
Hubungan Kenan dan Nindy semakin lengket, tetapi Nindy belum berani menempati apartment Kenan. Dia masih takut suaminya akan mengingat mendiang istrinya kembali. Padahal, istrinya sama sekali tidak menempati apartment tersebut. Hanya sebuah foto yang terpajang di sana. Semenjak kepergiaan Kinanti. barulah Kenan menjadi orang sukses bersama Dirga.
"Kapan mau pindah ke apartment?" tanya Kenan yang tengaj memeluk tubuh Nindy. Mereka baru sjaa melakukan ritual yang menegangkan, tetapi mengasyikan. Niar terdiam sejenak. Dia ragu untuk menjawabnya.
"Aku belum siap, Mas," ucapnya dengan suara pelan.
Kenan tersenyum, dia juga tidak akan memaksa istrinya. Usia pernikahannya masih berjalan satu bulan. Masih seumur jagung. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menuruti apa yang Nindy inginkan. Asalkan, itu membuat Nindy bahagia.
"Mas, gak marah 'kan?" tanya Nindy hati-hati. Kepalanya sudah dia dongakkan ke atas.
"Enggak. Mas, akan menunggu sampai kamu siap," balas Kenan, seraya tersenyum.
Semakin ke sini Kenan semakin dewasa. Tak pernah dia membentak Nindy. Apapun yang istrinya pinta selalu Kenan turuti. Apalagi rasa cintanya kepada Nindy sangatlah besar. Semenjak menjalani pacaran setelah menikah, dia merasakan jatuh cinta yang luar biasa pada sosok adik dari atasannya ini. Apalagi, ketika Nindy menentukan kehormatannya dan mampu memuaskannya. Sungguh Kenan jatuh cinta sangat dalam kepada Nindy. Melebih cintanya kepada menidnag istrinya.
"Kapan mau ke Bandung?" tanya Kenan.
"Terserah Mas, saja."
Kenan berpikir keras. Untuk sekarang dia tidak akan bisa meminta cuti kepada bosnya. Bukan tanpa sebab, bosnya sudah jarang ke kantor. Apalagi istri sang bos sudah memasuki waktu HPL. Bosnya benar-benar menjadi suami siaga.
"Nunggu keponakan kita lahir, bagaimana? Kamu gak keberatan 'kan?"
Nindy menggeleng dan memeluk tubuh Kenan. "Aku akan siap kapan saja Asal jangan pas tamu datang. Nanti honey moon-nya gagal," kelakar Nindy.
Kenan tertawa dan mengecup gemas sang istri. Tingkah Nindy yang sering kekanak-kanakan membuatnya bahagia. Nindy bukan hanya sekedar istri, dia juga seperti adik dan juga teman untuk Kenan.
Di rumah yang berbeda, Niar sudah sering mengeluh kesakitan. Ringisan-ringisan kecil sudah keluar dari mulutnya. Dirga selalu siaga dan selalu menawarkan untuk pergi ke rumah saki. Namun, Niar menolaknya.
"Nanti juga hilang lagi." Hanya kalimat itu yang Niar katakan. Mau tidak mau Dirga menurutinya saja.
Bukan Niar yang takut atau tegang, Dirgalah yang tengah menahan ketakutan serta ketegangannya. Setiap Niar mengeluh sakit, perutnya terasa dicabik-cabik. Seakan dia ikut merasakan penderitaan Niar.
Rasa sakit itu mulai hilang kembali. Niar sudah bisa duduk di sofa dengan peluh yang membasahi wajah. Dirga mengusap lembut keringat yang membanjiri wajah Niar. Napasnya pun sudah tersengal. Dirga memberikan air putih untuk istri tercintanya. Ini kali ketiga Niar merasakan sakit.
Mata Niar mulai terpejam. Sedari subuh dia tidak bisa tidur karena menahan sakit. Dirga mengusap lembut kepala Niar dan akhirnya dia terlelap. Raut wajah Dirga terlihat sangat cemas. Dia tidak ingin melihat istrinya kesakitan. Namun, istrinya bersikukuh untuk menjalani persalinan secara normal.
Selagi setengah jam, Niar kembali bergerak tak karuhan. Dirga yang baru saja dari dapur sedikit terkejut dan menghampiri istrinya.
"Ay."
Rasa sakit itu mulai datang lagi. Namun, sakitnya dua kali lipat dari yang sebelumnya. Niar menggenggam erat tangan Dirga karena menahan kesakitan yang ada.
"Sakit lagi?" Niar mengangguk dengan tangan yang satunya mencengkeram sofa.
"Kita ke rumah sakit, ya." Wajah Dirga sudah sangat cemas dan hatinya benar-benar ketakutan sekarang ini. Apalagi wajah Niar yang sudah pucat.
"Nanti aja," jawabnya dengan menahan rasa sakit itu.
