Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 122. Rencana pernikahan


__ADS_3

Fatma dan Evans sudah menyebarkan undangan pernikahan mereka. Mereka berdua tengah sibuk dengan fitting baju pengantin dan memilih aneka makanan catering yang akan di sajikan nantinya. Seminggu lagi acara itu akan dilaksanakan. Sedangkan Malik dan Elisa harus bisa bersabar menunggu Nissa yang masih harus dibujuk secara halus. Rencana Elisa mengajak Nissa kemarin memang berhasil. Tapi, Elisa mau Nissa lah yang memintanya langsung untuk menjadi ibu sambung untuk nya. Malik dan Elisa sudah berniat pindah dari rumah sederhana itu. Mereka mencari lahan kosong yang strategis agar lebih mudah mendapatkan akses ke kota.


Sumiyati, Sugeng, Elisa dan Malik tengah berada di ruang tengah setelah Nissa berangkat ke sekolah. Sumiyati memulai pembicaraan.


"Nak malik, ibu gak mau pindah kalau rumah kalian sudah jadi nantinya!" Sumiyati sendu.


"Kenapa begitu bu? ikutlah bersama kami!" Elisa yang menyahut.


"Gak bisa nak! ibu masih betah hidup dirumah ini. Rumah ini begitu banyak menyimpan kenangan anak-anak ibu!" Sumiyati berucap.


"Tapi bu, kami bangun rumah juga agar bapak dan ibu ikut pindah bersama kami. Kami ingin melihat kalian berdua bahagia!" seru Malik.


"Kami sudah lebih dari cukup bahagia karena kamu sebentar lagi akan menikah nak!" Sugeng yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.


"Bujuklah ibu pak, kami ingin hidup dengan kalian!" rayu Malik pada keduanya.


"Iya bu, pak! rumah ini nyaman tapi terlalu kecil untuk kita! apalagi kalau kami sudah memiliki anak yang banyak nantinya!" rayu Elisa.


"Biarlah kalian yang pindah! kami akan tetap disini nak!" Sumiyati tersenyum tipis.


"Apa ibu masih saja menunggu kedatangan kak Pah dan kak Mah? mereka berdua tidak akan pernah pulang kesini lagi bu!" seru Malik.


Sumiyati menunduk dan diam.


Ternyata inilah alasan sebenarnya kenapa Sumiyati tak mau pindah.


"Tolonglah pak, bu! jangan terlalu berharap kepada mereka berdua! sudah lebih dari setahun mereka tak memberi kabar!" Malik nampak putus asa.


"Tapi mereka tetap anak kami! mbak kamu nak!" sahut Sumiyati lesu.


"Apakah pantas mereka aku panggil mbak? apakah pantas mereka berdua kalian panggil anak? dimana mereka selama ini yang tanpa kabar?" Malik mulai tersulut emosi.


"Mas, sabar mas Malik!" ucap Elisa sambil mengelus pundak Malik.


Malik menghela nafas kasar.


"Maaf kan Malik pak, bu. Mereka berdua sudah Malik anggap tiada sedari dulu. Itu karena kesalahan mereka juga yang tak mau memberikan kabar nya selama ini." Malik berusaha tenang dan tak terbawa emosi.


Ia sudah malas berurusan dengan kedua kakaknya yang tak kunjung pulang kampung. Apalagi sudah setahun lebih tak pernah memberikan kabar.


"Terserah kamu nak! mereka tetap anak ibu dan bapak!" Sumiyati berusaha tersenyum. Suaranya bergetar menunjukkan kesedihan.


"Mas, kamu kan harus ke Apotek! ayo kita berangkat sekarang!" ajak Elisa.


Ia tak mau Malik beradu argumen dengan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku mau kekamar dulu mengambil ponsel!" Malik segera beranjak dan bergegas masuk kedalam kamar.


"Maaf kan mas Malik ya bu, pak! mungkin mas Malik hanya kecewa dengan kakaknya." Elisa sungguh kasihan melihat keduanya muram.


"Tak apa nak Elisa, sedari dulu Malik memang seperti itu kalau menyinggung tentang kedua kakaknya!" Sugeng berkata pelan.


"Kalau begitu kami berangkat dulu pak, bu!" Elisa menyalami tangan kedua orangtua Malik dan berjalan keluar rumah.


