Supir Untuk Sang Nyonya

Supir Untuk Sang Nyonya
Bab 58. Rencana jebakan


__ADS_3

*Hendra Pov.


Keseharianku hanyalah menjaga warung dan melayani pembeli. Tapi, terkadang aku mendapat pekerjaan lain di luar sana. Pekerjaan yang lebih menguntungkan. Belum lama ini aku bertemu seorang bos kaya raya.


Mereka mengenalkanku langsung dan mengajak pergi ke perusahaannya.


*Flashback sebulan sebelumnya.


Aku pergi membeli bahan pokok ke sebuah pasar grosir. Di sana, ada beberapa pemuda dan dua orang berpakaian rapi. Terlihat jelas sekali bahwa mereka sedang membahas hal yang serius.


Aku menguping pembicaraan mereka sembari memilih bahan pokok untuk kebutuhan warungku.


"Kita kudu nyari satu orang lagi weehh!" Seru pria botak berpakaian formal.


"Iya pak, soalnya saya bisanya cuma seminggu 2 kali saja. Sedangkan bapak butuh yang seminggu 3 kali." Sahut pemuda kurus.


"Heh, kamu gak punya temen lagi apa? yang bisa nyupir truck gandeng." Tanya pria berpakaian rapi satunya.


"Kita cuma berdua saja selama ini pak. Kami gak mau ambil resiko kalau harus merekrut lain orang. Mending bapak saja yang cari!" seru pemuda lebih pendek.


Sepertinya ini kesempatan bagus untukku. Tadi mereka bilang kurang satu orang lagi dan menggantikannya hanya seminggu sekali saja.


Lumayan kan.


Aku sudah selesai memilih keperluan warungku. Dua plastik besar penuh dengan belanjaan. Aku berpura-pura lewat dan menabrakkan diriku pada salah satu dari mereka. Barang belanjaanku jatuh berserak


Mereka membantuku mengumpulkannya kembali.


"Maaf mas, pak! gak sengaja. Tadi tersenggol orang di sebelah!" Ucapku bohong.


"Belanjaannya banyak banget. Mau hajatan ya?" tanya bapak botak.


"Oh ini, ini saya di suruh orang beliin pak. Buat kebutuhan di warungnya. Sampai sekarang saya belum kerja. Jadi, di suruh orang seperti ini pun saya mau." Lanjutku berbohong lagi.


"Owh, begitu, ini belanjaannya! Untung saja gak ada yang pecah kemasannya. Kan nanti mas bisa-bisa rugi." Seru mas berbadan pendek sambil menyerahkan kantong plastik besar padaku.


"He, iya mas. Syukurlah kemasannya masih aman." Ucapku.


Terlihat mereka berempat memandangku. Mungkin mereka tengah memikirkan sesuatu.


Tiba-tiba saja bapak berambut botak mengucapkannya padaku.


"Kamu mau kerja? tapi hanya seminggu sekali.


Gajinya juga lumayan besar walaupun hanya seminggu sekali." Tawarnya serius sambil memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Beneran ini pak? saya mau sekali kerja. Tapi, kerja apa ya pak? kalau saya boleh tahu sih." Tanyaku penasaran.


"Kamu pulang saja dulu. Kamu kasih barang-barang itu semua. Kami tunggu di warung kopi sana ya! biar ngobrolnya lebih santai." Suruhnya.


"Baiklah pak! saya pulang dulu. Tunggu sebentar ya semuanya!" pamitku girang.


Aku melangkah meninggalkan mereka berempat dengan terburu-buru. Kebohonganku berhasil. Aku pulang naik angkot dan pamit pergi lagi pada Anggi setelah meletakkan barang keperluan warung.


Dia terheran-heran karena aku terburu-buru pergi lagi.


"Mas Hend, kok mau pergi lagi sih? mau kemana? barang-barangnya belum di susun nih." Seru Anggi.


"Ada urusan penting! mas harus pergi sekarang juga." Ujarku sambil meninggalkannya.


Aku berinisiatif untuk memesan ojek online agar bisa cepat sampai di tempat tujuan.


Sesampainya di pasar grosir. Aku melangkah dengan tergesa menuju warung kopi yang sudah di tunjuk tadi.


Aku masuk kedalam sana. Terlihat ada beberapa orang yang memenuhi meja.


