ngomogin Sandra lagi. Sekarang dia juga sudah kena hukuman dari yang kuasa!" ucap Lisa berkaca-kaca.


"Hukuman dari yang kuasa? maksud kamu apa Lis?" tanya Malik penasaran.


"Nanti aku ceritakan semuanya di rumah mas ajah!" sahut Elisa.


"Baiklah aku tunggu penjelasan mu. Oh iya, aku hampir lupa. Bunda Marwah apa kabarnya? kenapa kamu gak sekalian bawa bunda kesini?" tanya Malik yang bersemangat membahas Marwah.


Raut wajah Elisa terlihat murung begitu mendengar Malik menyebut Marwah. Ia teringat kembali kenangan demi kenangan ketika bersama Marwah. Air mata menetes tatkala ia mengingat itu.

__ADS_1


Malik menoleh karena Elisa diam seribu bahasa. Ada suara Isak tangis pelan yang terdengar. Ia bingung kenapa Elisa tiba-tiba menangis.


"Lis, kamu kenapa? kok sampe nangis begitu sih?" tanya Malik yang khawatir.


"Maaf mas, aku ingat bunda sekarang ini!" jawab Elisa.


"Bunda Marwah emang kenapa sih? kok kamu sampe nangis segala?" Malik bertanya lagi.


"Beliau sebenarnya....bunda Marwah sebenarnya ssssuu-dah meninggal mas!" jawab Elisa terbata. Air mata mengalir lebih deras. Ia meluapkan emosi nya di depan Malik.


Malik menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Ia keluar dari mobil dan menyuruh Elisa pindah ke kursi belakang.


Mereka berpelukan di kursi belakang. Malik menghibur Elisa yang bersedih.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, secepat itu bunda Marwah meninggalkan kita Lisa!" Malik teringat pertama kali berada di rumah Marwah.


Ia tak menyangka orang sebaik Marwah akan begitu cepat meninggalkan dunia ini.


"Bunda sakit jantung dan beliau tak mau memberitahu mas!" Elisa berkata pelan di pelukan Malik.


Malik memeluk Elisa sambil mengelus rambut Elisa. Ia tak mau Elisa bersedih terlalu lama.


"Sekarang ada aku Lisa, kamu jangan bersedih terus!" bujuk Malik.


Mereka berdua saling melepaskan pelukannya.


Mereka berdua saling pandang. Tangan Malik memegang dagu Elisa dan mulai mendekatkan bibirnya.


"Udah mas, kita pulang dulu!" ajak Elisa.


Malik yang dikuasai kerinduan hanya mampu mengangguk lemah. Mereka merapikan rambut masing-masing yang sudah acak-acakan. Malik dan Elisa keluar dari mobil dan kembali duduk di kursi depan.


Kerinduan yang menguasai mereka perlahan mengendur.


Tak lama Elisa yang kecapean di perjalanan akhirnya tertidur. Bekas air mata masih tertempel di pipi mulusnya.


Malik menyetir sambil melirik wajah Elisa yang tertidur. Ia sungguh bahagia melihat wanita yang ia cintai berada tepat di samping nya.


"Apa yang terjadi dengan tuan Cipto ya? apakah dia menceraikan Elisa?" lirih Malik pelan.


Ia memikirkan keadaan Elisa selama ini. Ia sungguh tak menyangka Elisa kuat menghadapi keluarga Cahyono yang selalu memojokkannya.


Dua jam perjalanan telah Malik tempuh. Malik sudah hampir sampai di rumahnya. Di depan sana ada seorang wanita menuntun dua anak perempuan seusia Annisa.


Malik menoleh setelah melewati mereka bertiga.


Tiin, tiiin, tiin.


Klakson berbunyi nyaring memecah keheningan di sore itu. Ia tak menyangka bahwa mereka adalah Aisyah, Nissa dan Mira keponakan Aisyah.

__ADS_1


"Sore begini kenapa mereka baru pulang sih?" Malik bergumam seorang diri.


Ia menepikan mobilnya dan keluar. Malik menghampiri mereka bertiga.


"Ais, kenapa kalian baru pulang? ayuk masuk! udah jam segini lho!" ajak Malik.


"Maaf mas, ada acara mendadak di sekolah tadi siang. Makanya kami baru pulang." Jawab Aisyah.


"Ayah, Nissa duduk di depan ya?" Nissa merengek pada Malik setelah membuka pintu mobil belakang.


"Nissa duduk di belakang ajah sama tante dan Mira, kita anter tante sama Mira pulang dulu!" suruh Malik.


"Ya udah deh Nissa duduk di belakang!" Nissa berkata sambil memanyunkan bibirnya tanda kesal.


Mereka masuk kedalam mobil. Aisyah terkejut karena ada seorang wanita yang duduk di samping Malik. Ingin rasanya ia bertanya tapi, ia merasa tak nyaman mau menanyakannya.


Nissa yang melihat Elisa tertidur langsung menarik baju Malik yang berada di depannya.


"Ayah, siapa sih tante itu? kenapa dia ada di depan? kok bukan Nissa aja yang di depan?" Nissa bertanya agak nyaring. Suara Nissa membangunkan Elisa yang terlelap tidur.


Belum menjawab pertanyaan anaknya, Malik menoleh ke arah Elisa yang terbangun.


"Maaf Lis, berisik ya? kamu tidur aja lagi! aku akan mengantarkan guru anakku dulu ya!" seru Malik.


"Iya mas, aku tidur lagi ya!" Elisa tak menghiraukan ketiga orang di belakang. Ia terlalu capek dan mengantuk.


"Nissa, nanti ayah jelaskan di rumah ya! biar ayah antar tante Ais dulu!" jelas Malik.


Mobil pun melaju di jalanan. Malik mengebut di jalanan yang sepi. Ia mau secepatnya sampai di rumah. Rumah Aisyah terlihat di depan sana. Malik menghentikan mobilnya.


"Maaf ya Ais, aku gak bisa turun dan menyapa ibu. Makasih ya udah menjaga Nissa selama di sekolah!" Malik langsung berpamitan.


"Iya mas gak pa-pa kok, makasih sudah nganterin kami!" Aisyah memaksakan senyumnya.


Mobil Malik menjauh dari rumah Aisyah. Mira melihat tante nya itu murung dan berubah sendu.


"Tante kenapa? ada yang sakit ya?" tanya Mira yang menarik baju Aisyah.


"Tante baik-baik saja, ayo kita masuk! ibumu pasti menunggu!".


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke rumah. Aisyah masih saja memikirkan wanita yang di bawa Malik tadi.


"Siapakah dia mas? apakah aku selama ini salah berharap padamu?" Aisyah berkata dalam hati.


Air mata menetes perlahan dan turun ke pipi.


Inilah pertama kalinya ia merasakan patah hati karena seorang pria.


*Bersambung.

__ADS_1


*


*Selamat membaca 🥰


__ADS_2