
Hari ini Niar sudah bersiap untuk pergi menemui ibu mertuanya. Meskipun, ibu mertuanya sudah jahat kepadanya dia tidak membenci Septi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah merawat suaminya hingga seperti sekarang ini.
Dia selalu diajarkan oleh ibunya untuk menjadi wanita yang selalu memaafkan kesalahan orang lain. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Pasti melilit khilaf dan juga kesalahan. Apalagi ketika Niar merasakan sendiri kekuatan memaafkan, Niar sudah tidak menyimpan marah ataupun dendam kepada ibu mertuanya. Dia malah ingin berterima kasih kepada Septi karena telah sangat tulus sekali merawat Dirga sedari kecil.
Niar marak ke arah putranya yang sedari tadi tertawa terus seperti tengah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Arshen senang, ya. Akan ketemu Oma," ucap Niar sambil mengajak bicara Arshen. Anak bayi itupun tersenyum dan kaki juga tangannya bergerak aktif.
"Oma pasti senang bisa bertemu kamu, Nak. Kamu adalah cucu pertama di keluar Papih," ucapnya lagi.
Niar menggendong Arshen sambil menunggu Dirga karena Arshen sudah mulai bosan. Ternyata Dirga pulang sedikit terlambat karena dia hari mengurus pekerjaan Kenan terlebih dahulu. Kenan dan Nindy belum kembali dari liburan mereka.
Jam tiga sore barulah Dirga pulang, dia melihat istri dan anaknya terlelap dengan posisi Niar yang bersandar di kepala sofa dan Arshen berada di dalam pelukannya.
"Maafkan Papih, Nak," ucapnya pelan sambil mengecup Arshen.
"Maafkan Papih, Mih." Kini Dirga mengecup kening istrinya.
Dirga mengambil alih Arshen dalam pelukan Niar hingga istrinya terkejut karena merasa ada yang merampas Arshen dari tangannya. Dirga memberi kode agar Niar tidak berisik. Ternyata Dirga memindahkan Arshen ke dalam boks bayi.
Niar menghembuskan napas lega dan dia ikut bangun dari duduknya dan beralih duduk di pinggiran ranjang.
"Kenapa telat?" sergah Niar.
Dirga menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Pekerjaaan Kenan sangat banyak. Jadi, Papih yang mengajarkan semuanya karena sudah dikejar deadline," terangnya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Niar. Dia sudah tidak bisa berbicara apa-apa jika sudah menyangkut pekerjaan suaminya.
"Terus gak jadi?" tanya Niar dengan wajah sedikit frustasi.
"Tunggu Arshen bangun aja, ya. Kasihan 'kan kalau lagi tidur dibawa," jawab Dirga.
Niar mengangguk mengerti. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya juga terasa lelah. Dirga memilih untuk membersihkan tubuhnya. Selang satu jam, Arshen tak kunjung bangun begitu juga dengan istrinya yang nampak nyenyak sekali. Dia tahu, istrinya ini kurang tidur karena setiap malam harus begadang. Arshen selalu meminta ditemani main jika tengah malam tiba.
Dirga mengusap lembut kepala Niar. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Niar. Istri yang cantik luar dalam.
"Papih sangat beruntung memiliki Mamih. Papih juga sangat beruntung bisa menemukan Mamih kembali." Dirga mengecup lama kening Niar.
Dirga malah ikut terlelap dan rencana untuk bertemu denah Septi harus diundur karena hari sudah sore dan mereka bertiga malah terlelap dengan sangat lelap. Dirga, Niar dan Arshen adalah contoh keluarga kecil yang sangat sempurna.
Hari ini Niar sudah bersiap untuk pergi menemui ibu mertuanya. Meskipun, ibu mertuanya sudah jahat kepadanya dia tidak membenci Septi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah merawat suaminya hingga seperti sekarang ini.
Dia selalu diajarkan oleh ibunya untuk menjadi wanita yang selalu memaafkan kesalahan orang lain. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Pasti melilit khilaf dan juga kesalahan. Apalagi ketika Niar merasakan sendiri kekuatan memaafkan, Niar sudah tidak menyimpan marah ataupun dendam kepada ibu mertuanya. Dia malah ingin berterima kasih kepada Septi karena telah sangat tulus sekali merawat Dirga sedari kecil.
Niar marak ke arah putranya yang sedari tadi tertawa terus seperti tengah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Arshen senang, ya. Akan ketemu Oma," ucap Niar sambil mengajak bicara Arshen. Anak bayi itupun tersenyum dan kaki juga tangannya bergerak aktif.
"Oma pasti senang bisa bertemu kamu, Nak. Kamu adalah cucu pertama di keluar Papih," ucapnya lagi.
