Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Cicil


__ADS_3

Nindy sangat bahagia ketika tiba di rumah. Senyumnya terus mengembang begitu juga dengan Kenan.


"Mas, ganti baju dulu, ya." Kenan mengecup kening Nindy dengan sangat lembut. Nindy sudah merebahkan tubuhnya karena kantuk sudah melanda.


Bibir Kenan melengkung ketika melihat sang istri sudah terlelap. Dia ikut naik ke tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Betapa bahagianya hatinya sekarang. Tidur sudah tidak sendirian karena ada teman hidup di sampingnya.


"Selamat tidur, Sayang."


Mentari sudah menampakkan dirinya, Kenan masih betah berada di bawah selimut tebal. Matanya masih ngantuk sekali.


"Mas, bangun. Udah siang."


Nindy menepuk pipi Kenan dengan lembut. Kenan menggeliat dan mencoba membuat matanya.


"Udah siang, nanti Mas terlambat," ujar Nindy.


Bukannya bangun, Kenan malah memeluk perut sang istri dengan begitu eratnya. Wajahnya dia benamkan di perut rata Nindy.


"Lima menit lagi, Sayang." Tidak biasanya seorang Kenan bersikap manja seperti sekarang ini. Namun, Nindy malah bahagia karena Kenan hanya menunjukkan manjanya kepada dirinya.


Nindy tersenyum dan mengusap lembut rambut sang suami. Nindy merasa sang suami kini menjelma menjadi anak kucing yang manja. Kenan yang garang bak harimau malai bertekuk lutut di depan adik dari atasannya itu. Terlalu bahagia hari Nindy sekarang ini. Lengkungan senyum terus terukir di wajah cantiknya.


Lima menit berselang, Kenan bangkit dari tidurnya dan mengecup singkat bibir ranum Nindy. Sebagai seorang istri, Nindy menyiapkan segala keperluan Kenan. Termasuk kopi cappuchino kesukaannya.


Setelah selesai mandi, Kenan memeluk tubuh Nindy yang tengah memakai skincare. "Mas, basah ih," ucapnya manja. Kenan semakin gemas dan mencium setiap inchi wajah Nindy.


Setelah puas, barulah dia memakai baju yang sudah disiapkan oleh Nindy di atas tempat tidur. Dirga pun tersenyum ketika sudah ada ada secangkir kopi yang masih mengepul panas di atas nakas.


Nindy membantu Kenan memasangkan dasi di leher sang suami. Membuat mereka sangat dekat, apalagi tangan Kenan yang merengkuh pinggang Nindy.


"Makasih, Sayang." Kecupan hangat mendarat di kening Nindy.


Kemudian, Nindy menyodorkan secangkir kopi panas ke arah sang suami. Kenan merasa sangat bahagia karena istrinya benar-benar memperhatikannya. Kenan menerimanya dan dia dengan hati-hati menyeruput kopi yang masih panas tersebut.


"Enak kopinya," katanya.


"Dibuatnya spesial pakai cinta," sahut Nindy.


Kenan pun tergelak dan mencubit gemas pipi sang istri. "Malam nanti mau makan di mana?" tanya Kenan, setelah meletakkan cangkir kopi di atas nakas.


"Mas, emang busa pulang cepat? Biasanya juga pulang malam," jawab Nindy.


"Mas, usahakan pulang cepat." Senyum Nindy pun merekah. "Beneran?" tanya Nindy tak percaya. Sebuah anggukan menjadi jawaban dari pertanyaan Nindy. Terlihat wajah Nindy yang bahagia dan berhambur memeluknya.


Kenan harus bersabar, lebih baik mereka mengenal satu sama lain terlebih dahulu sebelum meminta haknya sebagai suami. Dia menikahi Nindy bukan hanya untuk dimengerti Nindy. Dia juga harus bisa mengerti Nindy. Dia tahu, Nindy belum siap karena bayang-bayang masa lalu Kenan. Padahal, Kenan sudah menguburnya dalam-dalam dan dia akui Nindy dan juga Kinanti itu berbeda. Wajah mereka hampir sama, tetapi sikap mereka berdua yang sangat jomplang. Rasa yang Kenan miliki pun lebih besar kepada Nindy.


