Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 124. Janji suci pernikahan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Evans dan Fatma baru saja tiba dari bulan madu. Mereka berbulan madu selama lima hari di pantai berpasir putih. Selama itu pula keduanya gencar memadu kasih. Sementara Elisa dan Malik tengah disibukkan dengan fitting kebaya untuk acara akad nikah dan gaun pengantin yang sederhana. Undangan pun tak banyak. Mereka hanya mengundang dan mengumpulkan para kerabat dan sahabat dekat. Nissa yang dulunya masih waspada kepada Elisa akhirnya bisa luluh. Seharian ini Nissa mengekori Elisa kemanapun dia pergi. Tangannya tak lepas menarik baju Elisa.


"Kenapa lagi sayang? mama harus siapin ini dulu ya!" senyum Elisa ramah.


Ia harus memperlakukan Nissa seperti anaknya sendiri. Ia tak mau Annisa tumbuh menjadi anak yang kekurangan kasih dan sayang.


"Iya mah! tapi nanti kalau udah selesai Nissa mau minta suapin makan ya!" pinta Nissa jujur.


"Oke deh! sekarang Nissa duduk dulu ya nak!" Elisa meninggalkan Nissa.


Ia mulai mencoba kebaya yang sudah dia pilih. setelah tiga kali mencoba akhirnya dia memutuskan pilihan akan memakai kebaya berwarna putih tulang. Malik melihat Elisa dengan wajah berbinar. Elisa tampak anggun dan menawan ketika memakai kebaya.


"Bagus yang itu sayang! aku suka!" kata Malik sumringah.


"Aku juga suka kok yang ini mas! kamu pilih jas yang warnanya senada ya!" ucap Elisa.


"Mbak, ambilkan warna yang sama ya! saya mau coba sekalian!" pinta Malik.


"Baiklah pak, tunggu sebentar!" pramuniaga mengambil jas untuk Malik.


Dia langsung memberikan jas itu pada Malik. Malik segera melangkah ke ruang pas untuk mencobanya. Malik mematut dirinya di cermin. Ia terlihat gagah dengan jas itu. Dasi kupu-kupu ia pakai untuk pelengkapnya. Ia keluar dan merapikan jasnya.


"Taraaaa!" seru Malik keluar dari kamar pas.


"Wah bagus banget mas! kamu gagah banget pake jas kaya gitu!" Elisa berbinar-binar.


Malik mendekati Elisa, ia menggandeng tangan Elisa. Nissa melihat kedua orang di depannya.


Tatapan Nissa sangat gembira. Ia melihat ayah dan mamanya yang sungguh serasi.


Plok, plok, plok.


Nissa bertepuk tangan riang. Ia bersuka cita melihat ayahnya akan menikah.


Malik dan Elisa berpandangan dan menoleh pada Nissa. Mereka berdua tertawa bersamaan.


"Nissa, nanti kembaran sama mama ya nak! biar mama cariin warna yang sama!" ucap Elisa senang.


"Yeeee, asiiikkk Nissa mau banget ma!" Nissa berteriak girang.

__ADS_1


Elisa tersenyum dan mengajak Malik serta Nissa pulang karena hari sudah sore.


...----------------...


Rumah Malik.


"Bu, kenapa mereka belum pulang juga? udah sore begini lho!" Sugeng khawatir.


"Biasalah pak anak muda! apalagi Nissa ikut, pasti dia itu ngajak kemana-mana!" ucap Sumiyati menenangkan suaminya.


"Iya bu, semoga saja begitu!" sahut Sugeng.


Sepuluh menit berlalu. Sugeng dan Sumiyati masuk kedalam rumahnya. Mereka bergantian mandi karena senja sudah tenggelam.


"Mas, kita kemaleman deh!" ucap Elisa sambil membuka pintu mobil dan keluar.


"Kita kasih alasan aja nanti sayang!" sahut Malik santai.


"Ya udah deh, yuk Nissa turun!" ajak Elisa.


"Nissa mau minta di gendong ayah!" rengek Nissa.