Sebenarnya Dirga tengah dilanda kebingungan. Di sini dia hanya seorang diri. Mbok Sum ijin tidak masuk karena anaknya sakit. Ibu mertuanya yang berencana akan datang seminggu sebelum HPL malah batal datang karena Bu Sari baru saja sembuh dari sakitnya. Dia juga harus dirawat secara intens di rumah sakit. Sebagai seorang anak, Niar tidak ingin menyusahkan ibunya. Dia memilih membiarkan ibunya beristirahat. Setelah ibunya sembuh total barulah ibunya boleh datang ke Jakarta.
Disela kesakitan sang istri. Dirga mengusap lembut perut Niar. "Nak, jangan nakal dong. Kasihan Mamih," ucap Dirga pelan.
Namun, rasa sakit itu masih menjalar dan lama hilang. Peluh kembali membasahi kening Niar. Sakitnya belum reda pula dan dua masih keras kepala tidak ingin dibawa ke rumah sakit.
"Sayang, kamu mau nunggu apa lagi?" Dirga benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Niar.
"Ini masih belum seberapa, Ay. Kalau sudah semakin sakit baru aku mau ke rumah sakit. Aku ingin melahirkan secara normal," tegasnya.
Hanya karena ingin melahirkan secara normal, Niar rela mengantri rasa sakitnya. Jika, dia buru-buru dibawa ke rumah sakit ketika pembukaan awol yang ada tindakan oeprasi yang akan menjadi jalan pintas.
__ADS_1
Perlahan sakitnya mulai hilang. Niar mencoba untuk bangkit dari duduknya. Dia berjalan-jalan kecil untuk memperlancar proses persalinannya nanti. Itulah saran yang bundanya katakan. Terdengar sangat kolot, tetapi orang zaman dahulu lebih apik dari anak zaman sekarang. Itu semua agar tubuh tidak merasakan efek buruk yang akan datang di masa mendatang.
"Sayang, jangan jauh-jauh," ucap Dirga.
Dia mengikuti ke mana langkah Niar melangkah. Dia takut, jika istrinya akan merasakan sakit kembali dan akan jatuh seketika.
Setelah dirasa cukup. Niar duduk kembali di sofa. Dirga mengangkat kaki istrinya dan memijat pelan kaki istrinya yang bengkak.
"Kalau udah sakit banget bilang ya, Sayang." Niar mengangguk. Dia mencoba memejamkan matanya karena pijatan yang dilakukan sang suami membuatnya keenakan. Tak lama, dia pun terpejam kembali.
Dirga membenarkan posisi Niar. Dia meletakkan bantal di punggung istrinya. Sebenarnya Dirga kasihan kepada istrinya. Dia lebih menyarankan untuk melakukan operasi daripada harus melihat istrinya kesakitan seperti ini.
Dirga meraih ponselnya, dia berniat untuk menelepon ibu mertuanya. Namun, dia mencoba menjauh dari Niar karena takut istrinya terganggu.
"Assalamualaikum, Bun."
"Waalaikum salam, Ga. Niar udah lahiran, Ga?" tanya Bu Sari dari balik sambungan telepon.
Namun, Bu Sari tidak mendengar jawaban dari Dirga. Samar-samar terdengar suara isakan tangis.
"Ga, kamu nangis?"ujar Bu Sari.
"Aku gak sanggup lihat Niar kesakitan, Bun."
Suara tangis Dirga terdengar sangat jelas di telinga Bu Sari.
"Jangan menangis, Ga. Kamu harus kuat," ucap Bu Sari.
"Tolong bujuk Niar untuk melakukan operasi." Suara Dirga terdengar sangat bergetar dan Bu Sari sangat merasakan ketakutan yang Dirga rasakan.
"Dirga, dengar Bunda. Wanita itu ditakdirkan untuk melahirkan. Bunda yakin Niar kuat. Dia akan menjadi ibu yang hebat untuk anaknya. Kamu harus dukung kemauannya, Ga. Jika, dokter menyatakan bahwa Niar tidak bisa melahirkan normal barulah kamu bisa melakukan tindakan operasi."
"Dirga, kamu tenang, ya. Jangan panik seperti itu. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama Bunda," tutur Bu Sari.
"Baik, Bun. Doakan Niar ya, Bun. Semoga Niar dan bayi kami selamat," pinta Dirga.
"Tentu, Dirga. Doa seorang ibu tidak akan pernah terputus untuk anaknya. Temani Niar terus ya, Nak. Jangan pernah tinggalkan dia disaat dia tengah berjuang di antara hidup dan mati.".
"Iya, Bun. Itu pasti."
Ada kelegaan di hati Dirga. Kali ini, dia yang harus kuat. Jangan biarkan Niar melihat kelemahannya.
"Ay," panggil Niar dari dalam.
