
*Elisa POV.
Pagi menjelang siang. Mereka masih belum pulang juga.
"Kesekolah kok lama banget sih!" gerutuku kesal.
Siang ini aku harus mendatangi Rukoku. Ada beberapa masalah disana. Aku harus pergi menanganinya. Memang aku bisa menyetir, tapi kali ini aku mau mas Mj saja yang mengantarku kesana.
Terdengar deru kendaraan memasuki mobil. Aku melihat mereka keluar. Marshella menekuk mukanya.
"Pasti ada keinginannya yang ditolak sama mas Mj tuh." Gumamku seorang diri.
Aku kembali duduk di sofa dengan santainya.
Ternyata mas Mj bisa menolak keinginan Marshella. Anak keras kepala dan manja.
Aku tak mempedulikan Marshella yang sudah datang. Aku sibuk dengan ponsel Androidku.
Banyak pesanan seragam pengajian ibu-ibu kompleks sebelah, membuatku tidak terlalu memikirkan Marshella.
Aku mendengar dia menyuruh sesuatu pada bi Minah. Dan langsung saja dia masuk kekamarnya setelah itu.
Aku beranjak dari tempatku duduk.
Mas Mj ada disana, di depan garasi. Aku melambaikan tangan tanda memanggilnya.
Dia tergopoh menghampiriku.
"Apa nyonya perlu saya antar?" mulainya.
"Iya mas, saya harus ke ruko. Ada kesalahan warna pesanan. Ibu-ibu protes ketika foto sebelum dan sesudah berbeda." Jelasku.
"Baiklah nyonya, akan saya antar sekarang juga. Mari kita pergi." Senyumnya manis.
Aku menoleh sekeliling, tidak ada orang lain selain aku dan mas Mj diteras ini.
"Kalau cuma kita berdua panggil Elisa saja mas. Gak usah panggil nyonya segala!" Suruhku.
"Baiklah Elisa. tapi, aku takut nanti ada yang dengar. Bisa bahaya kan!" mas Mj meringis didepanku.
"Aman sih mas kalau untuk saat ini." Ujarku santai.
Tiba-tiba saja anak sulung om Cipto menengahi percakapanku dan mas Mj.
"Om, Shella pengen makan nih! anterin yuk!" ajaknya manja sambil menggandeng lengan mas Mj.
"Maaf Shella, nyonya Elisa sebentar lagi harus pergi ke ruko miliknya." Jawab mas Mj.
Tampang Marshella mulai terlihat geram.
"Jadi, om gak mau menuruti perintahku? dia ini hanya istrinya papa yang gak diterima oleh keluarga besar kami. Keinginanku lebih penting daripada istrinya papa." Ucap Marshella kasar.
Tangan Marshella masih menggandeng lengan mas Mj. Mas Mj merasa risih dan mengibaskan tangan Shella berkali-kali. Tapi anak itu masih saja kekeuh.
Aku yang melihat mereka berdua seperti itu. Langsung tersulut emosi.
"Heh, Marshella Cahyono. Aku mempekerjakan Mj itu untuk menjadi supir pribadi. Bukan menuruti keinginanmu yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Kau pikir aku tidak tau, kalau kamu sudah makan cemilan dari bi Minah. ITU HANYA ALASANMU SAJA!" ucapku kasar.
Terlihat Marshella sedikit goyah dengan sifat keras kepalanya itu.
"Emang gak boleh ya! kalau aku mau makan lagi. Inikan sudah masuk waktunya makan siang!" Shella menyahut dengan kasar.
"Aku punya urusan yang lebih penting daripada meladenimu beradu urat!" ucapku sambil menarik tangan mas Mj.
Mas Mj mengikutiku. Dia berjalan di belakangku. Kami berdua menuju garasi rumah.
Kami masuk kedalam mobil. Aku yang mulai tidak peduli langsung saja duduk didepan.
"Kamu ternyata bisa marah juga ya Lis." Mas Mj memulai obrolan kembali.
"Sudah sering melihat Shella bertingkah dan berulah. Jadi, kali ini aku harus memberinya pelajaran." Ucapku.
"Tapi, sepertinya dia bisa diatur lho! hanya saja kita masih belum tau caranya seperti apa." Mas Mj berujar.
"Males mas, gak usah di bahas lagi deh. Kita berangkat sekarang juga!" seruku.
"Baiklah nyonya Elisa." Sahutnya menggodaku.
Kami terdiam dengan pikiran masing-masing.
Aku menoleh ke arah mas Mj yang ada disampingku. Rahangnya kokoh, tatapan itu yang membuat ku jatuh cinta padanya.
"Ehem...." Dia berdehem pelan.
"Kenapa mas? emang aku gak boleh liatin kamu ya?" tanyaku.
"Boleh saja kok, asal kamu gak sampe terbang. Nanti susah turunnya. Kuatir nyangkut dipohon rambutan." Guraunya sambil mengikik pelan.