Seminggu kemudian.


Acara pernikahan Malik dan Elisa.


Akad nikah telah dilangsungkan, Elisa sudah mengganti bajunya dengan gaun berwarna putih mengkilap. Ia tampil mempesona dan anggun. Rambutnya ditata sedemikian rupa menambah kesan elegan semakin terlihat.


Malik tersenyum lebar menatap Elisa yang menjelma bak putri raja dalam dongeng.


Ia pun tak kalah membuat Elisa takjub. Baru kali ini Malik memakai tuxedo putih yang dihiasi dasi kupu-kupu di kerah kemeja nya.


Mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum penuh kebahagiaan. Para tamu menyalami keduanya. Resepsi pernikahan mereka sesuai dengan keinginan Elisa. Ya, Elisa menginginkan sebuah resepsi yang sederhana.


Para keluarga duduk di dekat pelaminan. Baju yang dikenakan pun seragam. Fatma dan Evans menjadi penerima tamu di pesta Malik dan Elisa.


Sejam berlalu, Evans menghampiri Malik dan menepuk pundaknya.


"Wah my brother akhirnya akan menikmati lagi keindahan malam pertama!" Evans tergelak dengan ucapannya sendiri.


"Shutt, jangan disini bahas itu nya bro! nanti banyak yang baper dan galau!" Malik sengaja mengeraskan suara nya.

__ADS_1


Disebelah Malik ada lima orang pria. Mereka menyalami Malik sebelumnya dan bergabung dengan Evans dan Malik.


"Kalian berdua songong ya! mentang-mentang gue masih jomblo!" sungut Memet kesal.


(Masih ingat Memet? dia itu temen Malik sesama supir angkot dulu)


"Makanya kamu itu harus cari pacar trus menikah biar idup mu enak!" ucap pak Yanto terkekeh.


"Cuma kamu yang belum menikah met, lihat kita-kita udah pada nikah nih!" goda Malik pada Mamet.


Mereka bercengkrama dan berceloteh riang mengenang kenangan masalalu. Kini mereka sudah punya pekerjaan tetap yang layak. Mereka sudah tak menjadi supir angkot lagi.


Resepsi berakhir. Malik dan Elisa pulang kerumah. Kali ini suasana rumah sungguh meriah. Nissa juga semakin aktif memanggil mamanya. Sebelum jam 9 malam Nissa tertidur dengan nyenyak karena letih seharian tadi.


Kini keduanya membuka kado dari para tamu.


"Mas, kita buka kado dari mas Evans dan Fatma dulu aja!" ucap Elisa bersemangat.


"Oke, sepertinya dia juga tadi menyuruh kita membuka ini dulu!" Malik menyambar bingkisan dari saudaranya itu.


"Dih mas Malik nih kok main samber aja sih!" sungut Elisa.


"Maaf sayang, sengaja!" sahut Malik terkekeh.


Malik merobek dan membuka bungkusan dari Fatma dan Evans. Ia tersenyum lebar melihat sekotak alat pengaman pria dan voucher menginap di hotel bintang lima di luar kota selama 5 hari 4 malam.


"Wah, kali ini aku seperti nya di dzalimi deh!" Elisa berpura-pura kesal.


Padahal dia juga menginginkan hal itu. Dulu mereka melakukan nya dengan terburu-buru. Kali ini keduanya akan melakukan dengan rasa penuh cinta dan santai tanpa ada hambatan.


Kado sudah dibuka. Pengantin baru tertidur karena letih seharian menyalami tamu. Mulai malam ini keduanya bisa memulai kehidupan baru yang penuh dengan kebahagiaan.


Keduanya tertidur dengan perasaan damai. Senyum tipis terukir dari keduanya walaupun mereka tengah tertidur.


*


*


*Bersambung di 1 bab akhir.


Selamat membaca semua. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa dukungan nya. Terimakasih kepada semua yang sudah mendukung karya pertama author dari awal sampai akhir. Jangan lupa follow Author juga ya.

__ADS_1


__ADS_2