Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Kebahagiaan


__ADS_3

Meskipun sudah ada Arshen di dalam keluarganya. Deri tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, ada sesuatu yang kurang yang dia rasakan. Dia bagai bertumpu pada satu kaki, sedangkan satu kakinya telah pergi dari tubuhnya. Sulit baginya untuk terbiasa, tetapi dia harus menjaga hati anak-anaknya.


Setiap malam, Deri selalu betah berada di ruang kerja. Hanya asisten serta orang-orang kepercayaannya yang boleh masuk ke ruangan tersebut. Anak-anaknya pun dilarang masuk jika tidak memiliki kepentingan yang mendesak. Ruang itu adalah pribadi untuknya.


Foto bersama mantan istrinya masih terpajang rapi di sana. Deri belum bisa melupakan Septi dari ingatannya. Sesungguhnya dia masih mencintai Septi. Namun, dia rela berpisah dengan wanita yang amat mencintainya karena dia ingin melihat anak-anaknya bahagia. Terutama Dirga, anak yang sudah dia angkat. Dirga merasa punya kesalahan yang sangat besar kepada Dirga karena dia telah memisahkan Putranya dengan wanita yang Dirga sayangi hingga Dirga memilih untuk keluar dari rumah. Deri tidak ingin hubungannya dengan Dirga yang baru saja membaik, kini berubah memanas kembali. Dirga adalah titipan Tuhan yang sangat berharga untuknya.


Tangan Deri menyentuh figura yang ada di atas meja kerja. Itu adalah foto Deri dan juga Septi berdua yang tengah berlibur bersama di pulau Belitong. Tempat yang dipakai untuk syuting film layar lebar Laskar Pelangi. Wajah Septi masih sangat cantik dengan rambut yang dia Cepol ke atas. Senyumnya sangat merekah. Mantan istrinya itu sungguh sangat awet muda. Bibir Deri pun sedikit terangkat ketika melihat foto tersebut. Hanya kebahagiaan yang mereka berdua pancarkan.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" gumamnya.


Dari balik jeruji besi, wanita yang masih selalu Deri ingat hanya bisa duduk bersandar dengan tasbih yang dia pegang . Tasbih itu adalah tasbih pemberian Deri ketika pernikahan mereka, sudah hampir tiga puluh tahun lalu dan masih Septi simpan dengan baik. Kalimat tasbih sellau dia ucapkan setelah dia tidak ada kegiatan di rutan.


Masuk ke dalam jeruji besi Septi anggap seperti masuk ke dalam sebuah pesantren modern. Dia bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan seraya meminta ampun kepada sang pemilik semesta. Sudah banyak sekali kesalahan yang dia lakukan. Sudah banyak sekali dia melakukan hal yang dilarang oleh Tuhan. Dia sama sekali tidak menyesal masuk ke dalam penjara. Dia malah bersyukur karena Tuhan masih menyayanginya. Menegurnya dengan cara seperti ini. Septi belajar menerima takdir yang sudah Tuhan tuliskan untuknya.


Bukan hanya hati Deri yang merasa kosong, Septi pun merasakan hal yang sama karena perpisahannya dengan Deri. Apalagi, kedua anaknya membencinya. Hatinya bagai sudah mati. Dia hanya memiliki Bunga, anak dari hubungan gelapnya dengan ayah kandung Bunga. Sebuah kesalahan yang terbongkar karena ketamakannya. Dia menyuruh putra angkatnya menikah dengan Bunga dengan alasan Dirga berhutang Budi kepada Bunga. Padahal Sepeti tidak ingin harta yang sudah Dirga cari selama dia kabur dari rumah tidak jatuh ke tangan orang lain. Pada nyatanya, Deri tidak meninggalkan warisan kepadanya karena tingkah lakunya yang tak bisa masuk ke dalam nalar manusia waras.


"Maafkan Mamah, Nak," sesal Septi dengan kepala yang menunduk menahan tangisnya.