"Aku gak mengejek wanita semanis kamu. Tapi aku menggodamu!" Mas Mj menoleh sekilas kearahku sambil menyetir.
Aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu.
Kebahagiaan yang sekian lama aku rindukan berangsur kembali secara perlahan.
Kami sudah berada di tempat tujuan. Aku menyuruh mas Mj menunggu diruang santai.
Aku berdiskusi dengan pegawaiku satu-satunya. Mencari solusi permasalahan sekarang ini. Hampir 2 jam aku disini.
Awalnya pelanggan tak menyetujui ide kami. Tapi, setelah dijelaskan secara detail oleh pegawaiku. Akhirnya mereka sudah mulai lunak dan menyetujui usulan kami.
Aku bernafas lega. Mempunyai pelanggan setia dengan berbagai macam karakter memang cukup merepotkan. Tapi, setidaknya aku bisa mengenal mereka lebih dalam.
Aku naik ke lantai dua. Disini tempar stok baju-baju berada. Mas Mj tertidur diatas sofa diruang santai.
Aku mendekatinya. Mencoba mengusiknya dengan tanganku yang mulai meraba wajahnya perlahan.
Mulai kuseka tetesan keringat yang mulai mengalir dari wajahnya. Ternyata aku lupa menyalakan pendingin ruangan.
Aku mengelap keringat mas Mj dengan tisu.
Dia sedikit terusik dan mulai membuka netranya perlahan.
"Ehmm, kamu udah selesai? maaf, aku ketiduran." Ucapnya serak.
__ADS_1
Bangun tidur aja masih ganteng. Emang gak salah aku punya perasaan pada pria ini.
Aku tersenyum sambil berkata.
"Masih ada sedikit masalah lagi mas. Kalau masalah utamanya sih udah beres. Bentar lagi pesanan makananku datang. Nanti mas langsung makan saja ya."
"Baiklah, makasih banyak Lis. Kamar mandi nya dimana? aku mau mencuci muka dulu." Tanya mas Mj.
Aku menunjuk arah dimana kamar mandi berada. Dia langsung saja beranjak dan meninggalkanku tanpa permisi.
Mas Mj nih sepertinya memang tipe-tipe pria cuek. Aku dikacangin kaya gini.
"Sudahlah, aku lanjut mengemas lagi buat pengiriman selanjutnya saja." Sambil melangkah menjauh dan turun ke lantai bawah.
...----------------...
*Didalam mobil perjalanan pulang.
"Mas, aku kok gak pernah lihat kamu mainan hape sih? emang kamu gak punya hape atau gimana?" tanyaku heran.
Sekarang ini jaman sosial media. Setiap orang pasti punya ponsel Android. Tapi, mas Mj ini sama sekali aku belum pernah melihatnya mengutak-atik ponsel miliknya.
"Ponselku hilang Lis, aku juga belum gajian kan. Makanya aku belum beli ponsel." Katanya.
"Kita mampir ke mall A saja mas. Kita cari ponsel Android buat mas ya!" tawarku.
"Makasih banyak Lis. Tapi, aku gak bisa menerimanya. Aku sudah banyak mendapat keuntungan darimu. Aku merasa gak enak banget." Ucapnya jujur.
"Gak pa-pa mas, santai ajah. Gimana kalau nanti aku potong dari gajinya mas tiap bulan. Jadi, sekarang kita pergi beli ya!" ajakku.
Dia memikirkan usulanku dan menyetujuinya.
Kami menuju ke arah sebuah mall besar di kota ini.
*Elisa POV off.
......................
Disana, disebuah rumah yang dahulu penuh kehangatan dan kedamaian. Sekarang berubah menjadi sunyi, hening dan mencekam.
Zainab merasa dunianya hancur ketika anak kesayangannya mendekam di penjara.
Fatma selalu berada disampingnya, dan selalu menyemangati. Tapi, semua itu sia-sia belaka.
Fatma merasa bahwa dirinya mulai tak berharga sebagai anak keluarga Wiguna.
Fatma menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.
Sesekali dia mengunjungi rumah Sumiyati. Dia melepas kegundahannya selama ini disana.
Setidaknya Annissa dan Sumiyati bisa menjadi tempatnya mencurahkan isi hati.
Ya, dia mengadu tak diperhatikan oleh orang tuanya sendiri. Mas Toni terlalu di manja dan disayang oleh Zainab sedari kecil. Membuat Fatma merasa tersingkirkan.
Fatma hanya berharap bisa menemukan Malik kembali. Dan menyuruhnya pulang kekampung ini. Hanya Maliklah yang bisa membuat Fatma bersemangat kembali. Dan semoga usahanya memposting di sebuah forum kehilangan seseorang di sosial media bisa membuahkan hasil.
*
__ADS_1
*
*Happy reading. Sehat selalu pembaca setia Supir untuk sang nyonya. Jangan lupa untuk terus dukung Author dengan cara like, komen, rate ⭐️5, favorit dan votenya. Terimakasih karena selalu mendukung🙏🙏😘 Berkah untuk semuanya ....aamiin.