Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 3. Dialah Fatma.


__ADS_3

Suatu pagi di rumah pak Ahmad.


Terlihat Malik memasuki halaman rumah


majikannya, dia sumringah hari ini bisa narik


seperti biasa. Kemarin setelah pulang, dia


kepikiran angkotnya yang belum selesai di


servis.


"Untunglah Andi cekatan. Jadi hari ini


rejeki ku gak kepatok ayam," ujarku dalam hati


sambil menarik nafas lega.


Dari dalam rumah. Terlihat seorang gadis


berpakaian ala kantor. Memperhatikan pria di


halaman rumahnya.


Wajahnya tersenyum penuh makna. Terlihat


pria itu sudah memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum, buk, pak," terdengar pria


itu memberikan salamnya.


"Waalaikumsalam mas, masuk aja kuncinya


ada di tempat biasa!" jawab gadis tadi.


"Udah rapi kamu Fat, mo kemana jam segini?"


pria itu bertanya sambil mengernyitkan dahi


dan menelisik gadis manis di depannya.


"Oh....ini mas, Fatma mau interview kerja di


anak cabang perusahaan Forest, di kota


sebelah." Jawabnya sambil sumringah.


"Wah...keren kamu Fat, gak lama lulus kuliah


udah mau kerja aja...hebat," sambil


mengacungkan jempolnya.


"Fatma tuh mau interview mas, bukan mau


kerja kok," sanggahnya.


"lha, emang intrepiu itu gak kerja gitu?" Malik


bertanya sambil mengangkat kepalanya sok


mikir keras ...ha..ha.


"Hadeuh," dengus Fatma sambil menepuk


jidatnya. Dia melanjutkan perkataannya.


"Interview mas bukan intrepiu...I-N-T-E-R-V-I-E-W, interview itu


wawancara kerja mas, jadi kalo udah lulus


interview baru deh kita di panggil buat


memulai kerja," Fatma menjelaskan panjang


kali lebar, selebar jalan kenangan bersama


mantan 😄.


Malik hanya manggut-manggut tanda mengerti


walaupun tak sepenuhnya dia paham,


perkataan gadis di depannya ini.


"Semoga lulus ya Fat, biar kamu gak terjebak


di kampung ini, kan enak tuh kerja di kota. Pasti


nanti banyak pria kota yang suka ama kamu.


Secara kamu kan manis kayak gula,


he...he...he..," Malik menggoda gadis di


depannya.


Fatma menunduk sambil tersenyum malu


mendengar perkataan pria di depannya.


"Dikatain kek gitu sama cowok yang disuka.


Gimana gak mau terbang coba," Fatma berkata


dalam hati.


( Busyet dah lu, turun woi kagak usah terbang, gak balik kapok lu, gue tendang dari karakter novel gue😜 suara hati Author )


"Gak mau ah mas kalo jadi gula. Nanti di


kerubung semut dong. Kalau semutnya mas


Malik ya gak masalah," sahutnya sambil


menatap pria di depannya.

__ADS_1


Gleeekkkkk......


Malik menelan salivanya.


"Baru kali ini Fatma


terang terangan kek gitu. Ada yang salah kali ya


sama dia," suara hati Malik.


Tiba tiba Malik menempelkan telapak


tangannya ke dahi Fatma. seketika perempuan


itu langsung terlonjak kaget.


"Gak kayak biasanya mas Malik spontan kek gini," katanya dalam hati.


"Dahi mu gak panas kok. Normal kaya punyaku.


Tapi kenapa hari ini kamu beda ya?" tanya


Malik penasaran.


"Beda apanya sih mas, perasaan dari dulu


aku tuh ya ...gini gini ajah, ngayal kali mas


Malik," jawab Fatma tersenyum.


"Udahlah mas, aku permisi sekarang, dijalan


ajah nanti harus pake waktu 40 menit. Belom


lagi naik ojek ke kantor Forest. Gawatkan kalo


telat," Fatma menghentikan obrolannya.


"Oke deh, lanjut ajah. Good luck ya Fat,


semoga lulus wawancaranya dan bisa


langsung kerja disana... Aamiin," Doa tulus


Malik kepada Fatma.


"Para orangtua sepertinya sibuk di dapur. Aku


ngobrol sama anaknya aja bisa sampe gak


tau," suara hati Malik.


Dia melangkahkan kakinya ke ruang belakang mencari majikannya untuk pamit narik angkot pagi ini.


...----------------...


Sementara Malik berangkat kerja mengejar


setoran. Dilain sisi, dua orangtuanya


mengobrol santai akan anaknya yang sudah


( Eitssss yang jomblo cung ☝️ Author doakan supaya gak jones tapi jadi jojoba ya😂🙏)


"Pak, gimana ya pak anak kita, sampe


sekarang kok ya betah sendiri. Kasian Nissa lho.


