
Arshen menjadi pelengkap dalam rumah tangga Niar dan Dirga. Kehadiran Arshen membuat rumah Dirga dan Niar menjadi ramai selalu. Setiap hari Deri serta Nindy mampir ke rumah Dirga hanya untukmu bertemu dengan Arshen.
"Kak, emang gak lelah ngurus Arshen sendiri?" tanya Nindy.
Niar yang tengah melipat baju Arshen hanya tersenyum. Dia menatap ke arah adiknya itu.
"Lelah sih, tapi Kakak bahagia," jawabnya.
"Kenapa gak pakai baby sitter aja?" tanya Nindy.
"Kakaknya yang gak mau. Papihnya Arshen mah nyaranin," jelasnya.
Nindy merasa bangga kepada kakak iparnya ini. Dia mampu mengerjakan semuanya seorang diri.
"Malamnya pasti Kak Niat kurang tidur," ucap Nindy.
"Udah biasa, Ndy. Untungnya ada Papihnya yang mau bergantian jaga Arshen."
Nindy bahagia melihat keluarga kakaknya sangat bahagia. Apalagi kakaknya selalu mau turun tangan menjaga Arshen.
Ketika akhir pekan, Dirga akan menjaga Arshen, sedangkan Niar disuruh istirahat oleh Dirga. Dia tidak ingin istrinya kurang istirahat. Sekalian mendekatkan diri kepada putra tercintanya.
__ADS_1
Jika, digendong Dirga Arshen akan tersenyum. Apalagi jika diajak bicara seperti anak yang mengerti.
"Jangan nakal ya, anak Papih. Harus bisa jagain Mamih. Jangan buat Mamih kecapek-an, apalagi buat Mamih menangis."
Dirga tak hentinya menciumi pipi merah Arshen. Putranya menjadi magnet untuk dia pulang lebih awal. Arshen juga menjadi pelipur lara untuk Dirga.
"Cepat besar, Nak. Biar kita bisa bermain bola bersama."
Dirga akan selalu mengajak Arshen berbicara. Dia seakan ingin menjalin hubungan lebih baik lagi bersama putranya. Dia tidak ingin ada jarak antara mereka berdua nantinya.
Arshen dia tidurkan di atas sofa, sedangkan Dirga menjaganya di bawah sofa hingga dia tertidur dengan membaringkan kepalanya di pinggiran sofa.
Niar sudah puas tertidur dan dia tersenyum ketika melihat suaminya ikut tertidur bersama Arshen.
Dirga segera membuka mata. "Arshen bangun?" tanyanya dengan sedikit terkejut.
"Enggak. Lebih baik Papih dan Arshen tidur di atas tempat tidur aja," imbuhnya.
Dirga dapat menarik napas lega. Apa yang dikatakan oleh istri benar. Dia berjalan menuju tempat tidur diikuti oleh Niar yang membawa Arshen dalam gendongannya. Kemudian, dia letakkan di atas tempat tidur bersama sang suami.
"Mimpi indah dua pria kesayanganku," ucapnya, seraya mengecup kening Arshen serta Dirga bergantian.
__ADS_1
Ketika Niar keluar kamar, sang apalah mertua ternyata sudah ada di rumahnya.
"Di mana cucu Papah?" tanyanya.
"Di kamar, Pah. Lagi tidur sama papihnya," jawab Niar.
"Boleh Papah masuk?" Deri meminta izin kepada Niar.
"Silakan, Pah. Aku ke dapur dulu ya, Pah." Deri mengangguk.
"Papah mau minum apa?" tanya Niar.
"Gak usah, nanti Papah aja yang bikin minum sendiri."
Deri masuk ke dalam kamar Dirga. Senyuman terukir indah di wajah rentanya. Tangan Dirga memeluk tubuh kecil cucunya. Mengingatkannya ketika harus mengurus Dirga sendirian. Begitulah dirinya pada waktu itu. Tidur hanya berdua dengan pinggiran tubuh putranya dikelilingi guling dan bantal agar tidak terjatuh.
"Papah harap kamu bisa menyayangi putra kamu dengan sangat tulus," gumamnya.
Melihat wajah Dirga dan Arshen bagai melihat Dirga versi bayi dan juga dewasa. Bagai pinang dibelah dua. Apalagi sekarang gaya tidur mereka sudah sama. Arshen sudah mengangkat tangan satunya behiyu juga Dirga.
"Like son like father."
__ADS_1
Dirga sudah bahagia, sekarang giliran Nindy untuk meraih kebahagiannya dan melahirkan cucu-cucu yang mnggemaskan untuknya. Untuk menemani masa tuanya.