Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Amazing


__ADS_3

Banyak para kolega Dirga yang berdatangan ke rumah untuk menengok Dirga Junior. Hadiah yang Arshen dapat pun sangat banyak. Satu kamar penuh dengan hadiah yang para kolega papihnya berikan. Sudah pasti itu bukan barang murahan.


Hari ini, Dirga dan Niar kedatangan tamu keluarga Addhitama. Ada Raditya Addhitama, Rifal Addhitama serta Rindra Addhitama. Mereka bersama istri mereka masing-masing, kecuali Rifal yang masih single.


Echa istri dari Raditya Addhitama serta Nesha istri dari Rindra Addhitama menyapa hangat Niar. Meskipun, mereka baru bertemu mereka nampak sudah akrab. Apalagi, Nesha yang sangat suka dengan Arshen, putra dari Dirga.


"Tampan sekali, Kak," puji Echa.


"Namanya juga anak cowok, Jeng," jawab Niar.


"Panggil Echa aja, Kak. Echa gak biasa dipanggil seperti itu."


"Ada ya istri dari pengusaha muda kaya raya, tetapi sangat rendah hati," batinnya.


Niar pernah mendengar cerita dari sang suami tentang istri dari Raditya Addhitama yang ternyata bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pengusaha sukses dan papah sambungnya pun adalah penerus tunggal Wiguna Grup.


"Aku bangga bisa kenal sama kamu," ujar Niar. "Begitu juga dengan Jeng Nesha," tambahnya lagi.


"Jangan panggil Jung jang jeng jeng. Saya hanya orang biasa. Panggil aja Mbak sama seperti Echa," ucapnya.


Niar tersenyum mendengar jawaban dari kedua menantu dari Addhitama ini. Sungguh beruntung Addhitama memiliki menantu seperti Echa dan juga Nesha. Bergelimang harta tidak membuat Merkea besar kepala.


"Bubu," panggil ketiga anak Echa.


Echa memiliki anak kembar tiga perempuan semua. Niar sangat takjub melihat ketiga anak Echa yang sangat cantik ini.


"Ini anak kamu, Cha?" tanya Niar.


"Iya, Kak." Echa tengah memeluk ketiga anaknya yang baru selesai bermain bersama sang ayah.


"Anak-anak Bubu, salim dong sama anteu cantik yang gendong baby," titah Echa.


Tiga anak kembar itu menuruti apa yang dikatakan oleh Echa. Mereka menghampiri Niar dan mencium tangan Niar dengan sangat sopan.


"Ih, baby-nya tampan," ucap Aleena.


"Bubu, mau yang kayak gini satu," ujar Aleeya.


Echa dan Nesha haya tertawa mendengar permintaan Aleeya Yangs seperti menginginkan sebuah permen.

__ADS_1


"Ya ampun, ngurus tiga anak ini gimana, Cha? Ngurus Arshen aja aku sering oleng," ucap Niar.


"Ekstralah, Kak. Namun, Echa memilih untuk mengurus mereka berdua sama ayahnya si triplets," jelasnya.


Niar tercengang mendengar ucapan Echa. Anak tiga diurus sendirian. Sungguh luar biasa.


"Setiap malam begadang itu pasti. Begadang juga ditemani sama Kak Radit. Dia malah yang siaga banget. Kalau salah satu anaknya menangis langsung dia bangun," jelas Echa seraya tersenyum.


"Kak Radit juga gak akan pernah mau ketika disuruh ke luar Kota. Dia tahu ketiga anaknya pasti akan rewel. Jika, ditinggal sang ayah. Sampai sekarang mereka masih seperti itu. Lebih memilih ayahnya dibanding ibunya kalau mau tidur."


Niat pun tertawa dan mencubit gemas pipi Aleeya. Lucu sekali ketiga anak Echa ini. Bola mata mereka berbeda-beda.


"Bedainnya gimana?" tanya Niar.


Niar melihat ketiga anak Echa serupa, hanya satu yang tidak terlalu mirip.


