
Siang ini setelah menyiapkan semuanya. Dan menghubungi siapa saja yang mau bergabung dengan kami. Kami melanjutkan aksi berlibur ke pantai M.
Setibanya disana kamipun mulai memesan tiga kamar penginapan. Agar orang-orang tak curiga dengan rencana kami.
Kami tujuh orang. Dua pria dan lima wanita.
Setelah itu kami langsung berbondong-bondong ke pantai melihat matahari tenggelam.
Sudah lama aku tak merasakan keindahan ini.
Apalagi di temani wanita-wanita cantik nan bening disisi. Semilir angin dan sapuan ombak mengiringi langkah kami. Kami bermain air laut dan saling berkejaran.
Setelah dirasa cukup Kami menikmati malam-malam indah kami. Di malam hari kami bercampur baur ketika suasana penginapan sepi. Kami bertukar kamar. Pindah dari kamar satu ke kamar lainnya.
Sudah tiga hari kami melakukan ini. Dan saatnya kembali ke realita.
...----------------...
Seperti biasa kami melakukan pekerjaan ini.
Tapi, sejak sore hari perasaan ku tidak enak. Terasa ada sesuatu yang mengganjal. Kutepis selalu pikiran itu agar tidak mengganggu pekerjaan nanti malam.
Orang tua Dendi yang sudah pulang menghampiri kami di ruangan keluarga.
"Den, gimana kerjaan kalian di luar kota. Semua beres dan aman kan?" tanya bapak Dendi.
"Aman pak. Semuanya beres," kata Dendi berbohong.
Aku hanya mendengarkan tanpa menimpali sepatah katapun.
Mereka bertiga menatapku heran. Mungkin tidak biasanya aku jadi pendiam seperti ini.
"Nak malik kenapa?" tanya ibu Dendi.
"Gak pa-pa bu. Hanya kepikiran Nissa saja." Jawabku berbohong.
Ya begitulah. Selama ini memang aku tidak lupa pada Nissa tapi, bukan berarti pula aku memikirnya berlebihan.
"Tumben mas. Biasanya gak pernah bahas Nissa." Dendi berujar seperti dia tau arah pikiranku.
"Mungkin karena lama gak ketemu aja Den. Makanya mulai kangen sama Nissa." Jawabku sambil tersenyum kaku.
Mereka bertiga hanya ber oh ria.
Malam ini kami mengantarkan barang seperti biasa. Tangan mulai keluar keringat dingin. Rasa khawatir terlampau kuat. Sebelum masuk lokasi jalan tikus. Perutku bergejolak. Aku masih sanggup menahannya sampai kami tiba.
Mereka mulai beraksi memindahkan barang selundupan.
Aku yang merasa lemas. berjalan menjauhi kerumunan. Aku masuk kearah hutan dan muntah disana.
Terlihat ada gerakan di balik dedaunan di depan sana.
"Tunggu dulu. Semua orang sibuk. Tapi, kenapa ada beberapa yang mengintip di balik dedaunan?" Tanyaku dalam hati.
Kuraih ponsel di saku celana.
"Ck...astaga. Bisa lupa bawa ponsel dan dompet. Niat hati ingin mengirim SMS ke Dendi. Di depan mereka ada orang-orang yang bersembunyi." Lirihku seorang diri.
__ADS_1
Aku mulai bersembunyi dan menjauh dari mereka. Mungkin ini lah firasat yang sedari tadi menggangguku.
Orang-orang itu berlarian dan saling berhamburan tak tentu arah. Ternyata mereka sudah terkepung aparat hukum.
Di belakang ku juga ada yang mengikuti. Dia seorang diri tanpa suara. Aku tak kehilangan akal. Aku bergerak ketika dia bergerak. Jadi, suaraku seakan samar akibat gerakannya.
Dia dipanggil aparat yang lain. Dan aku dengar sekelebat percakapan mereka.
"Gimana si supir? apa sudah ketemu?" Tanya polisi satu.
"Belum. Tapi tadi dia tidak jauh dari sini. Saya akan mencarinya lagi pak," jawab polisi dua.
"Disana butuh bantuan kita. Sebaiknya kita kesana dulu!" Suruh polisi satu.
"Baiklah pak," jawab polisi dua.
Mereka berlari kearah kendaraan tadi.
Aku melihat kesempatan ini. Jauh aku memasuki hutan. Berlari dan terus berlari.
Gelapnya malam tak menyurutkan langkahku.
Brugh....
Kakiku tersandung akar pohon. Kepalaku terantuk ke tanah. Aku memegang kening. Ada cairan hangat keluar.
"Darah. Keningku berdarah." lirihku kesakitan.