Niar menggendong Arshen sambil menunggu Dirga karena Arshen sudah mulai bosan. Ternyata Dirga pulang sedikit terlambat karena dia hari mengurus pekerjaan Kenan terlebih dahulu. Kenan dan Nindy belum kembali dari liburan mereka.
__ADS_1
Jam tiga sore barulah Dirga pulang, dia melihat istri dan anaknya terlelap dengan posisi Niar yang bersandar di kepala sofa dan Arshen berada di dalam pelukannya.
"Maafkan Papih, Nak," ucapnya pelan sambil mengecup Arshen.
"Maafkan Papih, Mih." Kini Dirga mengecup kening istrinya.
Dirga mengambil alih Arshen dalam pelukan Niar hingga istrinya terkejut karena merasa ada yang merampas Arshen dari tangannya. Dirga memberi kode agar Niar tidak berisik. Ternyata Dirga memindahkan Arshen ke dalam boks bayi.
Niar menghembuskan napas lega dan dia ikut bangun dari duduknya dan beralih duduk di pinggiran ranjang.
"Kenapa telat?" sergah Niar.
Dirga menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Pekerjaaan Kenan sangat banyak. Jadi, Papih yang mengajarkan semuanya karena sudah dikejar deadline," terangnya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Niar. Dia sudah tidak bisa berbicara apa-apa jika sudah menyangkut pekerjaan suaminya.
"Terus gak jadi?" tanya Niar dengan wajah sedikit frustasi.
"Tunggu Arshen bangun aja, ya. Kasihan 'kan kalau lagi tidur dibawa," jawab Dirga.
Niar mengangguk mengerti. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya juga terasa lelah. Dirga memilih untuk membersihkan tubuhnya. Selang satu jam, Arshen tak kunjung bangun begitu juga dengan istrinya yang nampak nyenyak sekali. Dia tahu, istrinya ini kurang tidur karena setiap malam harus begadang. Arshen selalu meminta ditemani main jika tengah malam tiba.
Dirga mengusap lembut kepala Niar. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Niar. Istri yang cantik luar dalam.
"Papih sangat beruntung memiliki Mamih. Papih juga sangat beruntung bisa menemukan Mamih kembali." Dirga mengecup lama kening Niar.
Dirga malah ikut terlelap dan rencana untuk bertemu denah Septi harus diundur karena hari sudah sore dan mereka bertiga malah terlelap dengan sangat lelap. Dirga, Niar dan Arshen adalah contoh keluarga kecil yang sangat sempurna.
Hari ini Niar sudah bersiap untuk pergi menemui ibu mertuanya. Meskipun, ibu mertuanya sudah jahat kepadanya dia tidak membenci Septi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah merawat suaminya hingga seperti sekarang ini.
Dia selalu diajarkan oleh ibunya untuk menjadi wanita yang selalu memaafkan kesalahan orang lain. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Pasti melilit khilaf dan juga kesalahan. Apalagi ketika Niar merasakan sendiri kekuatan memaafkan, Niar sudah tidak menyimpan marah ataupun dendam kepada ibu mertuanya. Dia malah ingin berterima kasih kepada Septi karena telah sangat tulus sekali merawat Dirga sedari kecil.
Niar marak ke arah putranya yang sedari tadi tertawa terus seperti tengah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Arshen senang, ya. Akan ketemu Oma," ucap Niar sambil mengajak bicara Arshen. Anak bayi itupun tersenyum dan kaki juga tangannya bergerak aktif.
"Oma pasti senang bisa bertemu kamu, Nak. Kamu adalah cucu pertama di keluar Papih," ucapnya lagi.
Niar menggendong Arshen sambil menunggu Dirga karena Arshen sudah mulai bosan. Ternyata Dirga pulang sedikit terlambat karena dia hari mengurus pekerjaan Kenan terlebih dahulu. Kenan dan Nindy belum kembali dari liburan mereka.
Jam tiga sore barulah Dirga pulang, dia melihat istri dan anaknya terlelap dengan posisi Niar yang bersandar di kepala sofa dan Arshen berada di dalam pelukannya.
"Maafkan Papih, Nak," ucapnya pelan sambil mengecup Arshen.
"Maafkan Papih, Mih." Kini Dirga mengecup kening istrinya.
Dirga mengambil alih Arshen dalam pelukan Niar hingga istrinya terkejut karena merasa ada yang merampas Arshen dari tangannya. Dirga memberi kode agar Niar tidak berisik. Ternyata Dirga memindahkan Arshen ke dalam boks bayi.
Niar menghembuskan napas lega dan dia ikut bangun dari duduknya dan beralih duduk di pinggiran ranjang.
"Kenapa telat?" sergah Niar.
__ADS_1
Dirga menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Pekerjaaan Kenan sangat banyak. Jadi, Papih yang mengajarkan semuanya karena sudah dikejar deadline," terangnya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Niar. Dia sudah tidak bisa berbicara apa-apa jika sudah menyangkut pekerjaan suaminya.
