
"Kenan!"
Tangan Dirga sudah mencari ponsel di sakunya. Menunggu jawaban dari Kenan dengan rahang yang mengeras.
"Kembali ke kantor sekarang juga," tegasnya. Sambungan telepon dia putus secara sepihak.
Dirga menggelengkan kepalanya dan segera menghubungi Deri. Meminta Deri untuk datang ke kantornya. Lama beradu ucap dengan Deri karena Deri pun masih sibuk, akhirnya Deri menyetujuinya.
Dirga yang hendak menyerang istrinya malah masih fokus terhadap layar di depannya. Menghela napas berat berkali-kali. Hingga suara pintu terbuka mengalihkan pikirannya.
"Kok keluar?"
"Kamunya lama," sungut Niar dan mampu membuat Dirga tergelak.
Dirga menarik tubuh istrinya dengan sangat hati-hati dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Ada masalah?" Niar menatap wajah suaminya dengan tangan yang sudah menyentuh rahang Dirga.
Tidak ada jawaban dari Dirga. Namun, dia mengarahkan layar laptop ke arah Niar. Mata Niar memicing, tidak ada yang aneh dari rekaman cctv. Namun, Niar melebarkan matanya ketika melihat dua orang yang dia kenali.
"Ay ...."
Dirga meletakkan dagunya di bahu sang istri. Hanya helaan napas kasar yang terdengar. Niar tahu, apa yang sedang dirasakan oleh Dirga.
"Tidak ada masalah 'kan? Kenan single meskipun statusnya duda," imbuh Niar.
__ADS_1
Dirga hanya terdiam, hingga suara telepon di ruangannya berdering.
"Ada Papah katanya ingin bertemu."
Tak ada jawaban dari Dirga, dia segera membuka ruangannya yang tadi dia kunci.
"Kenapa dikunci?" Belum mendapat jawaban dari Dirga, Deri sudah ber-oh ria. Dia melihat ada Niar di sana.
"Pah," sapa Niar.
Niat mencium tangan Dirga dengan sangat sopan.
"Tumben mampir ke sini?" tanya Deri.
"Ada perlu apa kamu panggil Papah ke sini?" selidik Deri.
Dirga meminta sang papah untuk duduk terlebih dahulu. Diikuti dirinya dan juga Niar.
"Kita tunggu satu orang lagi, Pah." Dahi Deri mengernyit mendengar apa yang dikatakan oleh Dirga. Ada rasa takut di hati Deri.
Sepuluh menit berselang, Kenan datang dengan langkah lebar. Dia pun mengabaikan Nindy yang tengah menatap heran kepadanya.
"Apa aku hanya pemuas nafsunya saja?" Pikiran jelek sedang berkelana di kepalanya.
Mata Kenan membola ketika di ruangan Dirga sudah ada Deri. Keberadaan Niar tak pernah Kenan hiraukan. Akan tetapi, kedatangan Deri yang membuatnya sedikit curiga. Kepalanya sedang mencari tahu apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Deg.
Dadanya mulai berhenti berdetak ketika dia mengingat sesuatu. Apalagi tatapan Dirga sudah sangat tidak bersahabat.
"Kenapa kamu mematung di sana?" Deri seakan bingung melihat Kenan seperti orang ketakutan. Sedangkan putranya sudah menatap sangar ke arah Kenan. Baru saja melangkah, ucapan Dirga mampu memecah gendang telinganya.
"Sayang, tolong panggil Nindy ke sini."
Detak jantung Kenan semakin bergemuruh. Apalagi dia melihat Niar sudah beranjak dari duduknya. .
Bodoh kamu Kenan! Bodoh!
Kenan duduk di hadapan Deri dan juga Dirga.
"Ada apa, Kak?" Suara Nindy mampu Kenan dengar dari dalam. Nindy pun ditatap horor oleh sang kakak.
"Kenapa kamu menyuruh Nindy masuk juga? Ada apa sebenarnya Dirga?" Deri sudah sangat penasaran.
Dirga beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil laptopnya dan menunjukkan sesuatu kepada sang papah.
"Cctv?"
Pertanyaan Deri memebuat Nindy dan Kenan saling tatap. Ada raut ketakutan dari sorot mata mereka berdua. Terutama Nindy, menghadapi kemarahan kedua pria kesayangannya membuat Nindy takut. Sedangkan Niar mengulum bibirnya melihat wajah Kenan dan Nindy. Persis seperti anak ABG yang ketahuan mesoem oleh orang tuanya.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara Deri kini memekik gendang telinga.
__ADS_1