Mereka berempat melambaikan tangannya padaku. Aku menghampiri meja di pojokan itu.


"Wah, ternyata mojok disini ya!" ucapku sambil menyengir.


"Duduk aja, gak usah sungkan. Pesen dulu sana!" suruh bapak botak.

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu pak. Sebentar ya saya kesana dulu." Aku menghampiri konter pemesanan dan memesan minuman dingin kesukaan, Jus Alpukat.


Aku kembali duduk dan menanyakan hal yang mengganjal tentang pekerjaanku.


"Saya harus ngapain pak? kenapa hanya seminggu sekali saja bekerjanya?" tanyaku.


"Karena ini pengiriman barang dalam jumlah besar. Jadi, seminggu tiga kali kami mengirimnya. Tapi, adek supir satunya itu hanya sanggup seminggu dua kali saja. Makanya aku nyari orang yang mau bekerja seminggu sekali." Jelasnya panjang lebar.


"Jadi nanti aku harus jadi supir pak?" tanyaku.


"Iya, kalau kamu bisa dan sanggup dengan persyaratan yang kami ajukan nanti!" tambahnya lagi.


"Saya dulu pernah jadi supir bus lintas kota pak. SIM juga masih aktif kok!" jelasku.


"Sebaiknya kalian habiskan makanan dan minuman ini! setelah itu kita berangkat menemui bos kami!" jelas pria satunya lagi.


Kami terdiam dan sibuk mengunyah. Aku yang sudah makan hanya menyedot jus Alpukat.


Selang 10 menit kemudian, kami masuk ke mobil berangkat menuju perusahaan bos besar tersebut.


Sesampainya di perusahaan. Kami menemui sekretaris agar bisa bertemu langsung dengan bos David. Begitulah nama yang aku dengar.


"Bawa saja mereka masuk!" perintah sebuah suara di balik telepon kantor.


Kami semua masuk kedalam ruangan bos David. Megah dan mewah serta luas. Begitulah keadaannya disini.


"Bos, kami sudah menemukan orang-orang baru. Karena sudah hampir tiga bulan tidak beroperasi. Jadi, biar bos langsung yang memberikan perjanjian tertulisnya." Jelas pria botak.


"Baguslah, kalian menemukan yang baru. Ini! baca saja sampai habis!" bos David melemparkan berkas.


Pria botak mengambilnya dan memberikannya pada kami. Kami satu persatu membacanya secara bergantian dan mencermati isi surat kontrak.


Isi keseluruhannya kami bertiga mendapat 10% dari pendapatan pengiriman nanti. Karena aku hanya seminggu sekali. Aku hanya mendapat bagian 2% saja.


Lumayan juga sih. Dapat 2% itu setara 1,8 juta rupiah. Wah, bisa cepet kaya kalau kerja seperti ini. Gaji dari pabrik saja harus menunggu sebulan. Ini sekali pengiriman langsung dapat komisi.


Aku tersenyum puas. Begitupun yang lainnya.


Kami sanggup mengirimkan barang itu, apapun resikonya. Kami sudah berdiskusi dan kembali kerumah masing-masing.


Anggi menungguku pulang. Hari sudah menjelang senja. Ternyata aku menghabiskan waktu cukup lama bersama mereka tadi.


"Kirain lupa pulang mas Hend!" sergah Anggi.


"Gak mungkin lupa dong. Mas akan selalu bersama mu sampai anak kita besar nanti." Ucapku sambil mengelus janin dalam perutnya.


Perut Anggi semakin membesar. Usia kehamilannya semakin bertambah setiap harinya. Tiga bulan lagi aku akan menggendong anakku nantinya.


"Mas tutup saja warungnya. Anggi gak sanggup mau jinjit ambil tali penyanggahnya." Suruhnya.


"Kamu masuk duluan saja! biar aku yang beresin semuanya." Aku merapikan isi warung dan menutupnya.


Aku kembali masuk ke kamar. Anggi menungguku dan mulai membisikkan sesuatu.


Dia berbisik seakan tak mau di dengar orang lain. Padahal di kamar ini hanya ada kita berdua. Aku menimpali nya.


"Rencana yang bagus dan sangat rapi. Besok biar mas saja yang melakukannya. Kamu hanya perlu mengimprovisasinya sedikit." Aku tersenyum licik.


