Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Membalikkan Fakta


__ADS_3

Seminggu sudah, Dirga dirawat di rumah sakit. Berkali-kali Dirga meminta untuk meninggalkan rumah sakit karena kondisinya yang sudah pulih. Namun, Niar tetap bersikukuh tidak mengizinkan Dirga keluar dari rumah sakit.


"Yang, aku bosen. Aku udah gak apa-apa, kok."


"Ay, kenapa sih kamu itu ngeyel. Luka luar kamu udah sembuh tapi, luka dalamnya itu belum sembuh."


"Yang ...."


"Kamu sayang gak sama aku? Kalo sayang sama aku, dengerin ucapan aku. Jangan ngebantah," sentak Niar.


Dirga mengangkat kedua tangannya tanda dia menyerah. Kelembutan Niar berubah menjadi singa betina jika, sudah marah.


"Yang, nanti uangku abis loh pake biaya rumah sakit. Nanti gak ada buat lamar kamu sama pernikahan kita," rayu Dirga seraya meletakkan kepalanya di bahu Niar.


"Gak mempan, Ay. Gak mempan."


Ponsel Niar berbunyi dan Niar pun mengiyakan perkataan si penelepon. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil tas di atas nakas.


"Ay, aku ke cafe dulu, ya. Ada yang tidak beres di sana," ujarnya.


"Ada masalah apa?"


"Katanya ada karyawanku yang bertengkar dengan salah satu pengunjung," sahutnya.


"Hati-hati." Wajah Dirga sangat dingin dan datar membuat Niar tidak tega meninggalkannya.

__ADS_1


"Jangan marah dong, Ay. Aku janji sebentar aja," kata Niar.


Dirga tidak bergeming, akhirnya Niar mengeluarkan jurus jitu agar Dirga luluh kepadanya. Diciuminya seluruh wajah Dirga dan juga dikecupnya hangat bibir Dirga. Bermain-main sebentar di sana hingga Dirga puas.


"Udah ya, Ay. Love you." Niar mengecup kembali bibir Dirga sekilas dan pergi meninggalkan Dirga yang tersenyum puas.


"Aku ingin segera memilikimu," gumamnya.


Niar melajukan mobilnya menuju cafe miliknya, sudah ada kerumunan disalah satu meja. Ketika langkah kaki Niar terdengar, semua karyawan memberikan jalan kepada Niar.


Dia melihat salah satu karyawannya sedang menunduk dengan baju yang sudah basah karena siraman air berwarna.


"Maaf, ada apa ini?" tanya Niar.


"Oh ... ternyata kamu pemilik cafe ini. Pantas saja, kelakuan karyawan dan pemiliknya sama. Sama-sama TIDAK TAHU DIRI," sarkas si wanita itu.


"Apa maksud Anda?" Niar berkata sesantai mungkin. Padahal hatinya sudah terbakar amarah. Orang yang sangat tidak ingin dia temui sekarang hadir di depan matanya.


"Tidak usah berpura-pura Niara," teriak Wulan. Ya, pengunjung yang mencari keributan itu adalah Wulan. Istri sah Jicko dan mantan istri Dirga yang diceraikan di malam pertama.


Semua karyawan menatap ke arah Niar. Sebisa mungkin Niar bersikap dengan tenang.


"Dasar wanita murahan, wanita perebut suami orang."


Plak!

__ADS_1


Tamparan keras mendarat di pipi Wulan. Air muka Niar sudah merah padam, matanya menyiratkan akan kemarahan.


"Tidak usah membalikkan fatka yang ada," bentak Niar.


"Hahaha ... lihat ini!" Wulan melemparkan buku nikah ke tubuh Niar.


"Itu buku nikahku dengan Jicko," teriaknya.


Semua karyawan yang menyaksikan hanya diam, mereka tahu pernikahan Niar tidak terlaksana. Asumsi mereka, jika Niar adalah seorang pelakor.


"Siapa yang di sini pelakor? Kamu telah merebut Dirga dariku begitu pun Jicko," cecarnya.


"Apa kamu masih mau menyangkal itu semua? Hah?" tantangnya pada Niar.


Mulut Niar benar-benar terbungkam, apalagi melihat tatapan mengintimidasi dari para karyawannya dan juga para pengunjung lain.


"Wajahmu hanya topeng untuk menutupi kebusukan mu," cela Wulan.


"Jaga mulutmu! Sebelum aku merobek-robek mulutmu dengan tanganku sendiri." teriak seseorang yang baru saja datang.


****


Happy reading ..


Mon maap, up-nya 1 bab aja dulu ya, palaku mumet 🤧

__ADS_1


__ADS_2