Di meja makan hanya Kenan dan Nindy yang sarapan bersama. Papahnya sudah pergi sejak pagi tadi. Nindy menyendokkan nasi beserta lauk pauknya ke dalam piring Kenan. Suaminya ini adalah pecinta makanan sehat, berbeda dengannya pencinta makanan cepat saji dan bermecin. Setelah selesai sarapan, Kenan bangkit dari duduknya diikuti Nindy.


"Mas, berangkat ya," pamitnya. Kenan membubuhi kening Nindy dengan kecupan yang sangat dalam.


"Hati-hati, Mas." Kenan mengangguk dan tersenyum. Kenan mencuri kecupan bibir singkat dan sontak membuat mata Nindy membelalak.


"Bye, Sayang." Kenan sudah menjauh seraya melambaikan tangan. Lengkungan senyum pun terukir di wajah Nindy. Tangannya membalas lambaian tangan sang suami.


Kenan terus saja bersenandung ria sambil mengendarai mobilnya. Tidak biasanya makhluk kaku sepertinya nampak berbunga-bunga. Wajah Kenan masih nampak berseri ketika masuk ke dalam ruangan. Dirga menatap aneh ke arahnya seperti melihat sosok Kenan yang tak dia kenali.


"Sudah belah duren?" Kalimat tanya yang Dirga lontarkan ketika Kenan baru duduk di kursi kebesarannya.


Kenan pun menggeleng, tetapi seulas senyum dia berikan kepada Dirga.


"Saya akan menjalani pacaran setelah menikah dulu, sebelum belah duren."


Dirga pun tergelak mendengar ucapan Kenan. Dia sudah tahu cerita Nindy dari sang istri. Dirga juga sangat mengenal sosok adiknya itu. Dirga malah bangga kepada Kenan yang tidak memaksakan kehendaknya dan keinginannya. Dia juga merasa salut kepada Nindy karena bisa menaklukan manusia modelan seperti Kenan. Pernikahan mereka terbilang sangat mendadak. Jadi, wajar jika mereka melakukan pacaran setelah menikah.


Samenjak menikah dengan Nindy, dia sering bermain dengan ponselnya. Aslinya, dia bukan orang yang gila ponsel. Namun, sekarang Kenan tengah asyik memandang layar ponselnya dengan tangan yang menari-nari di atas layar ponsel segi panjang tersebut. Ternyata Kenan tengah mengirim pesan manis kepada sang istri tercintq layaknya anak ABG yang sedang jatuh cinta.


"Jangan lupa makan siang ya, Sayang."

__ADS_1


Nindy tersenyum membaca pesan tersebut. Dia tidak membalas pesan Kenan, tetapi dia langsung menelponnya.


"Iya, Sayang."


"Mas, udah makan? Atau mau aku pesankan makanan?" tanya Nindy.


"Ingin makan siang sama kamu." kuNindy pun tertawa.


"Kapan mau makan siang bareng?" tanya Nindy.


"Nanti Mas atur waktunya ya, Sayang."


"Iya, Mas."


"Love you, Sayang."


Wajah Nindy sangat merona mendengar ucapan dari Kenan, meskipun dia belum bisa menjawab kata cinta yang Kenan ucapkan. Bukan hanya Nindy yang tersenyum, bibir Kenan pun melengkung setelah mengucapkan kalimat tersebut.


"Lama-lama bucin kayak si bos nih," gumamnya.


Setelah semua pekerjaannya selesai, Kenan segera pulang. Dia menepati janjinya untuk tidan pulang malam. Jam lima pun dia sudah sampai di rumah. Ketika Kenan membuka pintu, ternyata istrinya baru selesai mandi. Dia hanya bisa menelan saliva karena tubuh putih Niar hanya tertutup handuk.


"Loh, kok?" Mata Nindy membola melihat suaminya yang sudah berada di ambang pintu.


Nindy menghampiri Kenan dan mencium tangannya. Kenan pum mengecup kening Nindy sangat dalam. Namun, matanya terganggu pada dua balon yang sangat putih dan menggugah selera. Ukuran balon Nindy cukup mengembang dan mampu membuat gairah Kenan meningkat.


"Sayang." Suara Kenan sudah parau.