Dirga segera menghampiri istrinya. Wajah paniknya sangat kentara.
"Sakit lagi?" Niar menggeleng.
"Lapar."
Dirga pun tertawa dan mengecup kening istrinya sangat dalam.
"Anak Papih mau makan apa?" tanya Dirga ke arah perut buncit sang istri.
"Mau roti panggang selai cokelat sama susu cokelat hangat, Pih."
Dirga tertawa dan mencubit gemas pipi istrinya.
"Ya udah, Papih bikinin, ya. Mamih dan dedeknya tunggu di sini." Niar menggeleng.
__ADS_1
"Ikut," pintanya dengan suara manja.
Dirga pun tertawa mendengarnya. Dia mengangguk dan menuntun istrinya menuju dapur. Dirga menarik kursi untuk Niar duduki.
"Tunggu di sini ya, Mih. Papih bikin roti panggangnya dulu."
Niar tersenyum ketika melihat Dirga di dapur. Kehamilan ini sangat senang sekali melihat Dirga di dapur. Bibirnya tersenyum bahagia sambil mengelus perut buncitnya.
"Papihmu adalah ayah siaga, Nak. Semoga nanti kamu seperti Papih, ya. Selalu menjaga Mamih dan menyayangi Mamih dengan tulus," gumam Niar, tangannya terus mengusap lembut perutnya.
"Roti panggang dan susu cokelatnya sudah siap." Dirga membawa piring dan juga gelas berisi susu cokelat hangat.
"Makasih Papih."
Dirga melarang Niar untuk memakannya sendiri. Dialah yang akan menyuapi Niar dengan telaten.
"Enak gak?" Niar mengangguk.
"Papih juga makan." Niar mengambil roti yang masih ada di piring. Menyuapi suaminya dengan telaten.
Selama kehamilan ini, Dirga benar-benar memanjakan Niar. Apapun yang Niar inginkan akan selalu Dirga penuhi. Rasa lelah tak membuat dia menolak. Malah, dia dengan senang hati membajaknya istrinya.
Sore hari, Nindy meminta ijin kepada Kenan untuk ke rumah sang kakak. Perasaannya sedikit tidak enak. Dia sudah bersiap akan pergi.
"Tunggu Mas aja, Sayang." Begitulah yang Kenan katakan dari balik sambungan telepon.
"Enggak Mas. Nanti 'kan Mas bisa nyusul."
Kenan tidak ingin berdebat, akhirnya dia mengiyakan ucapan Nindy.
Nindy mengendari taksi online menuju kediaman sang kakak. Suaminya pasti akan menjemputnya perang nanti. Tibanya di rumah Niar, keadaan sepi. Hatinya dag dig dug Tak menentu. Dia takut sang kakak ipar sudah melahirkan.
Mbok Sum yang biasanya ada di dapur, ini tidak ada. Kecemasan kini menghantui hati Nindy. Dia mencoba ke kamar sang kakak. Dia buka perlahan dan ternyata mereka tengah terlelap bersama.
Nindy dapat bernapas lega. Dia kembali ke ruang tengah. Memainkan ponselnya. Selang lima belas menit, pintu kamar Dirga terbuka dan terlihat Dirga sudah panik setengah mati. Membopong tubuh Niar yang sudah menjambak kepala Dirga.
"Sakit, Ay," ringisnya.
"Kak, Kak Niar kenapa?" tanya Nindy yang ikutan panik.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Ndy. Kamu yang bawa mobilnya.
Nindy mengangguk, dia masuk ke dalam kamar sang kakak dan meraih kunci mobil di atas nakas. Hampir saja Nindy lupa akan tas yang dia bawa. Dia melihat kakaknya tidak membawa apa-apa. Hanya celana pendek yang dia gunakan dengan kaos oblong putih. Sandal yang dia gunakan pun sandal rumahan sejuta umat.
"Ay, sakit." Rintihan terus keluar dari mulut Niar selama di perjalanan. Dirga sungguh tidak tega melihatnya.
Tangan Dirga terus mengusap lembut kepala Niar. Tak hentinya dia mengecup kening sang istri.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai."
Namun, jalan yang mereka lalui mengalami kemacetan. Membuat Dirga mengerang kesal. Terlebih melihat istrinya yang sudah sangat kesakitan. Bukan hanya Dirga yang kesal. Nindy pun terus mengklakson mobil yang ada di depannya. Dia melihat kakak iparnya sangat kesakitan dengan air mata yang v sudah menetes.
"Sakit, Ay. Aku gak kuat," ucapnya.
"Istighfar, Kak. Jangan berbicara seperti itu," larang Nindy.
"Kamu pasti kuat, Sayang."
Jeritan kesakitan keluar kembali dari mulut Niar. Tangannya terus mencengkeram tangan Dirga atau menjambak rambut sang suami.
__ADS_1
"Sakit!"