Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 4. PSG -- Persatuan supir gesrek


__ADS_3

Hari sungguh terik, tidak terasa saatnya


makan siang tiba. Ku parkirkan kendaraanku


di tempat biasa di pangkalan angkot.


Ku edarkan pandanganku pada tiap-tiap


orang yang berlalu lalang, sambil mencari


orang-orang yang sudah biasa menemaniku


makan siang.


...----------------...


Kulihat bapak-bapak seprofesi denganku


melambaikan tangannya, tanda menyapa


dari jauh.


Beginilah hidup di jalanan mencari


nafkah, kami tidak menganggap supir lain


adalah saingan, tapi adalah teman berbagi rasa


dan lelah.


Ku masuki sebuah warung makan


langganan, dan ternyata tepat sekali,


mereka sudah ada disana.


"Woiiii.....Mj sini kamu, malah celingak


celinguk disana," teriak seseorang


memanggilku.


"Yaelah, udah disini aja bang!, pantesan


dicariin diluar tadi kagak ada, udah nemplok


disini rupanya," ku balas teriakan pria tadi.


"Eh artis angkot kita dateng nih," celetuk


seorang pria di sebelahnya lagi.


Aku hanya terkekeh mendengar mereka


memanggilku. Mereka sengaja memanggil


Mj ( eitss...ini bukan Michael Jackson penyanyi


legendaris ya, tapi namaku Malik Jayadi...he )


ataupun artis angkot.


Wajahku yang tidak kalah tampan dengan


model majalah cover boys, dan satu lagi disini


mereka selalu saja berkata kalau aku mirip


dengan Reski Aditya, artis sinetron yang


terkenal itu, hanya saja nasib kita yang


berbeda.


Kuhampiri meja mereka sambil tersenyum


lebar.


"Kalian ini ya kalau gak godain aku


sehariiiii.... aja gak bisa kayaknya, aku kan


pengennya di godain cewek bukan di godain


pak-bapak kayak kalian," sungut ku sebal yang


hanya berpura pura saja.


"Artis kita lagi kenapa nih, kurang kasih


sayang ya mas," gurau mas Yanto sambil


tergelak.


"Lagi PMS kali," celetuk yang lain sambil


tertawa.


Serentak kami tertawa lepas bersama. Kalau


sudah ngumpul begini, beban pikiran yang


menumpuk, sejenak bisa berkurang.


Merekalah teman-temanku di pangkalan yang


selalu menghibur, banyolan mereka tiada


duanya. Apalagi hanya aku yang selalu jadi


bahan candaan buat mereka, maklumlah


mereka semua sudah menikah dan punya


anak, sementara aku kan sudah jadi orangtua


tunggal alias duda tapi duda keren lohhh.


"Kita-kita udah pada mesen makan lho, Mj


pesen aja makan, nanti bayar sendiri ya!! mas


Yanto berceloteh lagi.


"Sekali-kali mbok ya dibayarin gituhhh, gak

__ADS_1


kasian ya sama aku yang sendirian tanpa


istri??."


Aku berusaha sok memelas.


"Cup..cup....cup... nanti abang traktir ya!, abang


beliin permen deh biar diem," timpal bang Udin


yang satu majikan denganku.


"Aishh.....kalian ini selalu anggap aku anak


kecil, mentang mentang udah bangkotan,"


gurauku sambil meledek mereka.


"Ni anak kayaknya harus dikasih pelajaran


woii, masak kita di katain bangkotan, asem


sekali , ketek ku aja kagak asem lho." Balas


mas Rudi tak terima dengan tampang yang di


buat-buat sangar.


"Kalau kalian udah ngumpul, warung ku pasti


rame, bukannya rame pelanggan, ramenya


tuh gegara kalian, ngoceeeeehhhhhh terus


gak kelar-kelar." Mbok lastri pemilik warung


menimpali ocehan kami sambil membawa


nampan berisi minuman pesanan


kami semua.


"Artis kita nih mbok, udah macem-macem


sama seniornya!," imbuh Mas Memet, supir


angkot kampung sebelah.


"Ha...ha..ha..kok ya bisa ngatain Malik artis,


udah jelas gantengan nak Malik lah." Mbok


Lastri membelaku sambil tersenyum.


Aku yang jadi bahan obrolan mereka, hanya


bisa sumringah saja.