Nindy tersenyum, dia meraih tangan Kenan dan meletakkannya di dua balon yang menempel di tubuhnya. Jantung Kenan berdebar sangat kencang. Tangan Nindy membuat handuk bagian atasnya sehingga tangan Kenan benar-benar memegang balon berisi susu tersebut.


"Cicil dulu ya, Mas."


Kenan mengangguk, dia merengkuh pinggang Nindy. Mencium bibir sang istri dengan lembut. Nindy pun membalasnya dengan penuh gairah. Tangan Kenan sudah menyusuri balon kenyal. Memainkannya layaknya seorang DJ. Tanpa Nindy sadari, tubuhnyw sudah berada di atas kasur. Kali ini bubur Kenan yang beraksi. Menyusuri benda kenyal yang membuat si pemiliknya melayang-layang. Nindy membiarkannya saja dan menggigit bibir bawahnya agar alunan menggairahkan syahwat tidak terdengar oleh suaminya. Sekuat tenaga Nindy menahannya.


"Mas." Suara Nindy terdengar juga dengan napas yang tersengal.


Napas mereka pun menderu. Setengah mati Kenan menahan gejolak yang ingin dikeluarkan. Begitu juga Nindy. Akan tetapi, Kenan harus menahannya. Dia tersenyum ketika melihat tanda mata di leher sang istri. Terlihat sangat cantik maha karya yang dia ciptakan.


"Mas, mandi ya, Sayang." Kecupan hangat Kenan berikan di bibir sang istri.


Di dalam kamar mandi, dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dia tersenyum karena sudah bisa membuka sedikit demi sedikit hati dan tubuh Nindy.


Padahal, ini bukan hal pertama baginya. Namun, sensasi yang diciptakan sangatlah berbeda. Membuat Kenan mabuk kepayang oleh the sahan manja istrinya. Ingin sekali dia mengulanginya lagi dan membuat istrinya meminta lagi dan lagi.


"Sabar ya, Min. Sebentar lagi laharmu yang membeku itu akan keluar," gumamnya.


Nindy merengut kesal ketika melihat jejak-jejak yang sangat merusak lehernya. Kenan malah tertawa dan mengecup ujung kepala sang istri. Tangannya menyentuh bekas jejak yang dia tinggalkan.


"Pakai foundation, Sayang."


Istrinya masih merengut kesal, tetapi Kenan malah gemas melihatnya. Dia membalikkan tubuh sang istri. Mengecup keningnya sangat dalam.


"Jangan marah, itu tanda cinta Mas, Sayang. Supaya Mas tidak tersesat ketika menyusuri jalan itu lagi sampai mencapai puncak tertinggi." Tidak ada jawaban dari Nindy. Wajahnya masih ditekuk.


"Sini, Mas bantu."


Kenan mengambil foundation milik istrinya, dan membubuhkannya di leher yang terdapat jejak jahanam. Nindy hanya diam saja. Namun, matanya terus memperhatikan sang suami yang tengah menyamarkan noda laknat tersebut.


"Selesai," ucap Kenan.


Nindy melihat lehernya di cermin, jejak itu sudah tersamarkan dengan sempurna.


"Berangkat, yuk. Nanti keburu malam," ajak Kenan tidak sabar.


Tangan Kenan sudah bertaut dengan. tangan Nindy. Selama di perjalanan pun Kenan tak melepaskan genggaman tangannya. Kenan seperti kembali ke masa remaja. Tak ingin terpisahkan dengan wanita di sampingnya ini.


"Kok ke mall, Mas?" tanya Nindy.

__ADS_1


"Kita nonton." Nindy sedikit terkejut, tetapi dia mengikuti keinginan suaminya saja. Toh, dia juga sudah lama tidak menonton bioskop.


Kenan sudah memesan tiket, tetapi yang dia pesan adalah film horor.


"Mas, aku takut," ucap Nindy.


Kenan merangkulkan tangan Nindy ke lengannya. Dia tersenyum menyejukkan ke arah sang istri.


Ketika sang hantu keluar, Nindy membenamkan wajahnya di pundak sang suami. Kenan malah menarik tangan Nindy agar masuk ke dalam dekapannya.


"Jangan pernah takut apapun, selagi ada Mas di samping kamu."


Mendengar ucapan Kenan, Nindy mendongakkan kepala. Mata mereka terkunci dan Kenan mengecup kening Nindy untuk ke sekian kalinya.


"I love you."