Jika, teringat akan Dirga air matanya akan menetes begitu saja. Untungnya putranya itu memiliki hati yang sangat lapang. Dias sering menjenguk Septi seakan tidak ada dendam yang dia miliki untuk ibu kandungnya. Dirga juga mengatakan kepada Septi bahwa dia sudah memaafkan segala kesalahannya. Hati ibu mana yang tidak akan tersentuh ketika mendengar ucapan dari anak angkat. Itulah yang membuat Septi semakin hari semakin ingin meminta ampun akan kesalahannya kepada sang maha kuasa.


Putranya itu sering sekali mengunjunginya, tetapi Septi malu dengan sikap Dirga. Dia meminta Dirga untuk tidak lagi menemuinya. Sebenarnya Hatinya sakit ketika mengatakan itu. Dia ingin selalu bersama anaknya. Namun, dia juga sudah menjadi ibu yang buruk untuk Dirga dan merasa tidak pantas untuk menerima kebaikan dari putranya.


Deri masih betah berada di ruang kerja. Jam sudah menjnjukkan pukul dua belas malam. Masih ada rasa kehilangan di hati Deri. Wanita yang sangat dia cintai malah berkhianat, dan kini mendekam di balik jeruji besi karena laporan sang putra. Septi hampir mencelakai istri DIrga dan juga calon buah hatinya. Tanpa Septi tahu, ternyata Deri selalu memantau keadaannya melalui seseorang yang berada di sana.


Sampai saat ini, nama Septi masih memenuhi kepala dan hati Dirga. Dia masih mencintai Septi. Wanita yang mampu menerima apa adanya dirinya. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal di hati Deri.


"Aku tidak akan membuat anak-anak kecewa lagi. Terutama Dirga," gumamnya.


Itulah yang Deri rasakan. Dirga dan Nindy adalah harta yang paling berharga yang Deri miliki. Dia tidak ingin kehilangan kedua anaknya apapun alasannya. Apalagi, ketika Deri mengetahui bahwa Septi memiliki anak dari pria lain yang tak lain adalah selingkuhannya. Sungguh hati Deri sangat sakit sekali. Hatinya bagi dipukul batu yang sangat besar, dihujani peluru panas serta ditusuk belati yang sangat runcing dan juga tajam, sehingga rasa sakit biru masih melekat di hati Deri. Jika, ada dua pilihan istri atau anak, Deri akan memilih anak.


Sebenarnya, ketulusan Septilah yang membuat rasa cinta di hati Dirga masih ada. Walaupun dia sudah tersakiti. Dia tahu manusia adalah gudangnya kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Apalagi Septi adalah wanita pertama yang mau menerima Dirga dengan lapang dada membuatnya sangat bahagia. Walaupun Dirga itu bukan anaknya. Namun, Septi menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Aku sudah punya anak," ucap Deri muda ketika bertemu dengan Septi. Dirga kecil pun pada waktu itu selalu ikut ke manapun Deri pergi.


Hanya sebuah senyuman yang Septi berikan pada waktu itu. Tangannya mengusap lembut kepala Dirga.


"Aku juga menyukai anak-anak," balas Septi dengan senyum penuh ketulusan.


Dirga kecil yang awalnya tidak ingin digendong oleh orang asing, tepi ketika bersama Septi Dirg kecil mau digendong malah tidak ingin diturunkan.


"Ma-mah."


Mata Deri melebar dengan sempurna ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dirga kecil. Ucapan yang sangat tulus yang DIrga katakan. Deri belum menceritakan siapa Dirga sebenarnya. Dia ingin mengetes Septi. Apa dia benar-benar menyayangi Dirga atau hanya kebohongan belaka.


Satu bulan.

__ADS_1


Dua bulan.


Tiga bulan.


Empat bulan.


Lima bulan.


Septi semakin lengket kepada Dirga. Begitu juga dengan Dirga. Deri pun tidak menemukan hal yang ganjil dalam sikap Septi. Septi memiliki sifat keibuan yang membuat Dirga nyaman.


Sedikit demi sedikit hati keras Deri mulai luluh. Apalagi Septi selalu menunjukkan kasih sayang tulusnya kepada Dirga. Bocah kecil yang nasibnya sangat malang karena sudah dibuang oleh orang tua yang biadab.


