
Hati Nindy mulai menghangat ketika mendengar ucapan tulus dari kakak iparnya. Dia merasa memiliki kakak perempuan yang selama ini dia dambakan. Ipar rasa kakak kandung, itulah yang dirasakan. Kakaknya mampu mengerti akan dirinya. Memberikan perhatian layaknya seoranh ibu terhadap anaknya.
Nindy sendiri bukankan orang yang mudah terbuka kepada orang lain, termasuk kakaknya. Dia lebih senang memendam segalanya seorang diri daripada harus melihat orang lain sedih karenanya. Apalagi dia melihat jelas dua orang pria yang amat dia sayangi dilukai oleh satu wanita yang sama. Nindy tidak mau kedua pria yang dia itu malah bersedih karena perasaannya . Dia sudah mulai terbiasa seperti ini. Dirinya yakin semuanya akan baik-baik saja.
Seperti hari ini Kenan membawa Nindy ke tempat yang sejuk di Puncak. Kenan ingin istrinya ini menenangkan hati sejenak. Tidak memikirkan perihal keinginan kakaknya. Pada nyatanya Kenan sendiri sudah sangat gatal ingin berbicara, tetapi dia belum bisa melakukan. Bukan tanpa sebab, dia tidak ingin membuat istrinya semakin tertekan.
"Sayang," panggil Kenan ke arah Nindy yang tengah menikmati sejuknya angin malam.
Tangan Kenan melingkar di pinggang Nindy. Kenan meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Setelah pulang dari sini, kita bertemu dengan Mamah, ya."
Kenan sudah tidak bisa membendung ucapannya lagi. Kenan sedang berusaha membujuk Nindy. Istrinya itu masih bergeming. Dia hanya terdiam mendengar ucapan sang suami.
"Mamah sangat rindu kamu," ucap Kenan.
Tanpa Kenan bicara pun Nindy sangat tahu bahwa ibunya tengah merindukannya. Sama halnya Dnegan dirinya. Namun, dia enggan mengakui bahwa dia rindu kepada ibunya. Egonya masih sangat besar
"Sayang," panggil Kenan lagi.
"Mas, aku mohon jangan paksa aku," jawab Nindy pelan.
Hal yang paling dia tidak suka adalah dipaksa seperti ini. Semakin dia dipaksa, semakin keras hatinya.
"Sayang, tidak baik kamu memendam rasa rindu itu sendirian. Cobalah untuk kamu ungkapkan. Hati seorang ibu akan semakin sakit ketika melihat anaknya berkeras hati," ujar Kenan.
Nindy terdiam, ucapan suaminya itu memang benar. Namun, hatinya masih terganjal dan belum mau untuk melepas rindu itu. Sebenarnya dia juga sudah lelah untuk memendam rindunya.
"Sampai kapan kamu akan menahan semua ini? Apa kamu gak kasihan sama Mamah kamu?" ucap Kenan.
"Sampai aku siap dan mau menemui Mamah dengan kemauan hatiku sendiri tanpa paksaan," sahut Nindy. "Aku bisa saja menuruti kemauan kalian, tapi hati aku belum memaafkannya. Itu akan lebih membuatku berdosa," tuturnya.
Kali ini Kenan terdiam, dia tidak bisa berkutik dengan apa yang dikatakan oleh Nindy. Semua yang dikatakan Nindy tidak ada yang salah.
"Jangan pernah paksa aku lagi. Aku lelah." Nindy meninggalakan Kenan we begitu saja. Dia memilih untuk membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk dan nyaman. Kenan hanya terdiam.
Dia melihat ke arah Nindy yang sudah dalam keadaan meringkuk. Hatinya sakit ketika melihat istrinya seperti itu. ini semua karena hati istrinya sangatlah keras. Dia juga bingung harus melakukan apa.
Dia menghubungi Dirga dan menanyakan apa yang harus dia lakukan.
Biarkan saja dulu. Mungkin ada luka tak kasat mata yang adikku derita. Jangan pernah memaksa. Biarlah dia berjalan menemui ibunya dengan hati yang sudah memaafkan.
