
Dirga mengulum bibirnya ketika mendengar ucapan Kenan yang terdengar sangat serius di telinganya. Sedangkan Nindy sudah menatap tajam ke arah Kenan. Tak siapapun sangka, Kenan mengecup lembut kening Nindy di hadapan semua orang. Termasuk Dirga, kakak dari Nindy. Jantung Nindy seperti mau melompat dari tempatnya. Apalagi sekarang, tangan Kenan sudah melingkar di pundaknya.
"Tidak lama lagi kami akan menikah," ujar Kenan.
Bukan hanya Nindy yang terkejut, Dirga pun terkejut dengan ucapan Kenan.
Rico dan juga papahnya hanya terdiam. Seorang Kenan tidak akan melakukan hal yang bodoh di depan rekan bisnisnya jika dia tidak serius dengan ucapannya.
Mereka menikmati makan dalam keadaan hening. Dirga memilih untuk pulang duluan karena dia sudah akan menemani sang istri memeriksa kandungan.
"Pulang bersama calon suamimu." Ucapan Dirga seperti ledekan di telinga Nindy.
"Aku tahu perkataanmu itu sangat serius," bisik Dirga di telinga Kenan.
Di sepanjang perjalanan kembali ke kantor, hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka berdua. Mobil pun berhenti di area parkir kantor. Nindy memilih untuk berjalan terlebih dahulu meninggalkan Kenan.
"Ke ruangan saya," ujar Kenan ketika melihat Nindy yang pura-pura sedang sibuk.
Tidak ada jawaban dari Nindy. Matanya masih fokus pada layar segiempat di depannya. Kenan pun mendengus kesal dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nindy.
__ADS_1
"Saya tidak menerima penolakan," tegasnya.
Kenan berlalu begitu saja dan terdengar suara bantingan pintu cukup keras ketika Kenan masuk ke ruangannya.
"Mau ngomong apa lagi? Belum cukup bikin jantung gua mau lompat," gerutunya pelan.
Sebelum masuk ke ruangan Kenan, Nindy menarik napas panjang terlebih dahulu agar bisa menghadapi kenyataan yang ada. Nindy mengetuk pintu terlebih dahulu baru lah dia masuk ke dalam ruangan yang terasa sangat dingin.
Nindy tidak melihat keberadaan Kenan di kursi kebesarannya. Matanya terus berkeliling dan mendapati Kenan sedang duduk di sofa dengan tubuh yang tersandar.
"Maaf, ada apa Pak?" Sebisa mungkin Nindy berbicara sopan.
Nindy memilih duduk di sofa single Hingga membuat Kenan mendengus kesal.
"Duduk di samping saya," tegasnya.
Mau tidak mau Nindy mengikuti perintah dari orang kepercayaan sang kakak. Nindy masih menyisakan jarak di antara mereka berdua.
"Masalah tadi ...."
__ADS_1
"Makasih sudah menyelamatkan saya untuk kedua kalinya," sambung Nindy.
Kenan menatap ke arah Nindy yang juga sedang menatapnya.
"Saya tahu ... Anda tidak serius dengan ucapan Anda. Hanya sekedar melindungi saya atas perintah dari kakak saya. Sekali lagi saya sangat berterima kasih. Maaf, selalu merepotkan Anda," tukas Nindy.
Kenan hanya diam mendengar ucapan Nindy.
"Saya harap, Anda tidak mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi di hadapan rekan bisnis Anda. Saya takut ... mereka akan menagih apa yang Anda ucapkan," tandas Nindy.
"Berbohong lah seperlunya saja, jangan menyusahkan diri Anda juga." Apa yang Nindy pikirkan ternyata benar, Kenan ingin membahas perihal ucapannya di restoran tadi.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Maaf, saya tidak bisa membalas jasa baik Anda." Nindy mengangguk hormat kemudian bangkit dari duduknya.
"Saya permisi, Pak." Kaki Nindy membawa langkahnya menjauhi Kenan.
"Saya serius dengan ucapan saya, Nindy." Suara Kenan menggema di dalam ruangan yang hanya ada mereka berdua.
Tangan Nindy yang hendak memegang gagang pintu pun seolah membeku mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Saya mencintai kamu."