Sungguh pacaran setelah menikah itu sangat mengasyikkan. Apapun yang mereka lakukan halal. Tidak akan ada fitnah dan gonjang-ganjing di sana sini. Biarlah para pengunjung bioskop lain berkata ini itu. Tinggal melemparkan buku nikah saja sudah selesai.


Wajah pengantin baru ini terlihat sangat bahagia. Keluar dari bioskop terus berjalan dengan bertautan dan sesekali Kenan mengecup ujung kepala sang istri. Berkeliling mall sambil sesekali bercanda. Bagai anak muda yang tengah merasakan indahnya jatuh cinta. Namun, langkah mereka harus terhenti karena dihadang oleh Rico.


"Kamu bohong 'kan? Dia bukan calon suami kamu?" sergah Rico tiba-tiba.


Dahi Nindy mengkerut mendengar ucapan tiba-tiba dari Rico. Begitu juga dengan Kenan. Decakan kesal sudah keluar dari mulutnya.


"Jawab aku, Nindy!" pinta Rico


"Dia memang bukan calon suamiku, tetapi sudah menjadi suami sah ku di mata agama dan negara."


Jawaban telak yang Nindy berikan. Kenan tersenyum dalam hati mendengar pengakuan Nindy. Berbeda dengan Rico yang tengah melebarkan matanya tak percaya.


"Istriku ternyata galak juga," bisik Kenan.


Rico mampu mendengar bisikan Kenan. Namun, tidak semudah itu dia mempercayainya. Dia sudah merasa tertipu dengan pertemuannya terdahulu. Kenan mengaku-ngaku sebagai calon suami dari Nindy dan ternyata itu hanya bualan.


"Drama murahan," cibir Rico.


Kini, Rico malah menggenggam tangan Nindy dengan paksa dan ingin membawa Nindy pergi. Rahang Kenan pun mengeras.


"Lepaskan tangan istriku!" serunya.


Anak kucing manja kini berubah menjadi Harimau garang. Kenan menarik tangan istrinya hingga genggaman tangan Riki di tangan Nindy terlepas. Kemudian, dia mendorong tubuh Rico dengan cukup keras hingga dia terhuyung ke belakang.


"Nindy adalah istri sah ku. Jangan pernah berani menyentuhnya, atau akan ku habisi kamu!"


Wajah penuh kemurkaan Kenan tunjukkan. Dia tidak akan pernah terima ketika istrinya disentuh oleh orang lain. Apalagi itu adalah mantan pacar dari istrinya. Sungguh Kenan tidak Sudi.


"Mas, udah." Nindy mengusap lembut pundak sang suami. Namun, kemurkaan Kenan belum luntur juga.


"Ayo, Mas. Kita pergi," ajak Nindy.


Jika, Kenan masih ada di sana sudah pasti akan terjadi perang dunia ketiga. Rico adalah orang yang tak mau kalah dan juga tempramen begitu juga dengan sang suami yang memiliki kekejaman yang luar biasa.


Nindy merangkul lengan sang suami dan mengajaknya meninggalakan Rico seorang diri. Wajah Kenan masih menunjukkan aura panas. Jika, sudah begini Nindy tidak berani memulai pembicaraan. Lebih baik dia mengajak suaminya memutari mall. Mengajak suaminya masuk ke satu toko dan toko lain tanpa membeli barang satu pun. Kenan pun enggan menawarkan barang yang ada di dalam toko tersebut karena masih kesal terhadap mantan dari istrinya.


Pelan-pelan Nindy mulai membuka suara, tetapi respon dari Kenan hanya diam dan diam. Nindy pun kesal sendiri.


"Berasa kayak ngomong sama patung," sungutnya.


Kenan tidak menyela ucapan Nindy. Dia membiarkan istrinya bersungut-sungut.


"Tahu gini, mending tadi ikut Rico aja."


Langkah Kenan terhenti, dia menatap horor ke arah sang suami yang wajahnya sudah seperti cucian belum disetrika.


"Bilang apa tadi?" tanya Kenan penuh penekanan.


"Mending ikut Rico dari pada jalan suami berasa kayak jalan sama patung." Nindy melepaskan tangannya yang tengah melingkar di lengan sang suami. Namun, Kenan mencekalnya.

__ADS_1


__ADS_2