"Terus gak jadi?" tanya Niar dengan wajah sedikit frustasi.
"Tunggu Arshen bangun aja, ya. Kasihan 'kan kalau lagi tidur dibawa," jawab Dirga.
Niar mengangguk mengerti. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya juga terasa lelah. Dirga memilih untuk membersihkan tubuhnya. Selang satu jam, Arshen tak kunjung bangun begitu juga dengan istrinya yang nampak nyenyak sekali. Dia tahu, istrinya ini kurang tidur karena setiap malam harus begadang. Arshen selalu meminta ditemani main jika tengah malam tiba.
Dirga mengusap lembut kepala Niar. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Niar. Istri yang cantik luar dalam.
"Papih sangat beruntung memiliki Mamih. Papih juga sangat beruntung bisa menemukan Mamih kembali." Dirga mengecup lama kening Niar.
Dirga malah ikut terlelap dan rencana untuk bertemu denah Septi harus diundur karena hari sudah sore dan mereka bertiga malah terlelap dengan sangat lelap. Dirga, Niar dan Arshen adalah contoh keluarga kecil yang sangat sempurna.
Hari ini Niar sudah bersiap untuk pergi menemui ibu mertuanya. Meskipun, ibu mertuanya sudah jahat kepadanya dia tidak membenci Septi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah merawat suaminya hingga seperti sekarang ini.
Dia selalu diajarkan oleh ibunya untuk menjadi wanita yang selalu memaafkan kesalahan orang lain. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Pasti melilit khilaf dan juga kesalahan. Apalagi ketika Niar merasakan sendiri kekuatan memaafkan, Niar sudah tidak menyimpan marah ataupun dendam kepada ibu mertuanya. Dia malah ingin berterima kasih kepada Septi karena telah sangat tulus sekali merawat Dirga sedari kecil.
Niar marak ke arah putranya yang sedari tadi tertawa terus seperti tengah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Arshen senang, ya. Akan ketemu Oma," ucap Niar sambil mengajak bicara Arshen. Anak bayi itupun tersenyum dan kaki juga tangannya bergerak aktif.
"Oma pasti senang bisa bertemu kamu, Nak. Kamu adalah cucu pertama di keluar Papih," ucapnya lagi.
Niar menggendong Arshen sambil menunggu Dirga karena Arshen sudah mulai bosan. Ternyata Dirga pulang sedikit terlambat karena dia hari mengurus pekerjaan Kenan terlebih dahulu. Kenan dan Nindy belum kembali dari liburan mereka.
Jam tiga sore barulah Dirga pulang, dia melihat istri dan anaknya terlelap dengan posisi Niar yang bersandar di kepala sofa dan Arshen berada di dalam pelukannya.
"Maafkan Papih, Nak," ucapnya pelan sambil mengecup Arshen.
"Maafkan Papih, Mih." Kini Dirga mengecup kening istrinya.
Dirga mengambil alih Arshen dalam pelukan Niar hingga istrinya terkejut karena merasa ada yang merampas Arshen dari tangannya. Dirga memberi kode agar Niar tidak berisik. Ternyata Dirga memindahkan Arshen ke dalam boks bayi.
Niar menghembuskan napas lega dan dia ikut bangun dari duduknya dan beralih duduk di pinggiran ranjang.
"Kenapa telat?" sergah Niar.
Dirga menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Pekerjaaan Kenan sangat banyak. Jadi, Papih yang mengajarkan semuanya karena sudah dikejar deadline," terangnya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Niar. Dia sudah tidak bisa berbicara apa-apa jika sudah menyangkut pekerjaan suaminya.
"Terus gak jadi?" tanya Niar dengan wajah sedikit frustasi.
"Tunggu Arshen bangun aja, ya. Kasihan 'kan kalau lagi tidur dibawa," jawab Dirga.
Niar mengangguk mengerti. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya juga terasa lelah. Dirga memilih untuk membersihkan tubuhnya. Selang satu jam, Arshen tak kunjung bangun begitu juga dengan istrinya yang nampak nyenyak sekali. Dia tahu, istrinya ini kurang tidur karena setiap malam harus begadang. Arshen selalu meminta ditemani main jika tengah malam tiba.
Dirga mengusap lembut kepala Niar. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Niar. Istri yang cantik luar dalam.
__ADS_1
"Papih sangat beruntung memiliki Mamih. Papih juga sangat beruntung bisa menemukan Mamih kembali." Dirga mengecup lama kening Niar.
Dirga malah ikut terlelap dan rencana untuk bertemu denah Septi harus diundur karena hari sudah sore dan mereka bertiga malah terlelap dengan sangat lelap. Dirga, Niar dan Arshen adalah contoh keluarga kecil yang sangat sempurna.