"Kalau yang pertama wajahnya yang sangat mirip ayahnya, yang kedua itu lebih pendiam dibanding yang ketiga, dia itu super aktif," terangnya.


Niar mengangguk mengerti. Apalagi dia melihat anak Echa yang sudah tidak mau diam. Berarti itu anak ketiga dari Echa dan juga Radit.


"Kalau Mbak punya anak berapa" tanya Niar ke arah Nesha.


"Cewek juga?"


"Jagoan," jawab Nesha.


Mereka berbincang seru dan para pria pun tengah membahas pekerjaan mereka di ruangan depan.


"Boleh Echa gendong Arshen?" Niar tertawa dan mengangguk. "Tentu boleh dong. Kapan lagi Arshen digendong oleh Nyonya Raditya," kelakar Niar.


Mereka bertiga tertawa keras dan membuat Ashen terbangun. Namun, anak bayi ini sama. sekali tidak menangis. Malah matanya melirik ke sana ke mari.


"Bubu, ganteng, ya," ujar Aleesa.


"Kakak Sa suka sama baby Arshen?" Aleesa mengangguk.


"Bubu, nama baby-nya AC?" tanya Aleeya yang kini mendekat ke arah ibunya yang tengah menggendong Arshen.


"Arshen, Dedek Ya. Bukan AC," terang Echa.

__ADS_1


"Susah, Dedek panggilnya baby AC aja."


Kalimat yang diucapkan Aleeya mampu membuat Niar tergelak. Dia sama sekali tidak merasa tersinggung. Malah kalimat Aleeya sebagai hiburan untuknya. Rumah ini sangatlah sepi jika tidak ada ketiga anak Echa.


Bukan hanya Niar yang menyukai si tripelts. Dirga pun sangat gemas kepada anak Radit itu. Ketika mereka di ruangan depan, Dirga memangku tubuh si bawel Aleeya.


"Dedek, tinggal sama om aja di sini," ujar Dirga.


"Om mau balay (bayar) Dedek belapa?"


Pertanyaan Aleeya membuat keempat pria tersebut tertawa keras. Sungguh otak pebisnis Aleeya sudah bekerja sedari kecil.


"Apapun yang Dedek inginkan. Pasti akan Om turuti," tuturnya.


"Dedek gak bisa hidup tanpa Kakak Na dan Kakak Sa. Kalau meleka mah tinggal di lumah Om, dedek juga mau."


Namun, dua anak Radit yang lain menggeleng dengan cepat. Keempat pria itu pun tertawa.


"Adonannya gimana sih bisa jadi banyak begini?"


Rifal melempar bantal ke arah Dirga, sedangkan Dirga sudah tertawa.


"Lu kira adonan roti," sergah Rindra.


Dirga pun tergelak. Melihat ketiga anak Radit membuatnya ingin memiliki anak kembar. Apalagi melihat kelucuan ketiga anak Radit di depannya. Ingin sekali Dirga membungkus salah satu anak Radit.


Sore hari para tamu sudah pulang. Dirga memeluk tubuh istrinya dari belakang, setelah Niar meletakkan Arshen di boks bayinya.


"Gimana? Suka gak sama istri teman Papih?" tanya Dirga.


Niar membalikkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di perut Dirga. Dia tersenyumnke arah Dirga.


"Sangat suka. Baru kali ini Mamih bertemu dengan para istri pengusaha muda yang tidak pada tinggi. Mereka malah selalu merendahkan diri mereka."


Dirga tersenyum mendengarnya. "Dari mereka kita bisa belajar bahwa orang kaya sungguhan tidak akan. pernah memamerkan apa yang mereka miliki. Malu, pasti itu yang mereka katakan," terang Dirga.


"Iya, mereka malah tidak senang membeli barang bermerk mahal. Kata mereka sayang uangnya. Padahal, mereka memegang black card loh," balas Niar.


"Nah itu, kenapa Papih ingin mengenalkan Mamih kepada menantu-menantu pak Addhitama. Mereka luar biasa dalam hal kemanusiaan. Harta tidak membuat mereka tinggi hati. Bukankah itu amazing?"

__ADS_1


__ADS_2