Inilah keistimewaan yang dimiliki Dirga. Dia mampu berpikir dewasa dalam menyikapi segala hal. Mau itu pekerjaan ataupun masalah pribadi. Dia juga sangat senang karena memiliki kakak ipar yang sangat menyayangi adiknya, yaitu Nindy. Apapun akan Dirga lakukan untuk membahagiakan Nindy. Dia bagai ayah kedua untuk Nindy.
Maafkan Ndy, Kak. Ndy belum siap untuk melihat Mamah. Hati Nindy masih sakit jika melihat wajah Mamah secara langsung, seperti semua aib pengkhianatan terbongkar sudah.
Ndy juga tidak ingin membuat kalian menangis. Ndy harus menjadi wanita yang kuat agar tidak menyusahkan Kakak dan juga Papah.
Kakak saja yang tanpa kedua orang tua bisa kuat dan sukses. Ndybingi. seperti Kakak. Ndy tidak jgu menyusahkan Kakak dan juga Papah. Cukup Ndy yang merasakan kesedihan ini. Kalian tidak perlu tahu, cukup Ndy yang tahu sendiri.
Jangan ditanya rasa sayang Ndy kepada Mamah segimana. Pasti sangat besar karena Mamah adalah wanita yang telah mengandung Ndy selama sembilan bulan serta telah rela berjuang antara hidup dan mati. Hanya saja ... Ndy belum siap melihat wajah Mamah. Ndy, takut ...
Nindy hanya bisa berbicara di dalam hati. Terlalu banyak yang dia simpan seorang diri. Padahal hatinya ingin mengutarakan semuanya. Namun, Nindy masih berpegang teguh pada pendiriannya.
__ADS_1
Kemana menghampiri istrinya. Dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan tangan yang menyentuh pundak Nindy.
"Maafkan Mas, Sayang."
Nindy menjatuhkan air mata mendengar ucapan tulus sang suami. Namun, dia tua membalikkan tubuhnya. Dia tetap di posisi yang semula. Usapan lbut di kepalanya membuat hati Nindy menghangat.
Kenan membubuhkan kecupan hangat di kepala sang istri. "Mas tahu, kamu tidak tidur," ujar Kenan. Dia membalikkan tubuh Nindy dengan pelan. Ada bekas air mata di ujung matanya.
Kenan menggenggam tangan Nindy dengan sangat erat. Kemudian, dia kecup dengan mesra.
"Mas, tidak akan memaksa kamu lagi," ujarnya.
Perlahan mata Nindy terbuka dan dia melihat wajah suaminya penuh penyelasan.
"Berikan aku waktu, Mas." Nindy menjeda ucapannya. "Jika, aku sudah siap, aku janji akan langsung berbicara kepada Mas atau Kak Dirga," tuturnya.
Kenan mengangguk pelan dan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggarap lahan yang sudah lama tak tengok. Pasti sudah sangat kering.
Tangan Kenan yang terus menjelajahi membuat Nindy benar-benar tak berdaya. Sudah satu minggu dia tidak disentuh oleh Kenan. Namun, satu sentuhan saja mampu membuat gairahnya bangkit tak tertahan.
"Mas rindu, Sayang," bisik Kenan dengan suara yang sangat erotis.
"M-mas ... jangan siksa aku ... aku gak kuat ...."
Kenan pun tersenyum merasa bahagia karena istrinya benar-benar menikmati sentuhan tangan nakalnya. Bukannya cepat masuk ke ladang basah, Kenan malah senang bermain di polisi tidur minimalis milik istrinya. Lidah tak berulangnya bermain di sana membuat Nindy menjerit lagi dan lagi.
"M-mas ... aku ...."
"Keluarkan semuanya, Sayang. Mas tahu kamu sudah lama menginginkan ini." Lidah tak bertulang itu terus menyusuri ladang yang bukan basah lagi, melainkan sudah banjir. Mulutnya pun sudah dibanjiri dengan cairan yang memabukkan.
"Kamu, jahat!" seru Nindy.
Tangan Nindy sudah melepas semuanya yang ada pada tubuh suaminya. Dia pun sudah merangkak naik ke atas. Tangannya yang sudah menggerayang membuat Kenan menahan kenikmatannya. Tangan satunya mengusap lembut adik manja sang suami hingga urat-urat menegangkan terasa di tangannya.
