
Sudah 3 hari aku di puskesmas ini.
Ini hari terakhirku disini. Walaupun belum sembuh sepenuhnya setidaknya aku harus cepat keluar dari sini dan mencari pekerjaan.
Ibu dan anak itu telah membantuku selama ini.
Aku mencari baju yang aku pakai kemarin. Setidaknya hanya itulah baju yang melekat di badanku saat itu. Aku terduduk lesu.
"Mau keluar dari sini. Masak kudu pake baju pasien kaya gini. Mana bunga-bunga lagi, huh." Kesalku sambil mengucek hidung.
"Setelah keluar dari sini, apa yang akan aku lakukan? Ponsel dan tabungan masih ada di rumah kontrakan bos David. Apakah aku harus kesana?" pikirku keras.
Tap...tap...tap.
Ada langkah kaki mendekat. Aku mengikuti asal suara.
*Klek.
Pintu terbuka dengan lebar. Ibu dan anak ada didepanku.
"Kamu kenapa mas Adi? mukanya kok murung begitu?" tanya Elisa.
"Lagi nyari baju yang saya pakai kemarin. Tapi, malah gak ada." Jawabku lirih.
"Gak usah pake lagi mas! Ini saya kasih yang baru. Baju itu ada bagian yang sobek, udah gak layak pakai." Terang Elisa.
Dia menyodorkan tas kertas tebal yang besar kearahku. Aku menerimanya dan membuka isinya.
Ada dua baju kaos. Satu jaket hoodie dan dua celana jeans yang berbeda warna.
"Tunggu. Ini semua apa memang untukku?" tanyaku mengerutkan kening.
"Iya nak Adi. Sudah pakai saja! Mau keluar dari sini gak sih?" bunda berseru.
"Emang muat ya bund? Adi kuatir gak muat nih." Ucapku ragu.
"Tenang saja mas Adi. Aku sudah lihat ukuran pakaianmu sebelum aku membuangnya. Pasti akan pas dan cakep kalau kamu memakainya." Lisa berterus terang.
"Baiklah aku ganti baju dulu!" sambil menuju ke arah kamar kecil.
"Kamu tuh Lisa, ingat di rumah ada siapa! Sudah punya kok malah muji cowok laen sih!" bunda kesal pada Lisa.
Aku hanya mendengar sayup-sayup percakapan ibu dan anak itu.
"Bunda, dari dulu Lisa itu terpaksa. Sampai sekarang Lisa bahkan belum merasa bahagia dengan keadaan ini." Lirih Lisa sambil menunduk.
Bunda menghela nafasnya. Beliau mengelus kepala Alisa.
Aku melihat mereka berdua terdiam setelah aku keluar dari kamar kecil.
"Wah...kamu ganteng banget nak Adi. Tinggal kumis sama janggut tipisnya aja yang harus di cukur...he...he..he." Bunda memuji sekaligus meledekku.
"Masa kaya gini ganteng sih bund?" kernyitku heran.
"Beneran cakep kok mas, keren lagi." Ucap Alisa semangat.
"Husshh." Bunda menepuk tangan Alisa.
"Iya bunda. Maaf deh." Lisa terlihat menyesal.
"Ini lebih bajunya. Siapa yang make?" tanyaku sambil menunjukkan sisa baju dan celana di dalam tas.
"Ya kamu lah yang make!" sahut ibu dan anak berbarengan.
Kami bertiga menatap bergantian.
Kemudian tertawa dengan kekompakan mereka berdua.
"Gak mungkin bunda yang make nak Adi." Jelas bunda.
__ADS_1
"He..he..he..Iya bunda." Cengirku lebar.
"Bunda dan mas Adi tunggu di mobil saja ya! aku mau ke konter pembayaran dulu." Lisa beranjak meninggalkan kami.
Aku dan bunda menunggu di mobil dan berbincang.
"Kamu kenapa bisa keluar dari hutan itu nak? untung saja tertabrak sama anak bunda." Kata bunda.
"Ha...tertabrak kok bisa untung ya bunda." Sahutku.
"Maksud bunda tuh, kalau bukan Lisa yang nabrak. Kamu mungkin gak akan diselamatkan.
Apalagi jalan itu sering sepi. Bisa-bisa kamu di buang kedalam hutan." Jelas bunda.
Aku hanya ber oh ria saja.
"Adi itu kehutan mau nyari burung bunda. Eh malah tersesat dan tertinggal kelompok." Terangku bohong.
"Mana mungkin aku bilang kalau aku lari dari kejaran polisi." Batinku.
"Seru amat ngobrolnya. Ngomongin apa?" tanya lisa yang langsung masuk ke tempat kemudi.
"Gak ada apa-apa kok Lis." Sahut bunda.
Alisa melesatkan laju kendaraannya.
"Mas Adi, nanti aku turunin dimana? kasih tau aja ya!" seru Elisa.
"Ehm...itu...duh. Gimana ya jelasinnya." Ucapku bingung.
"Emang kenapa nak? kamu orang sini kan?" tanya bunda heran.
"Ehm....sebenarnya Adi itu orang jawa bunda. Adi kesini ikut temen, kerja." Terangku.
