
Polisi yang sudah selesai menggeledah seluruh rumah pak Ahmad, akhirnya menemukan titik terang.
Sesuai pengakuan Toni, dia menyimpan barang itu di dalam sepatu baru yang masih rapi dengan kotaknya.
" Bukti sudah kami dapatkan, silahkan untuk anggota keluarga jika mau menjenguk Toni di kantor polisi sebelum dilaksanakan sidang!," kata polisi senior yang pangkatnya paling tinggi diantara yang lain.
" Baiklah pak, sebentar lagi kami akan kesana." Kata Ahmad.
" Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu bapak dan ibu, ditunggu kehadirannya," kata polisi satunya.
Mereka bertiga meninggalkan kediaman Ahmad.
Zainab lunglai ditempatnya berdiri. Ahmad yang melihatnya hanya bisa menggandeng istrinya supaya masuk kedalam mobil.
" Kita secepatnya kesana buk, ayo kita berangkat!," keduanya memasuki mobil.
" Fatma belum tahu masalah ini pak, gimana kalo ibu telpon dia dulu," setelah Zainab masuk ke mobil.
" Nanti aja klo dia udah pulang kerja, baru lah kita kabarin," sahut Ahmad sambil menyetir.
...----------------...
" Hari ini panas banget, hawanya bikin haus mulu," kata Malik pada teman supir lainnya.
" Bener banget tuh, ini aja udah botol minum ke 3 hari ini," Yanto menimpali.
" Pantesan tuh perut buncit, eh...taunya isi aer doang...ha...ha...ha," Memet meledek Yanto.
" Mulai lagi dah ini anak, dasar tengil," Yanto pura-pura menjitak kepala Memet.
" Hei...kaliam kok ninggalin aku sih!," seru Udin setengah berlari menghampiri kami di warung biasa.
" Telat mulu, emang kejar target mas? pasti baru dateng kan?," tanya Malik.
" Ada halangan dijalan tadi Lik, ban angkot pake bocor segala kayak genteng," sahut Udin dengan wajah letih.
" Langsung pesen aja mas, nanti keburu cacing di perut tuh dah mati," Timpal Malik.
" Tadi udah di ganjel, sekarang cuma pengen minum es dulu, haus banget dah", sahut Udin.
" Pasti di ganjel pake kayu!," ujar Memet.
" Iya Met, kayu...kayu ajaib buat mukul pala lu tuh," Udin menimpali Memet.
" Kalian napa sih, tambah umur malah kagak bisa diajak becanda! jadi males tauk," Ujar Memet memancungkan mulutnya.
" Gue tarik tuh mulut baru tau lu....hahaha," Timpal Yanto gemas akan tingkah Memet.
" Dah ah, gue ke mushola dulu ya mas-mas ngambekan," enteng Malik melangkah pergi meninggalkan para supir gesrek.
Udin yang selesai makan, mulai menceritakan topik hangat yang dia dengar dari orang-orang di jalan tadi.
__ADS_1
" Ada yang lagi viral lho, pak-bapak," mulai Udin
" Apaan sih lu Din, kayak emak-emak aja deh, pake ngomongin viral segala," Yanto menanggapi dengan jengah.
" Heh...emak-emak mah lewat kalo beritanya kayak ginian, Majikan lu mas Yanto, dia itu...," belum sempat Udin melanjutkan ceritanya Malik yang baru saja tiba sudah memotong.
" Pada ngomongin paan sih kalian ini, kok mukanya serius gitu?." kernyit Malik heran.
" Lik, lu main potong omongan orang aja, kesel gue," timpal Udin.
" Sorry..sorry mas, sengaja...lagian pada serius gitu sih," Malik terkekeh geli.
" Ya udah, gue lanjutin ceritanya. Tadi gue denger ada 3 orang polisi ke rumahnya pak Ahmad. Mereka menggeledah rumah beliau karena Toni semalem masuk penjara dikarenakan obat terlarang," Udin setengah berbisik.
" Apa.....," sahut mereka berbarengan tak percaya.
Mereka saling memandang satu sama lain.
Tak percaya akan berita ini. Toni yang dikenal anak baik dan pekerja keras ternyata menjual obat-obatan terlarang.
" Kok gue kayak gak percaya gitu ya. Selama ini kan Toni tuh kerja kantoran bukan kerja nguli kayak kita gini," Timpal mas Yanto.