Dia butuh figur seorang ibu." Ibu Sumiyati


memulai obrolan dengan sang suami dengan


tampangnya yang agak kuatir.


"Kita harus ngapain lagi buk, lha wong


Maliknya sendiri yang pengen sendiri dulu.


Bukannya ibu tau sendiri. Banyak gadis


kampung yang terang-terangan suka sama dia.


tapi dianya biasa aja tuh." Balas pak Sugeng


santai.


"Iya juga sih pak, bahkan anak pak Ahmad. Si


Fatma jelas-jelas sering kemari dan ngajak Nissa bermain tujuannya ya itu, suka sama anak kita. Dia gadis baik dan penyayang tapi, sayang sekali. Malik hanya melihatnya sebagai teman dan adik sendiri," Bu Sum menarik nafasnya yang terasa berat.


"Pasrahkan saja semuanya sama Allah buk.


Kalau dah jodoh tak kan kemana. Lagian kita


udah tuwir buk. Gak pantes ngurusin anak


muda. Kita arahin saja Malik biar jadi lelaki


yang bertanggung jawab dan kuat


menanggung biaya hidup...eh...beban hidup


maksudnya." Pak Sugeng cengengesan.


"Bapak nih bisa-bisanya becanda. Orang lagi


ngomongin hal anak kok." Sungut bu Sum


kesal.


"Udahlah buk gak usah serius amat kalo punya


masalah hidup. Kita kan udah tua. Ngapain juga


mikir yang berat-berat. Nanti pikiran tambah


mumet, biarkan aja lah Malik dengan

__ADS_1


keputusannya. Lha wong anak kita udah pernah


berumah tangga kok. Mungkin dia memilih


berhati-hati takut salah pilih lagi." Pak Sugeng


mengakhiri obrolannya dengan sang istri


sambil beranjak menuju belakang rumah.


"Tapi ibu lebih percaya sama Fatma,


dibandingkan gadis lain. Cuma dia yang peduli


sama Nissa. Gadis lain mana ada kek gitu.


Bertamu juga nanya Malikkkk terus gak pernah


nanya Nisa, gadis centil" batin Bu Sum sambil


berlalu pergi ke kamar cucunya.


Siang hari yang terik ini. Terlihat Annisa


memejamkan matanya tanda tidur pulas. Di


elus-elusnya kening sang bocah dengan


teratur. Mata neneknya sungguh sayu


melihat cucu kesayangannya yang hidup


tanpa belaian dan kasih sayang seorang ibu di


sisinya.


"Cucu nenek harus jadi gadis yang kuat dan


tabah ya sayang, suatu saat kamu dan ayahmu


akan bahagia serta menemukan sosok wanita


yang akan menemani kalian sampai dewasa," lirih sang nenek disamping cucunya yang masih tertidur pulas.


...----------------...


Terlihat seorang gadis berjalan dengan


tergesa-gesa. Matanya berbinar tanda bahagia.


Kabar ini harus segera di beritahukan pada


orangtua kesayangan serta kakak satu-


satunya.


"Ibuk, bapak, mas Toni," teriak gadis itu tak


sabar.


Orang di dalam rumah langsung berlari.


mendengar suara gadis itu berteriak. Berpikir


yang tidak-tidak. Mereka khawatir terjadi apa-apa


dengan putri satu-satunya.


"Ada apa nak? kenapa teriak gitu sih?" tanya


ibu kuatir.


"Ibuk," gadis itu merangkul dan memeluk


ibunya sambil tertawa senang.


Sang ibu hanya mengernyitkan kening tanda


heran.


"Fatma keterima jadi sekretaris di anak


perusahaan Forest buk. min3ggu depan sudah


bisa langsung masuk kerja." Tuturnya


antusias.


Bapak dan saudara lelaki yang mendengarnya


langsung mengucap syukur tanda bahagia.


"Alhamdulillah," jawab mereka serentak.


"Kali ini kamu gak boleh menyia-nyiakan


kesempatan ini nak. Artinya kamu harus bisa


bekerja keras tapi harus ingat batasan bergaul


dengan partner kerja." Nasehat Ibu pada anak


gadisnya.


"Iya buk, pak, mas. Fatma akan bekerja keras


meraih cita-cita. Terimakasih sudah


mendukung Fatma selama ini. Aku gak akan


mengecewakan kalian kok," ujar gadis itu


berapi-api.


Mereka sekeluarga menuju ruang tengah


sambil bercengkrama dan menikmati indahnya

__ADS_1


kebersamaan di hari itu.


__ADS_2