Kali ini, Nindy yang menyiksa suaminya. Kenan terus merancau karena sebuah sensasi yang berbeda yang Nindy ciptakan.
"Sayang, Mas gak tahan." Kini Kenan yang berbicara seperti itu. Daripada keluar sia-sia akhirnya dia memutuskan untuk merobohkan tubuh Nindy yang tengah asyik menjilat lolipop jumbo.
Kini, tubuh Kenan sudah tidak tahan dan tanpa aba-aba dia segera menerjang lahan kering yang sudah mulai basah. Sungguh alunan yang menggairahkan yang keluar dari mulut mereka berdua. Sejenak mereka melupakan masalah yang tengah menimpa mereka. Jeritan kecil yang bersahutan tidak membuat mereka saling mendahului. Seirama dan sama-sama menikmati membuat pertahanan mereka sangat kuat. Berbagai posisi mereka lakukan tak membuat Kenan dan Nindy melengooh panjang.
"Mas sangat merindukan ini, Sayang," bisik Kenan.
"Aku juga, Mas. Aku ingin melakukan ini sampai pagi," balas Nindy.
Hanya dengan cara ini dia bisa melupakan sejenak perihal kemauan sang kakak. Mereka sudah berteriak nikmat secara bersamaan karena sudah mencapai puncak yang sangat melelahkan. Namun, mereka tidak mau berhenti melakukannya. Seakan tengah balas dendam.
Permainan lembut sampai kasar Kenan lakukan. Akan tetapi, Nindy tidak merasa terganggu dia malah sangat menikmati. Jam empat subuh barulah mereka menyudahi permainan mereka. Tidak terhitung berapa benih yang Keban tanam di ladang basah milik istrinya itu. Apalagi dia melihat bercak merah yang berada di hampir seluruh badan istrinya.
"Makasih, sayang. Kami sungguh liar malam ini." Kecupan hangat Kenan berikan di kening sang istri yang sudah terlelap dengan begitu damainya.
Di lain tempat, sang istri sudah ingin buka puasa panjangnya, tetapi sang suami menolak dengan alasan masih tidak tega. Padahal sudah dua bulan berlalu.
"Papih, Mamih mau," punya Niar.
__ADS_1
Ada hal lain yang Niar takutkan yaitu suaminya jajan di luar. Dua bulan menahan hasrat apa mungkin bagi seorang suami.
"Tunggu tiga bulan aja, Mih," ujar Dirga.
Bosan mendengar ucapan sang suami, akhirnya Niar memaksa Dirga. Dialah yang memberikan rangsangan kepada suaminya sehingga suaminya menyerah.
"Mamih ...."
"Ayo, Pih. Mamih sudah tidak tahan," bisik Niar di telinga Dirga.
Tanpa menunggu lama Dirga pun mulai memberikan sentuhan memabukkan untuk mempermudah menggarap lahan basah. Namun, Dirga merasa kesulitan untuk menerobosnya seperti perawan, sempit. Hentakan kecil Dirga lakukan sehingga dia bisa masuk ke dalam lubang basah tersebut. Hangat dan nikmat, sama halnya dengan Niar rasakan. Dia malah yang lebih agresif karena sungguh Niar adalah wanita yang senang dengan hal seperti ini.
Mereka terus menggarap dengan berbagai posisi, apalagi Dirga yang menggantikan Arshen mimi dengan nikmatnya. Gunung cap nyonya Dirga Anggara pun ukurannya semakin membuat Dirga tak bisa membiarkannya begitu saja.
Sudah satu jam berlalu, mereka berdua masih menyelami kenikmatan duniawi. Mereka berdua bukan tipe suami-istri yang monoton. Mereka akan mempraktekkan berbagai macam gaya dan memuaskan satu sama lain.
Dua jam berlalu barulah mereka mencapai puncak secara bersama-sama. Sungguh durasi yang sangat panjang. Mereka berdua saling berpelukan. Arshen yang biasanya bangun tengah malam seakan mengerti dengan kedua orang tuanya. Dia memberikan waktu berdua untuk Mamih dan papihnya.
"Makasih, Sayang. Sangat nikmat sekali," ucap Dirga.