Malik menyusul Elisa tanpa berkata sepatah katapun kepada kedua orangtuanya.


Ia masih tak percaya kalau orangtuanya masih saja berharap kedatangan kedua kakaknya yang tak pernah kembali.


Elisa dan Malik berada di dalam mobil.


"Mas, jadi kapan nih kita menikah?" tanya Elisa.


"Kita tanya Nissa juga ya! biar dia berpikir kalau kita menganggap nya sebagai seorang yang berarti buat kita!" Malik tersenyum.


"Oke kalau begitu! tapi aku maunya yang sederhana aja ya! gak usah mewah kaya Fatma dan Evans. Ini kan bukan pertama kalinya kita menikah mas!" bujuk Elisa.


Ia tak mau membuang uang hanya untuk pernikahannya kali ini. Sementara Malik, walaupun ini pernikahannya yang ke-dua. Ia mau berpesta selayaknya orang kebanyakan.


"Tapi, aku mau kita mengadakan resepsi lho! bukan cuma akad nikah saja!" Malik usul.


"Oke sayang! semoga nanti kamu berubah pikiran!" Malik hanya tersenyum jahil.


Selang 15 menit berlalu.


Keduanya keluar dari mobil dan sampai di Apotek. Belum banyak pelanggan berdatangan.


Keduanya mulai mengatur letak obat-obatan yang baru datang.


Karyawan Malik hanya menggeleng kepala ketika melihat bos mereka rajin dan mau berbaur.


Apotek mulai rame, Elisa duduk di kursi yang sudah Malik siapkan. Sementara Malik membantu karyawan nya melayani pembeli.


Ada pria yang Malik kenal masuk. Ia mau membeli obat anti nyeri.


Pria itu melihat Malik dan mengamati.


"Mbak, saya mau dilayani oleh mas yang itu!" tunjuk pria tadi.


"Maaf pak! beliau sedang sibuk di kasir! biar saya saja yang melayani kebutuhan anda!" Yeni karyawan Malik menolak halus.


"Baiklah biar saya pesan dulu! nanti bayarnya disana kan?" tanya pria itu.

__ADS_1


"iya pak, silahkan bapak mau obat apa?" tanya Yeni ramah.


Pria itu memesan obat dan Yeni menaruhnya di depan kasir.


Pria itu melangkah mendekati konter pembayaran. Ia tersenyum licik, dan melihat Malik dengan raut wajah geram.


"Semuanya lima puluh enam ribu saja pak!" Malik sudah mendongak menatap sang pelanggan.


"Owh, jadi kamu sekarang sudah pulang dan bekerja disini!" ucap pria itu sinis.


"Iya begitu lah!" Malik tak menanggapi.


"Ini uangnya! kembaliannya kamu ambil aja!" ucap pria itu sombong.


Malik menerima nya dan mengucapkan terimakasih. Kemudian ia memanggil Yeni.


Pria itu masih mengamati Malik.


"Sebentar bos ya kesananya!" sahut Yeni sedikit berteriak.


"Bos, gak salah tuh orang jadi bos!" sinis pria itu lagi. Dia masih belum keluar ruangan.


"Bapak baru tahu ya kalau pak Malik itu bos disini?" tanya seorang ibu-ibu yang mendengar ucapan pria tadi.


"Gak mungkin dia bos disini bu!" sanggah pria itu lagi.


"Mas Malik memang bosnya pak! kemarin mas Malik syukuran karena sudah melunasi biaya pembangunan Apotek ini pada pak dokter Evans!" terang ibu itu.


"Ah sudahlah bu! saya tetap tidak percaya!" pria itu pergi menjauh sambil menggerutu.


"Gak mungkin orang seperti dia itu jadi seorang bos!"


Pria itu masih benci kepada Malik yang tak lain dan tak bukan adalah mantan suami dari istrinya yang sekarang ini.


Sementara Malik dan Elisa yang sudah lapar meninggalkan Apotek dan menuju rumah makan terdekat. Mereka makan siang bersama sambil merencanakan kelanjutan kisah percintaan mereka. Sebentar lagi pesta pernikahan Fatma dan Evans setelah itu barulah Elisa dan Malik.


*


*


*Selamat membaca.


Sebentar lagi bab akhir akan tiba. Jadi di tunggu terus kelanjutan kisah cinta Malik dan Elisa. Apakah pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar?.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak. Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2