"Udah mbok tawarin anak bungsu si mbok


sama nak Malik, eh nak Malik malah nolak


mentah-mentah, anak si mbok kan gadis


murung sebelum pergi meninggalkan


meja kami.


Ku gapai lengan rentanya sambil tersenyum


"Mbok, bukan karena fisik aku menolak Retno,


dia kan masih muda, dia pantas mendapatkan


pria yang lebih layak daripada aku."


"Iya nak, si mbok tau, ya sudahlah bentar lagi


makanan kalian udah siap, di tunggu aja,


Retno yang kemari nanti." Sambil berjalan


meninggalkan kami.


Suasana yang terasa canggung karena


ucapan mbok Lastri tadi, akhirnya sudah


mulai mereda.


Tiba-tiba......


Braakkkkk......


Terdengar suara meja yang di gebrak oleh


seseorang. Kami semua terkejut dan serentak


menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu nih, ngagetin saja, untung manusia


disini pada kuat jantungnya, kalo gak


bisa-bisa ada yang stroke mendadak." Mas


Yanto menoyor kepala bang Memet yang


di teriakin huuuuuu sama teman-teman


yang lain.


"Lagian kaku amat sih, tegang amat kayak


lagi jalan di kuburan, makanya kugebrak


ajah mejanya biar rame, biar seru juga sih


....he he...peace," sambil membentuk jari


telunjuk dan tengah membentuk huruf V.


"Makanan kita dah dateng tuh." Tunjuk mas


Yanto kearah Retno yang membawa nampan

__ADS_1


berisi makanan.


"Gara-gara Mj nih kita kelaperan, nunggu


dia tuh bentar tapi berasa lama," cibir


bang Udin.


Tak kutanggapi ucapannya, karena aku tau


dia hanya bercanda. Retno hanya tersenyum


pada kami, tidak ada sepatah katapun yang


keluar dari mulut mungilnya.


Kami makan dengan santai, warung


makan ini memang berbeda dari yang lain,


rasanya enak dan porsi yang di tawarkan


lumayan banyak. Harganya juga sama


seperti warung lainnya.


Itulah yang membuat geng kami


betah makan di tempat ini dan tidak bisa


pindah ke warung lain.


...----------------...


Kami sudah mulai beroperasi lagi ( narik


angkot ya maksudnya 😁). Melangkah


ke arah kendaraan masing masing


dan mulai melanjutkan pekerjaan


yang tertunda.


Ku telusuri jalanan kampung lagi, berharap


masih ada orang-orang yang mau pergi ke kota


ataupun pergi ke kampung lainnya.


Satu persatu kendaraanku yang kosong


mulai terisi penumpang, ya walaupun


tak penuh, setidaknya kan lumayan bisa


menambah kebutuhan dapur.


Terdengar bisik-bisik di bagian belakang.


"Eh... itu mas supirnya ganteng ya, lumayan


kan bisa cuci mata," seorang gadis berkata.


"Beneran deh, kalo di permak penampilannya,


pasti kalah tuh artis ibu kota," timpal gadis


lainnya.


"Kalian kalo ada cowok bening, kebiasaan


banget ya, nyerocos gak ada henti-hentinya,"


sungut yang lain.


"Huuuuuuu.......," seru mereka bersamaan.


Aku yang jadi bahan obrolan mereka,


hanya bisa tersenyum sambil


menggelengkan kepala perlahan.


"Remaja sekarang memang beda,


terang-terangan sekali kalo ngebahas


cowok," batinku.


Hari mulai beranjak senja, ku kendarai


motor butut kesayanganku menuju rumah


setelah memulangkan kembali angkot dan


membayar uang setoran seperti biasa.


"Tumben tadi Fatma gak keluar menyapaku?


apa mungkin dia sudah punya pria yang di


sukainya? ya semoga saja begitu, itu lebih


baik baginya," batinku.


Jalanan senja ini entah kenapa terasa


lengang, ku kendarai motorku dengan pelan.


Terlihat di samping jalan ada seorang wanita,


membawa bungkusan plastik dan tas


punggung yang besar.


Sepertinya aku mengenal wanita tadi, otakku


berkelana, ketika aku melintas disampingnya


perasaanku mulai tak karuan. Kulihat dia dari


kaca spion motor. Benar saja, dia.......


Wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2