"Oke deh mas. Seharian ini aku memikirkan rencana apa yang cocok buat tetangga sebelah kita. Dan itulah yang pantas buat dia." Kata Anggi bersemangat.


"Ternyata otakmu encer juga ya. Ya sudah sekarang kamu masak dulu. Mas mau mandi!" Aku langsung beranjak menuju kamar mandi super kecil di kamar ini.


*Hendra Pov End.


...---------------...


Rumah keluarga Cipto.


"Mas Mj, silahkan ikuti saya! bawa barang-barang ini kedalam!" suruh Elisa sambil menyerahkan beberapa belanjaannya.


Aku mengangguk dan langsung mengikuti langkahnya. Dia menyuruhku meletakkan semuanya di kamar miliknya.

__ADS_1


Baru kali ini aku ke kamar Elisa. Disana, di kursi roda itu ada seorang pria tua yang hanya mampu melihatku. Sorot matanya seakan tidak dapat aku artikan. Aku langsung meletakkannya di kasur dan keluar begitu saja tanpa menyapa tuan rumah ini.


"Bi minah, kasih mas Mj minuman! dia pasti capek mengantarku kesana kemari hari ini." Suruh Elisa.


"Baik nyonya. Ditunggu sebentar ya mas Mj." Sahut bi Minah terburu-buru.


Aku duduk dengan santai di pojok ruangan baca. Enak dan nyaman sekali disini. Suasananya dingin. Bi Minah menaruh minumanku di meja ini.


Aku yang melihat sekeliling tanpa sengaja menumpahkan minuman itu. Gelas itu tersenggol oleh lenganku. Aku memungutnya dan.


"Awh." Pekikku pelan.


Jariku tertusuk pecahan kaca. Elisa dan bi Minah menghampiriku.


"Tolong bersihkan ya bi! mas Mj sini jarinya aku obatin!" tawar Elisa.


"Maaf ya bi Minah. Jadi menyusahkan bibi." Sesalku.


"Gak pa-pa mas. Tunggu sebentar ya! bibi ambilkan minumannya lagi!" sambil menjauh menuju dapur.


"Kamu kenapa sih mas. Emang tadi ngelamun ya?" tanya Elisa.


"Gak kok. Mas hanya meilhat sekeliling dan menyenggol gelas itu." Jawabku.


Elisa menaruh obat merah dan membalut lukaku dengan kain kassa. Sedikit perih masih terasa. Perasaanku mulai tidak nyaman dan gelisah.


"Sudah jam segini. Sepertinya mas harus pulang!" pamitku.


"Elisa anterin yah!" tawarku.


"Gak usah, biar aku pulang sendiri aja." Tolakku.


"Jalan kaki mas?"


"Iya dong. Masa naik mobil."


"Besok, biar Lisa bawa mas ke dealer motor. Beli motor aja buat pulang pergi kerja."


"Jangan dong. Kan lebih sehat jalan kaki! sekalian cuci mata. Kali aja ada janda gemoy nan bohay lewat di depan mata." Godaku.


"Dih, dasar mas nih." Elisa menekukkan wajahnya.


"Eh, jangan gitu! inget kita lagi dimana."


"Maaf nyonya, mas Mj. Ini minumannya!" seru bi Minah.


"Makasih bi, setelah ini saya akan langsung pulang!"


Aku meneguk dan menikmatinya.


Tanpa berpamitan lagi, aku langsung keluar dari rumah dan menuju jalan pulang.


Entah apa yang ada di pikiran bi Minah ketika melihat kami bercanda seperti itu. Semoga dia bisa menyimpan rahasia kami.


Sesampainya di kosan. Sudah ada dua orang menungguku. Sepertinya mereka memang sengaja menunggu kepulanganku.


"Kalian udah bersih aja." Sapaku.


"Iya dong mas. Kan sudah sore, bentar lagi adzan." Ucap Anggi enteng.


"Ya sudah aku mandi dulu ya!" pamitku


" Tunggu mas Mj, aku....."


*


*


* Author menggantung ceritanya dan menunggu di bab selanjutnya. Hahah...maaf para readers.


Selamat membaca. Jangan lupa terus dukung karya Author dengan cara like setiap bab. Komen, favorit, rate ⭐️5, vote, bahkan bisa memberikan Author gift berupa 🌹 atau ☕

__ADS_1


Terimakasih semuanya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.


Ramadhan bulan penuh berkah untuk semua.


__ADS_2