
Hari ini Niar sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Dirga menyuruh Nindy untuk membantunya. Nindy menggendong Arshen dan Dirga em untung tubuh sang istri.
"Sayang, masih sakit gak?" tanya Dirga.
"Sedikit, Ay."
Dirga akan melakukan apapun untuk kesembuhan istrinya. Dia banyak mencari informasi di mesin pencarian. Dia menyuruh Mbok Sum untuk membeli makanan yang membantu pengeringan luka jahitan.
Di sepanjang perjalanan, Dirga merasa kasihan ketika sang istri ketika dia masih merasa kesakitan ketika ada jalanan yang rusak.
Tibanya di rumah, tanpa Niar duga sang papah mertua sudah menyambutnya dengan hangat. Niar merasa terharu apalagi ada sambutan kecil untuk baby Arshen.
"Ya ampun, Pah." Mata Niar sudah berkaca-kaca.
"Ini untuk cucu Papah dan menantu Papah yang sudah melahirkan putra tampan." Niar memeluk tubuh Deri dengan eratnya.
__ADS_1
"Makasih, Papah." Deri mengusap lembut rambut sang menantu.
Arshen masih terlelap dengan damainya. Nindy meletakkan Arshen di dalam boks bayi.
"Lucunya keponakan aunteu," gumam Nindy.
Dirga membantu Niar untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Istirahat aja ya. Arshen akan aku jaga." Niar mengangguk.
Niar merasa diperlakukan putri raja oleh semua orang. Dia sangat bahagia. Di balik rasa sakit yang masih dia rasakan ada kebahagiaan yang tiada terkira.
Keharuan Arshen membuat keluarga kecil Dirga semakin bahagia. Dirga menjadi ayah yang siaga untuk Arshen. Tak hanya itu, dia juga menjadi suami siaga.
"Gak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Pah. Seperti mimpi," terang Dirga.
Deri tersenyum mendengarnya, begitu juga dengan Nindy. Dia melihat betapa bahagianya sang kakak. Sorot matanya menunjukkan semua kebahagiaan itu.
__ADS_1
Mbok Sum memberitahu bahwa makanan untuk majikannya sudah siap. Begitu juga menu khusus untuk Niar. Mereka segera bangkit dan menuju meja makan. Menu makanan yang menggugah selera.
"Dirga, istrimu tidak dibangunkan?" tanya Deri.
"Biarin aja dia istirahat dulu, Pah. Nanti akan Dirga suapi setelah Niar bangun."
Setelah menikmati menu makanan yang lezat, Dirga kembali ke kamar. Dilihatnya Niar masih tertidur. Begitu juga dengan Arshen. Setiap malam Niar tidak bisa tidur karena Arshen seolah menjadikan malam menjadi siang. Namun, Niar tak pernah mengeluh sedikit pun. Dia malah bahagia karena putranya masih ingin bermain dengannya. Walaupun dia harus terkantuk-kantuk. Mengisi Arshen harus sabar karena Arshen tipe anak yang kuat minum Asi. Sakit, perih yang dia rasakan tak pernah dia hiraukan. Rasa sakit itu nanti akan menghilang, tidak dengan tumbuh kembang Arshen.
Dirga terus menawarkan untuk menggunakan susu formula. Namun, Niar menolaknya. Asinya lebih dari cukup untuk putra pertamanya. Lebih baik memanfaatkan yang ada. Buat anak tidak boleh coba-coba.
Ketika Niar terbangun, Dirga segera mengambilkan Niar makan dengan sayur bening, putih telur dan juga daging merah yang Mbok Sum rebus
lalu dibakar sebentar dengan bumbu rahasia.
"Makasih ya, Ayang," ucapnya.
__ADS_1
"Sudah kewajiban aku, Sayang." Kecupan hangat mendarat di kening Niar.
Niar sangat beruntung me jadi istri dari Dirga Anggara yang luar biasa. Dirinya diperlakukan bagai ratu oleh sang suami. Dia juga menjadi prioritas utama dalam hidup Dirga. Ditambah sekarang telah hadir putranya. Sudah pasti kebahagiaannya berkali-kali lipat. Begitu juga dengan keposesifannya saat ini. Sekarang dan untuk selamanya, prioritasnya adalah anak dan istri.