Ditengah kesakitan, Aku terus-menerus berjalan. Tak kuhiraukan kaki yang terkilir akibat tersandung tadi. Darah di kening sudah mulai mengering.
Pekatnya malam mulai menghilang perlahan.
Kakiku sudah letih. Burung berkicauan menandakan fajar mulai terlihat.
Pandanganku menatap sekeliling.
"Disana. Aku harus kesana," sambil menyeret langkah kakiku.
Ada jalan perkampungan kecil di depan sana.
Walaupun tidak ada tanda-tanda kehidupan di jalan sana. Setidaknya aku harus mencobanya.
"Hah...hah...hah." Nafasku tersengal, tenggorokan kering dan badanku terasa sakit semua.
Aku terus menyeret kakiku tanpa henti.
Tiba di jalan kecil tiba-tiba.
Ciiiiiittt.
Lenganku terantuk sebuah benda yang keras.
Kepalaku berkunang-kunang. Tubuhku spontan terbaring Dan aku sudah tidak ingat apapun lagi.
...----------------...
*Tokoh utama wanita POV.
__ADS_1
( Maaf semua Elisa baru muncul. Authornya ngumpetin lamaa banget. Padahal Elisa juga gak sabar untuk muncul ke permukaan 😁 )
Hari ini aku yang meliburkan diri pergi menemui ibu angkatku di kampung w.
Biasanya aku bepergian selalu di antar oleh supir pribadi. Tapi, sudah hampir sebulan. Supir ku mengundurkan diri dan aku belum menemukan orang yang cocok untuk menggantikannya.
Pagi ini aku bersiap.
Di kursi roda ruang tamu, ada pria yang seumuran dengan almarhum ayahku. Dia hanya bisa melirikkan matanya tanpa bisa bersuara. Gerakannya lambat sekali.
Aku pamit padanya. Kuintip dua kamar bersebelahan. Mereka masih tidur dengan lelap.
"Ngapain juga aku pamit sama mereka. Menyebalkan sekali. Mereka juga tidak pernah menghormatiku selama aku disini." Batinku.
Aku memanggil ART ku. Dan menyuruhnya mendorong kursi roda itu kembali masuk kekamarnya.
Di depan sana. Bapak Marjuki sedang memotong rumput. Beliau berhenti ketika melihatku berjalan ke arah mobil yang terparkir rapi di garasi rumah.
"Pagi nyonya Lisa," Senyumnya ramah.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya.
Hanya Bu Minah dan pak Marjuki yang menghormatiku di rumah ini.
Ataukah mungkin juga mereka terpaksa berbuat seperti itu.
Aku singgah sebentar ke toko onlineku. Toko ini aku besarkan dengan susah payah. Memang tidak besar. Tapi, setidaknya aku tidak akan menjadi parasit dalam keluarga besar Cahyono.
Keluarga itu tidak rela aku hidup mewah seperti ini. Semenjak Tuan Cipto cahyono mempunyai penyakit Stroke. Selalu saja aku yang disalahkan. Mereka berpikir akulah penyebabnya. Padahal aku tidak tahu apapun tentang penyakit yang menyerangnya itu.
Kulajukan kembali mobil yang ke arah perkampungan. Cukup jauh dari kotaku tinggal.
Tapi, aku sudah tidak bisa menahan rasa rindu kepada ibu sambungku. Yang sudah mau mencintai dan menyayangiku setelah ibuku tiada.
Aku melewati jalan perkampungan. Disekeliling hanya terdapat pohon berbagai macam.
Ku buka jendela mobilku dan mematikan AC.
Udara bersih yang kurindukan. Terdengar burung berkicauan. Aku menikmati sekeliling karena disini sepi. Saat aku melihat kearah depan kembali. Aku melihat bayangan sekelebat dan.
Ciiiiittt.
Aku menginjak pedal rem mendadak.
Bruagh.
Terdengar suara benturan.
"Astaga. Apa tadi?" Tanganku bergetar memegang kemudi.
Aku ragu ingin melihat keluar atau tidak.
Setelah lama berpikir dan aku penasaran dengan benturan tadi. Aku keluar perlahan.
Ku buka pintu mobil. Kuberanikan diri melangkah dan melihat siapa atau apa yang terkena benturan mobilku tadi.
Aku terpaku. Melihat seorang lelaki yang keningnya berlumuran darah yang sudah mengering. Pakaiannya terlihat lusuh. Dia mengenakan Hoodie hitam dan jeans panjang berwarna biru. Kutelisik wajahnyanya secara perlahan. Dia memang butuh bantuanku.
__ADS_1
Sampai sekarang dia belum juga tersadar dari pingsannya.