Niar tersenyum dan mengecup lembut bibir sang suami. "Jangan pernah jajan di luar. Kapanpun dan di manapun, Mamih akan memuaskan Papih," tuturnya.
Dirga tersenyum dan memeluk erat tubuh istrinya. Hal yang sudah lama tidak dia rasakan, kini bisa dia rasakan kembali. Bukan Dirga jika hanya cukup sekali. Selang satu jam dia sudah seperti Arshen yang mencari sumber asi. Niar membiarkannya saja dan sungguh membuat Dirga semakin menjadi. Niar yang terpejam pun tak terasa mende-sah nikmat.
"Lagi ya, Sayang." Niar pun mengangguk.
Kegiatan yang sungguh tidak membuat mereka lelah. Walaupun peluh mereka sudah bercucuran mereka tetap bersemangat. Berpacu dalam kenikmatan yang tak tertandingi seperti pengantin baru. Jeritan kecil, ringisan nikmat saling bersahutan. Putranya pun seakan memberikan waktu kepada kedua orang tuanya untuk melepas rindu satu sama lain. Menggarap lahan yang kering menjadi basah kembali dan mulai menanam benih yang berkualitas tinggi di lahan yang sudah sangat basah.
Kegiatan mereka berdurasi sangat panjang. Jangan ditanya bagaimana kondisi Niar. Tanda merah sudah bertebaran di mana-mana. Dirga tidak melewatkan setiap inchi tubuh istrinya barang sedikitpun. Begitu juga Dnegan tubuh Dirga yang penuh cakaran sang istri. Ada juga beberapa tanda merah di lehernya yang diberikan oleh Niar.
Baru saja mereka selesai berlomba mencapai garis Finish, Arshen sudah menangis seperti ingin bergantian dengan sang ibu. Dirgalah yang mengambil Arshen dan membawanya kepada Niar. Dia tahu bahwa istrinya tengah kelelahan.
"Kamu Mimi bekas Papih dulu, ya," bisik Dirga. Niar menatap tajam ke arah sang suami dan dibalas tertawa oleh Dirga. Kemudian, dia mengecup lembut kening sang istri.
"Maaf ya, telah membuat Mamih lelah." Niar menatap ke arah sang suami. Dia tersenyum kecil dengan gurat-gurat kelelahan yang terpampang nyata.
Dirga mengusap lembut rambut snag istri. Dia tidak tertidur malah menembak istrinya yang sidah terlihat sangat mengantuk. Niar memberikan asi kepada Arshen dengan mata yang terpejam. Dirga tersenyum dan mengecup buah hati serta istrinya yang sudah memejamkan mata.
"Kalian adalah harta yang paling berharga yang Papih miliki."
Dirga masih memperhatikan Arshen. Setelah mulutnya melepaskan empeng alami di tubuh sang ibu, Dirga mengambil alih Arshen dan meletakannya di antara mereka berdua. Dia juga membetulkan posisi Niar yang sudah tertidur sambil duduk.
"Papih akan membahagiakan kalian berdua. Tidak peduli kepala jadi kaki atau kakak jadi kepala yang terpenting kalian bahagia."
Rumah tangga Niar dan Dirga adalah contoh rumah tanggĂ yang diselimuti kebahagiaan. Bukan tidak pernah mereka bertengkar, hanya saja mereka berdua mampu mengemas pertengkaran itu secara cantik. Jika mereka tengah bertengkar, diamlah yang akan mereka lakukan. Mereka tidak ingin pertengkaran mereka diketahui oleh banyak orang. Cukup masalah rumah tangga mereka hanya mereka yang tahu dan hanya mereka yang bisa menyelesaikannya.
Pagi harinya, tubuh Niar terasa sangat sakit. Tubuhnya seperti tidak bertulang, untuk berdiri pun dia sangat lemas.
"Bagaimana ini?" keluh Niar.
Ketika Dirga membuka mata, dia melihat istrinya masih bergumul di bawah selimut. Begitu juga dengan putranya.
"Mamih, apa Mamih baik-baik saja?" tanya Dirga yang kini sudah berada di samping sang istri.
__ADS_1
"Tubuh Mamih lemas banget, Pih."