Dirga selalu bercerita tentang Septi kepadanya. Wajah Dirga kecil selalu berbinar ketika bercerita. Dirga tidk sebahagia ini sebelumnya.


"Jagoan Papah mau punya Mamah?" Kepala Dirga kecil mengangguk dengan cepat. Tangannya melingkar di leher Deri.


"Seperti Mamah Tepti, ya."


Itulah alasan Deri menjadikan Septi sebagai istrinya. Ketika Dirga merasa nyaman, pasti wanita itu adalah wanita yang sangat baik. Kenyamanan dan restu anaknya itulah nomor pertama.


***


Selama Septi mendekam di penjada, Deri slalu memantaunya melalui orang dalam. Ketika dia menerima kiriman foto wajah Septi yang semakin hari semakin tirus, membuat hatinya pilu. Septi sudah tidak secantik dulu ketika bersamanya. Wajah yang biasanya dirawat, kini sudah timbul kerutan dan bintik hitam.


Lelah selalu berada di belakang layar, Deri ingin menemui Septi secara langsung. Dia ingin berbincang walaupun hanya sebentar. Dia rindu sungguh sangat rindu. Apalagi mendengar suaranya yang sangat lembut itu.


"Silakan," ucap seorang polisi kepada Septi. Septi hanya mengangguk.


Dahi Septi mengkerut ketika melihat siapa yang menjenguknya. Kedua alisnya pun ikut menukik tajam. Dari arah belakang dia sangat tahu postur tubuh itu, tetapi itu sangat tidak mungkin terjadi. Itu adalah postur tubuh mantan suaminya.


"Mas Deri gak mungkin jenguk aku," batinnya.


Septi melanjutkan langkah kakinya menuju orang tersebut. Seketika tubuh itu berbalik dan matanya menatap penuh rindu ke arah Septi. Deri hanya mematung dengan air mata yang sudah menganak. Ini bagai mimpi bagi Septi. Lama mereka saling pandang tanpa ada satu buah kata pun yang keluar dari mulut mereka.


"M-mas Deri," katanya dengan suara pelan. Septi sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Apa ini mimpi?" batin Septi lagi.


Selama di dalam penjara dia hanya dapat menyampaikan rindunya kepada Deri dalam doa yang selalu dia panjatkan. Hari ini, Tuhan mengabulkan doanya akan kerinduannya yang sesungguhnya. Ayah dari anak-anaknya kini ada di hadapannya. Ini semua seperti mimpi bagi dirinya.


Deri tersenyum bahagia dan mengangguk pelan ke arahnya. Kerinduan akan senyum sang mantan suami kini terobati sudah. Mata Septi sudah berair. Ada kehangatan yang Septi rasakan. Ingin rasanya dai memeluk tubuh pria yang sangat dia cintai itu. Akan tetapi, dia sadar siapa dia sekarang.


"Apa Mas Deri ke sini mau mengatakan bahwa dia akan menikah lagi?"


Pikiran jelek sudah menghantui hatinya. htinya Snagit ketakutan karena sesungguhnya dia masih menyayangi mantan suaminya. Apa Septi rela mengijinkan suaminya untuk menikah lagi? Sudah pasti dia yang akan gila.

__ADS_1


Namun, dia juga harus sadar diri. Sekarang dia itu siapa? Apa Deri masih mencintainya? Belum tentu. Pria lebih mudah membuka hatinya kepada wanita. Berbeda dengan wanita yang jika sudah kecewa akan sulit membuka hatinya.


Septi yang masih mematung tak jauh dari tempat Deri menunggu. Dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke tempat Deri berada. Dia memberanikan diri untuk duduk di seberang Deri. Sorot mata mereka terlihat berbicara. Meskipun mulut mereka berdua terbungkam rapat.


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Deri dengan bahasa yang canggung. Itu pun baru dia lontarkan ketika dia sudah membuang-buang waktu.


"Baik, Mas." Septi pun menjawabnya dengan singkat. Dia sendiri bingung mau menjawab apa. Hatinya terlalu bahagia melihat pria yang masih sangat dia cintai. Semakin hari pria itu semakin tampan sekali. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi.