"Jadi, sekarang nak Adi mau kami antar kemana?" tanya bunda lagi.
"Kemana saja lah bunda, asal Adi bisa ikut orang-orang kerja bund." Jawabku pasrah.
"Ikut kerumah bunda dulu saja nak! nanti kita pikirkan lagi kamu akan kemana setelah ini." Seru bunda.
"Tapi, Adi gak mau ngerepotin bunda dan Lisa." Sahutku mantap.
"Kamu tolong pak Ismail tetangga bunda. Beliau punya ladang dan kamu bisa bekerja di ladang dulu! kan lumayan ada kerjaan." Ujar bunda.
"Sudah seminggu ini beliau meminta tolong bunda. Tapi, bunda belom sempet mencari orang." Terang bunda.
"Saya ini orang asing bunda. Memangnya bunda dan Elisa percaya sama saya?" tanyaku.
"Kalau kamu memang berniat jahat. Seharusnya dari awal kamu melakukannya kan?" tanya bunda.
"Tapi kan bunda." Belum mengiyakan perkataan beliau. Elisa lebih dulu menyahut.
"Udah deh mas Adi! gak usah banyak alesan. Bunda itu mau bantuin kamu!"
Mereka berdua memang percaya padaku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
Hanya ini yang bisa aku lakukan.
...----------------...
Sudah satu minggu aku berada di rumah pak Ismail dan membantu beliau diladang.
Elisa sudah pulang kerumahnya di kota.
Sesekali aku berkunjung ke rumah bunda Marwah.
Menanyakan kabar beliau dan membantu hal-hal kecil dirumah.
Elisa, nama itu mulai terngiang di telingaku.
__ADS_1
Sejak beberapa hari ini pikiranku terganggu oleh kehadirannya. Baru kali ini aku merasakan kehadiran seorang wanita yang sangat berarti untukku.
Selama aku berada disini. Inilah pertama kalinya aku merasakan debaran yang begitu kencang.
Ingatan malam itu jelas sekali terlihat dan seakan membekas sampai sekarang.
*Flashback.
Malam itu. Kami bertiga makan malam dirumah bunda. Bunda mengundangku kesana, karena Elisa akan pulang ke kota besok paginya.
Ibu dan anak sudah menyajikan makanan di atas meja. Aku terpukau dengan adanya makanan yang banyak sekali.
"Bunda, makanan sebanyak itu. Memangnya bisa habis kita makan?" tanyaku takjub.
"Tenang saja. Lisa itu gak makan nasi, jadi kalau hanya segini bisa dia habiskan." Jelas bunda.
Aku mengalihkan pandanganku pada Lisa, dia tersipu malu ketika netra kami bertemu.
Dadaku berdesir melihat wajahnya yang tersipu.
"Bunda nih gimana sih? anak sendiri kok digituin. Padahal bunda juga banyak makannya lho." Sungut Lisa gak mau kalah.
"Iya nak Adi. Kami berdua emang banyak makan. Mari kita makan dulu!" ajak bunda.
Suara sendok beradu dengan piring. Selang berapa lama. Makanan habis tanpa sisa.
Ternyata kami memang pemakan yang ulung. Tapi, tenang saja badan kami bertiga tetap normal dan tidak kelebihan berat badan.
Aku menawarkan diri membersihkan peralatan makan yang kotor.
"Bunda duduk saja diruang tamu. Biar aku saja yang membereskannya." Tawarku.
"Gak usah nak, biar saja. Kan ada Lisa."
"Ya sudah bunda duduk saja ya!" aku mengantar beliau duduk di sofa.
Aku menghampiri Lisa di meja makan.
"Biar aku saja ya Lis yang membereskan!" Tawarku lagi.
"Gak pa-pa mas biar Lisa saja!" sahutnya.
Ketika kami mengambil piring. Kami tak sengaja mengambil piring yang sama. Tangan kami bersentuhan dan pandangan kami terpaku satu sama lain. Wanita ini sudah mencuri hatiku. Tatapan kami begitu dalam. Tangan masih tergenggam erat seakan tak mau lepas.
Melihat reaksi Elisa. Mungkinkah dia menyukaiku?.
"Ehem!" bunda berdehem dan menghampiri kami.
Tangan kami langsung terlepas, begitu pula pandangan kami. Kami berdua salah tingkah.
Bunda menatap kami bergantian.
"Nak Adi, temani bunda diteras yuk! biar Lisa yang membereskannya!" ajak bunda.
Hatiku masih berdetak kencang. Aku dan bunda menuju teras dan mulai mengobrol.
*Flashback off.
malam ini aku masih memikirkannya sambil melihat telapak tangan. Ya, tangan ini bersentuhan bahkan menggenggamnya dengan erat. Kulit Halus dan lembutnya seakan masih menempel di jemari tanganku.
Aku tersenyum seorang diri seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.
*
*
*
Selamat membaca dan jangan lupa selalu dukung karya author dengan cara like, komen, rate ⭐️ 5 dan vote kalau berkenan.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia.
🤗🤗🙏🙏😘😘