" Beneran mas, gue juga gak percaya kalo cuma rumor yang gak berdasar, masalahnya, tadi itu penumpang gue bu Ijah, tetangga bu Zaenab dia denger sendiri polisi ngomong paan," ujar Mas Udin lagi.
" Ya udah lah, nunggu nanti sore aja. Itu kabar bener apa kagak, nanti sore kan kita mulangin angkot Lik, jadi kita bisa tanya langsung atau mungkin bu Zainab cerita duluan," Terang Yanto.
" Iya mas, biar tau bener apa gaknya!," sahut Malik menimpali perkataan Yanto.
......................
...----------------...
" Buk....bapak pulang. Ada kabar buruk!," Sugeng setengah berteriak masuk kedalam rumahnya.
" Bukannya salam malah teriak gitu pak!." Sumiyati memperingatkan.
" Maaf bu, bapak baru aja denger kabar gak enak makanya bapak langsung pulang," ucap Sugeng lagi.
" Emangnya kabar apa to pak? gak ada hubungannya sama keluarga kita kan?," tanya Sumiyati mulai gelisah.
" Itu lho buk, nak Toni. Toni ketangkep semalem, tadi pagi 3 orang polisi datang ke rumah Ahmad dan menggeledah rumahnya!,"
kata Sugeng dengan wajah serius.
" Masak sih pak, emang ketangkep gara-gara apa? kok ibu gak percaya nak Toni bisa berurusan sama polisi," timpal Sumiyati.
" Nak Toni jualan buk, jualan sabu-sabu. Itu lho, obat terlarang," jelas Sugeng.
" Astaghfirullah nak Toni, kok ibu masih gak percaya dia bisa jualan itu, padahal kerjaannya udah bagus, di kantoran lho pak," Sumiyati menggelengkan kepalanya tak percaya.
" Bapak juga gak nyangka buk, nak Toni bisa nekat seperti itu," ucap Sugeng lesu.
__ADS_1
" Semoga aja keluarga pak Ahmad bisa menghadapinya pak, kita bantu doa saja," ucap Sumiyati.
" Iya...buk," sahut Sugeng.
...****************...
Sore hari di waktu yang bersamaan
" Duh gimana ya?, gue kesana apa gimana inih?," Cindy bergumam seorang diri.
Dia sudah hampir sampai di rumah Toni, mau menanyakan keberadaan Toni. Tapi, sepertinya dia masih bingung dan takut.
Bingung karena belum pernah bertemu dengan keluarga Toni sebelumnya, hanya tau wajah mereka dari foto yang Toni tunjukkan.
Dan takut, karena dialah Fatma kecelakaan, dia kuatir Fatma ingat wajahnya.
Cindy yang mengendarai mobil Toni akhirnya memutuskan untuk segera pergi kerumahnya.
" Daripada gue khawatir mas Toni dimana, mending gue langsung aja kesana," gumam Cindy langsung menancap gas ke arah rumah Toni.
Fatma yang baru pulang dari kerja. Mengernyit heran, mobil orangtuanya tidak ada, dan rumah di kunci rapat-rapat.
" Pada kemana sih, tumben amat gak ngabarin," gumamnya sebal.
Dia mencari kunci di sela-sela pot tanaman di teras rumah. Seperti biasa, kunci rumah terselip disana.
" Duduk bentar ah disini," sambil berselonjor di kursi teras.
Fatma mengambil ponsel dan mencoba menghubungi bapak dan ibunya.
" Tuh kan, kebiasaan deh kalo pergi pasti ponselnya gak aktif," gumamnya kesal.
" Oh ya...mas Toni," ocehnya lagi sambil menelpon nomer Toni.
" Ah...sama aja, emang pada kemana sih. Jadi males dirumah sendirian," ocehnya lagi.
Fatma mulai beranjak dari duduknya.
Klek....
Pintu terbuka, Fatma melangkah masuk.Tapi, tiba-tiba saja mobil yang dia kenal berhenti di halaman rumahnya.
" Mobil mas Toni, tapi kenapa cewek yang nyetir? mas Toni kemana?," batinnya bertanya sambil melihat perempuan yang tengah berjalan mendekatinya.
" Permisi mbak, ehm.....itu-itu...duh kok malah gini ya! mau nanya mbak," Cindy gugup berhadapan dengan Fatma.
" Kenapa ya mbak? siapa Anda?," tanya Fatma heran.
" Saya.....!,"
Cindy yang berhenti berucap mulai memikirkan sesuatu.
__ADS_1