
Dua bulan sudah Dirga dan Niar menjadi sepasang suami istri. Selama sebulan ini hubungannya masih dikategorikan adem ayem. Ya, karena Dirga selalu mengalah ketika berdebat dengan Niar. Terlepas siapa yang salah, Dirga yang selalu meminta maaf terlebih dahulu kepada istrinya. Jika, Niar tidak mau memaafkan maka akan berakhir di ranjang.
Hari ini badan Niar seperti ayam tulang lunak. Ini semua karena ulah suaminya, lebih dari lima kali Dirga menerjang tubuh Niar hingga dia benar-benar tidak bisa bangun.
Ketika sebelum berangkat kerja pun, Dirga masih sempat-sempatnya menerjang tubuh istrinya. Hingga Niar hanya bisa terbaring di atas tempat tidur.
Ketika mata Niar terpejam, jam dua siang suaminya sudah duduk di samping tempat tidur. "Kamu sudah pulang?" Dirga pun mengecup kening istrinya.
"Masih lemas? Masih sakit?" Niar pun mengangguk.
"Maaf ya." Wajah Dirga yang sedang meminta maaf seperti ini terlihat lucu di mata Niar.
"Lain kali jangan diulangi lagi, ya. Badanku sakit," keluhnya.
Dirga naik ke atas tempat tidur dan tidur bersama istrinya. Dia masih menggunakan kemejanya. Niar pun kembali terlelap di dalam dekapan hangat Dirga.
Senja sudah menampakkan wajahnya. Mereka berdua masih asyik bertualang di alam mimpi. Hingga Niar membuka matanya perlahan.
Tangan suaminya masih berada di atas pinggangnya membuat Niar melengkungkan senyum bahagia.
Namun, perutnya tiba-tiba merasa diaduk-aduk. Niar menutup mulutnya dan mencoba turun dari tempat tidur. Dia sedikit berlari ke wastafel kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.
__ADS_1
"Huwek ...."
Suara bising membangunkan Dirga dari tidurnya. Dia langsung turun dari tempat tidur dan mencari istrinya. Istrinya sedang bersandar di dinding kamar mandi dengan wajah pucat dan keringat bercucuran.
"Yang." Dirga pun menghampiri Niar dan dia sangat terkejut ketika melihat kondisi istrinya.
"Kamu kenapa?" Dirga langsung memeluk tubuh Niar dan membopongnya naik ke atas tempat tidur.
Dirga mengelap keringat yang masih tersisa di kening Niar. "Ay, aku ingin teh manis anget."
"Iya, aku suruh bibi bikinin ya."
Tak lama bibi membawakan teh manis hangat untuk Niar. Niar baru saja meminumnya, namun rasa mual muncul kembali. Dia berlari kembali ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya lagi.
"Tuan, coba beli testpack." Dirga dan Niar saling tatap.
"Sepertinya Nyonya sedang isi," lanjutnya.
"Bulan ini kamu dapat gak Yang?" Niar pun menggeleng.
Apa benar ya yang dikatakan si Bibi. Udah lebih dari sebulan ini tiap malam gak pernah absen olahraga malam.
__ADS_1
"Ya udah, aku ke apotik dulu ya." Ada rasa bahagia di hati Dirga. Dia terus melafalkan doa supaya dugaan Bibi itu benar adanya.
Setelah sampai di apotek, Dirga memesan testpack yang termurah hingga yang paling mahal dan tentunya paling bagus. Sudah lebih dari lima testpack berbeda merk yang dia beli.
Tibanya di rumah, Niar sedang dipijat lembut kakinya oleh Bibi. Bibi pun pamit melanjutkan pekerjaannya kembali ketika Dirga masuk ke kamar.
"Ay, belinya banyak amat."
"Biar pasti," jawabnya.
Pagi pun datang, Niar sudah menampung urinnya dan dia mencelupkan satu per satu testpack yang suaminya beli.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Testpack itu sudah mulai menunjukkan hasilnya. Dan ....
***
__ADS_1
Aku merindukan kalian ...
Apa kalian merindukan aku?