Setelah sapaan basa-basi, mereka berdua hanya terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Deri yang menatap ke arah Septi, begitu juga Septi yang menatap ke arah Deri. Mereka berdua seperti manusia yang tengah melepas rindu karena berbulan-bulan tidak bertemu.


Banyak hal yang ingin Septi katanya. Akan tetapi, mulutnya terasa terkunci rapat. Dia sama sekali tidak bisa membuka suaranya.


"Aku ingin memelukmu, Mas," batinnya lirih. Pelukan Deri mampu memberikan kenyamanan untuk Septi. Apalagi usapan lembut tangan Deri yang mampu membuat Septi terasa dilindungi. Banyak yang Septi rindukan. Banyak yang Septi ingin ulang. Namun, satu hal yang tidak dapat diulang, yaitu waktu.


Lima menit berselang, Deri memutus pandangannya terhadap Septi. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," balasnya.


Septi tersentak dengan ucapan Deri. Dia berpikir bahwa Deri akan mengucapkan kata rindu. Pada nyatanya tidak seperti itu. Septi melihat ada sorot kebencian dari mata Deri.


Ketika Deri hendak bangkit dari duduknya, membuat Septi sedikit terlonjak. Ternyata mantan suaminya hanya berbicara itu saja.


"Aku ke sini hanya ingin tahu kabar kamu. Aku permisi," tukas Deri dan pergi begitu saja.


Air mata Septi menetes tanpa permisi. Hatinya sangat sakit dan dia beranggapan bahwa Deri masih marah kepada dirinya. Baru kali ini Septi meraskan kesakitan yang sangat luar biasa.


"Maafkan aku, Mas. Aku sangat menyesal," lirihnya dengan air mata yang sudah merembes.


Di dalam mobil, Deri menundukkan kepalanya di atas stir. Dia menumpahkan segala kesedihannya ketika melihat wajah Septi yang berbeda sekali. Warna kulit yang sedikit menggelap, kerutan halus terlihat jelas serta badan yang lebih kurus. Rambut pun sudah memutih. Berbeda ketika dia masih menjadi Nyonya Deri.


"Aku tidak bisa berlama-lama. Aku tidak tega melihat kamu," gumamnya lagi.


Rasa sayang Deri mengalahkan rasa bencinya. Inilah Deri, jika sudah mencintai seseorang dia akan menyayanginya terus. Walaupun tanpa sengaja atau tidak sengaja Septi melakukan kesalahan.


Semarah apapun Deri, tetapi dia tidak bisa marah terlalu lama kepada Septi. Mantan istrinya sudah sangat berjasa dalam kehidupannya. Apalagi, dia sudah bersedia mengurus Dirga dari balita dengan kasih sayang yang sangat tulus. Setelah Nindy lahir pun Septi tetap menyayangi Dirga.


Hatinya mengatakan bahwa dia ingin kembali kepada Septi. Akan tetapi, logikanya menolak. Septi wanita jahat dan tidak pantas Deri pertahankan. Hati dan pikiran Deri tidak sejalan.


Hal yang paling membuat Deri berat untuk kembali kepada Septi adalah kedua anaknya. Mereka adalah matahari yang terus menyinari kehidupan Deri. Dia tidak ingin mengorbankan kedua anaknya. Sudah dulu dia salah karena sudah membuat Dirga kabur dari rumah. Dia tidak ingin hal itu terjadi lagi. Dia ingin menikmati masa tua bersama anak, menantu serta cucunya.


"Papah sudah berjanji pada diri Papah sendiri, bahwa Papah akan mengorbankan kebahagiaan Papah demi kamu, Dirga. Papah tidak mau kamu menderita seperti kamu bayi. Papah mengangkat kamu sebagai anak karena Papah ingin melihat kamu bahagia. Kebahagiaan kamu adalah segalanya untuk Papah. Papah akan mengabaikan rasa sakit ini," gumamnya dengan suara yang sangat berat.

__ADS_1


Dia tidak ingin kedua anaknya membencinya. Dia tidak ingin egois. Biarlah dia memberikan yang terbaik untuk Dirga dan juga Nindy. Meskipun ulu hatinya seperti ditusuk belati panjang.


__ADS_2